Langit Bumi

Langit Bumi
BAB 53


__ADS_3

Sita menatap lekat wanita dihadapannya, yang memiliki wajah sangat mirip dengan dirinya. Orang yang tak mengenal mereka pasti mengira mereka satu orang yang sama, padahal dua orang yang berbeda. Hanya saja wanita dihadapannya ini mengenakan jilbab yang menutup sebagian tubuhnya, terlihat lebih cantik dari dirinya yang sudah beberapa bulan tidak melakukan perawatan.


"Mau berdiri di situ aja?" Sinta melontarkan pertanyaan membuat Sita tersadar dari lamunannya.


Tak pernah menyangka, jika saudara kembarnya itu akan datang ke tempat ini. Bahkan suami dan anaknya saja belum pernah sekalipun mengunjunginya, mereka datang tapi tak menemuinya, memilih mengirim pesan lewat petugas lapas.


Sita menghampiri kakak kembarnya itu, lalu duduk berhadapan dengan wanita tersebut.


Sinta masuk ke ruang jenguk sendiri, meninggalkan Hafidz dan Gita di luar. Awalnya Gita memaksa ikut, tapi setelah Hafidz membujuk akhirnya Gita mengerti dan memilih menunggu di luar bersama Hafidz.


"Ada perlu apa?" tanya Sita ketus.


Sinta menghela nafas sebelum memulai pembicaraan. "Aku cuma mau minta maaf, selama ini kamu menderita karena kesalahan ku. Meskipun aku tak merasa bersalah, setidaknya aku akan minta maaf untuk itu, tak ingin kehidupanku dipenuhi penyesalan," ucapnya.


Sinta sudah memikirkan semuanya matang-matang, dia memilih jalan damai dengan saudaranya itu. Sebesar apapun kesalahan Sita, mereka memiliki darah yang sama yang tak akan bisa terpisahkan. Bahkan mereka tumbuh bersama sejak masih dalam kandungan. Bukankah darah itu lebih kental dari pada air? Sejauh apapun persaudaraan terpisah, mereka tetap saudara tak bisa terputus oleh apa pun.


Sita menatap kembarannya itu dengan sorot mata tak bis diartikan. Entah apa yang wanita itu pikirkan.


"Apa kamu mau memaafkan ku? Jika iya, mari kita perbaiki kesalahpahaman ini." Sinta membalas tatapan adik kembarnya itu penuh permohonan. Memang seharusnya bukan dia yang memohon seperti ini, tapi bukankah mengalah lebih baik, sebab dia tahu seperti apa sifat Sita.


"Hafidz bahkan sudah memaafkanmu, dia merelakan semua yang terjadi. Mengatakan jika itu memang takdirnya. Jalan hidup yang harus dia lewati. Jika anakku saja memaafkanmu, kenapa aku tidak? Bahkan aku pikir semuanya karena diriku," ucap Sinta lagi, sebab adik kembarnya itu tetap membisu.


"Kita hanya dua bersaudara, Mama sama Papa berharap kita akan hidup damai. Jika kita seperti ini terus, mereka pasti kecewa sama kita. Kamu ingat kan? Mama pernah cerita, jika mereka menunggu hingga sepuluh tahun kehadiran kita, lantas kita akan mengecewakan mereka begitu saja? Sepertinya aku tak akan mampu melihat Papa sama Mama kecewa," tambahnya.

__ADS_1


Sita mengingat momen saat kebersamaan mereka ketika masih kecil, saling membutuhkan, bahkan Sinta akan membela dirinya saat diganggu teman mereka. Tak ada kata dendam meskipun kerap kali mereka bertengkar, tapi kenapa setelah dewasa tak bisa memaafkan seperti saat masih kecil dulu?


Benar apa yang Sinta katakan, jika masa lalu yang sudah lewat itu terjadi karena sebuah takdir yang sudah dituliskan, lalu kenapa dirinya selalu merasa jadi orang yang tersakiti, hingga tega melukai keponakannya sendiri. Apakah sekejam itu dirinya? Atau memang itu yang harus dia lakukan supaya puas, tapi nyatanya sampai saat ini dia tak merasa puas. Justru makin mengganggu pikirannya.


Sita berdiri dan menggeser kursi yang dia duduki dengan kasar, lalu berjalan mendekati Sinta. Dan langsung memeluk tubuh saudara kembarnya itu.


