L Dream

L Dream
Bukti


__ADS_3

"Yoii, gue udah dapet buktinya." Pradipa mengeluarkan ponsel dari kantong celana seragamnya. Setelah mengutak-atik ponselnya, laki-laki dengan lencana OSIS di dada kanannya menunjukkan sebuah video kepada Leonardo. Video yang sama seperti pada bulan November tahun lalu.


.


Sebelum pulang sekolah, Leonardo meminta Devania untuk menemuinya di lapangan basket. Namun, setelah mengiakan permintaan kekasihnya, gadis itu tak kunjung kelihatan. Laki-laki itu telah menunggu satu jam lebih disana dengan perasaan gelisah, apakah gadisnya lupa? Ingin pergi dari sana tapi takut gadis itu akan datang.


"Nomornya nggak aktif lagi," gerutunya.


Sekali lagi Leonardo mencoba menghubungi gadis itu lewat telpon. Sayang, sampai panggilan yang ke-20 pun Devania tak kunjung menjawabnya.


"Kamu kemana sih, Deaa?" Laki-laki itu telah kehabisan kesabaran. Dengan kasar Leonardo meraih buket mawar putih -- yang ingin dia berikan pada Devania -- lalu membuangnya ke dalam tong sampah di ujung lapangan.


Baru saja hendak bergegas dari sana sebuah pemberitahuan pesan masuk menghentikan langkahnya. Dengan gesa-gesa Leonardo membuka pesan itu, berharap gadisnyalah yang memberi kabar.


"Nomor tidak dikenal?" laki-laki itu mencoba mengingat apa mungkin pengirimnya seseorang yang dia tahu tapi tidak sempat menyimpan nomor itu.


Tak mau berlama-lama, Leonardo membuka pesan tersebut. Di sana terdapat sebuah video berdurasi 9 detik dengan resolusi 144p, tampak seorang gadis bersandar pada tembok dengan seorang laki-laki yang berdiri dengan jarak intim didepannya. Meski terlihat buram, tapi Leonardo tidak mungkin salah mengenal. Dalam video itu jelas ada gadisnya yang masih menggunakan seragam sekolah, pita merah muda yang menempel di rambutnya dan


"Fatih?"


Sebuah pesan lanjutan,


'Cewek lo lagi berduaan dengan Fatih.'


"Apa-apaan ini, bisa-bisanya lo mesra sama cowo lain sedangkan gue nunggu lo sejam lebih disini?" laki-laki itu terkekeh, mengapa Devania mempermainkannya. Leonardo dengan penuh amarah meninggalkan sekolah tanpa mau mengerti bahwa ada kesalahpahaman disana.


...****************...


Devania buru-buru keluar dari kelasnya setelah merapikan alat tulisnya, bel tanda pulang sekolah telah berbunyi sejak lima belas menit yang lalu. Namun, guru yang mengajar pelajaran terakhir di kelasnya memberi tugas yang harus selesai hari itu juga dan baru boleh pulang secara serentak setelah semua selesai.


Barulah setelah semua mengumpulkan tugas, mereka diperbolehkan untuk pulang. Jika biasanya gadis itu keluar paling akhir, hari ini Devania keluar paling awal. Dia tak ingin kekasihnya menunggu lebih lama lagi.


Karena kecerobohannya ponsel yang berniat dia simpan di sakunya malah jatuh ke lantai. Belum sempat gadis itu meraih ponselnya, seseorang telah membekapnya dari belakang dan menyeretnya menuju salah satu kelas kosong yang tidak lagi terpakai karena sedang rusak.


Gadis itu tidak dapat melakukan apapun selain berontak, mau meminta tolong tapi kepada siapa? Orang yang membekapnya melewati kelas-kelas yang sudah sepi dan tak begitu terlihat secara leluasa.

__ADS_1


Saat sampai di kelas kosong itu tubuh Devania bergetar hebat, "kamu?" gadis itu berjalan mundur. Tangannya meraba sekitar berjaga-jaga jika menabrak sesuatu yang dapat melukainya. Sedang Fatih terus melangkah maju mengunci pergerakan gadis didepannya.


Ketika Fatih telah membuat jarak mereka tersisa sejengkal. Devania meraih sesuatu yang sepertinya adalah balok dari kaki meja yang patah. Gadis itu menghantam perut Fatih dengan kepalan tangan kirinya, jadi ketika laki-laki itu tertunduk, dia menghantamnya kembali dengan balok di tangan kanannya hingga laki-laki itu mengaduh kesakitan.


.


"Keren banget cewek gue." kagum Leonardo melihat aksi gadisnya.


