
Untuk pertama kalinya setelah beberapa bulan berlalu, Renaldy menginjakkan kakinya di lapas, bukan rindu dengan wanita yg dia kunjungi, tapi lebih tepatnya ingin meminta penjelasan, kenapa selama ini membohongi dirinya? Hanya itu, sebab pengakuan Sita akan menjadi pertimbangannya untuk tetap bertahan atau melepaskan.
"Mas?" Sita terkejut saat melihat siapa yang datang berkunjung, terharu tentu saja. Dia selalu berharap suaminya itu datang, tapi dia juga tak mau berharap lebih, sebab Renaldy sudah mengetahui semuanya. Dia hanya berharap Renaldy tak membuangnya begitu saja, tapi jika itu keputusan lelaki tersebut, dia akan mencoba ikhlas.
Renaldy diam tanpa ekspresi, masih sangat kecewa dengan semua yang Sita lakukan padanya dan keluarganya.
Melihat reaksi Renaldy, Sita menjadi takut. Tak berani menatap sepasang mata elang yang terus menatapnya tanpa berkedip, seakan ingin memangsanya hidup-hidup. Sungguh harapannya terlalu berlebihan saat pertama melihat sang suami, dia kira Renaldy akan tersenyum atau setidaknya menyambut dirinya dengan ekspresi bersahabat.
Atmosfer dalam ruangan itu terasa begitu mencekam sejak Sita duduk dihadapan sang suami. Hampir sepuluh menit berlalu keduanya membisu tak ada yang berniat membuka suara lebih dahulu.
"Jelaskan padaku!" titah Renaldy penuh penekanan.
Sita mendongak sebentar, dia kembali menunduk saat tatapan Renaldy tetap sama seperti tadi.
"Maaf Mas, aku sadar sekarang. Kalau semua yang kulakukan itu hanya membuat diriku hancur, bahkan dibenci banyak orang. Tuhan juga pasti membenci perbuatan ku. Meskipun maaf pun tak cukup untuk membalas kesalahanku, tapi aku akan tetap minta maaf dan maaf. Aku tak bisa berbuat apa pun selain itu, sebab aku tak bisa mengembalikan masa lalu, yang bisa kulakukan saat ini hanya menerima balasan atas perbuatannya sendiri," ucap Sita lirih.
"Aku butuh penjelasan, bukan permintaan maaf!" gertak Renaldy membuat Sita mati kutu, tak mampu bergerak sedikit pun. Baru kali ini dia mendengar suaminya itu marah seperti itu.
"Aku melakukan semua itu karena kecewa sama kamu, dan marah sama Mbak Sinta, karena dia selalu mendapatkan apa yang dia mau. Aku makin marah ketika kamu lebih memilih dia dari pada aku, padahal kita sudah saling mengenal dan aku jatuh cinta sama kamu, tapi kamu malah membuatku patah hati," jelas Sita, yang langsung dimengerti oleh Renaldy.
Renaldy di sini juga salah, kenapa dia lebih memilih Sinta saat itu, tanpa memberitahu Sita. Dia mengakui kesalahannya. Dia diam, terus mendengarkan penjelasan Sita yang selama berbicara tak mau memandangnya.
Sita mulai menjelaskan semuanya pada Renaldy. Tapi dengan wajah menunduk, tak berani menatap lelaki itu.
__ADS_1
"Aku melakukan semua itu hanya ingin balas dendam dan menguasai kekayaan Papa ku, itu saja tidak lebih. Kenapa aku bohong soal Revan? Karena aku tidak mau kamu meninggalkanku."
"Alasan saja. Kamu tidak mencintaiku, kamu hanya terobsesi denganku. Buktinya kamu masih mau dengan mantan pacarmu itu. Apa itu yang dinamakan cinta?" sanggah Renaldy.
Sita menggeleng, "Aku hanya menuruti perintah dia Mas. Dia mengancam mau merebut Revan kalau aku tidak mau melayaninya. Aku enggak mau itu terjadi, dengan terpaksa menuruti semua keinginan dia. Dulu memang aku mencintai dia setelah kamu mengecewakanku, tapi setelah kita menikah aku kembali mencintaimu Mas, tak ada niatan sedikitpun untuk selingkuh, hingga aku kembali bertemu dengan dia, dan dia memaksaku," paparnya.
