
Hafidz mengendarai mobilnya dengan perasaan tak menentu setelah keluar dari kantor polisi. Entah apa yang sedang dia pikirkan. Mungkin cerita Tante Sita yang membuatnya terkejut berulang kali. Untung saja dia sempat merekam pembicaraan mereka tadi, dan dia berencana memberitahu rekaman itu pada Gita, hanya pada Gita. Ke Mama? Entahlah dia harus mempertimbangkan lagi, takut akan membuat Mama kembali terluka.
Bahkan sampai di kampus pun, Hafidz masih sama, diam dan terus melamun. Bahkan dia tak mendengar saat Indra memanggil namanya berulang kali.
"Lo mikirin apa Fidz?" tanya Indra sambil memukul pundak Hafidz.
Tentu saja Hafidz terkejut dengan tindakan Indra tersebut, "Lo ngagetin gue aja!" protes Hafidz saat mengetahui siapa yang mengganggu ketenangannya.
"Lo itu udah gue panggil berkali-kali enggak ada respon, gue kira Lo udah budek!" ucap Indra asal dan mendapat delikan dari Hafidz.
"Apa pun masalah yang Lo hadapi saat ini, simpan dulu. Gue mau kasih tahu Lo KKN sama siapa, kayaknya ini lebih penting," Indra ikut duduk di sisi Hafidz.
Benar saja, Hafidz langsung terlihat antusias saat mendengar dia akan praktek kerja lapangan dengan siapa saja. Jika Indra sudah heboh seperti ini pasti ada sesuatu hal yang penting.
"Emang siapa?" tanya Hafidz penasaran.
"Sama cewek yang katanya paling cakep seangkatan kita. Siapa lagi kalo bukan Gisela, hahaha," Indra terbahak di akhir kalimatnya, entah apa yang membuat pemuda itu tertawa.
Hafidz mengernyitkan dahi, dia tak merasa kenal dengan nama gadis itu, lalu kenapa Indra sampai seantusias itu? Apa mungkin Indra menyukai perempuan tersebut, harusnya kan dia sedih kalau gadis yang disukai tidak dalam satu kelompok dengannya, tapi ini justru terlihat bahagia. Hafidz jadi bingung sendiri dengan tingkah Indra.
"Gisela yang mana? Gue enggak kenal, atau jangan-jangan Lo yang suka sama dia?" tanya Hafidz.
Indra terkejut sampai mulutnya menganga tak percaya dengan pertanyaan yang dilontarkan Hafidz. Beberapa detik kemudian dia terbahak sambil menggelengkan kepalanya merasa lucu dengan situasi ini.
"Sial banget jadi Gisela, ngejar-ngejar cowok tiap hari, tapi cowok itu enggak kenal dia. Luar biasa, kan?"
Hafidz makin bingung, tapi dia memilih tak menanggapi ucapan Indra, sebab tak mengerti dengan maksud pemuda itu.
"Lo beneran enggak tahu siapa Gisela?" tanya Indra, Hafidz hanya menggelengkan kepala malas.
"Ck, Lo tuahnya siapa sih? Gisela itu Sela, cewek yang selalu hadir tanpa diundang dan pulang tak diantar. Buset, jadi jelangkung,"
Hafidz terkejut mendengar ucapan Indra, bahkan kini pemuda itu menatap Indra, meyakinkan apakah benar dia satu kelompok dengan gadis pengganggu itu, dan Indra mengangguk lalu kembali terbahak.
__ADS_1
"Kenapa dia sih? Fakultas kita aja beda jauh, bisa-bisanya dia sama gue, kagak nyambung banget," Hafidz berdecak, malas sekali jika harus bersama gadis itu selama satu bulan lebih.
"Selamat menikmati, gue mah untung bisa sama Silfia," Indra menertawakan penderitaan sahabatnya itu.
Hafidz hanya mendengus, dia berharap kegiatannya nanti berjalan dengan baik meskipun bersama gadis itu. Dia akan bersikap cuek, tak ingin merespon berlebihan, takut gadis itu justru baper dengan sikapnya.
Hafidz menghela nafas berulang kali, sejak pagi moodnya sudah tak baik, ditambah dengan kabar jika dirinya satu kelompok dengan gadis itu, membuatnya makin badmood. Malas untuk pulang ke rumah, akhirnya dia pun menghubungi Ziva, gadis kecil mantan anak didiknya.
Ziva gadis kelas satu SMP itu sangat bahagia, saat Hafidz mengajaknya jalan-jalan ke mall, atau kemanapun Ziva mau. Dan gadis itu memilih untuk jalan-jalan ke mall saja, bermain di timezone bersama Hafidz pasti akan menyenangkan, sebab sudah lama sekali mereka tidak ke mall, bahkan sekarang jarang berjumpa karena Hafidz sudah tak lagi jadi guru private nya.
Ziva berlari ke arah mobil yang terparkir di depan gerbang sekolahnya, dia tahu siapa pemilik mobil itu. Bahkan dia langsung masuk tanpa permisi, sebab sudah yakin dengan orang yang ada dalam mobil.
