
Selaku sekretaris panitia Pentas Seni di sekolahnya, Pradipa telah menyusun jadwal agar para ketua sie berkumpul di ruang OSIS SMA Merdeka Harapan pada jam istirahat ke-dua. Jumat, 18 November 2022.
Saat menunggu para panitia di ruang OSIS, Pradipa terkejut dengan kedatangan Devania sebagai yang pertama hadir.
"Loh, lo ngapain di sini?" tanya sekretaris itu, pasalnya Devania bukanlah ketua sie.
"Hallo, kak Dipa!" sapa gadis itu, "aku ke sini diminta sama kak Rain. Soalnya kak Rain lagi sakit, nggak dateng sekolah." gadis itu menjelaskan dengan sopan.
"Gitu, ya." Pradipa mengangguk paham. Laki-laki itu memberi isyarat agar pacar sahabatnya itu duduk, "kemarin lo abis ketemu ya sama Leo, gimana?" tanyanya penasaran.
Devania tampak tersenyum malu, "gimana apanya kak?" tanyanya balik masih dengan senyum malu-malu kucing. Padahal kemarin dia dan Leonardo tidak sempat bertemu. Namun, mendengar nama kekasihnya saja sudah cukup membuatnya salah tingkah.
"Nggak jadi, deh. Muka lo udah menjelaskan segalanya," ucap Pradipa dengan senyum manis di wajahnya, ia senang mengetahui hubungan percintaan sahabatnya baik-baik saja.
.
"Katanya ngebahas gue? Nggak ada tuh," sergah Leonardo.
Pradipa memberi pelototan padanya, "gue belum selesai ngomong."
"Loh, Dip. Kamu di sini?" Raisa baru pulang dari kampusnya yang dengan setia ditemani oleh laptop, buku-buku tebal dan serba-serbi perlengkapan pertarungannya di kampus.
"Kak, Risa. Hallo!" sapa Pradipa.
Laki-laki bergelang merah dengan peran sebagai adik Raisa menatap tak terima dengan panggilan tersebut, "Risa rosa Risa rosa, Raisa!" sebuah hadiah geplakkan diterima oleh Pradipa.
Laki-laki berlencana OSIS itu mengusap belakang kepalanya, "apaan sih? Suka-suka gue lah, wong kak Risa aja nggak masalah. Iyakan, kak?" Raisa hanya memberikan raut wajah dengan bibir melengkung ke atas.
Melihat itu Leonardo menjadi kesal, ia berjalan menuju arah kakak perempuannya itu berdiri. Dengan posisi bak akan bermain 'naik kereta api' Leonardo mengarahkan kakanya untuk segera masuk ke kamar, "kakak capek, kan? Yaudah selamat istirahat!"
Baru saja ingin menutup pintu kamar kakaknya. Raisa berseru, "itu tamu istimewa, jangan lupa dikasih minum!" Hal itu sontak membuat Leonardo memasang wajah sinisnya, sedang Raisa tersenyum geli sebelum buru-buru menutup pintu kamarnya sendiri.
__ADS_1
"Kayak orang kerasukan lo!" cibir Leonardo mendapat Pradipa senyam-senyum sendiri sambil memandangi pintu kamar Raisa -- yang tak jauh dari ruang tamu tersebut.
.
Satu per satu anggota rapat yang diundang Pradipa mulai memasuki ruang OSIS. Setelah semuanya tiba, laki-laki dengan status sekretaris itu menyampaikan tujuan rapat hari ini yang hanya dihadiri oleh dia dan masing-masing ketua sie.
"Jadi, gimana persiapan kalian sejauh ini?" tanyanya dengan penuh wibawa. Masing-masing ketua mulai menyampaikan segala persiapan mereka. Ada yang sudah matang, ada yang masih dalam tahap persiapan dan lain sebagainya.
"Baiklah, sejauh itu semua persiapan kalian gue rasa sudah berjalan dengan baik. Tolong pastikan segala sesuatu yang ditugaskan kepada kalian dikerjakan dengan baik, waktu kita tinggal beberapa hari saja. Mohon kerja samanya!
Kalau ada kendala atau apa pun itu jangan sampai ada miss komunikasi, komunikasikan apa saja ke ketua, wakil, gue atau siapa aja yang ada dalam list panitia. Kita usahakan semaksimal mungkin untuk meminimalisir kemungkinan yang nggak diinginkan."
Setelah mencatat semua peningkatan persiapan, Pradipa menarik kesimpulan yang diakhiri dengan perintah dan permohonan kekompakkan.
"Masih ada yang mau ditambahkan atau ditanyakan?" laki-laki itu menatap anggota rapat satu per satu.
Devania mengangkat tangan kanannya. Setelah dipersilahkan gadis itu membuka suara, "seperti yang sudah disampaikan tadi, kami dari bagian dekorasi sudah punya persiapan yang matang. Segala keperluannya pun sudah tersedia, tinggal menunggu hari gladi untuk dihias ke aula.
Tapi anggaran belanja yang kami pegang masih ada sekian nominal, sehingga kami mengusulkan untuk menambahkan dua bunga yang akan ditempatkan di dua sisi pintu masuk sebagai sambutan untuk para tamu.
