
Fatih disekap dalam kondisi terduduk diatas bangku kayu dengan tubuhnya yang diikat merekat ke kursi tersebut.
"Akhirnya sadar juga, nih." Pradipa menyenggol Leonardo yang sedang menikmati sepotong pizza -- dibelinya saat dalam perjalanan ke sini.
"Hallo, tuan!" Sapa Leonardo dengan nada mengejek saat Fatih sedang mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya.
Fatih menyadari dirinya seperti dalam sebuah gudang dengan kondisi mengenaskan karena diikat bak korban pencurian, ia berusaha bergerak dengan harapan tali-tali itu lepas. Namun, malah tubuhnya sakit karena ikatan itu.
"Sesuatu jika dipaksakan memang sakit," Pradipa berucap dramatis bak anak senja.
"Mau kalian itu apa sih?" Fatih berteriak.
Leonardo menatap sahabatnya memberi kode, Pradipa segera mengeluarkan ponsel dari kantongnya, membuka kamera dan mengarahkan pada Fatih.
"Gampang, kita cuma mau lo buat pengakuan atas segala hal yang udah lo lakuin ke Devania. Semuanya!" jawab Leonardo dengan penuh penekanan.
"GAK! Gue nggak akan lakuin itu," bentak Fatih.
Leonardo ingin marah, tapi justru ia menampilkan senyumnya.
"Jangan galak-galak! Kelihatan takutnya. Kita cuma akan nyerahin video ini ke kepala sekolah, dan lo bakal dilempar keluar dari sekolah. Gak menakutkan, kok!"
Kedua sahabat itu berpandangan, seakan mengerti isi kepala masing-masing; keduanya tertawa mengejek.
"Jangan berharap gue bakal lakuin itu."
"Kalau gitu, jangan berharap juga kalau lo bakal keluar dari tempat ini." Pradipa memandangi gudang tersebut, lalu beralih ke arah Fatih yang nampak mulai berpikir apa maksud ancaman itu.
Kedua bola Fatih hampir saja keluar saat melihat sesuatu di samping Leonardo. Laki-laki bergelang merah tersebut mengikuti arah pandang Fatih, meraih barang itu dan membawanya mendekat ke Fatih, "lo benar. Ini bensin," ucap laki-laki itu.
"Apa yang mau kalian lakuin ke gue?" suara dan tubuh Fatih kini bergetar hebat. Tidak, dia tidak ingin mati sekarang.
"Kita nggak akan ngapa-ngapain lo kalau aja lo mau buat pengakuan sejujur-jujurnya dan sedetail mungkin," jawab Pradipa dengam tenang. Leonardo mengangguk setuju, "tapi kalau lo gak mau. Artinya lo pilih opsi untuk habis terbakar bersama tempat ini."
Tenggorokannya kering, tapi bahkan untuk menelan ludah saja Fatih sudah tak mampu lagi. Suaranya tercekat, akhirnya dengan tubuh bergetar dia mengangguk kencang.
"Keknya dia anggukin opsi kedua, tuh!" Pradipa sengaja menyimpulkan hal yang berbanding terbalik.
Hal itu sontak membuat Fatih menggeleng-gelengkan kepalanya, hingga rasanya sebentar lagi akan copot. "Bukan, jangan, gue mohon! Gue akan buat pengakuan."
"Sejujur-jujurnya?" Tanya Leonardo. Fatih mengangguk, "iya!"
__ADS_1
"Sedetail mungkin?" Giliran Pradipa yang bertanya. Lagi dan lagi, Fatih mengangguk.
"Baiklah," ucap Leonardo.
Pradipa sudah bersiap sejak tadi, ia menekan tombol rekam agar menjadi bukti yang kuat. "Silahkan!" perintah Pradipa pada Fatih.
Laki-laki yang diikat itu menelan air ludahnya sudah payah, "Gue, Fatih Danadyaksa." Sedikit terbata-bata Fatih mengucapkan namanya.
"Jangan terlalu gugup, santai aja!" titah Leonardo menggoda.
"Melalui video ini, gue akan buat pengakuan atas ... " Fatih memandang Leonardo.
Leonardo balas memberi tatapan tajam penuh amarah, "kejahatan," sambungnya.
"atas kejahatan yang gue lakuin ke Devania." imbuh Fatih.
Fatih mengingat kembali semua yang dia lakukan, lalu mulai mengucapkan sebisa yang dia ingat.
"Pertama kali gue liat Devania, gue langsung suka banget sama dia karena dia cantik. Dari awal, gue selalu coba deketin dia bahkan selalu ngajak dia untuk pulang bareng. Tapi dia selalu nolak, dia nggak suka dengan kehadiran gue.
