
"Menurutku, untuk saat ini Papa enggak usah bertemu sama lelaki itu. Apalagi keadaan Papa masih kaya gini, aku takut Papa makin drop saat mengetahui lelaki itu," Gita mengutarakan pendapat setelah Papa menceritakan jika, ayah biologis Revan akan datang malam ini.
"Papa baik-baik aja Nak, Papa tidak mau masalah ini berlarut-larut, nanti justru mengganggu pekerjaan Papa. Jadi, Papa harus segera menyelesaikan masalah ini. Nanti setelah bertemu dengan lelaki itu, Papa akan memikirkan apa yang harus Papa lakukan lagi. Bercerai dengan Mamanya Revan atau lanjut," sanggah Papa.
Gita hanya menghela nafas, akhirnya dia mengikuti apa kemauan sang Papa.
Menjelang Maghrib, Hafidz dan Revan baru saja tiba di rumah. Tentu saja Hafidz tak mengetahui apa pun yang terjadi seharian ini di rumah. Sebab setelah selesai mengerjakan tugas kelompok, dia langsung nongkrong dengan teman-temannya. Jangan salahkan Hafidz, jika dia tidak betah di rumah. Dia memiliki alasan tersendiri, kenapa tidak betah berada di rumah itu. Jika saja diperbolehkan oleh sang Mama dia lebih memilih untuk kost saja, dari pada tinggal bersama sang Papa yang akan selalu mengingatkannya pada penderitaan Mama selama ini.
"Dek, di tunggu sama Riky, katanya kalian mau pulang malam ini? Kenapa enggak nginep aja? Besok Abang anterin," ucap Hafidz saat menemukan Gita di dapur, sedang membantu Art rumah itu memasak.
"Aku nginep Bang, enggak jadi pulang. Biar ku temui Riky dulu, sekalian ngembaliin mobilnya." Gita melepas apron, lalu mencuci tangan dan meninggalkan dapur.
Begitu juga dengan Hafidz, dia menyusul Gita ke ruang tamu menemui Riky, adik dari Indra yang masih sekolah di Bandung. Mereka berdua tadi datang bersama, sebab Riky menelfon dirinya, minta dijemput di rumah sang Nenek.
"Lo berani pulang sendiri, kan Ky?" tanya Gita sambil menyerahkan kunci mobil milik pemuda itu.
"Lo enggak pulang, Git?" bukannya menjawab Riky justru bertanya balik.
"Enggak, gue nginep. Lo pulang sendiri ya. Enggak usah mampir rumah, gue udah telpon Mama, Lo langsung pulang, jangan keluyuran, gue laporin Om Luky kalo sampe keluyuran," Gita bak seorang Kakak yang bawel dengan adiknya.
Bukannya marah, respon pemuda itu justru tersenyum. Entah apa yang membuatnya tersenyum. "Siap Ndan! Gue balik. Kalo butuh jemputan gue siap dua puluh lima jam," ucap pemuda itu.
"Enggak perlu, udah sana pulang." Gita mengusir Riky, tak ingin meladeni tingkah bocah tujuh belas tahun itu, sebab akan membuatnya pusing dan mati kutu, jika sudah mengeluarkan jurus andalannya.
__ADS_1
Hafidz sejak tadi hanya memperhatikan interaksi dua insan itu. Dia merasa ada hal berbeda yang dia lewatkan, tapi apa? Hafidz menggeleng, menghalau pikiran negatif yang tiba-tiba datang.
"Abang!" seru Gita, terkejut mendapati Abangnya sudah berdiri di belakang dirinya, entah sejak kapan.
"Kamu akrab gitu sama Riky? Ada sesuatu, kah yang aku lewatkan?" Hafidz tak sabar ingin segera menanyakan hal itu.
"Enggak ada, hanya saja dia sering anterin aku ke kampus, yah selama satu minggu ini. Dia yang selalu nganterin aku, dan enggak ada hal lain selain itu. Karena di Bandung, aku cuma kenal sama bocah itu aja, belum kenal banyak orang. Kak Raka lagi skripsi, jadi dia enggak bisa bantu banyak." Jelas Gita.
Raka adalah anak kedua dari Tante Arin dan Om Ari, sedangkan anak pertamanya perempuan, sudah berkeluarga.
"Udah enggak usah bahas itu Bang, ada yang lebih penting. Kita bicara di kamar." Gita lebih dulu meninggalkan Hafidz yang masih penasaran dengan hubungan apa yang terjalin antara adiknya dan adik Indra itu.
