
Pradipa memperhatikan raut wajah Devania, berharap menemui sesuatu yang membuat kaki gadis itu tidak kunjung melangkah. Namun, naas. Wajah Devania hanya datar, tidak ada kerutan di dahi atau perasaan sedih dan lainnya. Benar-benar tak ada ekspresi.
Laki-laki berlencana OSIS itu ingin meraih tangan Devania untuk segera pergi dari sana karena sebentar lagi sekolah akan sepi, tapi dia sadar bahwa saat ini Devania tidak tahu bahwa mereka adalah sepupu. Bisa-bisa gadis itu merasa risih dan selalu berwaspada pada dirinya..
"Lo nggak pulang? Bareng gue aja yuk, kedepan!"
Pradipa melangkah terlebih dahulu. Memastikan Devania ikut padanya dan kemudian terus berjalan memimpin di depan dengan langkah pelan.
Setelah keduanya tiba di parkiran, benar saja hanya tersisa beberapa motor yang dapat terhitung dengan jari masih terpakir di sana. Di sekolahan, mereka tidak boleh membawa mobil.
Devania mensejajarkan langkahnya dengan Pradipa yang sebelumnya berjalan di depan gadis itu. Ia melirik ke sekitar parkiran, berharap tidak ada sosok yang dia hindari di sana.
Gadis berambut sebahu itu bernapas lega saat tidak dia temui Fatih dalam radarnya. Namun, "Devania. Ayok pulang bareng! Gue udah tungguin lo daritadi," suara itu memupuskan harapannya.
Devania mendesah lirih dan menjaga ekspresi wajahnya agar tidak terlihat takut. Devania berbalik mendapati Fatih, "maaf. Aku udah pulang bareng kak Dipa." Devania berdiri di samping Pradipa, melihat wajah laki-laki itu sebentar, berharap Pradipa tidak mengatakan apapun yang membuat Fatih meragukan dan kemudian memaksanya.
Laki-laki berlencana OSIS itu mengerti, dia tahu bahwa sepupunya pasti tidak ingin pulang bersama seorang adik kelas dihadapannya sekarang. Jadi, laki-laki itu mengangguk, "Devania pulang bareng gue," ungkapnya.
"Nggak, dia pulang bareng gue!" Pradipa menurunkan tangan Fatih yang menunjuk Devania.
"Yang sopan!"
Fatih berdecih, dia tidak peduli bahwa Pradipa adalah kakak kelas ataupun OSIS. Dia hanya ingin pulang bersama Devania. Laki-laki itu memandangi Devania dari atas sampai bawah dengan pandangan menilai.
Menyadari itu, Devania bersembunyi di belakang Pradipa. Dia risih dan dia benci tatapan itu.
"Mending lo pulang, karena Devania nggak bakalan pulang bareng lo. Dia udah bareng gue!" Titah Pradipa berusaha meredam amarahnya. Dia tidak senang sepupunya diperlakukan demikian.
"******." umpat Fatih pada Devania, kemudian melangkahkan kakinya berlalu dari sana.
Mendengar itu, baik Devania maupun Pradipa sama-sama terkejut. Lagi-lagi gadis itu berusaha menetralkan ekspresinyan saat Pradipa berbalik menghadapnya. Meski demikian, kali ini Pradipa tidak tertipu. Dia dapat melihat binar amarah dan kesedihan yang terpancar di mata gadis itu.
"Lo mau gue anter balik, nggak?" tanya Pradipa.
Devania ingin menolak tapi kali ini dia harus menerima. Sekolahan sudah tampak sepi dan gadis itu takut sewaktu-waktu bertemu dengan Fatih kembali. Untuk saat ini, dia tidak mau hal itu terjadi. Jadi, dia mengangguk sebagai jawaban.
"Kalau begitu, lo tunggu di sini. Gue ambil motor dulu."
...****************...
Saat dalam perjalanan, Devania terpaku pada sebuah kedai ice cream yang telah terlebih dahulu masuk ke radarnya. "Kak, berhenti di kedai itu!" Pintanya menunjuk kedai di maksud.
