Langit Bumi

Langit Bumi
SELESAI


__ADS_3

"Kak Gita bilang, kalau Kak Hafidz mau kuliah lagi di luar negeri? Itu bener?" tanya Ziva.


Hafidz sengaja mengantar Ziva pulang, setelah acara syukuran kelulusan pemuda itu.


Hafidz mengangguk, "Iya, pengen cari pengalaman di negri orang." Jawabnya.


"Yah! Makin jauh aja dong. Yang masih kota aja jarang ketemu, apalagi kalau beda negara?" keluh Ziva.


Hafidz terkekeh mendengar kelurahan gadis kecil itu. "Kak Hafidz nanti pulangnya setelah lulus kuliah," ucapnya makin membuat Ziva melongo.


Haruskan selama itu berpisah dengan Kak Hafidz? Gimana kalau rindu?


Tak bisa membayangkan bagaimana Ziva menahan rindu pada pemuda itu. Tapi dia tak bisa mencegah kepergian Hafidz, bukan? Memangnya dia siapa? Sampai mau melarang Hafidz pergi, kalau dia orang berarti dalam hidup pemuda itu, bisa saja. Tapi, dia hanya orang baru yang datang dalam hidupnya.


"Kapan berangkatnya Kak?" tanya Ziva.


"Bulan depan sepertinya, nanti aku kabari kalau mau berangkat," jawab Hafidz.


"Ck, bulan depan itu besok. Bisa jadi berangkatnya lusa, kan? Awas aja kalau enggak ngasih tau aku. Kita end!" sanggah Ziva.


Hafidz terbahak mendengar ocehan gadis kecil itu, tapi dia tak membalas ucapan Ziva, sebab mobil yang dia kemudikan sudah masuk halaman rumah Ziva.


"Kak Hafidz janji akan ngabarin kamu kok." Hafidz mengusap puncak kepala gadis kecil itu.


"Harus tetep belajar yang rajin ya, jangan kecewakan Mama sama Papa kamu. Nurut sama orang tua," pesan Hafidz sebelum mereka turun.


"Siap Kak!" Ziva mengangkat tangannya memberi hormat pada Hafidz.


"Enggak usah turun Kak, Mama sama Papa masih di luar kota," cegah Ziva saat Hafidz akan turun dari mobil.


Kebiasaan pemuda itu saat mengantar Ziva, pasti akan turun dari mobil dan menemui Mama atau Papa, memastikan Ziva tak akan kena marah kedua orang tuanya. Perbuatannya itu tentu saja membuat Ziva makin kagum dengan pemuda itu.


"Enggak apa-apa, aku mau lihat kamu masuk rumah. Takutnya nanti kamu kabur lagi," ucap Hafidz asal.


"Ish! Enggaklah, malam-malam gini mau kabur kemana? Kalau kaburnya sama Kak Hafidz sih mau aja," Ziva tersenyum menatap pemuda itu.


"Kamu itu ya. Udah sana masuk, kalau ada apa-apa telfon Kak Hafidz ya,"


Setelah melihat Ziva masuk, Hafidz pun langsung meninggalkan rumah itu. Tak lupa berpesan pada satpam, jika terjadi sesuatu disuruh menghubunginya. Khawatir terjadi sesuatu dengan Ziva, sebab gadis itu hanya sendiri di rumah tanpa ada kedua orang tuanya.


🍁🍁🍁

__ADS_1


"Apa kamu yakin dengan keputusanmu ini, Nak?" tanya Mama.


"Yakin sekali Ma, aku kan juga pengen kaya Mama. Pandai berbicara dengan beberapa bahasa, aku juga pengen cari pengalaman di negeri orang." Hafidz ikut duduk di sisi sang Mama yang saat ini sedang berada di kamar putranya itu.


Esok adalah hari keberangkatan Hafidz, dan sejak hari kelulusan itu, Hafidz memilih tinggal di Bandung. Menghabiskan waktu dengan keluarga., yang jarang sekali terjadi saat dirinya masih kuliah.