"Soal Gita dan Hafidz, sungguh waktu itu aku berada dalam fase takut kehilanganmu. Sekaligus ingin membalas rasa sakit ku sejak dulu. Memang aku tak berfikir panjang, yang ada dalam pikiranku hanya dendam, dendam dan dendam. Waktu itu aku juga sudah optimis, jika Adrian tak akan memberitahu tentang status Revan, tapi nyatanya dia berkhianat, dan memberi tahu tentang Revan," Sita geram mengingat hal itu, dia sudah berkorban tapi Adrian mengkhianatinya.
"Bukan lelaki itu yang memberi tahu, tapi Revan sendiri yang mengatakannya padaku," sanggah Renaldy.
"Iya, tapi sesuai perintah Adrian. Dia memaksa Revan untuk menjelaskannya padamu. Sudah ku bilang, dia hanya ingin mendapatkan Revan, sebab pernikahannya sampai sekarang belum memiliki momongan," Sita menjelaskan yang sebenarnya, dia mengetahui semua itu dari pengacaranya.
"Terserah kamu mau percaya apa enggak, yang penting aku sudah menjelaskannya. Mungkin kamu lebih percaya lelaki itu, sebab dia datang lebih dulu ke rumah dengan segala alasan yang dia buat sendiri," lanjut Sita, sebab Renaldy hanya membisu.
Renaldy berjalan dengan memijat kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing. Makin bimbang dengan apa yang akan dia putuskan. Alasan utamanya tak ingin kehilangan Revan, meskipun bukan anak biologisnya. Tapi dia juga tak ingin bertahan dengan Sita. Ah, entahlah membuat kepalanya makin berdenyut.
🍁🍁🍁
Keadaan yang hampir sama juga dirasakan oleh Adrian, makin merasa bersalah setelah mengetahui jika Luna sedang hamil, dan mengandung anaknya. Memang mereka telah melakukan program bayi tabung, tapi selalu gagal dan gagal sejak dulu. Tapi kenapa disaat rumah tangganya tak baik-baik saja, justru program mereka berhasil.
Menatap kamar tamu yang sejak kemarin tertutup rapat, siapa lagi penghuninya jika bukan Luna sang istri. Sejak pulang dari klinik, Luna mengurung diri. Wanita itu bahkan tidak keluar kamar meski sebentar. Art merekalah yang keluar masuk kamar itu, mengantar makanan dan mengambil pakaian kotor.
Adrian menghela nafas berulang kali, dia baru saja mendapatkan telfon dari rumah sakit, memberitahu jika dia harus melakukan operasi sesar hari ini, dan tak bisa digantikan. Akhirnya dia pergi ke rumah sakit, meski terpaksa. Dia tetap harus bertanggungjawab dengan pasiennya.
__ADS_1
Hingga sore hari dia baru pulang ke rumah, dan mendapati sopir pribadi sang istri sedang memasukkan sebuah koper ke dalam bagasi. Tentu saja dia terkejut melihat itu.
"Mau kemana Pak?" tanyanya.
"Maaf Pak, Bu Luna minta diantar ke bandara. Beliau bilang mau pulang ke Medan, apa bapak tidak tahu?"
Mendengar penuturan sang sopir, Adrian pun langsung lari masuk ke dalam rumah. Kebetulan sekali Luna baru keluar dari kamar, dan dia pun langsung memeluk tubuh istrinya itu.
"Jangan tinggalin aku, sayang. Kamu jangan pergi, tetaplah disini bersamaku. Aku janji tidak akan mengulang perbuatan itu lagi," ucap Adrian dalam pelukan Luna.
Istrinya itu bergeming, tak memberi respon apapun. Jujur dia rindu dengan suaminya, entah kenapa rasanya nyaman dalam pelukan lelaki itu, padahal dia sangat kecewa dan marah dengan suaminya tersebut. Apakah ini karena anak dalam kandungannya? Entahlah.
Cukup lama Adrian memeluk sang istri, hingga Luna melepaskan dengan paksa.
"Beri aku waktu untuk berfikir. Beri aku ruang untuk mencoba memaafkan perbuatan mu. Jangan pernah datang mencari ku, karena aku akan datang kepadamu jika saatnya tiba. Akan aku bawa sebuah keputusan yang belum ku ketahui saat ini. Aku pergi, jaga diri baik-baik dan jangan buat aku kecewa lagi." Luna meninggalkan Adrian begitu saja, air matanya bahkan sudah luruh, tapi dia tak boleh lemah, hanya karena melihat sang suami meneteskan air mata dan menatapnya iba.
.
Bersambung....
🍁🍁🍁
BAGAIMANA? AH SEBENTAR LAGI TAMAT.
__ADS_1