Pradipa menghentikan motornya sesuai permintaan Devania, gadis itu tampak terpesona dengan bangunan di depannya. Sepertinya dia telah melewati kedai sebagus itu selama ini. Salahnya sendiri, tak terlalu memperhatikan sekitar ketika bepergian.
Pradipa ikut turun dan berdiri di samping Devania, "lo mau ice cream?" tanyanya.
"Iya, kak! Kakak mau nggak? Aku traktir deh sebagai tanda terima kasih," tawar Devania dengan senyum manis.
Pradipa suka sesuatu yang manis. Jadi, dia tidak mungkin melewatkannya bukan?
Devania melangkah di depan. Saat masuk, matanya lagi-lagi terpaku. Dia dibuat terpukau dengan interior kedai tersebut. Ini akan jadi tempat kesukaannya.
__ADS_1
"Wah, banyak banget variannya!" Seru gadis itu melihat sederet menu ice cream bahkan gelato yang tersusun rapi dan terpajang di atas.
"Kak, aku mau ice cream vanilla choconya satu, pake cup yang sedang aja!" Pinta gadis itu pada pelayan kedai.
"Kakak mau apa?" tanya Devania pada Pradipa, "vanilla aja." Jawab laki-laki berlencana OSIS itu, kemudian langsung mengambil tempat untuk duduk. Bukankah Devania yang akan membayar?
Pandangan gadis berambut sebahu itu mengikuti kemana Pradipa pergi. Setelah membayar dan mendapat pesanan mereka, Devania membawanya ke tempat Pradipa.
"Ini punya kakak." Devania menyodorkan vanilla ice cream pesanan Pradipa padanya.
"Makasih, ya!"
"Permisi kak. Sepertinya kakak berdua baru pertama kali ke sini, benar?" Devania dan Pradipa mengangguk membenarkan ketika seorang pelayan menghampiri meja mereka.
"Kalau begitu, izinkan saya untuk menjelaskan sedikit konsep kedai ini!" Setelah mendapat persetujuan dari keduanya, pelayan itu kembali menjelaskan; mulai dari penyediaan ice cream dan gelato, konsep kedai melalui interior dan kenyamanan, hingga ke Library You.
"Wah, keren banget!" Devania berdecak kagum mendengar penjelasan tersebut. Sepertinya dia akan sering ke sini.
Setelah pelayan itu pergi mereka kembali menikmati ice cream, sembari berbincang ringan. Pradipa dapat melihat bahwa sepupunya berusaha untuk tetap hangat dan tidak pasif dalam obrolan, meskipun dia juga tahu bahwa sepupunya itu pasti tidak begitu nyaman bahkan mungkin akan segera kehabisan energi sosial.
"Lo suka ice cream atau lagi pengen aja?" Tanya Pradipa, teringat dulu sepupunya itu tidak begitu menyukai makanan atau minuman dingin.
"Dulu sih aku nggak begitu suka, tapi nggak tahu kenapa belakangan ini suka aja gitu." Jawab Devania munyuapi suapan terakhir ke dalam mulutnya.
"Oh, gitu ya?"
"Tapi aku seringnya pas lagi mumet, lagi anyak pikiran, pas lagi stres gitu baru lari ke ice cream. Kalau cuma pengen aja jarang sih," terang Devania.
Pradipa tertawa kecil melihat perubahan ekspresi di wajah sepupu, "dia pasti merasa dirinya sendiri aneh." batin laki-laki itu.
...****************...
Devania sedang menunggu ojek onlinenya di sebuah kios yang terletak tidak jauh di depan kosannya. Wajahnya terangkat saat sebuah motor berhenti di depannya, "loh?"
Devania kaget bukan main. Pasalnya yang didepannya sekarang bukanlah tukang ojek tetapi malah Fatih. Huh, apakah sebelum keluar tadi dia lupa berdoa? Mengapa harus bertemu dengan makhluk seperti Fatih.
"Pagi, cantik!"