"Gini aja lo bilang cewek," sindir Pradipa.


Tak menghiraukan sindiran sahabatnya, "lo dapet video ini darimana?" tanya Leonardo.


"Inaya Putri Cenaya."


.


Inaya Putri Cenaya --teman sebangku Devania Anggara-- memandang aneh saat Devania tergesa-gesa keluar kelas terlebih dahulu. "Aneh banget, biasanya juga belakangan tuh anak."


Inaya di kenal sebagai 'cewek tukang kepo', melihat momen ini mana mungkin dia harus ketinggalan, bukan?


"Jangan-jangan mau mensiv sama si kaka kelas itu," tebaknya. Kemudian bergegas keluar mengikuti langkah Devania yang sepertinya menuju ke lapangan basket.


.


"Saat Devania berhasil kabur dan bersembunyi, Fatih keluar dan Inaya ketahuan ngerekam apa yang coba dia lakuin ke cewek lo," jelas Pradipa.


.


"Heh!" Inaya terlonjak kaget mendengar teriakan Fatih. Segera dia menyembunyikan ponselnya, "kenapa gue nggak langsung cabut pas Vania keluar." gadis itu merutuki dirinya sendiri.


"Siniin HP lo!" titah Fatih.


"Enak aja, mau ngapain Lo?"


"Kalau lo nggak mau kasih HP lo. Hal buruk terjadi sama lo sekarang, kasih HP lo!" ancamnya.

__ADS_1


Dengan takut-takut Inaya memberikan ponselnya.


"Buka whatsapp lo!"


Inaya meraih kembali ponselnya dan membuka Whatsapp. Setelah laki-laki itu menge-scan Whatsappnya, dia mengirim video itu kepada dirinya sendiri. Lalu seusai itu barulah dia memastikan Inaya menghapus video tersebut.


.


"Jadi, dia yang udah sengaja ngirim potongan video itu?" tanya Leonardo dengan nyalang.


Pradipa mengangguk, "setelah dia kirim video itu, dia langsung hancurin kartunya biar nggak ada jejak."


"Sial. Gue udah kemakan sama potongan video yang durasinya cuma 9 detik," sesal Leonardo.


"Beruntung waktu itu video ini otomatis ke transfer di google foto Inaya, dia juga baru tahu soal itu setelah dua bulan kemudian dan nggak dihapus lagi sampe sekarang."


Leonardo menahan gejolak amarah yang mulai memanasi tubuhnya seketika mengetahui kenyataan ini, "Fatih, lo udah main-main sama gue." ucapnya dengan dada menggebu-gebu.


"Lo nggak boleh bertindak gegabah, Leo! Ini hari pertama sekolah setelah liburan dan lo udah kelas tiga, cuy. Jangan sampai ada masalah yang membahayakan kelas akhir lo!" Pradipa memperingati Leonardo yang berusaha untuk menahan amarahnya.


"Tapi gue pengen tahu, setelah kejadian di kelas nggak kepake itu Devania pergi kemana. Sedangkan gue yakin sewaktu berhasil kabur dari Fatih, lo masih ada di sekolah." Pradipa berdiri dari duduknya memikirkan hal itu.


Leonardo turut memikirkan itu, "memangnya Inaya juga nggak tahu?" tanyanya mengingat kejadian tersebut disaksikan oleh Inaya.


"Nggak, setelah keluar Devania kabur berlawanan arah sama Inaya. Itu juga alasan dia nggak liat Inaya dan Inaya nggak bisa ngebalikin handphone Devania yang jatuh sebelum dibawa Fatih," jawab Pradipa sesuai info yang dia dapatkan dari Inaya.


"Terus Dea kemana setelah itu," laki-laki bergelang merah itu bergumam.


"Devania nggak nemuin lo dalam sehari itu, kan?"


Leonardo menggeleng, "gue tahu Dea kemana hari itu!" serunya tiba-tiba.


Laki-laki bergelang merah itu hendak berlari ke luar kelas, "lo mau kemana?" tanya Pradipa membuatnya berhenti sebentar.


"Hari ini hari pertama sekolah setelah libur, nggak bakal ada kelas, kan?" bukannya menjawab Leonardo malah memberi pertanyaan. "Nggak ada," jawab anggota OSIS itu.

__ADS_1


"Ok, kalau gitu gue mau pergi. Titip tas gue, tolong lo bawa balik kalau gue nggak kembali sebelum waktu pulang sekolah!" laki-laki bergelang merah itu segera pergi setelah mengatakan kalimat itu tanpa menghiraukan Pradipa yang terus saja memanggil dirinya.


"Apa jangan-jangan ... "


__ADS_2