Langit Bumi

Langit Bumi
BAB 35


__ADS_3

Indra menuntun Gita ke taman belakang kampus, dimana tempat itu jauh dari lalu lalang orang lain. Tak lupa menghubungi Hafidz, dan tak lama pemuda itu pun datang langsung memeluk Gita, saat mengetahui kembarannya itu menangis.


"Taka nyakitin kamu lagi?" tanya Hafidz.


Gita menggeleng dalam pelukan Hafidz, "Ini salahku Bang, aku masih penasaran kenapa dia jadiin aku yang ke dua, ternyata karena permintaan Tante Sita," jelasnya dengan suara sedikit terputus karena menangis.


Hafidz mengepalkan tangannya, makin tidak suka dengan Tantenya itu. "Apa alasannya? Tapi apa pun alasannya itu tidak dibenarkan." Hafidz menggelengkan kepala tak habis pikir dengan kelakuan Tante Sita.


"Makin enggak respect sama adiknya Mama itu," gumamnya yang masih di dengar oleh Gita, tapi gadis itu tak menanggapi, memilih menangis karena rasa kecewa pada sang Tante.


Drrrrt Drrrt


"Hapenya bunyi Dek, jawab dulu panggilannya, siapa tahu penting." Hafidz melepaskan pelukannya saat mendengar ponsel yang ada dalam tas Gita berbunyi.


"Karin, lupa tadi dia nitip minum, pasti nyariin sekarang," ucap Gita saat melihat siapa yang menghubunginya. Gadis itu pun langsung menerima panggilan tersebut.


"Thanks ya Ndra, Lo selalu nolongin gue. Lo berjasa banget buat hidup gue Ndra." Hafidz duduk di sisi Indra yang sejak tadi bermain ponsel, entah apa yang sedang mengalihkan dunianya itu.


"Bukan gue yang nolongin Lo sepenuhnya, gue cuma sebagai perantara. Semua karena pertolongan Allah, dan doa-doa yang selalu Lo panjatkan," ucap Indra bijak, membuat Hafidz tersenyum.


"Tumben Lo pinter Ndra." Hafidz terkekeh, tapi dia benar-benar tulus berterimakasih karena memang Indra selalu ada saat dia membutuhkan.


"Ck, udah dari lahir gue pinter," protes Indra pemuda itu kembali memfokuskan penglihatannya pada layar ponsel.


Hafidz tak menanggapi memilih melihat Gita yang berjalan ke arahnya. "Kenapa?" tanyanya.


"Karin nyariin, dia ke sini enggak apa-apa, kan Bang?" tanya Gita takut Hafidz tak setuju dengannya.


"Enggak, menurutku kasih tahu dia aja, kalau emang dia sahabat kamu, biar enggak salah paham," jawab Hafidz mengerti akan ke khawatiran Gita.


"Iya Bang," itulah jawaban yang ingin Gita dengan dari saudara kembarnya.


Tak lama Karin datang, gadis itu langsung memberondong pertanyaan pada Gita, sebab teman sekelasnya tadi sempat melihat Gita bertengkar dengan Taka.

__ADS_1


"Aku baik-baik aja Rin, yang aku enggak habis pikir itu, kenapa Mama nyuruh Taka untuk jadi pacar aku, dibayar lagi? Apa coba yang Mama inginkan?" Gita mencurahkan semuanya pada Karin karena gadis itu belum mengetahui jika Gita sudah putus dari Taka.


Karin menghela nafas panjang, "Awalnya sudah gue duga. Maaf Git, waktu Lo pacaran sama Gavin juga sebenarnya kasusnya sama kaya Taka, tapi Gue takut mau bilang itu sama Lo," penjelasan Karin membuat Gita terkejut.


"Kenapa Lo enggak ngomong dari dulu? Untung aja gue tolak dia waktu itu," timpal Gita.


"Itu lho Bang, waktu Abang nolongin aku di parkiran sama anak kampus sebelah." Gita menatap Hafidz menjelaskan siapa Gavin.


"Gavin Sanjaya?" tanya Indra.


Gita dan Karin mengangguk bersama.


"Kok Bang Indra kenal?" tanya Gita.


"Dia itu satu angkatan waktu SMA sama gue. Kok bisa sih kamu pacaran sama dia?" tanya Indra heran.


"Kejadiannya juga hampir sama sih sama pertama kali aku kenal Taka, Tante Sita ngundang teman sosialitanya ke rumah, terus mereka ngenalin aku ke teman-temannya itu, ngenalin ke anak-anaknya juga, jadilah kita sering ketemu, dan entah bagaimana tanpa sengaja atau emang di sengaja, aku pasti dekat sama salah satu diantara anak temen Tante Sita, sampai akhirnya kita pacaran. Eh, taunya cuma permainan dia aja, entah apa tujuannya," jelas Gita panjang lebar, terlalu sakit hati dengan Tante Sita yang seolah sengaja mempermainkan dirinya.