Gue marah sama mereka, karena gue yang duluan ngajak Devania pulang bareng tapi malah dia yang bareng sama Devania. Gue ikutin mereka, dan akhirnya tahu dimana kosan Devania." Fatih menunjuk pada Pradipa.
"Lanjut!" titah Leonardo.
.
"Misi pertama berhasil, sekarang misi kedua harus dijalankan."
Fatih yang sudah berganti pakaian setelah mengantar Devania kini melangkahkan kakinya menuju rumah Gio -- tetangga sekaligus teman sekolahnya -- sebagai tempat nongkrong dirinya dan beberapa teman lainnya.
Fatih masuk ke dalam halaman rumah Gio, mereka biasanya bersama-sama di depan rumah gio yang terdapat 6 tempat duduk buatan dari semen yang menyerupai sebagian dahan pohon yang tersusun melingari sebuah meja beralas lingkaran, dan terdapat peneduh semacam lopo yang juga terbuat semen.
Laki-laki yang baru bergabung itu mengambil bagian di salah satu tempat kosong, sebab yang lainnya telah diisi oleh Gio -- disamping kanannya --, di sebelah Gio ada Chelsea; mereka bertiga satu angkatan.
Disamping kiri Fatih, ada David dan disusul oleh George -- kakaknya Gio -- dan Aulia. David serta Aulia duduk di bangku kelas sebelas seperti Leonardo dan Pradipa, sedangkan George adalah kakak kelas XII yang juga satu sekolah dengan mereka.
"Kalian harus tahu ini," ucap Fatih membuka percakapan.
Kelima temannya serempak menoleh kearah Fatih, "tahu apa?" tanya George.
"Tadi gue pulang bareng Devania," jawab Fatih dengan senang. Bukan rahasia lagi bagi mereka bahwa Fatih telah menyukai Devania sejak pertama kali melihatnya.
__ADS_1
Mereka berseru heboh, turut senang atas sebuah peningkatan dari pendekatan sahabat mereka itu.
"Wih, asik. Akhirnya lo berhasil pulang bareng dia!" seru Chelsea.
"Gila, kok bisa? Keren sih lo, akhirnya." Heboh Gio, menepuk-nepuk pundak Fatih.
"Tapi, gue kepo. Kok bisa dia mau lo ajak pulang bareng, padahal dua hari kemarin lo bilang dia jutek banget sama lo?" Semua orang di sana mengangguk sepakat dengan pertanyaan David -- mereka juga ingin tahu.
Fatih tersenyum menang, ini saatnya menjalankan misi keduanya.
"Itu, dia. Gue juga nggak nyangka," papar Fatih. Laki-laki itu sengaja menampilkan wajah seperti dirinya sedang menerka.
Teman-temannya saling berpandangan, "kenapa?" tanya Aulia, akhirnya membuka suara.
"Bukan gue yang ngajak dia balik kali ini, tapi dia." jawab Fatih seakan masih tak menyangka dengan hal itu.
Teman-temannya disana terkejut dengan jawaban yang Fatih beri, "masa sih?" George yang pertama merasa tak percaya. Lalu disusul oleh adiknya, "iya. Masa sih?"
Fatih membuang napas berat, "gue nggak bohong."
"Coba, lo ceritain detailnya!" titah David.
"Jadi, tadi gue emang yang duluan nyamperin dia, waktu gue nggak sengaja liat dia baru keluar dari toilet. Terus gue samperin dia buat minta maaf karena dua hari kemaren gue udah buat dia risih. Akhirnya, dia maafin gue dan ngajakkin gue pulang bareng."
Diantara kelima temannya, Aulia dan Davidlah yang menunjukkan wajah tak percaya. Sedangkan, ketiga lainnya tersenyum senang.
"Kayaknya dia udah luluh sama lo," cetus Chelsea.
Aulia membuka suara, "masa sih?" sangkalnya. David pun turut bertanya, "emang dia ngajaknya gimana?"
"Kalian berdua kenapa, dah?" heran Chelsea.
"Ya, agak nggak percaya aja." Aulia mengedikkan bahunya.
"Udah, jawab aja pertanyaannya David!" tutur George.
"Devania bilang gini, 'ehm, iya aku maafin. Tapi, syaratnya kamu harus anterin aku pulang, gimana?' Gitu," jawab Fatih. Ia menirukan gaya bicara Devania.
"Kok bisa, ya?" heran Gio.
"Bisalah! Mungkin kemarin-kemarin dia mau coba sok jual mahal aja, secara Fatih kan lumayan cakep." Imbuh Chelsea pada Gio, "cewek mah gitu. Awal-awalnya jual mahal dulu."
__ADS_1
Kelima orang disana selain Chelsea, mengangguk setuju.
"Tapi, ada yang lebih mengejutkan lagi!" Bisik Fatih, seolah itu adalah sebuah rahasia besar yang tidak boleh didengar orang lain.