
"Tumben ke sini Non, ada yang bisa Bibik bantu?" tanya Bik Atun saat membuka pintu kamarnya mendapati Nona Gita di sana.
"Boleh masuk Bik?" Gita tak menjawab, dia justru meminta ijin untuk masuk kamar pengasuhnya itu.
"Boleh banget, ayo masuk Non," wanita berusia sekitar lima puluh tahunan itu membuka pintu lebar-lebar, mempersilakan Nona mudanya untuk masuk.
"Tutup pintunya ya Bik, aku mau bicara penting sama Bik Tun," pinta Gita.
Malam ini setelah rumah terlihat sepi, Gita sengaja mendatangi kamar pengasuhnya itu, dia ingin mencari tahu sesuatu, dan dia yakin Bik Tun mengetahui sesuatu yang tidak dia ketahui. Sengaja membatalkan pertemuannya dengan Hafidz, karena mereka besok bisa bertemu kembali, meski sebenarnya dia ingin sekali bertemu kembarannya itu.
"Serius Non Gita ingin mengetahui semuanya? Tapi cerita ini panjang banget Non," ucap Bik Tun setelah mendengar maksud kedatangan Gita ke kamarnya.
"Siap Bik, kesempatan langka, Papa sama Mama Sita di luar kota. Revan pasti aman enggak bakalan ke sini," sambung Gita penuh semangat.
"Begini Non, kehamilan Bu Sinta membawa kebahagiaan untuk keluarga ini, apalagi saat mereka tahu Ibu mengandung bayi kembar. Berharap bayi dalam kandungan Ibu berjenis kelamin laki-laki dan perempuan," Bik Tun mengawali ceritanya.
"Selama hamil ibu tak pernah merasakan apapun, ngidam juga enggak, hanya sering minta dibuatkan yang asem-asem, katanya menambah selera makan. Makin bertambah usia kandungannya, ibu terlihat kesulitan untuk beraktivitas, dan Bibik selalu ada di saat itu, hingga..."
🍁🍁🍁
Kurang lebih sembilan belas tahun yang lalu, Sinta yang saat itu merasa haus memilih mengambil minum sendiri di dapur, karena minuman di kamarnya sudah tandas. Dengan perut buncit, dan jalan tertatih, Sinta melangkah menuju dapur. Dapur terlihat sepi, mungkin Bik Atun sedang menjemur pakaian di belakang.
Saat jaraknya sudah berada tepat di depan kulkas, tiba-tiba kakinya tergelincir dan..
Bruk
"Aaahh!" teriak Sinta bersama dengan tubuhnya menyentuh lantai dengan terpaksa.
__ADS_1
Bik Atun mendengar ada teriakan di dapur, langsung meninggalkan jemurannya dan menghampiri suara teriakan tersebut. Betapa terkejutnya dia saat mendapati sang Nyonya berada di lantai sambil memegang perutnya.
"Ya Allah, Ibu! Darah! D*rah!" Bik Atun histeris melihat darah di kaki Nyonya nya.
"Mas Karno! Mas Karno!" Teriak Bik Atun panik, sambil menolong Sinta, tapi dia tak kuasa mengangkat tubuh Nyonya nya.
Dengan tergopoh, orang yang di panggil pun mendekat. Terkejut seperti yang dialami Bik Atun waktu pertama kali melihat keadaan sang Nyonya.
"Kita harus bawa ke rumah sakit, Tun. Ibu harus segera di tolong." Karno membatu Bik Atun menuntun Sinta ke dalam mobil. Nyonya nya itu terus merintih kesakitan.
Tak butuh waktu lama, mereka sampai di rumah sakit. Bi Atun sudah menghubungi keluarga besarnya, dan mereka akan segera ke rumah sakit. Tapi Pak Renaldi sang suami belum bisa dihubungi, sebab masih dalam perjalanan menuju negri Paman Sam. Perjalanan bisnis yang tak bisa di tunda, karena dari perjalanan bisnis itu akan menentukan kemajuan perusahaannya.
