
"Kenapa lo?" Tanya Leonardo menyadari sepertinya Pradipa sedang memikirkan sesuatu yang terasa ganjil bagi sahabatnya itu.
"Tata letak kamar ini berubah," jawab Pradipa.
Laki-laki yang bernotabe OSIS itu masih melayangkan pandangannya pada seisi ruangan. Matanya mengirim sinyal ke otak guna mencocokkan apakah benar tata ruang ini berubah dibandingkan terakhir kali laki-laki itu ke sini, yakni minggu lalu.
.
"Kak, thank you udah mau nganterin aku pulang!"
Setelah rapat bersama dan sesi curhat antara Devania dan Pradipa, oh tidak! --Sesi curhat yang dibuka Pradipa untuk Devania-- entah inisiatif dan keberanian dari mana, Pradipa menawarkan diri untuk mengantar adik kelasnya itu pulang.
Pasalnya rapat yang dilakukan dalam durasi satu jam lebih ditambah sesi curhat yang menghabiskan waktu setengah jam yang ternyata berhasil membuat keduanya pulang dalam keadaan sekolah sudah sepi.
Sebenarnya mereka masih bisa mendapat satu pelajaran terakhir lagi, tapi ternyata hari ini siswa-siswi dianjurkan pulang lebih awal. Jadi, disinilah mereka sekarang. Di depan kos Devania.
"Ehm, sorry tapi gue boleh numpang toilet nggak?" Tanya Pradipa hati-hati. Devania menggangguk, membuka pintunya lebar dan berjalan dahulu memimpin Pradipa yang setia mengekori gadis itu.
"Ini, kak!" Devania mengarahkan Pradipa ke depan sebuah pintu yang pasti adalah pintu toilet.
"Aku tunggu depan kos aja ya, kak!" Tidak baik jika mereka berdua dalam satu ruangan yang sama, bukan? Meski tidak melakukan apa-apa, Devania lebih baik menghindari kemungkinan buruk.
Pradipa tersenyum sesaat setelah keluar dari toilet. Tidak, bukan kerasukan. Dirinya hanya senang melihat kamar kos dari sepupunya itu. Mata laki-laki itu memencari setiap sudut ruangan itu, terekam jelas betapa teduhnya kamar Devania yang rapi dengan dekorasi minim itu.
Tidak ingin berlama-lama, Pradipa segera keluar dari sana.
.
"Masih sama persis!"
.
__ADS_1
"Iya, gue nggak salah. Tata letaknya berbeda!" seru Pradipa setelah menerima sinyal dari dua ingatan tentang kamar itu. Saat mengantar Devania dan saat datang seminggu lalu, sehari sebelum ulang tahun Devania. Keduanya sama, tapi tidak dengan yang sekarang terlihat.
Dimulai dari kasur yang sebelumnya berada di sebalah kiri jendela, kini telah mepet dengan tembok yang sebelumnya adalah tempat lemari plastik Devania dengan 4 laci itu bersandar. Hingga beberapa pajangan hasil karya Devania; seperti bunga, kupu-kupu dan lain sebagainya juga tidak lagi menghiasi dinding.
"Lo kenapa panik banget? Bisa aja ulah pemiliknya, kan?"
"Itu dia masalahnya! Pemiliknya lagi keluar kota lebih dari seminggu lalu dan nitipin kos ke gue," jawab Pradipa menggebu-gebu.
"Mungkin dia balik lupa ngabarin lo. Bisa aja, kan? Dia kan pasti punya kunci cadangan." Leonardo berusaha menenangkan.
"Apapun itu!"
Pradipa berbalik ke belakang, laki-laki itu membuka laci paling bawah dari lemari di sana. Diraihnya sebuah buku bersampul desain vintage, lalu kembali menutup laci tersebut.
Pradipa kembali berbalik ke sahabatnya, memberi buku itu pada tokoh utama dalam cerita di buku tersebut, "nih! Itu diary Eva yang isinya semua tentang lo." Leonardo menerimanya dengan senang hati.
