
"Lo udah baca diarynya?" Pradipa bertanya saat jam istirahat tiba.
"Baru satu halaman," jawab Leonardo.
"Gue pikir lo excited banget sampe udah habis," kelakar Pradipa.
"Kantin aja, yuk!"
Setelah keduanya menginjakki kantin, mereka berpencar. Pradipa bertugas memesan, sedang Leonardo mendapat bagian mencari tempat kosong agar mereka tempati untuk dapat menikmati makanan nanti.
"Kasih tahu gue hal lain tentang Dea," Pinta Leonardo.
Pradipa menelan sesuap nasi goreng di mulutnya, "tentang apa?"
"Ya, apapun yang menjadi kemungkinan dia bunuh diri?" Jawab Leonardo hati-hati. Terlalu hati-hati hingga membuat akhir kalimatnya seperti bertanya.
Laki-laki berlencana OSIS itu mengerti, "sebaiknya bukan di sini. Di rumah gue aja."
...****************...
Sesuai janji, kini dua sahabat itu berada di gazebo rumah Pradipa. Dengan ditemani dua botol air mineral dingin dan setoples kue kering buatan Naya -- ibu Pradipa --, keduanya akan bercerita tentang seorang gadis.
"Gue sempat bilang, kan? Kalau sewaktu kita ujian kenaikan kelas, kakaknya Eva ngechat gue buat kasih tahu kalau Eva bakalan pindah ke sini dan lanjutin SMA di sekolah yang sama kayak kita?
Waktu di chat, Lody sempat kasih tahu gue kalau Eva makin pendiam karena orang tuanya yang nggak pernah akur dan dia juga sempat ditusuk sama temannya sendiri."
"Lody?" Tanya Leonardo mengerutkan keningnya, "kakaknya Eva." Pradipa memberitahu, kemudian melanjutkan ceritanya.
"Gue nggak sempat nanya bagaimana pastinya juga karena menurut gue itu bukan hal yang harus gue tahu dari orang lain dan bukan orangnya langsung. Lagipula, gue yakin kalau Lody juga nggak bakalan kasih tahu gue gitu aja." Pradipa cukup mengenal Claudy dengan baik.
"Lody sering ke sini waktu SMP, cuman mereka berdua nggak pegang HP waktu itu. Jadi, gue nggak pernah nyimpan nomor dia sebelum waktu itu dia chat gue untuk pertama kalinya.
Berbeda dengan Lody, Eva nggak pernah nyamper ke sini. Karena gue juga nggak pernah ke sana setelah lanjut sekolah di sini, makanya dia nggak tahu soal gue adalah sepupunya."
Pradipa mengeluarkan ponselnya, mengutak-atiknya sebentar. Kemudian laki-laki itu mengulurkan ponselnya yang sedang menampilkan gambar dirinya dan Devania versi kecil.
"Lo bisa liat, kan, perbedaan gue yang dulu sama yang sekarang? Gue aja nggak percaya kalau itu gue waktu kecil," ejek Pradipa pada dirinya sendiri.
Memang benar. Dalam gambar itu, Devania jelas tak banyak perubahan. Gadis dalam gambar itu mungkin hanya terlihat lebih kecil namun lebih berisi, matanya juga lebih terlihat sipit dibandingkan matanya ketika berumur belasan yang terlihat lebih bulat. Siapapun yang pernah melihat Devania, lalu melihat gambar itu akan sangat yakin bahwa itu dirinya.
Sedangkan, Pradipa jelas begitu banyak perubahan. Dirinya dulu sangat gemuk, kulitnya terlihat dekil, matanya dalam gambar itu entah bagaimana terlihat tidak sedap dipandang, berbeda dengan sekarang yang matanya terlihat begitu indah dengan warna coklat dominan.
Rambutnya bahkan dulu begitu ikal, dan entah bagaimana sekarang terlihat lurus dan rapi. Dilihat dari segi mana pun, perbandingan itu begitu nyata, sangat berbanding terbalik. Mungkin hanya hidung mancungnya itu saja yang dapat disamakan.
Leonardo tertawa kencang, ia tidak dapat menahan gejolak dalam perutnya yang seakan terkelitik dengan begitu sadisnya.
__ADS_1
Di sisi lain, objek yang menjadi tertawaan itu hanya bisa pasrah. Oh, tapi sepertinya tidak semudah itu. Pradipa akan memberi ancaman, "sekali lagi lu ketawain gue. Gue nggak akan cerita apapun," ancamnya dengan raut serius.
Suara telpon berdenting, Leonardo menerimanya. Sebuah kata sapaan menghampiri telinga, "kak Rai, ada apa?" Tanyanya pada sang penelepon.
Pradipa turut menajamkan telinganya, suara itu berasal dari seseorang yang dikaguminya.
"Iya, kak. Gue tadi nggak langsung pulang, ini lagi sama Dipa. Lo nggak ngampus?"
... "Oh, gitu ya? Okedeh!"
Setelah telpon ditutup Pradipa langsung menyerang dengan pertanyaan. "Itu kak Risa?" Leonardo menggeleng, "Raisa. Not Risa!"
"Halah, iri aja lo."
"Kak RAISA bilang apa?" Tanya Pradipa dengan sengaja berteriak mengucap nama Raisa.
Botol air yang masih penuh mencium bahu Pradipa, "mang enak!"
Pradipa mendengus, "jadi, bilang apa?"
"Dia nanya apa gue nggak langsung ke rumah, soalnya gue nggak di rumah dan makanan di sana katanya nggak ada yang tersentuh. Terus dia bilang dia bakal pulang telat malam ini karena bakalan kerkom," jawab Leonardo.