Devania bergidik ngeri mendengar sapaan itu. Beruntung ojeknya tiba tepat waktu. Tanpa membuang-buang waktu, gadis itu segera menaiki ojek tersebut dan berangkat ke sekolah.
"Liat aja, apa yang bakal gue lakuin ke lo."
...****************...
Hari ini adalah hari ketiga sekaligus hari terakhir MPLS. Devania sangat lega karena kegiatan tersebut telah selesai. Namun, perasaan sedih juga menghinggapi hatinya. Pasalnya, si kakak gantengnya itu tidak kelihatan dua hari ini.
"Apa aku tanya aja ke kak Dipa aja, ya?" gumamnya sambil mengetuk-ngetuk pelan hidung mancungnya dengan telunjuk kanannya. Kebiasaannya ketika berpikir.
"Eh, tapi nanti kelihatan SKSD nggak, ya?"
"Bodo, ah! Kemarin kan udah aku traktir," seru gadis itu."
__ADS_1
Devania melangkahkan kakinya menuju kelas Leonardo, dalam hatinya gadis itu berharap dapat bertemu sang pujaan hati yang kemarin tidak terlihat batang hidungnya.
Sayang sekali keberuntungan belum berpihak padanya, Leonardo tidak ada di sana. Pradipa pun tidak ada di sana, laki-laki itu sedang berada di ruangan OSIS.
"Oh, iya. Tadi kan ada pengumuman buat OSIS ngumpul."
"Woi!" Devania terkejut saat seseorang menepuk pundaknya.
Gadis itu menoleh ke belakang, "kak Dipa!" seru gadis itu mendapati Pradipa sebagai pelakunya.
"Nyari Leo lagi?"
"Iya, tapi aku juga cari kak Dipa."
"Ngapain lo nyari gue?"
"Mau nanya soal kak Leo, hehe" Gadis itu menjawab dengan wajah tanpa dosanya.
"Yee sama aja," ketus Pradipa.
"Sama aja apa?"
"Sama aja yang lo cari itu Leo, bukan gue!"
"Ya tapikan karena yang aku kenal di sini cuma kak Leo," alibi gadis itu.
Pradipa berdecih. Laki-laki itu menunjukkan wajah tak suka, "lo tu baru liat Leo sehari."
Devania memasang wajah curiga, "kakak tahu dari mana?" introgasinya. "Ya, menurut lo? Gue tu temannya Leo, dan lo baru tiga hari nginjek kaki di sekolah ini. Leo nggak hadir dari kemarin, jadi itu kemungkinan terbesarnya, kan?"
"Gimana kalau aku bilang aku dan kak Leo teman kecil?"
"Nggak mungkin lah!"
Lagi-lagi Devania memicing, "kok kakak sok tahu?"
Sepertinya kesabaran Pradipa harus setebal dompet Hotman Paris jika berhadapan dengan Devania kali ini. "Heh, gue bukan sok tahu. Emang gue tahu, lo kan ... "
"Aku kenapa?"
"Maksudnya, Leo kan sahabat gue dari kelas empat SD. Dan dia nggak pernah tuh cerita kalau punya teman kecil ngeselin kayak lo!" Dalih Pradipa.
"Yaudah sih, kak. Aku kan cuma pengen temenan sama kak Leo." Devania mengerucutkan bibir tipisnya. Gara-gara terlalu asik berbicara, keduanya tidak sadar bahwa sejak tadi mereka berbicara di depan kelas XI MIPA V dan menjadi perhatian beberapa siswa yang lewat.
Malu. Devania benar-benar malu sekarang. Kepalanya terus saja tertunduk, "kak, aku pergi dulu." pamit gadis itu segera mempercepat langkahnya menjauh.
"Jangan-jangan, Eva suka lagi sama Leo!"
Devania menuntun langkahnya menuju sebuah toilet siswi yang tak jauh dari kelas Leonardo. Gadis itu hanya ingin mengatur napasnya dengan baik di sana.
Gadis berambut sebahu itu keluar setelah dirasa jantungnya kembali tenang.
__ADS_1
"Kamu?"