Langit Bumi

Langit Bumi
BAB 51


__ADS_3

Hari ini Hafidz benar-benar menuruti kemauan Ziva, kemanapun gadis itu mau. Setelah puas bermain di timezone, gadis kecil itu minta ditemani nonton bioskop, entah film apa yang ingin ditonton. Setelah menonton barulah mereka mencari makan malam dan pulang.


"Makasih Kak, tumben mau ngajakin muter-muter, Ziva jadi curiga." Gadis itu menatap lekat Hafidz yang justru tertawa mendapat pertanyaan seperti itu.


"Sebenarnya Kak Hafidz mau ngajakin kamu ke pasar malam juga, tapi sepertinya lain kali, nanti Mama kamu marah. Enggak usah curiga gitu, Kak Hafidz cuma butuh hiburan, kalo pergi sendiri, main sendiri, kan enggak lucu. Jadi lebih baik ajakin kamu," timpal Hafidz.


"Kirain ada sesuatu," gumam Ziva yang masih didengar oleh Hafidz.


"Emang ada sih,"


"Apa itu?" tanya Ziva.


"Minggu depan Kak Hafidz mau KKN, tempatnya lumayan jauh, dan pulang kurang lebih satu bulan lagi. Jadi, ini terakhir ketemu, nanti kita ketemu kalau Kak Hafidz udah pulang," jawab Hafidz tenang seperti biasa.


"Yah! Lama ya? Nanti kalo aku rindu gimana, kak?"


"Gak ada rindu-rinduan, emang kamu tahu rindu itu apa?" Hafidz sebenarnya tahu jika Ziva hanya bercanda.


Gadis itu terkekeh lalu mengangguk, "Tau dong Kak, dia temen sekelas aku, namanya Rindu. Dia pasti rindu terus tiap hari. Nanti aku bakalan suruh dia nginep di rumah ah, biar rinduku sama Kak Hafidz terobati," ucapnya asal.


Ziva langsung turun dari mobil, saat tahu jika Hafidz akan menoyor kepalanya. Lalu tertawa terbahak-bahak setelah berhasil turun dari mobil. Sebab saat ini mereka berada di depan rumah Ziva.


"Makasih Kak, lain kali lagi ya!" teriaknya dari depan pintu masuk.


Bukannya menjawab, Hafidz justru ikut turun dari mobil dan menghampiri Ziva yang masih berdiri di depan pintu.


"Mau ngapain Kak? Kami sedang tidak menerima tamu, lihat itu. Pintunya ketutup rapat," ucap Ziva.


Hafidz tak peduli, dia langsung memencet bel rumah yang ada di sisi pintu utama.


Tepat sesuai perkiraan yang membukakan pintu adalah Mama Ziva.

__ADS_1


"Maaf Bu, aku pulangin Zivanya udah malam gini. Dianya yang bandel masih mau main terus, jadi aku enggak bisa nolak," ucap Hafidz sambil melirik Ziva yang terkejut mendengar ucapannya.


"Bohong Ma! Kak Hafidz yang janji mau nurutin kemauan ku. Mama jangan percaya," ucapnya membela diri, bisa gawat jika Mama mempercayai Hafidz.


"Iya enggak apa-apa, asalkan pulang dengan utuh tanpa berkurang sedikit pun. Dan terimakasih juga sudah mau menemani Ziva, dia itu ngeyel pengen ketemu kamu terus. Katanya kangen, entah diajarin siapa tahu kangen segala." Mama melirik Ziva yang terlihat cemberut.


"Mama!" protes Ziva, dia malu dengan Hafidz.


Hafidz hanya menanggapi dengan senyuman, "Yaudah saya pulang kalau gitu Bu, bilang sama Ziva kalo kangen datang aja ke rumah. Atau kalau enggak suruh telfon aja Bu. Kalau gitu saya permisi, assalamualaikum," Hafidz sempat melirik Ziva dan tersenyum, lalu meninggalkan rumah tersebut.


Mamanya Ziva sempat menyuruhnya untuk masuk, tapi Hafidz menolaknya.


"Mama ih! Aku kan malu sama Kak Hafidz Ma," Ziva protes setelah mobil Hafidz keluar dari gerbang.


"Kenapa malu?"


"Ya malulah Ma, ih tau ah. Aku mau tidur." Ziva masuk ke dalam rumah dengan menghentakkan kaki, kesal.


"Mama!" Seru Ziva, protes.


