L Dream

L Dream
Hadiah


__ADS_3

"Maksud, lo?" tanya Leonardo dengan nyalang.


"Kalian bukan jadian tanggal lima belas tapi tanggal lima," jawab Pradipa. Leonardo mencoba mengingat baik-baik, laki-laki itu menyadari bahwa dia salah. Sial, gara-gara kecelakaan itu ingatannya menjadi buruk.


Laki-laki bergelang merah itu mengumpat, "what the- kok gue bisa sekacau ini sih!"


"Jangan ngomong kasar!" Pradipa menampar pelan bibir sahabatnya.


"Nevermind."


"Dan lo juga lupa satu hal," ungkap Pradipa mengundang rasa penasaran. "Lo mau ngasih bunga ke Devania bukan sebagai hadiah mensiv," sambungnya.


.


"Woii, tumben lo telat." Pradipa memandang heran kepada sahabatnya yang datang terlambat. Padahal semenjak mengenal Devania, Leonardo sudah meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruknya.


"Dip, untung lo yang piket. Emang, ada faedahnya punya sahabat sosis," kata Leonardo bernapas lega. Laki-laki bergelang merah itu mendapat tepukan di kepalanya, "OSIS!" kesal Pradipa.


"Whatever, gue abis beliin mawar putih buat cewek gue." Leonardo menunjukkan buket bunga yang sedari tadi dia sembunyikan di belakangnya.


"Jadi, lo telat karena beli bunga atau sengaja biar nggak ketahuan cewek lo?" tanya laki-laki berlencana OSIS itu dengan tampang penuh keisengan.


Leonardo tersenyum, "dua-duanya. Tapi ada satu lagi," jawabnya.


"Apaan?" Pradipa memasang wajah ingin tahu. "Sebenarnya gue awalnya pengen beliin mawar merah karena katanya mawar merah nunjukkin kasih sayang, cinta dan kekaguman. Tapi waktu gue beli ternyata stok mawar merahnya udah kosong seminggu dan belum ada pasokan lagi. Terus waktu gue tanya ada nggak bunga yang melambangkan cinta gitu, katanya '¹mawar putih aja karena menyimbolkan kemurnian dan kedamaian. Kalau mau mengatakan perasaan yang begitu tulus dan suci, maka mawar putih menjadi alternatif terbaik,' gitu katanya." jelas Leonardo.


"Apa hubungannya dengan keterlambatan lo?"


Leonardo mengedikkan bahunya, "Nggak ada, sih!"


Pradipa memutar bola matanya jengah.


"Kalian berdua ngapain masih di sini, udah waktunya belajar!" seru seorang guru yang tiba-tiba menghampiri mereka di gerbang sekolah.


"Anu, bu. Saya piket," sahut Pradipa.

__ADS_1


"Eh, bu Jesika. Ini loh saya diminta Dipa buat nemanin dia piket. Maklum bu dia jones, nggak bisa ditemani sama cewek. Saya sebagai teman yang baik hati dan tidak sombong ini ya mau aja nemanin dia," Leonardo mulai beralasan.


"Alasan saja kalian berdua, sana masuk!" titah bu Jesika selalu guru BK.


"SIAP, BUK!" serentak keduanya memberi hormat lalu segera pergi dari sana.


"Tunggu Pradipa! Kamu ingat kurang dari seminggu lagi Pensi diadakan. Tolong pastikan semua persiapan berjalan dengan baik!" Peringat bu Jesika.


.


"Bentar, pensi tahun lalu diadakannya tanggal berapa?" Tanya Leonardo.


"Antara tanggal dua puluh atau dua puluh satu gitu deh, coba liat kalender!" titah Pradipa yang langsung dilakukan oleh Leonardo.


"Tanggal dua puluh hari minggu, berarti pensinya tanggal dua satu. Kurang dari seminggu artinya kisaran tanggal empat belas sampai sembilan belas, pembagian piket OSIS per koordinator selalu di hari yang sama, kan?" Ungkap Leonardo setelah mengecek kalender.


"Iya, dan tahun lalu koordinator gue selalu di hari kamis. Lo juga ingatkan waktu itu kita ada jam penjas? Artinya kejadian itu tanggal tujuh belas karena jam penjas kita waktu kelas sebelas di hari kamis," imbuh Pradipa.


.


"Tapi kenapa sih lo tiba-tiba mau ngasih mawar ke cewe lo?" Tanya Pradipa penasaran ketika mereka melangkah menuju kelas.


.


"Oh, ya. Waktu itu dia harus ke sanggar!" Seru Leonardo mengingat waktu itu.