Hafidz mengusap pundak Gita sambil merangkulnya, dia juga merasakan bagaimana perasaan Gita. Pasti sangat hancur dan kecewa, apalagi dia pasti jatuh cinta pada mereka yang ternyata hanya mempermainkannya.


"Iya Bang, dia memang memiliki maksud lain di balik semua ini," sambung Gita.


Karin sejak tadi diam menyimak, tapi dia sangat heran dengan kedekatan Gita dengan dua pemuda yang pernah sengaja gadis itu jauhi. Tapi sekarang mereka terlihat akrab, seperti sahabat yang sejak kecil sudah saling mengenal. Apalagi panggilan Gita pada Mama nya berubah menjadi Tante Sita saat berbicara dengan dua pemuda itu, padahal saat berbicara dengannya tadi masih menyebut Mama.


"Kita ke kelas dulu ya, kamu jangan temui Taka lagi. Kalau kalian tidak sengaja bertemu, pura-pura enggak lihat aja." Hafidz berdiri lalu mengusap puncak kepala Gita.


"Rin, titip Gita ya," ucapnya pada Karin dan diangguki oleh gadis itu.


"Kita duluan ya," kali ini Indra yang berpamitan.


"Iya Bang,"


Setelah kepergian Indra dan Hafidz, Karin merapatkan duduknya di samping Gita. Gadis itu menatap Gita penuh selidik, "Kenapa Lo bisa sedekat itu sama mereka? Bukannya dulu Lo menghindar? Terus hubungan Lo sama mereka apa? Lo pacaran sama salah satu diantara mereka?" lagi-lagi Karin memberondong banyak pertanyaan yang justru membuat Gita terkekeh mendengarnya.

__ADS_1


"Gue harus jawab yang mana dulu? Bingung kalo Lo tanyanya kaya kereta api penumpang saat mudik lebaran, panjang dan enggak habis-habi," protes Gita.


"Ck, ceritain," ucap Karin tak ingin ambil pusing, dia mau cerita yang lengkap.


"Bang Hafidz kembaran gue, kalo...." Gita tak melanjutkan ceritanya karena teriakan dari Karin.


"Apa? Lo serius? Bukannya kembaran Lo udah...." Karin sengaja menggantung ucapannya, karena Gita sudah mengerti apa maksudnya.


"Itu orang lain Rin, udan terbukti akurat kalo Bang Hafidz itu kakak kembar gue. Kita udah tes DNA, sama beberapa hal yang mengarah pada kebenaran itu," Gita sengaja tak ingin menceritakan semuanya dulu pada Karin, tak ingin rencana mereka bertiga diketahui banyak orang. Meskipun itu Karin sahabatnya sendiri.


"Pantes aja, kalian sangat mirip. Tapi bagus deh, Lo jadi punya saudara, Kakak lagi. Enak kalo punya Kakak cowok itu, tauk," sambung Karin, tentu saja dia tahu karena memiliki seorang Kakak laki-laki.


"Tapi ini masih rahasia, Papa juga belum tahu. Gue harap Lo enggak bocorin ini ke Mama atau Papa," Gita memperingati Karin.


"Siap Gita cantik, Karin cantik bisa jaga rahasia," ucap gadis itu.


Setelah cukup lama berbincang, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Gita yang rasanya malas pulang ke rumah, akhirnya memilih pulang ke rumah Karin. Gadis itu juga sengaja tak membawa mobil sendiri, pagi tadi dia berangkat kuliah dijemput oleh Karin.


"Kok kaya mobilnya Mama? Mama di rumah Lo Rin?" tanya Gita saat mereka sudah sampai di halaman rumah Karin.


Karin menggidikkan bahunya, "Gue juga baru tahu Git. Mungkin ketemu sama Mamah," jawab Karin.


Meskipun malas bertemu dengan Tante Sita, Gita memilih masuk rumah Karin supaya Tante Sita maupun Karin tak curiga dengannya.


"Eh, anak Mama ke sini juga?" tanya Sita sambil tersenyum ke arah Gita, tapi Gadis itu tahu jika senyum Tante Sita hanya palsu.


"Iya Ma, kangen sama Karin." Gita menyalami Sita dan Mama Karin bergantian, setelah itu keduanya berpamitan untuk ke kamar Karin.


"Jangan-jangan Mama Sita mau jodohin gue sama Kakak Lo, Rin?" tebak Gita yang entah benar atau salah.


"Bagus dong, kita jadi iparan. Gue bisa morotin Lo tiap hari," celetuk Karin.


"Gue yang ogah Iparan sama Lo," ucap Gita sewot, membuat Karin terkekeh, karena jujur Karin pun tak setuju kalau Kakaknya menikah sama Gita.

__ADS_1


Bersambung.....


🍁🍁🍁🍁


__ADS_2