Sinta sempat melarang, tapi sang suami memberi pengertian jika dia tak akan lama. Karena perkiraan dokter, bayi mereka akan lahir dua Minggu lagi. Melihat kondisi ibu yang sehat tak ada keluhan apa pun. Memilih jalan lahir normal sebenarnya, tapi apa mau dikata jika sudah seperti ini.
"Bu Sinta harus segera di operasi, jika tidak maka akan berbahaya buat bayinya," ucap Dokter yang biasa memeriksa Sinta selama hamil.
"Kami butuh persetujuan dari Pak Renaldi sebagai suaminya," tambahnya.
Selama oeprasi berlangsung, doa selalu di panjatkan untuk keselamatan Sinta dan bayinya. Hingga satu jam lebih, operasi pun usai. Tapi Renaldi belum bisa dihubungi hingga saat ini.
Sinta sudah di pindahkan ke kamar perawatan, tapi dokter belum juga memberikan bayinya, padahal Sinta sudah merindukan si kembar yang tadi sempat dia lihat sekilas.
Pintu kamar rawat dibuka dengan tergesa, nampaklah Sita, adik kembar Sinta berderai air mata. Membuat seisi ruangan itu menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Kenapa Dek?" tanya sang Mama.
"Mbak Sinta, sabar ya Mbak. Mbak masih punya bayi perempuan yang cantik, seperti mamanya," ucapan Sita membuat mereka semua bingung, apa maksudnya?
__ADS_1
"Ada apa sih Dek? Yang jelas, jangan bikin kami bingung," protes Sinta.
Sita mendekat, memeluk kakak kembarnya, "Gifa Mbak, Tuhan lebih sayang sama dia. Dokter akan ke sini sebentar lagi, menjadikan semuanya," ucapnya.
Sinta memang sudah mempersiapkan nama anak-anaknya. Jika lahir laki-laki dan perempuan akan diberi nama Gifa dan Gita.
"Ah, enggak mungkin. Tadi Mbak lihat mereka sehat semua, jangan bohong kamu Dek!" Sinta tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh saudara kembarnya. Tapi ucapan dokter membuat dunianya runtuh seketika, jatuh berkeping-keping tak tersisa.
Dokter membenarkan jika anak kembarnya yang berjenis kelamin laki-laki sudah tiada, karena kekurangan oksigen.
Sinta bahkan tak sadarkan diri, hingga berjam-jam bahkan tak mengetahui anaknya dikebumikan. Hanya sang Ayah dan Sinta yang mengantarkan kepergian anak kembar laki-lakinya.
Renaldi yang baru saja mengetahui hal tersebut juga syok, bahkan langsung meninggalkan negri Paman Sam itu, tak peduli dengan nasib perusahaannya, yang baru saja berdiri tegak.
Yang dilakukan Sinta setelah sadar dari pingsannya, hanya menangis dan menangis. Bahkan tak peduli dengan bayinya, karena jika mendengar suara tangisan bayi dia akan kembali histeris. Itu terjadi hingga dia pulang ke rumah.
Setelah di rumah, dia sedikit demi sedikit menerima takdir tersebut, mulai menyusui bayi Gita. Tapi sering kali dia menangis saat melihat bayi tersebut.
Keadaanya semakin hancur ketika malam itu sang suami tak kunjung kembali hingga tengah malam, tapi dia dengan sabar menunggunya sampai tertidur di sofa.
"Buk, pindah ke kamar aja. Biar Bibik yang tunggu Bapak pulang, kasian Non Gita sendirian di kamar Buk," ucap Bik Atun setelah Sinta terbangun.
"Baiklah Buk, saya juga capek tidur di sini." Sinta beranjak dari sofa menuju kamarnya yang ada di lantai dua.
Dia sudah tertidur saat sayup-sayup mendengar suara seseorang, memutuskan untuk melihat siapa yang berbicara di depan kamarnya. Betapa terkejutnya dia saat mendapati sang suami sedang bercumbu mesra dengan adik kembarnya, yang saat itu tinggal di rumah tersebut, meski dia tahu mereka sedang dalam kondisi terpengaruh alcohol, tapi tetap saja membuatnya sakit. Apalagi selama ini dia tak pernah tahu jika sang suami mengkonsumsi minuman haram tersebut.
.
__ADS_1
Bersambung...
🍁🍁🍁