
~Happy reading~
"Kenapa harus bohong? kenapa ngak jujur?" tanyaku kembali kepada Adit
"Dek... please kondisi waktu itu genting de. kamu abis kecelakaan, mas harus pendidikan " ucap Adit dengan pelan
"Mas ngak mau kamu merasa minder de. karena jadi polisi juga kan cita-citamu dulu, makanya mas bohong kalau kerja di Papua" menunduk ya Adit membuat Vani sedih dipeluknya Adit
"Maafin Vani mas," sambil menangis dipelukan Adit.
"Cie udah nikah... ngelangkahin mas ni" ucap Adit ambil menggoda Vani..dan dihapusnya air mata yang tumpah di wajah Vani
"Ih... mas mah, eh... ini orang-orang pada kemana?" ucap Vani sambil melihat kekanan dan kiri ternyata sudah tidak ada orang-orang di ruangan itu.
"Ibu sama semuanya, ngasih ruang buat kita menyelesaikan kesalahan pahaman ini, Asikk" mulai kode usil Adit keluar.
Adit tipikal orang pendiam, dan dingin seperti kulkas dua pintu, he.. he.. he.. wajar semenjak ditinggal orang tuanya dia sebatang kara dan hanya keluarga Vani yang merawatnya, tapi kalau sudah sama keluarga Vani jangan heran, bisa berubah 180 derajat.
"Haissss... " kesalnya Vani dengan kata-kata yang dikeluarkan Adit.
"Kayaknya pada didepan, yuk kedepan" ajak Adit kepada Vani.
Vani hanya menganggukan kepalanya.
Mereka berdua berjalan ke teras rumah dan betapa kagetnya mereka kalau diteras rumah sudah ada Abang tukang bakso dan gerobaknya, sedangkan orang-orang pada makan bakso semua.
__ADS_1
"Ih.... jahat banget kalian makan bakso ngak ngajakin. " ucap Vani
"Sayang sini, udah mas pesenin buat kamu. sini duduk samping mas" ucap mas Arya
"Udah baikkan nih ceritanya" Ucap Varell
"Apa Lo.. " ucapku sambil menunjuk ke varell
"Jiah... takut ach.. takut ngambek lagi." ucap varel
"Mas... Varellnya.." ucap Vani manja ke mas Arya
"Udah jangan di gubris. makan bakso aja ya, sini mas suapin " ucap mas Arya
"Varell jangan godain mbamu" ucap ibu tegas, dan nyali Varell menciut.
"Siap Komandan, apa sih yang nggak buat komandanku yang cantik ini" puji Adit kepada Ibu.
Aku melihat ibu, dibalik senyumnya masih terlihat kesedihan kehilangan ayah. Aku yakin itu, Ibu masih keinget Ayah pastinya.
"Mas Ibu pengen umroh" ucapku ke mas Adit.
"Hayuk Bu kapan mau umrohnya? Adit yang bayarin Bu. " ucap Adit.
" Sombong..." ucapku sambil menjulurkan lidahku.
__ADS_1
"Ngak sombong lah kalau emang ada rejeki kenapa ngak." ucap Adit kembali
"Wah ide bagus tuh umroh keluarga" ucap papa
"Iya pah ayo bikin rencana umroh sekeluarga" ucap mama kembali.
"Bentar papa telfon si Usman dia punya agen travell" ucap papa.
Papa menghubungi Usman agen travel umroh tersebut dan dijelaskan niatan papa untuk umroh keluarga.
"Suaminya Vani" Ucap Adit ke Mas Arya
"Hadeh... suami aku punya nama mas" ucapku
"Kan belum kenalan dek" ucap Adit dan akhirnya mereka berkenalan
"Saya Adit kakak dari Vani istriku" ucap Adit. dan semua orang tertawa karena ucapannya
"Kayaknya tuaan suami kamu ketimbang mas dek" ucap Adit sambil tersenyum lebar.
" Biarin tua yang penting baik dan sayang aku, ketimbang mas jomblo" ucapku
"Mas Arya, mohon maaf sebelumnya kalau nanti jadi umroh untuk Vani, biar aku yang biayain ya." ucap Adit.
"Lah ngak bisa kan Vani istri saya" ucap mas Arya.
__ADS_1
"Hmmm sebenarnya itu janji saya dulu ke almarhum ayah, kalau sudah pulang dari Lebanon mau ngajak ibu, ayah, varell sama Vani umroh." jadi aku mohon biar aku yang biayain. nah kamu bisa biayain yang lain tuh lek Parman bisa. biar tambah rame" ucap Adit.
Mas Arya hanya tersenyum melihatku.