L Dream

L Dream
Saudaranya


__ADS_3

Leonardo terus saja di hantui oleh cerita Dewi semenjak pulang dari SweetTime. Dirinya merasa tak becus menyandang status sebagai pacar Devania, jika gadis itu memiliki saudara saja dia tidak tahu.


Dimana dirinya saat gadisnya menghadapi masa-masa sulit itu, "BODOH!" Leonardo merutuki dirinya sendiri. Sebenarnya Devania yang terlalu tertutup atau dia yang tidak perhatian.


"Tapi Dea kelihatan bahagia aja waktu sama gue. Kalaupun dia lagi dalam masalah, paling yang dicurhatin cuma masalah sekolah dia doang. Apa Dea sengaja nyembuyiin itu dari gue?"


...****************...


"Woi bro!" Sapa Leonardo saat menghampiri Pradipa di rumah sahabatnya itu.


"Lecek amat muka lo," ledek Pradipa.


Leonardo turut duduk di gazebo -- samping rumah Pradipa. Sahabatnya itu sedang menikmati waktu mengerjakan tugas-tugas sekolah, terbukti dari dari berantakannya buku-buku tulis, buku cetak, dan laptop serta beberapa cemilan yang bertebaran di sana.


"Gue baru tahu ternyata Dea punya kakak," lirih laki-laki dengan gelang merah itu.


Pradipa tersedak cemilannya, segera tangannya meraih jus di dekatnya yang tersisa setengah dan meneguknya hingga tandas.


Leonardo melemparkan pandangannya pada sahabatnya, "lo mau ngetawain gue?" sewotnya.


Pradipa tentu terkejut dengan reaksi sahabatnya itu, "lo gila?" tanyanya dengan heran. Laki-laki itu menyentuh dahi Leonardo, "nggak panas."


Leonardo menyentak tangan Pradipa, "lo bayangin aja. Dea pacar gue, tapi gue nggak tahu kalau dia punya kakak. Sedangkan, kakak gue dan seniornya di sanggar aja tahu!"


"Wait, seniornya di sanggar? Yang lo ceritain itu? Hari ini kalian ketemuan, kan?" Tanya Pradipa memastikan bahwa itu orang yang ditemui Leonardo di supermaket pada jumat kemarin dan yang katanya hari ini sahabatnya itu akan mentraktirnya -- sama seperti yang diceritakan padanya.


"Hm, namanya Dewi."


"Trus gimana lo bisa tahu Dea punya kakak?"


Leonardo mengambil posisi yang nyaman untuk bercerita. Laki-laki dengan gelang merah melingkar di pergelangan tangannya itu mulai menceritakan bagaimana dia akhirnya tahu bahwa Devania memiliki seorang kakak.


Dimulai dari cerita Dewi padanya kemudian beralih pada cerita kakak perempuannya, Leonardo menceritakannya sedetail mungkin -- sesuai dengan yang didengarnya sendiri.


"Apa jangan-jangan kakaknya Dea udah pergi, ya? Soalnya dari cerita kak Raisa, Dea bunuh diri setelah kemarinnya dia bilang mau nyusul kakaknya," pikir Leonardo.

__ADS_1


"Enak aja. Nggak lah!" Seru Pradipa yang langsung dihadiahi tatapan curiga dari sahabat bergelang merahnya.


"Lo tahu sesuatu?" Tanya Leonardo nada penuh intimidasi, "jangan bilang, lagi-lagi cuma gue yang nggak tahu apa-apa!"


Pradipa gelagapan, matanya melirik kesana kemari hingga sebuah ide tercetus dalam benaknya. Laki-laki itu dengan percaya diri menghadap ke arah sahabatnya duduk, "ya enggak mungkin lah Yo! Gue reflek aja ngomong gitu. Lagian lo ngadi-ngadi banget ngomongnya," dalih Pradipa.


Meski telah mendengar alasan yang disebutkan oleh sahabatnya, Leonardo tetap tidak percaya. Gerak-gerik sahabatnya itu mencurigakan. Mereka bukan baru berteman seminggu atau sebulan hingga laki-laki dengan gelang merah itu tidak dapat mengetahuinya.


"Kita udah berteman bertahun-tahun, Dip. Kalau aja lo lupa," sindir Leonardo agar Pradipa mengakui yang sebenarnya.


Seketika Pradipa menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "sekebaca itu, ya?" gumam laki-laki itu.


"Iya, SE.TER.BACA itu! Makanya nggak usah sok nggak tahu apa-apa, deh." Leonardo berujar kesal dengan sengaja menekan kata 'seterbaca'


Pradipa merapikan segala barang-barangnya yang terletak di atas gazebo itu. Laki-laki itu berjalan membelakangi Leonardo tanpa sepatah kata. Dirasa tak ada pergerakan di belakangnya, "lo mau di situ sampai kapan? Diam aja nggak buat lo dapet jawaban," sindirnya.


