
Hari berganti hari namun rasanya seperti kemarin tak pernah ada. Devania duduk termenung dalam kamarnya hingga sebuah ketukan pintu memaksanya bergerak menuju tempat suara itu datang.
Devania membuka pintu, mendapati seorang gadis berdiri di sana dengan wajah memerah dan mata yang sembab -- seperti baru selesai menangis.
Tanpa bertanya gadis berambut sebahu itu mempersilahkan seseorang yang tidak dikenalnya untuk masuk ke dalam.
"Maaf, saya tidak akan berbicara banyak. Tapi saya mohon lepaskan Leonardo. Dia tidak bisa terus hidup seperti ini, bantu dia untuk melepaskan kamu dan biarkan dia menjalani harinya seperti sedia kala."
Devania tidak mengerti, dirinya tentu saja bingung dengan apa yang dikatakan gadis itu.
Baru saja ingin bertanya, suara ketukan pintu terdengar lagi. Devania bangun dan membuka pintu tersebut, "Hai, cepat banget buka pintunya." celetuk orang itu.
"Leo, kamu kok bisa disini?" tanya Devania dengan heran. Gadis itu melihat masuk ke dalam, gadis yang duduk di sana tadi sudah tidak ada?
"Van, kamu kenapa?"
"Oh, enggak kok, enggak" jawabnya dengan wajah panik.
"Kamu kelihatan panik banget, ada apa?" tanya Leonardo dengan lembut.
Devania menatap Leonardo dengan intens, "kamu ngapain ke sini?"
"Aku pengen ngajak kamu keluar, mau nggak?" Devania mengangguk, "masuk aja! Aku siap dulu." titahnya.
__ADS_1
...****************...
Mereka telah sampai pada tempat tujuan, setelah perjalanan panjang dan petualangan melewati bebatuan tajam akhirnya perjuangan mereka terbayar dengan pemandangan laut pasang yang indah ditemani sunset dan langit jingga kemerahan.
"Wah," Devania kagum.
"Suka?" tanya Leonardo yang menatapnya seakan Devania adalah objek terindah yang tidak boleh terlewatkan. Bagi laki-laki itu, jika Indah berbentuk manusia, maka manusia itu adalah Devania.
Devania tersenyum menghadap ke arah Leonardo, "suka!" gadis itu berlari memeluk Leonardo dengan erat.
"Makasih ya, udah ngajak aku ke sini. Aku senang banget!" ucapnya tanpa mengurai pelukan mereka.
Leonardo mengusap surai gadis dalam dekapannya, "aku senang kalau kamu juga senang," tutur laki-laki itu.
Tak berlangsung lama, rasa sedih menyerobot masuk ke dalam hatinya.
"Devania Anggara." masih dalam posisi yang sama.
"Gue sayang banget sama lo!" ungkap laki-laki itu.
"Gue pengen hidup lebih lama lagi sama lo, sama kayak lamanya waktu lo pengen hidup. Gue pengen habisin waktu-waktu gue berdua dengan lo, tapi saat kesempatan itu ada depan mata gue, gue sia-siain kesempatan itu.
Sekarang gue udah terlambat, Dea. Nggak ada lagi kesempatan untuk buat lo bahagia, untuk temani lo dan buat lo merasa kalau gue terus ada di samping lo. Gue pengecut!" racau laki-laki itu sambil terus meneteskan air matanya.
__ADS_1
Laki-laki itu terlihat begitu frustasi, "gue minta maaf karena nggak bisa temanin lo selama ini, maafin gue!" Laki-laki itu mengguncang gadis didepannya yang hanya bergeming sejak tadi.
"Gue janji bakal berubah, gue bakal tepatin janji gue ke lo. Gue bakal hidup untuk lo, Dea. Demi lo!" Gadis itu akhirnya menunjukkan pergerakan, dia tersenyum lembut.
Devania meraih tangan laki-laki itu yang masih berada di bahunya, menggenggamnya, lalu mengusap air mata di wajah Leonardo -- laki-laki yang cintainya.
Devania tersenyum, "Aku juga sayang kamu, aku mau lihat kamu hidup dengan baik."
"Love, bahagia ya!" ucapnya yang sedetik kemudian menghilang seperti debu ditiup angin.
"DEAAAAA!!!" teriaknya tersungkur di atas pasir dengan wajah yang dia tutup menggunakan kedua tangannya, tangan yang digenggam gadisnya -- Devania Anggara.
"Evano?" panggil seorang gadis yang berdiri didepannya.
Leonardo mengangkat wajahnya, "Kak, Rai?" gadis itu kakaknya -- Raisa Danasti Eros -- gadis yang sama yang menghampiri Devania sebelum mereka ke sini.
Raisa tersenyum, "Kakak sayang kamu, Van. Jangan pergi lagi!"
...****************...
"DEAAAAA!!!" teriak Leonardo yang mengejutkan kakak perempuannya.
"Evano? Kamu kenapa?" tanya Raisa mendapati adiknya yang bangun dari tidur, sepertinya adiknya itu bermimpi.
__ADS_1