Pradipa hanya menunjukkan wajah ber-oh-ria, sedang dalam hatinya laki-laki itu akan mengambil kesempatan untuk menjemput Raisa nantinya. Tidak baik kan seorang gadis pulang terlalu malam jika tidak didampingi?
"Lanjutin!"
"Oh, iya. Gue ingat satu hal, setelah hari pertama sekolah lo nggak dateng lagi selama seminggu lebih,
.
Hari ini hari keduanya menginjakkan kaki di sekolah dan hari kedua pula para siswa-siswi kelas X akan mengikuti kegiatan MPLS.
Devania tampak bersemangat, selain karena suka beraktivitas dia juga menaruh besar harapan agar bertemu lagi dengan sosok kakak kelas yang telah dicintainya sejak pandangan pertamanya kemarin.
Bagaimana tidak, laki-laki dengan tinggi kira-kira 15cm lebih tinggi darinya itu berdiri dengan postur gagah sembari menghadap ke arah taman yang sedang dihiasi oleh bunga-bunga yang cantik. Kulitnya yang cokelat, memantulkan cahaya matahari. Dia bersinar, dan indah!
Matahari telah berdiri dengan gagah di atas kepalanya, kegiatan MPLS telah selesai beberapa menit yang lalu. Sepertinya tinggal beberapa waktu lagi dan bel yang menandakan mereka telah boleh pulang sekolah akan berbunyi. Sedangkan sampai detik ini, Devania belum mendapat tanda bahwa ia akan melihat sosok indahnya.
"Hai!" Saat sedang melirik kesana kemari, tiba-tiba seorang laki-laki mendekat dan menyapanya. Mungkin bukan terjadi pada Devania saja, tapi saat ini yang dilakukan oleh gadis itu pertama kali adalah memperhatikan laki-laki itu mulai dari ujung kakinya hingga puncak kepala laki-laki itu.
Devania menilai bahwa laki-laki itu lumayan, tapi gadis itu tidak tertarik. Perasaannya justru menolak keberadaan laki-laki yang sepertinya juga seorang siswa kelas X, sama seperti dirinya.
Meski demikian, gadis itu tidak ingin terkesan buruk. Ia harus memberikan kesan yang baik diawal sekolahnya, apalagi ini adalah kota yang asing bagi dirinya.
"Hai," jawab Devania pelan.
__ADS_1
Laki-laki itu tersenyum, mengulurkan tangannya dan memperkenalkan diri. "Nama gue, Fatih. Fatih Dillan Syah." Kepercayaan diri laki-laki itu terdeteksi 1009%.
Devania meraih tangan itu dengan wajah datar, "Devania." Bahkan menjawab tanpa niat.
"Sebentar lagi udah waktunya pulang. Bareng gue, ya?" tawar Fatih.
Devania tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya, dengan wajah tertunduk ia memikirkan bagaimana cara menolak yang tepat. Dia yakin laki-laki tidak akan membiarkan dirinya lolos begitu saja.
"Nggak perlu, kok. Aku bisa sendiri," tolak gadis itu.
Hm, sepertinya Fatih semakin terpesona. Gadis di depannya ini bukan saja cantik, tapi seperti sangat sopan dan polos? Ah entahlah, intinya Fatih mengincarnya dan tidak akan membiarkan yang lain mendapatkannya.
"Nggak apa-apa santai aja," ujar Fatih.
"Maaf, tapi aku nggak mau."
"Pake sungkan segala. Aman sama gue, lo nggak perlu bayar kok. Gratis!"
Bukankah sudah Devania bilang, tidak mungkin akan laki-laki itu biarkan dirinya lolos begitu saja.
Bel tanda pulang sekolah berbunyi.
"Akhirnya," gumam Devania.
"Lo beres-beres aja dulu. Gue tunggu di parkiran." Setelah berujar demikian. Fatih berlalu begitu saja.
"Gimana cara menghindarnya? Aku harus minta tolong ke siapa?" gerutu gadis itu dalam hati.
"Oh, kemarin kalau nggak salah liat, kak Love itu kelas sebelas Mipa lima. Aku samperin aja, biar minta tolongnya ke dia aja."
Selain dasi yang berlambang SMA Merdeka Harapan dan lencana khusus anggota OSIS, atribut di lengan kiri seragam itu menunjukkan dengan keterangan jelas kelas berapa siswa yang memakai seragam itu, sedang disebelah kanan terdapat logo SMA Merdeka Harapan.
Devania berjalan berlainan arah dengan siswa-siswi lainnya. Di saat yang lain sedang menuju gerbang, gadis itu justru sedang menyusuri koridar menuju sebuah kelas yang berada di paling ujung dari gerbang.
Setelah sampai ke tempat yang ditujunya, ternyata hanya tersisa beberapa orang saja di sana. "Eh, kak Pradipa!" Devania berseru saat melihat Pradipa keluar dari kelas itu. Pradipa adalah salah satu OSIS yang mengurus MPLS, tentu dalam dua hari ini Devania tahu namanya.
"Ev. Eh, Devania. Lo ngapain di sini?" Tanya laki-laki berlencana OSIS itu.
"Nyari kak Leonardo, hehe" jawabnya dengan diakhiri cengiran. Entah apa yang membuatnya nampak malu-malu kucing.
"Leo nggak masuk. Ngapain lo nyari dia?" Tanya Pradipa dengan galak.
Nyalinya menciut, "eh itu, anu kak. Nggak jadi," jawabnya.
Pradipa menahan senyumnya ketika melihat tingkah gadis di depannya. "Yaudah, pulang sana!" titah laki-laki berlencana OSIS itu.
__ADS_1
Devania menjawab bahwa ia akan pergi, tapi praktiknya malah terbalik. Gadis itu masih diam di sana dengan perasaan berkecamuk. Bagaimana jika Fatih masih menunggunya dan terus memaksa gadis itu untuk pulang bersama?