
"Hari itu gue ketemu sama Dea," potong Leonardo saat Pradipa menceritakan tentang hari pertama *** dimulai waktu itu.
Leonardo teringat kejadian waktu itu saat Pradipa menyebut hari pertama *** dimulai. "Gue ketemu Dea dekat kosannya di sekitaran jam ketiga atau keempat pelajaran. Waktu itu gue gak sengaja nyerempet dia dan berujung gue temanin dia makan dan akhirnya gue anter balik."
"Ada sesuatu yang aneh nggak waktu itu?" Tanya Pradipa penasaran.
"Gak ada. Malah dia kelihatan senang banget waktu itu, lo juga tahu kan dia udah suka gue dari awal?"
Tentu Pradipa tahu. Selain karena buku diary sepupunya itu, Pradipa juga sudah menyadari gerak-gerik Devania yang selalu mencari dan ingin dekat dengan Leonardo. Sepupunya tidak pernah segenit itu.
"Terus sebenarnya kenapa sampe banyak yang nge-hate Dea?"
"Gara-gara Fatih," jawab Pradipa.
"Fatih? Wah, tu cowo emang nyari mati!" Leonardo menggertakan giginya. Fatih memang layak diberi pelajaran.
"Iya. Dia bikin berita hoax yang menyudutkan Eva."
.
Devania kembali ke sekolah di hari kedua. Masih sama. Masih sama tatapan dan aksi tidak suka yang terang-terangan ditunjukkan oleh siswa-siswi SMA Merdeka Harapan. Dan masih sama dirinya tidak tahu menahu apa alasan itu semua tiba-tiba terjadi padanya.
Meskipun demikian Dea merasa beruntung karena tidak mendapat satupun pembullyan secara fisik.
Gadis itu ingin bersenyembunyi dari tatapan-tatapan tak suka yang diberikan oleh kebanyakan siswa di sekolah itu dengan berdiam diri dalam kelas. Kali ini, gadis itu memiliki persiapan. Semua peralatan sekolahnya telah dia pastikan lengkap agar tidak ada kemungkinan meminjam, bekal pun telah dia siapkan agar tidak perlu keluar saat waktu istirahat.
Namun, baru beberapa menit berada dalam kelas. Dirinya sudah tidak nyaman oleh tatapan teman-teman sekelasnya. Sepertinya besok gadis itu harus datang saat waktu apel pagi telah mepet.
Devania mengecek waktu di ponselnya. Mengetahui waktu apel akan berlangsung 10menit lagi, tapi dalam kondisi seperti ini 10menit bukanlah waktu yang singkat. Sehingga gadis berambut sebahu itu memutuskan untuk pergi ke toilet.
Jika normalnya para orang-orang ke toilet untuk menerima panggilan alam, mengganti ruang yang nyaman untuk tamu bulanan, berkaca, touch up atau berganti. Maka Devania dan mungkin beberapa orang akan berada di sana untuk menarik napas.
__ADS_1
"Huh, tenang!" Gadis itu membuang dan menarik napas teratur sembari mengelus lembut dadanya.
"Everythings will be okay, dear. Breath!"
"Huh... It's okay, you're doing well. Tenang, ya."
Berbagai-bagai kalimat penenang, dia bisikan untuk dirinya sendiri. Gadis itu berusaha meredam semua perasaan yang masuk tanpa permisi ke relung hatinya. Sakit, marah, sedih, kecewa, takut, semuanya bercampur menjadi satu.
"Sampai kapan aku harus menghadapi ini?" tanyanya entah kepada siapa.
"Kak, Lau. Aku kangen kakak!"
Setetes air matanya berhasil lolos dengan pernyataan itu. Tidak bukan karena apa yang dia dapatkan dua hari ini. Devania hanya merindukan sosok kakaknya.
"Biasanya kalau dalam situasi kayak gini, kakak selalu jadi garda terdepan buat belain aku, tenangin aku, dan selalu ada di samping aku."
Tidak, sekarang air matanya tidak dapat dibendung lagi. Isak tangis gadis itu mulai terdengar, bahunya bergetar hebat. Namun, gadis berambut sebahu itu berusaha menelan semua itu demi meredam suara tangisannya.
Astaga, mengapa bel berbunyi disaat yang tidak tepat seperti. Mengapa tidak sejak tadi ketika dirinya tidak sekacau ini. Sudahlah, Devania tidak akan mengikuti apel pagi. Kesempatan seperti ini dia gunakan untuk membereskan dirinya. Dia harus menghilangkan jejak tangis di wajahnya.