Tentu saja Sinta terkejut, dia sempat mengira jika Sita akan pergi meninggalkannya, karena ucapannya tadi. Tapi ternyata dia salah, Sita justru memeluknya. Pelukan yang sudah belasan tahun tak mereka rasakan kini mereka kembali merasakannya.


"Mbak aku yang salah, aku sudah merenungi semuanya. Ternyata selama ini memang aku yang salah, bukan Mbak Sinta. Maafkan aku Mbak, sudah memisahkan Mbak dari kedua anak Mbak. Sudah membuat kalian menderita, menghancurkan rumah tangga Mbak Sinta. Aku tak menyangka memiliki kakak berhati malaikat, mau memaafkan kesalahanku, bahkan rela merendahkan diri untuk meminta maaf lebih dulu."


"Beberapa bulan di sel tahanan membuat aku sadar, tapi aku mau mengakuinya. Gengsiku terlalu tinggi, aku juga takut jika Mbak Sinta tidak mau memaafkan ku."


Mereka berdua larut dalam kesedihan dan kebahagiaan secara bersama. Air mata yang berjatuhan mengadakan jika mereka masih memiliki hati nurani, dan pikiran positif.


"Iya, tapi aku lebih banyak salah sama Mbak. Maafin aku ya Mbak," timpal Sita.


Sinta mengangguk, dia bahagia ternyata kejahatan tak boleh dibalas dengan kejahatan, jika seperti itu maka tidak akan ada akhirnya. Sebaiknya kejahatan dibalas dengan kebaikan, maka semuanya akan mudah terselesaikan.


"Aku sudah mencabut tuntutan atas penculikan Hafidz, tapi Gita. Dia belum bisa memaafkan kamu, dia masih mempertahankan laporannya. Maafkan Mbak ya," Sinta menyesal tak berhasil membujuk Gita untuk mencabut laporan atas tindakan Tante Sita yang ingin memb*nuhnya.


"Memang seharusnya aku di sini, Mbak enggak usah cabut laporan itu. Hanya saja selama aku disini, titip Revan sama Mbak Sinta. Takut anak itu pergi dari rumah," mereka berdua kembali akrab, bahkan setelah terpisah selama sepuluh tahun.


Ternyata memaafkan itu membuat hati lebih tenang, rasanya beban dalam pikiran seakan hilang meski tak sepenuhnya. Setidaknya jalan ke depan akan terasa lebih ringan untuk dilewati ketika mereka sudah saling memaafkan.

__ADS_1


"Pasti aku akan jaga Revan, jika dia mau akan aku ajak tinggal bersama, tapi sepertinya Revan lebih memilih tinggal di rumah Papanya," timpal Sinta, mengerti akan kekhawatiran Sita. Takut Revan pergi dari kehidupan mereka, jika mengetahui Papa dan Mamanya akan berpisah.


"Kamu juga tenang aja, aku akan bujuk Mas Renald untuk tidak menceraikan kamu," tambahnya.


"Mbak?" Sita berkaca-kaca mendengar penuturan Sinta.


"Tenang, aku sudah mengikhlaskannya. Dia memang bukan jodohku dunia akhirat, mungkin memang jodohmu, kembali lagi pada takdir," timpalnya sambil tersenyum.


Tak lama petugas lapas datang, sebab waktu jenguk sudah hampir usai. Dengan berat hati mereka berdua mengakhiri obrolan dengan saling memeluk sebelum berpisah.


🍁🍁🍁


Sinta merasa lebih lega setelah bertemu dengan adik kembarnya, tak seperti saat akan masuk kedalam sana yang memikul beban berat. Dia menghembuskan nafas berulang kali sebelum bertemu dengan kedua anaknya. Takut mereka jadi khawatir saat melihat penampilannya setelah tadi menangis.


"Mama baik-baik aja?" tanya Hafidz dan Gita yang hampir bersamaan, membuat Mama tersenyum bahagia melihat dua anaknya khawatir dengan dirinya.


"Alhamdulillah, seperti yang kalian lihat. Mama baik-baik saja, tidak mungkin Tante kalian melukai Mama. Kita itu seperti kalian berdua, jika yang satu sakit maka yang satu akan ikut merasakannya." Jelas Mama panjang lebar.


"Mama memutuskan untuk berdamai, tak ingin lagi saling menyakiti, sebab jika seperti itu terus, tak akan ada habisnya," ucap Mama.


Gita menatap sang Mama penuh selidik, rasanya tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Mama. Kenapa bisa Mama melakukan hal tersebut?


Bersambung.....

__ADS_1


🍁🍁🍁


__ADS_2