"Aku duluan ya! Hati-hati nunggu jemputan ya," ucap gadis kecil itu setelah masuk ke dalam mobil dan membuka jendela mobil. Berbicara dengan seorang yang umurnya sama dengan dirinya, bahkan penampilannya pun tak jauh beda, mungkin temannya. Dia bahkan melambaikan tangan saat mobil yang ditumpanginya meninggalkan sekolah.
"Kak Hafidz makin ganteng aja, kira-kira kalo aku jatuh cinta boleh enggak ya?" tanya Ziva sambil tertawa cekikikan saat menggoda Hafidz.
Hafidz tersenyum melihat tingkah Ziva, "Anak kecil udah ngomong cinta-cintaan. Harusnya anak seusia kamu itu fokus dengan belajar, bukan cinta," protes Hafidz seperti biasa.
Ziva tampak cemberut, tapi dia kembali sumringah saat mengingat sesuatu, "Berarti kalo Ziva udah besar, boleh dong jatuh cinta sama Kak Hafidz?" ucapnya.
"Baiklah, Ziva ngerti. Enggak apa-apa sih jadi adek, malah enak dapat jatah jajan dari Kakak," Ziva tak merasa tersinggung atau kecewa, sebab dia sudah tahu jawaban Hafidz.
"Itu nanti kalo Kak Hafidz sudah kerja, sekarang Kak Hafidz masih miskin, belum kerja. Jadi, enggak bisa ngasih uang jajan," timpal Hafidz.
"Siap komandan!" Ziva menaruh tangan kanannya diatas pelipis, seperti orang yang sedang hormat.
Hafidz tersenyum, inilah kenapa dia mendatangi Ziva. Sebab gadis kecil itu bisa merubah suasana hatinya. Keceriaan dan riang gembira gadis itu, membuatnya lupa dengan masalah yang sedang dihadapi.
"Tapi tadi aku bilang sama cowok yang suka sama aku, kalau Kak Hafidz itu pacarku, tapi dia enggak percaya sih," Ziva menyengir saat mengingat kejadian tadi. Dia sengaja Melambaikan tangan dengan sahabatnya, saat melihat cowok yang menyukainya ada di sana.
"Anak kecil belum boleh pacaran, nanti kalo udah besar udah tahu mana yang baik dan buruk, terserah. Tapi sekarang jangan ya, kamu masih bocah belum tahu apa-apa," tutur Hafidz.
"Siap Kak, apa pun yang Kak Hafidz katakan, Ziva akan menurutinya," timpal Ziva.
__ADS_1
Tak lama mereka sampai di mall, sebelum masuk Hafidz memberikan sebuah paper bag pada Ziva, gadis itu terlihat bingung saat melihat isi paper bag tersebut.
"Kamu ganti baju dulu, baru kita main. Itu baju buat kamu, semoga pas," ucap Hafidz yang mengerti dengan kebingungan Ziva.
Ziva pun menurut, dia langsung ke toilet untuk mengganti bajunya.
Saat keluar dari toilet, dia terkejut mendapati Hafidz sedang duduk berdampingan dengan seorang gadis yang bergelayut manja di lengan pemuda itu, tapi sepertinya Hafidz berusaha melepaskannya.
"Kak? Siapa?" tanya Ziva setelah sampai di hadapan mereka.
"Lo yang siapa?" Gadis itu menatap Ziva dan atas sampai bawah dengan tatapan sinis.
"Lepas Sel, dia gadis yang dijodohkan sama gue." Hafidz melepas paksa tangan Gisel yang masih tak percaya dengan ucapannya.
"Gila Lo pendofil ternyata, macaron bocah! Mending sama gue Fidz," Gisela atau yang sering disapa Sela itu tersenyum sinis menatap Ziva. Gadis kecil itu cantik, tapi tak mungkin Hafidz menyukai gadis itu.
"Ayo kita pergi Ziv." Hafidz merangkul pundak Ziva dan meninggalkan Sela yang terlihat kesal.
"Kak Hafidz tadi serius?" tanya Ziva.
"Apanya?"
"Perjodohan itu? Jadi..."
Hafidz memotong ucapan Ziva, "Enggak, tadi Kakak cuma becanda. Biar dia mau lepas dari Kak Hafidz, maaf ya. Kamu enggak keberatan kan?" tanya Hafidz, takut Ziva marah atau kecewa.
Ziva menggeleng, "Enggak Kak, aku justru seneng kalo itu kenyataan adanya. Kalo hanya bercandaan ya enggak apa-apa, aku juga seneng," ucapnya.
Jika Hafidz menganggap Ziva adiknya, berbeda dengan Ziva yang justru memang menaruh hati pada pemuda itu. Meski dia tahu, tak mungkin baginya menggapai seorang Hafidz. Sangat sulit, apalagi Hafidz sudah membentengi mereka dengan status kakak adik. Tapi Ziva tak masalah, selama mereka sering bersama seperti ini, dia akan sangat bahagia.
bersambung.....
🍁🍁🍁
__ADS_1
GIMANA KIRA-KIRA KALAU KITA BUAT CERITA TENTANG HAFIDZ DAN ZIVA? SERU KALI YA?