Merasa diminta untuk diikuti, Leonardo mengekor kemanapun Pradipa melangkah. Dimulai dari menyimpan kembali barang-barang yang dipakai untuk mengerjakan tugas, mengambil jaket, memasuki mobil dan berakhirlah mereka berdua di sini, --di depan kosan Devania.


De javu. Itulah yang dirasakan oleh Leonardo. Tempat ini adalah salah satu saksi bisu atas bagaimana hubungannya dengan Devania.


Bukankah memang tidak wajar dan tidak lumrah dua orang lawan jenis berada dalam satu ruangan yang sebenarnya adalah tempat pribadi salah satu diantaranya?


"Ngapain kesini?" Tanya Leonardo dengan wajah tak suka, sedih, dan takut dalam waktu bersamaan. Bagaimana jika kos ini sudah memiliki penghuni baru? Bukankah akan mengganggu?


Mengerti akan kegundahan sahabatnya, Pradipa berinisiatif untuk menjelaskannya sekarang.


"Kosan ini nggak berpenghuni lagi setelah Eva meninggal," belum menyelesaikan kata-katanya, Pradipa terlebih dahulu sadar akan nama panggilan yang digunakannya.


Tak berbeda jauh dengan Pradipa, Leonardo menatap lamat sahabatnya itu.


"Ada sesuatu yang gue nggak tahu diantara kalian?"


"Eva sepupu gue," jawab Pradipa.


Baiklah satu fakta ini pun Leonardo tidak tahu, bahkan sekalipun Pradipa adalah sahabatnya.

__ADS_1


Laki-laki bergelang merah itu terkekeh, kakinya menuntun dirinya untuk segera pergi dari sana. Namun, sebelum berhasilpun dirinya sudah harus kembali pasrah karena sahabatnya menahannya untuk tetap di sana.


"Kita nggak terlalu dekat. Eva terlalu tertutup seperti yang lo tahu, dan gue pun cuma pernah berinteraksi selayaknya sepupu dengan dia hanya waktu kita masih kecil. Dia bahkan nggak sadar selama ini kalau gue sepupunya," jelas Pradipa.


Pradipa mengerutkan keningnya mendengar kalimat yang terakhir, tapi dia memilih untuk menampung rasa penasarannya dulu. Untuk sementara, dia akan menjadi pendengar yang baik.


.


Pradipa tengah berselancar ria dalam ponselnya yang tengah menunjukkan berbagai video dari sebuah aplikasi hitam yang jika disebut namanya akan terdengar seperti mempraktikan bunyi ketukan.


Kebiasaan yang laki-laki itu lakukan setelah lelah otak diperhadapkan dengan beberapa mata pelajaran yang dia pelajari ulang karena tengah menghadapi ujian akhir semester kelas sepuluhnya.


Asik menonton berbagai video yang muncul di beranda, dirinya dikejutkan dengan bunyi pemberitahuan bahwa ada pesan telah masuk dari nomor tidak dikenal.


Ingin mengabaikan, tapi untungnya sang pengirim telah mencantumkan nama terlebih dahulu sehingga tujuan awalnya berganti menjadi semangat empat lima untuk membalas





Setelah tiga pesan terakhir dari Claudy, --Kakaknya Devania-- Pradipa segera menutup ponselnya. Sepertinya malam ini dia akan tidur nyenyak, bahkan besok pun Pradipa yakin akan mengerjakan setiap soal dengan benar.


Bukan apa-apa, dia hanya terlalu semangat mengetahui kenyataan bahwa dia akan satu sekolah dengan Eva. Sepupu kesayangannya.


.


"Keluarga Eva bisa dibilang lumayan berantakan. Mama papanya selalu berantem tiap hari yang gue juga nggak tahu sebenarnya kenapa karena waktu itu gue masih kecil.


Setiap kali gue main ke rumah Eva dan orang tuanya di rumah, gue nggak pernah nggak lihat mereka berantem entah kecil atau besar." Pradipa menceritakan dengan raut sendu. Kini mereka berada dalam kos itu.


Pradipa yang meminta agar barang-barang Devania tetap di sana. Sebagai gantinya, laki-laki itulah yang membayar biaya sewanya setiap bulan.


Ingin melanjutkan cerita, tapi jika diperhatikan; Pradipa menemui sesuatu yang mengganjal di sana, dan laki-laki itu tidak mungkin salah. Ada sesuatu yang aneh terjadi.

__ADS_1


__ADS_2