
"Kenalin, nama gue Leonardo Evano Eros." Devania mengangkat wajahnya menatap laki-laki didepannya.
"Gue bakalan jadi teman lo!" sambung Leonardo dengan percaya diri.
"Dih, kePeDean banget."
"WOII!" teriak seorang anggota OSIS dari belakang Devania.
Laki-laki bertanda nama Pradipa Barra dengan almameter biru OSIS itu menghampiri kedua orang yang sudah lama di taman sekolah tersebut.
"Kamu anak baru, kan?" tanyanya pada Devania.
"Iya, kak." Pradipa sang anggota OSIS mengangguk, "sekarang lo langsung ke aula, udah mulai MPLSnya!" titahnya pada Devania.
"Aduh kak, udah lama ya mulainya?" tanya Devania dengan panik.
"Baru lima menitan kok, nggak apa-apa!"
"Makasih ya, kak. Aku permisi dulu." ucapnya kemudian bergegas ke aula sekolah.
"Lo gimana sih, kakak kelas bukannya kasih contoh atau minimal ngarahin kek. Ini malah asik-asikan sama ade kelas!" tegur Pradipa pada Leonardo.
"Udahlah Dipa, gue kan nggak nyuruh dia buat masalah juga"
"Yee, tapi kalau tadi gue nggak datang tepat waktu. Dah kena hukum tu cewek."
...****************...
MPLS telah berlalu bahkan pembagian kelas kepada peserta didik baru pun telah selesai. Sudah lewat seminggu setelah hari pertama sekolah, tapi Devania belum juga mendapat teman yang begitu dekat.
__ADS_1
Lagipula, dia memang tidak ingin melakukan itu. Baginya tidak memiliki musuh saja sudah baik. Setidaknya dia tahu dia dapat berkomunikasi tentang sekolah atau sesuatu penting lainnya dengan teman sekelasnya, meski belum juga melakukannya.
Masalahnya adalah gadis itu terus saja kepikiran soal Leonardo, dimana laki-laki itu berada? Setelah pertemuannya yang tiba-tiba dengan si jaket hitam itu, dia tidak pernah kelihatan lagi.
"Katanya mau jadi teman. Kok nggak pernah kelihatan!" gerutunya saat memikirkan Leonardo.
"Dih, enggak ya! Aku nggak berharap dia jadi teman, tapi kan aku belum bilang makasih ke dia." gadis itu menyangkal perkataannya sendiri.
"Lo kenapa ngomong sendiri?" tanya Inaya yang duduk semeja dengan Devania.
"Oh, itu. Aku lagi bingung makan apa hari ini, biasalah anak kos." alibinya pada Inaya.
"Jadi, lo ngekos?"
"Iya." Jawab Devania seadanya.
Bel tanda istirahat berbunyi, Inaya segera merapikan alat-alat tulisnya dan berlalu keluar. Hal yang sama Devania lakukan setelah seisi kelasnya telah kosong, baru saja sampai di depan kelas tiba-tiba saja seseorang menahannya dari depan.
"Leonardo?"
"Yup! Gue tebak, lo udah kangen sama gue." kata Leonardo sambil menaik-naikkan alisnya.
"Ganjen banget,"
"Tenang, ke lo doang kok!"
"Dih, tapi makasih ya. Kamu udah nolongin aku waktu itu. Tapi, kok kamu bisa tahu ya?"
"Sama-sama," Leonardo bersandar pada tembok kelas Devania. "Tahu kalau lo kangen sama gue?" tanya Leonardo dengan iseng
__ADS_1
"Apaan sih, bukan itu ya!" jawab gadis itu tampak malu-malu.
Leonardo terkekeh, dia berdiri tegak menghadap Devania kemudian meraih tangan gadis berambut sebahu itu. "Ikut gue!" ajaknya berjalan didepan.
Devania mengikut saja, dia tahu arah ini menuju kantin dekat gedung kelas XI. Setelah sampai di kantin tersebut Leonardo mencari tempat yang menurutnya nyaman dan tidak terlalu di tengah, "duduk di sini," titahnya pada Devania.
Setelah gadis itu duduk, Leonardo pergi memesan makanan. Devania menatap laki-laki itu, "dia nggak ada niatan buat nanya aku mau pesan apa?" tanyanya sendiri dengan heran.
Gadis berambut sebahu itu mengabaikannya, dia menunggu sembari memainkan ponselnya. Hingga terdengar suara bangku di depannya seperti akan di tempati, "kamu udah ... " pertanyaannya terhenti saat ternyata yang didepannya bukanlah laki-laki yang ditunggu.
"Hai!" sapa seseorang di depannya, "kamu siapa?" bukannya membalas Devania malah bertanya dengan wajah bingung.
Laki-laki itu tersenyum, "belum apa-apa udah aku kamu aja nih." Dia mengulurkan tangannya, "kenalin, nama aku Fatih."
Devania menatap laki-laki itu dengan tatapan aneh, memangnya apa yang salah kalau berbicara menggunakan aku kamu? Lagipula dia juga melakukannya, kan.
"Ngapain lo disini?" tanya Leonardo yang datang dengan nampan ditangannya.
"Kenapa emangnya? Masalah?" timpal Fatih dengan suara nyalang membuat Leonardo hampir terpancing emosi.
Devania merasakan sepertinya akan ada keributan jika mereka terus seperti ini, "Leo, aku lapar. Dan kamu, maaf ya aku nggak kenal kamu. Kamu boleh cari tempat yang lain aja, Leo udah disitu daritadi soalnya" tuturnya dengan lembut.
Laki-laki itu memberenggut, dia segera pergi setelah Devania mengatakan itu. Leonardo tersenyum menang lalu duduk dengan gaya sombongnya.
"Van, ini gue pesenin lo nasi goreng pake telor ceplok ekstra kecap manis kesukaan lo, sama es jeruk." pernyataan itu membuat Devania membulatkan matanya dengan sempurna. Dari mana dia tahu?
"Mata lo udah bulat gitu, malah makin diperjelas. Makan gih, lo nggak laper?" Laki-laki itu berujar gemas.
Gadis berambut sebahu itu meraih piring berisi nasi goreng, tertunduk sebentar untuk berdoa, kemudian makan dengan telaten walau pikirannya telah dipenuhi berbagai macam pertanyaan.
__ADS_1
"Van," panggil Leonardo. "Gue senang akhirnya lo nyebut nama gue, tapi gue rindu nama panggilan yang khusus dari lo. Leo terlalu asing buat kita"