Mamanya justru tertawa melihat tingkah Ziva, yang makin hari makin terlihat dewasa itu. Padahal baru kemarin dia menggendong Ziva saat masih bayi, tapi sekarang sudah menjadi seorang gadis, bahkan sudah mengenal cinta.


🍁🍁🍁


Jumat siang setelah pulang kuliah, Hafidz dan Indra pulang ke Bandung. Tujuan mereka sama, berpamitan dengan orang tuanya, karena beberapa hari lagi mereka akan praktek lapangan, atau KKN. Sampai di Bandung, Indra lebih dahulu mampir ke rumah Hafidz, untuk istirahat sejenak. Tapi tak disangka, dia menemukan adiknya di sana. Sedang tertawa cekikikan di ruang keluarga bersama Gita.


"Lo ngapain di sini, Ky?" tanya Indra to the poin.


"Eh kalian udah datang? Kangen Bang." Gita langsung memeluk Kakak kembarnya itu.


"Mama sama Ibu mana?" tanya Hafidz setelah melepas pelukannya.

__ADS_1


"Ada Bang, mereka lagi di dapur. Kalau Bapak sedang di rumah Tante Arin. Katanya ada sedikit kerjaan," jawab Gita.


"Bapak kerja?" tanya Hafidz.


Gita mengangguk, "Iya, padahal Mama udah ngelarang. Tapi Bapak tetep ngotot mau kerja, akhirnya Mama pasrah. Padahal Mama bilang suruh berkebun aja di belakang rumah, tapi Bapak enggak mau, berkebunnya sih mau, tapi kalau selesai ngurusin kebun Bapak kerja, entah kerja pa aku juga enggak tahu," jawab Gita rinci.


"Yaudah, aku temuin Mama sama Ibu dulu." Hafidz meninggalkan mereka bertiga di ruang keluarga.


Bu Nurul dan Pak Ahmad memang diminta untuk tinggal di bersama Mama dan Gita di Bandung. Dia juga ingin membahagiakan kedua orang tua angkatnya, sebab mereka sudah berjasa mengasuhnya sejak masih bayi hingga sebesar ini. Soal biaya hidup di Bandung tak jadi masalah buat Hafidz dan sang Mama. Meskipun janda, Mama bisa dibilang janda kaya raya, sebab memiliki banyak perkebunan teh dan beberapa saham yang dimilikinya. Itu sudah cukup untuk kehidupan mereka sehari-hari meskipun Mama tak bekerja.


"Ma, Buk." Hafidz menyalami dua wanita paruh baya itu. Mereka berdua memeluk Hafidz secara bergantian.


"Sana kamu mandi dulu, setelah itu kita makan malam bersama," ucap Mama dan Hafidz pun meninggalkan dapur setelah mereka berbincang saling menanyakan kabar masing-masing.


Makan malam kali ini lebih ramai dari biasanya, sebab bertambah tiga personel. Bahkan mereka berempat asik bicara entah membahas apa, mengabaikan tiga orang tua yang terlihat tenang menyantap makan malam.


Selesai makan malam, Indra dan Riky berpamitan. Riky sempat menggoda Gita sebelum meninggalkan rumah itu, membuat Indra terpaksa menarik paksa sang adik, menyeretnya masuk kedalam mobil yang Riky bawa tadi.


"Kamu sama Riky ada hubungan apa sih, Dek? Kalian kaya Deket banget. Kaya orang pacaran gitu," Hafidz penasaran sebab bukan kali ini saja dia melihat Riky berada di rumahnya. Saat menelfon Gita, dia pernah mendapati Riky berada di rumah itu.


"Ih, kok pacaran sih bang? Masak iya aku suka sama berondong? Lagian kalau mau suka sama berondong enggak kaya Riky juga kali. Masih banyak yang lebih good looking." Gita tak terima jika Kakaknya mengira dirinya berpacaran dengan Riky.


"Ati-ati kalo ngomong. Entar jatuh cinta beneran mamp*s kamu." Hafidz tertawa saat melihat adiknya cemberut.


"Ig Abang! Mama Abang Ma? Abang doain aku jelek!" seru Gita lapor pada sang Mama.


Hafidz lari dan langsung masuk ke dalam kamar. Tak mau mendengar Omelan Mamanya yang selalu menganggap ucapan Gita, bahakan memperlakukan Gita bak anak kecil. Tapi itu tak jadi masalah untuknya.


Bersambung.....


🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2