"Mama cuma khawatir sama kamu, apalagi enggak ada teman dari sini," jujur Mama.


Hafidz tersenyum, ternyata sebegitu khawatirnya sang Mama pada dirinya. Dia pun langsung memeluk Mama lalu mencium pipinya, "Aku udah bukan anak TK lagi Ma, yang harus pergi kemanapun dengan teman atau orang tua," ucapnya sambil tersenyum.


Mama memukul pahanya pelan, "Kamu ini, bukan itu maksudnya," ucapnya membuat Hafidz terkekeh.


"Yaudah, kamu harus hati-hati di sana. Jangan sampai pergaulan di sana membuatmu lupa akan Tuhan! Boleh berteman dengan siapa pun asalkan jangan terpengaruh oleh teman yang buruk. Mama cuma khawatir kamu terbawa arus oleh pergaulan disana," pesan Mama.


"Siap Ma! Doakan anakmu ini selalu ya Ma. Aku akan telfon Mama tiap hari, janji." Hafidz makin mengeratkan pelukannya, dia sadar akan butuh waktu lama untuk bisa memeluk Mama kembali.


"Jangan! Ganggu kamu belajar di sana. Telpon Mama bisa seminggu sekali atau berapa hari sekali," usul Mama.


"Yah, kalo aku kangennya tiap hari gimana dong Ma?"


Mama tersenyum melihat tingkah Hafidz yang tak seperti biasanya, hari ini begitu manja dengan dirinya. Bahkan nempel terus, seakan ada prangko yang melekat.


Sama halnya dengan Gita selalu mengikuti kemanapun abangnya pergi, bahkan malam sebelum Hafidz berangkat ke luar negeri, Gita memilih tidur bersama sang Kakak. Meski awalnya Hafidz menolak, sebab dia tahu adiknya itu tidak bisa anteng saat tidur, padahal sudah dewasa, tapi tidurnya bak anak-anak. Karena Gita memaksa akhirnya Hafidz menyetujui permintaan Gita, mereka tidur bersama.


Gita belum juga bangun hingga Hafidz menyelesaikan rutinitasnya itu, membuat pemuda itu kembali membangunkan sang adik.


"Abang ih! Lagi tidur enak-enak juga." Gita turun dari tempat tidur dengan membawa guling. Membuat Hafidz geleng-geleng kepala, sudah bisa menebak jika adiknya itu akan meneruskan tidur di kamarnya.


Dia memandang kepergian Gita dengan perasaan sedih, sebab besok malam dia tak bisa lagi menggoda adik kesayangannya itu. Sudah pasti rindu sekali dengan gadis manja itu, tapi tekad kuatnya tak akan membuat dirinya membatalkan keberangkatan ke luar negeri.


🍁🍁🍁


Bukan hanya Gita dan Mama saja yang mengantar pemuda itu ke bandara. Tapi Bu Nurul dan Pak Ahmad pun ikut serta, Papa, Tante Sita dan Revan ternyata sudah menunggu di bandara. Indra tak bisa ikut mengantar, sebab dia ada kerjaan yang tak bisa ditinggal. Ya, pemuda itu sudah bekerja, meskipun masih magang.


Karena keberangkatan Hafidz masih cukup lama, mereka memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu.


Gita menyenggol lengan Hafidz membuat pemuda itu menoleh, "Apa?" tanyanya.


Gita pun memberi kode lewat kedipan mata, supaya kakak kembarnya itu melihat ke arah apa yang dia lihat.


Hafidz mengernyitkan dahi saat melihat sepasang suami istri yang berjalan melewati restoran dalam bandara tersebut, sepertinya tak asing dengan lelaki yang menggendong seorang bayi. Hafidz mencoba mengingat, dia pun mengangguk saat sudah mengingat siapa lelaki itu.

__ADS_1


Ternyata bukan hanya Gita dan Hafidz yang melihat mereka, tapi Sita sang Tante pun melihat mereka, dia tersenyum dan bersyukur melihat pemandangan tersebut. Sebab terakhir kali, lelaki itu yang tak lain adalah Adrian mendatanginya di lapas. Menceritakan rumah tangganya dengan sang istri yang sedang tidak baik-baik saja. Tapi sepertinya saat ini mereka sudah berbaikan, seperti halnya dirinya dengan sang suami.