Devania dapat mendengar suara barisan telah dibubarkan. Gadis itu memutuskan untuk keluar beberapa waktu lagi agar tidak begitu kelihatan kalau dia tidak mengikuti apel tadi. Berharap saja agar teman-teman kelasnya itu tidak membocorkan pada guru. Jika tidak, habislah dia.
Ketika menginjakkan kakinya di depan pintu toilet seseorang menyebut namanya, "Devania!"
Gadis berambut sebahu itu secara otomatis mencari sumber suara.
"Oh, jadi lo yang namanya Devania ya. Ck, muka lo kelihatannya polos. Tapi kok kelakuannya bikin geleng-geleng."
Devania sungguh tidak mengerti apa yang dimaksud oleh orang itu. Sungguh.
"Kenapa bingung gitu? Kaget karena seantero sekolah tahu kelakuan lo? Beruntung ya lo, karena guru-guru nggak ada yang tahu. Bersyukur aja punya teman sekolah yang nggak cepu kayak kita-kita!"
__ADS_1
Devania memaku. Kalimat-kalimat yang dilontarkan oleh Chelsea -- yang berdiri di depannya -- benar-benar membuatnya sakit hati.
Gadis dengan tanda nama Chelsea itu tertawa meremehkan. "Udah nggak usah pura-pura sok lugu deh. Banyak kok yang tahu kelakuan lo ke Fatih, menjijikkan!"
Jadi, selama ini Fatih ada dibalik semua ujaran kebencian yang dia terima? Sungguh laki-laki itu tak punya hati! Entah kebohongan apa yang telah dia sebarkan tentang Devania. Tapi yang jelas itu adalah sesuatu yang buruk. Benar-benar buruk!
.
"Sampai detik ini Eva nggak pernah mencoba untuk menjelaskan semua tuduhan yang dia terima. Selama berminggu-minggu Eva cuma berusaha menjadi dirinya sendiri hingga kabar itu perlahan menghilang. Masih banyak yang nggak tahu kalau semua itu adalah fitnah sampai sekarang.
Makanya, tahun lalu masih ada beberapa orang yang suka nanya ke Eva apa dia pernah punya hubungan sama Fatih. Eva emang keren banget, karena meski nggak pernah mencoba meluruskan masalah itu. Justru orang-orang yang malah dekatin dia buat berteman."
"Buah kesabaran emang selalu manis," sambung Leonardo dengan penuh kekaguman akan cerita Pradipa.
"Tapi, emang masalah itu cuma hot beberapa hari Dip? Soalnya pas gue masuk lagi, gue nggak tahu ada isu itu."
Pradipa mengangguk, "topik itu hangat dibicarain seminggu penuh saat lo nggak masuk. Setelah itu, entah karena udah bosen, malas atau apa; mereka nggak pernah ngebahas lagi. Cuma ya masih belum suka aja sama Eva."
"Dibanding sama Dea, lo kan dari awal udah tahu dia sepupu lo. Kenapa lo nggak ngelakuin apa-apa buat tolong dia?" Leonardo penasaran dengan satu hal itu. Lagi pula dari sejak itu dan memang dari awal sahabatnya itu sudah bergabung dalam OSIS. Setidaknya, dia punya sedikit kekuatan untuk menolong sepupunya.
"Soal itu, gue juga bingung."
Leonardo mengerutkan keningnya, "maksud lo?"
"Gue emang sadar gue punya kekuatan lebih untuk nolong Eva, apalagi sebagai sepupunya. Tentu gue nggak terima saudara gue diperlakukan demikian.
Masalahnya adalah, mereka nggak pernah melakukan perundungan secara terang-terangan. Selain Chelsea, yang udah gue kasih hukuman waktu itu dan dia janji untuk nggak ngulangin lagi.
Gue juga nggak punya bukti apapun untuk nolongin Eva. Lo tahu kan, gue nggak bisa melakukan sesuatu yang ujung-ujungnya malah berbalik dan makin runyam. Kalau gue belain Eva waktu itu tanpa bukti, itu artinya gue malah buat orang-orang beropini bahwa Eva udah nyogok gue dengan hal yang ... lo tahu sendiri maksud gue.
Kalau kejadiannya kayak gitu, bisa-bisa masalah itu makin besar. Eva bisa dicap yang nggak-nggak, masalahnya juga bisa sampai ke guru dan yang paling parah, beasiswa Eva bisa dicabut." Pradipa membuang kasar napasnya setelah menjelaskan panjang lebar.
__ADS_1