Laki Laki Pilihan Ayah

Laki Laki Pilihan Ayah
Sisi Lain Siska


__ADS_3

Sepanjang perjalanan rumah sampai ke pasar memakan waktu 20 menit, aku menelfon ibu untuk menanyakan siapa tau ada yang mau dititip. Ternyata ibu menitip belikan buah buahan buat tambahan.


akhirnya kamipun berkeliling pasar, dan jangan lupa beli bunga untuk ziarah kemakam ayah.


Selesai berbelanja pesanan ibu, dan bunga untuk ziarah ke makam ayah, kamipun pulang dan mampir ke makam ayah untuk berziarah.


"Assalamualaikum ayah, Vani datang" ucap ku


"Assalamualaikum ayah, Arya datang" ucap mas Arya.


kami membersihkan makam dan mencabut rumput rumput yang sudah kering. Dan kami menabur bunga di atas makam ayah. Mas Arya memimpin doa, dan aku yang mengaminkan.


.


Dirumah Siska kena marah oleh papanya


"Papa selama ini ngak pernah ngajarin kamu kayak gitu ya Sis, kamu perempuan Siska, papa malu Sis sama keluarganya Vani karena tingkah kamu ini." papa yang sudah emosi melihat tingkah Siska.


"Pah, jangan dimarahin Siska, kasihan dia pah!" Mama membela aku.

__ADS_1


"Mama kalau masih membela anak ini, papa pastikan mama papa kembalikan ke orang tua mama!" ucap papa tambah marah.


"Pah maafin Siska pah, Siska tau Siska salah pah, maaf pah" ucapku sambil menangis.


"Papah beneran malu Siska, malu kenapa sikap kamu seperti itu, papa merasa papa gagal mendidik kamu Sis!" papa menangis sambil sesekali menepuk dadanya.


"Siska iri pah sama Vani, Siska iri papa selalu cerita tentang kepintaran Vani, baiknya Vani seakan-akan Vani itu anak papa" aku menangis sambil meluapkan emosiku yang selama ini aku pendam.


Selama ini mungkin hanya papa yang selalu berkomunikasi baik dengan keluarga disini, tidak dengan mama dan aku. Aku hanya ikut apa kata mama, yang selalu bilang kalau keluarganya itu hanya benalu, disaat mama miskin dia selalu di hina dan didzolimi, tapi setelah kami berada mereka mendekat dan berusaha baik dengan kami.


Dari situ aku selalu beranggapan bahwa semua keluarga papa dan mama itu benalu semua.


"Siska papa cerita tentang Vani, Karena dia sepupu kamu, supaya kamu bisa mencontoh yang baik-baiknya." ucap papa


"Tapi ngak harus Vani pah yang dijadikan contoh masih banyak yang lain." ucapku


"Sepupu-sepupu kamu dari mamamu?? emang ada yang bener ? " tanya papa kepadaku.


Memang benar kata papa, ponakan-ponakan mama ngak ada yang bener, ada yang hamil duluan, ada yang kena kasus narkoba, ad ayang jadi simpanan orang.

__ADS_1


Aku hanya diam menjawab pertanyaan papa.


"Bisa jawab kamu Siska, mama?" ucap papa dengan nada tinggi.


Mama hanya diam saja, tanpa bersuara.


"Kalau sikap kalian masih memalukan seperti ini, jangan tanya papa bakalan meninggalkan kalian, papa cape dan malu dengan sikap kalian!" papa menangis kembali.


"Maafin mama pah, karena sikap dan sakit hati mama, malah membuat papa malu" mama menangis.


"Mama siap-siap sekarang, ikut papa!" perintah papa, mama hanya menganggukan kepala tanda menyetujuinya.


"Papa sama Mama mau kemana?" ucapku sambil mengelap air mata yang tumpah dari wajahku.


"Kamu renungkan Siska apa kesalahan kamu, dan perbaiki itu semua. Sebelum ashar papa sudah dirumah" ucap papa.


Aku ngak tau dan ngak ngerti juga kenapa aku bisa bersikap seperti itu ke dia. Aku selalu merasa iri dengan apa yang dia miliki. Apa yang dia miliki, akupun harus bisa memilikinya. Itu yang membuat aku berani berucap seperti itu.


...----------------...

__ADS_1


Maaf kemarin ngak jadi update gara-gara lupa ngak ke save padahal dah banyak nulisnya


__ADS_2