
~happy reading~
Keesokan harinya, Vani dan Arya bangun paling siang dari semuanya, tapi ngak ada yang curiga karena memang semua bangun kesiangan karena kelelahan healing kemarin.
Bangun tidur aku merasakan ada tangan yang memeluk aku.
"Hoamss"
"Mas bangun, udah siang" ucapku parau dengan suara khas bangun tidur.
"Pagi Sayang ." dengan suara berat sambil memelukku erat.
Untung saja tadi pagi setelah aktifitas malam langsung mandi wajib, lanjut mereka sholat subuh, karena memang mereka selesai sebelum subuh, dan lanjut tidur sampai siang.
"Tumben de ngak ada yang bangunin kita" ucap mas Arya masih asik dengan memeluk tubuh Vani.
"Ngak tau mas, mungkin dah bangunin tapi kitanya ngak denger, udah ayo bangun.. aku laper mas" ucapku dan terdengarlah suara perutku.
Karena memang lelah dan menguras tenaga sekalian kegiatan semalam, sampai kami kelaparan.
"Kasihan sayangnya mas, laper ya.. ya udah Ayuk cuci muka dulu" sambil menoleh-noel pipi Vani.
Selesai mereka cuci muka dan gosok gigi, merek lanjut keluar kamar dan menuju dapur, dilihatnya hanya beberapa saudara yang disana
"Mbak Mien, orang-orang pada kemana " tanyaku kepada mbak Mien salah satu keluargaku
"Mertuamu , Diba, Siska, sama varell pergi tadi jam 8 katanya mau healing lagi, kalau yg lain masih istirahat." ucapnya
"Ibu mbak?" tanyaku lagi
"Ibu tadi sempet keluar, trus masuk kamar aqq1lagi"
__ADS_1
"Owh ya udah mbak,makasih ya" sambil aku membuka tutup saji makanan, terlihat beberapa makanan yang semalam dibawa pulang dan sudah siap sedia untuk dimakan.
Vani mengambilkan nasi untuk Arya, dan beberapa lauk serta sayurannya.
"Sayang makan berdua ja ya" ucap mas Arya meminta untuk makan sepiring berdua. Dan aku banyak menganggukan kepalaku.
Dimeja makan kami makan berdua Dan diselingi dengan becandaan.
"Mas.. aku mau tanya " ucapku serius
"Tanya apa sayang. " ucap mas Arya
"Kalau aku lama hamilnya gmn mas?" ucapku dengan was.. was..
"Hmmm... ya ngak gimana gimana sayang, biarkan itu rejeki dari Allah, kita bisa berusaha terus biar jadi siutun ini" dielusnya perutku ini
"Geli mas" ucapku
Aku menganggukan kepala dan memeluk suamiku.
Hidup terus berjalan kita ngak perlu dengerin kata orang, orang ngak akan puas tanya ke kita pasti.
Sebelum menikah, kapan nikah?
sebelum punya anak, kuq belum punya anak?
Setelah punya anak, kuq anaknya kurus sih, kurang gizi ya?
dan banyak pertanyaan lainnya.
Maka dari itu kita harus bisa sabar dan lebih banyak berdoa dan berikhtiar, dan jangan seperti orang- orang di luaran sana.
__ADS_1
Ngak sadar ngobrol panjang lebar, sampai terdengar suara adzan dhuhur, akhirnya mereka memutuskan sholat bersama.
Efek masih lelah Vani dan Arya tidur siang bersama
tok... tok... tok...
Aku terbangun dan mencoba untuk membuka pintu kamar yang terkunci
"Siapa?" sambil membuka kunci di pintu
"Diba mba.. "suara dari luar pintu
Aku buka pintu berlahan, "kenapa Dib?" tanyaku
"Dah sore disuruh turun, tadi mama beli makanan banyak suruh makan dulu katanay" ucap Diba.
"Oh.. ya udah mba bangunin mas dulu ya nanti kebawah" ucapku sambil menutup pintu kembali.
"Sayang bangun dah sore mas" ucapku sambil menoel- noel pipi mas Arya.
"Hmmm, kenapa sayang?" tanya mas Arya
" Udah sore mas, disuruh mama turun" jawabku.
Setelah cuci muka, kami turun ke lantai satu. ditengah perjalanan dikagetkan dengan seseorang yang sedang duduk di depan tv sambil mengobrol dengan yang lain.
"Kenapa itu orang ada Disini" batinku..
...----------------...
baru bisa ngide sigininduku guys. lagi deadline kerjaan dunia nyata
__ADS_1