Selesai makan siang, mereka kembali duduk di kursi tunggu. Hafidz belum mau masuk ke dalam, dia masih menunggu seseorang yang katanya masih dalam perjalanan. Tapi sampai satu jam lamanya seseorang itu tak kunjung datang. Akhirnya Hafidz memutuskan untuk masuk, sebab pesawat akan lepas landas sekitar tiga puluh menit lagi.


"Abang berangkat ya, kamu jaga Mama. Jangan keluyuran aja sama berondong kamu itu! Semangat nyusun skripsi, Abang selalu mendoakan kamu." Hafidz memeluk tubuh gadis berwajah mirip dengannya itu.


Gita sesegukan, dia menangis, baru saja merasakan indahnya memiliki kakak, kini harus terpisah kembali. Tapi dia juga tak mau egois, biarkan abangnya mencari ilmu di negeri orang. Mungkin dia akan menyusul suatu saat nanti.


"Abang jaga diri ya, kalau rindu sama adik cantikmu ini, pulang aja," celetuk Gita mencoba merubah suasana haru.


"Enggak akan, paling rindunya sama Mama. Rindu sama kamu rugi besar." Hafidz melepaskan pelukannya, "Cengeng banget sih Dek, Abang cuma pergi sebentar, kamu bisa nyusul kalo kangen," ucapnya. Membuat Gita berdecak dan menghapus air matanya secara kasar.


Kini giliran Hafidz berpamitan pada para tetua. Mereka semua memberikan pesan bijak, membuat Hafidz terharu dan tanpa disadari air matanya pun menetes.


Baru saja dia melangkah, seseorang meneriaki namanya, "Kak Hafidz!" seru orang itu dan langsung menubruknya.


"Eh, Kakak kira kamu enggak datang," ucap Hafidz lalu membalas pelukan gadis itu yang tak lain adalah Ziva.


"Eits udah dong peluknya, Kak Hafidz enggak bisa nafas ini."


Ziva pun melepas pelukan itu, lalu mengusap air matanya.


"Lho kok nangis?"


Ziva menggeleng, "Enggak ada yang nemenin aku main di timezone lagi, dong. Ah enggak seru. Aku nanti mainnya sama siapa?" ucap gadis itu.


"Mita temenin Kak Gita juga bisa, ah iya, Kak Gita kan jauh di Bandung ya. Minta temenin Kak Revan, dia pasti mau diajak jalan sama cewek cantik seperti kamu. Udah ya jangan nangis lagi, Kak Hafidz harus berangkat sekarang," tutur Hafidz.


Gadis itu mengangguk, "Boleh peluk lagi enggak?" tanyanya.


Hafidz mengangguk, lalu merentangkan kedua tangannya bersiap memeluk Ziva.


"Belajar yang rajin ya, harus jadi anak pinter dan banggain Papa sama Mama kamu, Kak Hafidz harus pergi sekarang." Hafidz melepas pelukannya.


"Hati-hati Kak, kabari aku kalau Kakak sudah sampai sana," pesan Ziva.


Setelah itu Hafidz benar-benar masuk dan meninggalkan mereka semua. Dia sengaja tidak menoleh lagi kebelakang, takut tidak kuat dan ingin kembali lagi.


Semoga di negeri orang dia mendapatkan apa yang diinginkannya. Doa dan harapan mengiringi langkahnya meninggalkan negeri ini.


~SELESAI~

__ADS_1


Hafidz dan Gita pamit dulu ya. Nanti mereka bakalan muncul lagi kok, tapi tunggu dulu. Si empunya cerita mau rehat dulu bentar, sambil nyusun rancangan cerita seperti apa yang akan di tampilkan.


Terimakasih untuk semuanya, sampai jumpa lagi.🥰🥰🥰😘


__ADS_2