"So, maybe waktu itu dia nggak bisa langsung ketemu lo karena dia ingat harus ke sanggar? Sebenarnya tadi waktu lo pergi, gue kira lo bakal ke sana. Tapi ternyata malah ke sweet time," cetus Pradipa.


"Terus kenapa lo nggak bilang tadi?" Leonardo memberenggut kesal, "heh! Jangan kayak cewek, deh lo. Lo aja yang ngga mau dengar waktu gue panggil," kesal Pradipa juga.


"Berarti kita harus cari tahu dari teman-teman sanggarnya Dea," tutur Leonardo.


"Masalahnya, lo tahu nggak teman-teman sanggarnya Dea?" Tanya Pradipa yang dibalas dengan gelengan kepala.


...****************...

__ADS_1


Hari silih berganti, tak terasa tiga hari telah berlalu. Namun, kebenaran soal Devania menghilang kemana setelah kejadian Fatih menjebaknya tak juga ketemu.


Sebenarnya apa yang membuat mereka sangat ingin tahu kejadian hari itu adalah perubahan Devania yang dikenal sebagai gadis ceria berubah 180° setelah kejadian itu.


Meski tetap menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai siswa irregular SMA Merdeka Harapan --penerima beasiswa-- dan anggota panitia pensi waktu itu; dua minggu setelahnya terdengar kabar bahwa gadis itu mengakhiri hidupnya sendiri.


Tidak ada seorangpun yang tahu pasti apa alasan Devania memilih jalan itu. Pasalnya gadis itu tidak berteman akrab dengan seorangpun, selain Leonardo yang kemudian menjadi kekasihnya.


Latar belakang gadis itu pun tidak begitu diketahui, karena Devania sendiri baru pindah ke kota ²Impian setelah resmi menerima beasiswa untuk bersekolah di sana. Itulah sebabnya tidak ada yang tahu kemungkinan alasan Devania mengakhiri hidupnya.


Tentu sebagai kekasih, Leonardo ingin memecahkan masalah ini. Setelah setengah tahun menjalani hidup uring-uringan karena kepergian kekasihnya di saat hubungan mereka dalam keadaan tidak baik, Leonardo mengambil keputusan untuk menyelesaikan semuanya sekarang.


"Lo percaya nggak sih kalau misalnya perbuatan kita bisa berdampak besar ke orang lain tanpa kita sadari?" Pertanyaan itu memecah keheningan antara Leonardo dan Pradipa yang sedang duduk di bangku pojok kantin saat istirahat.


"Yaiyalah, nggak bermutu banget pertanyaan lo!" sentak Leonardo.


"Maksud gue, mawar putih yang pengen lo kasih ke Devania bisa jadi alasan keretakan hubungan kalian dan akhir dari hidup cewek itu," cetus Pradipa.


"Gila lo ya! Gue tahu lo juga capek karena ngebantuin gue mecahin masalah ini, tapi nggak gitu gaya bahasa lo, anj*ing!" Laki-laki bergelang merah itu menyergah dengan menggebu-gebu. Entah mengapa tiba-tiba emosinya memuncak.


Kepalan tangannya telah terlebih dahulu memukul meja tempat mereka duduk. Untung saja tidak ada apa-apa di atas meja itu karena mereka belum memesan.


Seketika gebrakan itu menjadikan mereka pusat perhatian. Laki-laki dengan lencana OSIS itu turut berdiri lalu melihat sekeliling memberi kode bahwa semuanya baik-baik saja.


"Apaan banget sensi lo. Tenang dulu!" sanggahnya pada Leonardo. Pradipa menyentuh pundak sahabatnya seakan menyuruhnya duduk, berharap bahwa amarah laki-laki bergelang merah itu mereda.


Leonardo menetralisirkan amarahnya, "terus?" tanyanya masih berusaha tenang.


"Seminggu setelah kejadian itu lo nggak pernah ketemu atau ditemuin sama Devania selain karena nggak sengaja pas-pasan, kan?" Leonardo mengangguk, "tapi gue sempat bicara berdua sama Devania karena ngebahas soal pensi besoknya." sambung Pradipa.


"Trus apa hubungannya?" Jelas itu pertanyaannya. Apa hubungan mawar putih, masalah mereka dan pembahasan Pradipa dengan Devania soal pensi? Bukankah tidak ada keterkaitannya?


"Gue sempat nanya soal pertemuan kalian karena waktu itu gue belum tahu kalau kalian gagal ketemu dan akhirnya dia sedikit menyinggung tentang kalian," jelasnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


[1] sumber: Artikel Katadata.co.id


[2] nama kota hanyalah fiktif


__ADS_2