Tak mungkin kan mereka pacaran? Masak iya, Gita pacaran sama anak SMA? Hafidz menggelengkan kepala, lalu menyusul adiknya yang sudah tak terlihat. Mungkin sudah berada di dalam kamar.
🍁🍁🍁
"Iya Bang, makanya aku enggak tega ninggalin Papa. Biarlah besok bolos kuliah, yang penting Papa baik-baik aja. Enggak mungkin Papa mau curhat sama Abang, aku tahu kalian berdua sama-sama masih canggung, dan enggak mau membuka diri satu sama lain," Gita terlihat kesal saat mengatakan kalimat terakhir.
Bisa-bisanya para lelaki seperti itu, susah untuk terbuka dengan sesama jenis. Berbeda dengan perempuan, yang akan langsung terbuka dengan siapa pun. Terkadang dengan orang yang baru dikenalnya juga.
"Bukan gitu Dek, mau curhat atau bicara basa-basi sama Papa itu rasanya kurang enak, apalagi kita sama-sama orang yang sulit membuka diri, beda sama Mama, aku langsung bisa bercerita apa pun sama Mama, entah apa alasannya. Mungkin karena nyaman," timpal Hafidz.
"Iya deh terserah, tapi Abang juga harus beri sedikit perhatian sama Papa. Jangan malah pergi seharian, enggak ada kabar," sejak tadi Gita memendam kekesalan pada Abangnya, karena meninggalkan rumah seharian, sampai tak mengetahui apa saja yang terjadi di dalam rumah itu.
__ADS_1
Hafidz menghela nafas, "Iya deh, Abang minta maaf. Abang janji, ini enggak akan terjadi lagi. Aku akan lebih terbuka sama Papa," ucapnya.
Gita hanya mengangguk, dia yakin Abangnya ini bisa dipercaya. Setelah itu, dia keluar dari kamar Hafidz, kembali ke dapur untuk memasak. Karena hanya dengan memasak pikirannya akan lebih tenang.
Sesuai janji, malam ini Adrian datang ke rumah tersebut, setelah sebelumnya Revan mengirim alamat rumah baru mereka. Bukan rumah baru sebenarnya, karena Adrian sudah tahu alamat rumah itu, sebab dulu masih pacaran sama Sita, dia selalu mengantar pacarnya ke rumah itu.
Adrian datang seorang diri, disambut ramah oleh Art rumah tersebut, dia pun dipersilahkan masuk dan menunggu tuan rumah menemuinya.
Revan yang datang lebih dulu, dia duduk dihadapan lelaki itu dengan menundukkan kepala. Adrian tersenyum melihat remaja itu, yang tak lain adalah anak biologisnya. Baru saja dia akan bertanya pada Revan, pemilik rumah datang diikuti dua anaknya.
"Maaf Om, kami ikut duduk disini," ucap Hafidz, takutnya tamunya itu tidak nyaman dengan kehadiran mereka.
Adrian hanya mengangguk, tak masalah menurutnya. Tak mungkin kan jika mereka berdua tidak mengetahui permasalahan ini, jadi tidak perlu disembunyikan lagi.
"Maksud kedatangan saya ke sini, cuma mau minta ijin untuk menjemput Revan. Karena Revan sudah bercerita tentang siapa dirinya, dan siapa saya. Tapi kalau tidak diperbolehkan tidak masalah, tapi saya mau mendengar pendapat Revan, apakah dia mau atau tidak," ternyata Adrian tidak basa-basi terlebih dahulu, mungkin dokter kandungan itu tak suka berbasa-basi.
"Maaf, aku akan tetap di sini sama Papa," jawab Revan tanpa menunggu respon dari sang Papa.
"Kamu sudah dengan jawaban Revan, kan? Jadi, jangan paksa dia. Meskipun dia bukan anak biologis saya, tapi sejak bayi saya yang mengasuhnya, dengan penuh kasih saya. Anda hanya status sebagai ayah, tapi tak mengetahui perkembangannya selama ini, jadi, saya juga tidak akan melepaskan Revan," ucap Papa, tak mau kalah.
Merasakan atmosfer di ruangan itu begitu panas, Gita pun mengusap lengan sang Papa, mencoba menenangkannya. Baru saja dimulai percakapan, sudah terasa panas saja, bagaimana kelanjutannya nanti, Gita takut Papa tidak bisa membawa diri.
,
__ADS_1
Bersambung....
🍁🍁🍁🍁