"Kakaknya Eva pernah nginep di sini selama seminggu, dia nginap setelah Eva meninggal dan dimakamkan. Tapi dia emang nggak mau nampakin diri, makanya dia cuma merhatiin dari jauh dan dateng lagi keesokan harinya ke makam Eva. Dia yang kasih tahu gue soal diary itu dan ngizinin gue buat baca atau kasih ke lo," jelas Pradipa.
"Terus kenapa lo baru kasih sekarang?"
"Gue ngerti," lirih Leonardo.
"Lo baca aja semuanya. Mungkin lo bakal ketemu jawaban di sana. Sekarang kita balik aja," ujar Pradipa.
Pradipa dan Leonardo menuntun langkah mereka keluar dari kos tersebut. Sebelum benar-benar menaiki mobil dan pergi dari sana, keduanya kompak tanpa pandu menoleh kembali menatap kos tersebut.
"Diary yang satunya kemana, ya?" Batin Pradipa.
Tak berbeda dengan Pradipa, Leonardo pun membatin, "semoga semuanya cepat selesai."
...****************...
__ADS_1
Leonardo telah sampai di kediamannya. Dalam kamarnya yang bernuansa abu putih setelah membersihkan diri, laki-laki itu meraih buku diary kekasihnya yang tersimpan aman dalam laci meja di samping tempat tidurnya.
Setelah puas membolak-balikan buku itu, Leonardo memantapkan diri untuk mulai membaca diary tersebut. Di lembar pertama buku itu terdapat sebuah catatan yang membuatnya tersenyum.
*Hm, cinta pada pandangan pertama?*
*Apa iya cinta pada pandangan pertama itu nyata?*
Oke, kita akan buktikan dalam cerita ini.
Dalam buku ini, aku akan menceritakan perjalanan pertemuan pertama dan seterusnya tentang seseorang yang mengambil hatiku tanpa perlu berusaha.
Mungkinkah aku yang langsung memberikannya?
Leonardo tersenyum malu. Dia membuka lembaran berikut, di sana terdapat tanggal yang menyatakan kejadian dalam tulisan tersebut.
Kemarin adalah hari pertama aku sekolah. Kamis, 14 Juli 2022.
Kemarin waktu aku ke sekolah aku diarahin buat ke aula, tapi aku bingung dimana letak aulanya. Jadilah aku jalan aja sambil merhatiin sekitar, nggak sengaja aku liat kakak kelas ganteng banget. Hm, entah kenapa rasanya aku ingin mengenal dia, ingin dekat dan bahkan selalu melihat dia. Entah perasaan macam apa itu? Aku baru pernah merasakan hal itu untuk pertama kali.
Dia seperti magnet yang menarik aku untuk mendekat. Tidak, ini tidak benar pikirku. Tapi aku bahkan tidak bisa menahan kakiku begitu saja.
Entah keberanian seperti apa yang merasukiku, aku dengan sengaja menabrak kakak kelas itu kemudian meminta maaf dengan alasan terlalu asik bermain HP. Haha, konyol sekali alasan itu. Padahal saat itu HPku berada dalam tas, untung dia tidak menyadarinya.
Diary, kau tau apa yang paling mengejutkan? Ya, aku mengajaknya berkenalan bahkan nengatakan bahwa berharap akan bertemu lagi nanti dengannya. Itu hal yang tidak pernah terbayang akan aku lakukan selama aku hidup ini.
Leonardo Evano Eros. *Namanya itu, dan aku akan memanggilnya 'Love' artinya LeOnardo eVano Eros.*
*Ah sudahlah, bukankah aku terlalu berlebihan untuk pertama kali jatuh cinta apalagi hanya cinta pada pandang pertama?*
:Note, bagian ini ditulis tanggal 15 Juli karena kemarin belum kepikiran ~
__ADS_1
"Ini mustahil? Bagaimana mungkin Dea bisa genit gitu." Laki-laki itu tertawa geli. "Jadi, panggilan Love itu udah dari pertama ketemu? Bisaan aja cewe gue."
Ingin melanjutkan acara baca diary kekasihnya, namun teriakan sang kakak untuk makan malam sudah menggelegar, membuatnya mau tak mau berhenti dan segera menuju ruang makan untuk memenuhi panggilan kakaknya.