Yang saya harapkan di sini adalah pendapat atas usul dari teman-teman, sekiranya ada yang tahu jenis bunga apa yang cocok pensi kita sesuai dengan temanya." ucap gadis itu panjang lebar.
Wajah Pradipa menunjukkan kepuasan setelah Devania mengucapkan itu, "bagus! Bagaimana ada yang bisa memberi usul? Flower kamu tahu?" tanyanya menuju ke arah Flower -- ketua seksi acara.
"Yee, mentang-mentang nama gue Flower! Gue mah kagak ngarti deh gitu-gituan. Lo aja, dah. Lo pan pinter tuh," sewotnya menyenggol yang dimaksud pintar.
Gerald selaku ketua keamanan dan kenyaman yang disenggol menjadi gelapan, "eh eh, sembarangan aja. Nggak, ya! Gue mah cuma pinter nyontek doang." Keduanya seketika menjadi tontonan siaran langsung lucu yang diberi hadiah tawaan.
Meski sempat ikut tertawa Pradipa mengambil alih atensi anggota rapat, "Tenang, guys!" titahnya yang langsung diikuti oleh yang lainnya.
"Oke, stop bercandanya. Sekarang siapa yang bisa kasih usul, kalian nggak mau kan makin lama rapatnya?" seisi ruangan terkecuali sekretaris itu mengangguk.
__ADS_1
"Ehm, mendingan itu biar jadi urusan kalian sendiri aja." Ujar Sonya si ketua konsumsi. "Eh maksudnya, aduh bahasa yang lebih halusnya gimana sih?" gadis itu gelagapan takut jika bahasanya dianggap tak sopan.
"Ahm, ehm, eee maksudnya soal bunga itu gimana kalau didiskusiinnya sama tim kalian aja. Kan itu saran baru dari kalian, hehe" ralatnya disertai cengiran lucu. Apalagi dengan kunciran rambutnya berwarna pink dengan berhias boneka kepala kelinci.
"Santai aja kaliii. Nggak ada yang mo nerkam lu, kok!" Pevita yang duduk di sebelah Sonya merangkul temannya itu. Seisi kelas dibuat gemas oleh tingkahnya.
"Oh, iya. Gitu aja, kak. Ntar kalau udah selesai kami bahas, aku bakal kontak kak Dipa." suara Devania membuat seisi ruangan tersenyum senang. Akhirnya rapat ini bakal selesai.
"Ya sudah, kalau begitu kalian semua boleh keluar. Rapat kita selesai, dan Devania kamu jangan lupa!" Devania mengangguk, sedang yang lainnya sudah bersorak kegirangan, meregangkan kembali otot-otot mereka.
"Terima kasih semuanya!" teriak mereka hampir bersama-sama -- itu ciri khas mereka.
Ruangan OSIS itu sekarang tersisa Pradipa dan Devania. Gadis itu menghampiri Pradipa yang masih membereskan barang-barangnya, "kak?" panggilnya.
Laki-laki yang merasa dipanggil itu mendongak, "Van, lo belum keluar?" Devania mengangguk, "boleh bicara sebentar, nggak?" izinnya.
"Oh, boleh boleh. Ada apa?" Laki-laki itu memperbaiki duduknya. Pun demikian Devania disuruhnya untuk duduk.
Setelah mendapat posisi yang nyaman untuk bercerita, "ehm. Aku mau bahas soal kak Leo, kak." gadis itu tampak ragu-ragu berbicara.
"Ngomong aja nggak usah takut!" ujar Pradipa.
"Sebenarnya kemarin aku nggak ketemu sama kak Leo." Pernyataan itu menautkan alis Pradipa, "loh, kok nggak ketemu? Gue pikir kalian ketemu trus roman-romantisan. Muka lo berseri banget pas gue tanya tadi!" serunya dengan heboh.
"Kemarin ada sedikit kendala, kak. Karena itu aku nggak bisa ketemu kak Love, padahal aku udah kangen banget sama dia. Kak Love itu ibarat belahan jiwa aku, aku nggak bisa lama jauh dari dia." Entah mengapa tiba-tiba tekanan udara dalam ruangan itu menjadi semakin dingin meski AC-nya dimatikan, Pradipa dapat melihat ada banyak hal di mata Devania.
Laki-laki itu tak memberi respon apa-apa, dia hanya diam. Dia hanya akan menjadi pendengar yang baik.
"Kak, aku mohon jaga kak Love baik-baik! Aku nggak mau kehilangan dia," pinta gadis itu dengan suara parau.
"Lo ngomong apa sih, dia tu cinta banget sama lo. Nggak mungkin dia bakal ninggalin lo!" Laki-laki itu bingung harus berbuat apa, masalahnya Devania mulai menjatuhkan air matanya.
__ADS_1
Devania mengangguk pasti, "iya kak. Aku tahu. Kak Love nggak akan ninggalin aku, kecuali ... " gadis itu menggantungkan kalimatnya.
"Kecuali apa?"