Langit Bumi

Langit Bumi
BAB 40


__ADS_3

Hafidz begitu panik, apalagi saat perjalanan mereka ke rumah sakit harus melewati jalanan yang sedikit macet, ingin rasanya dia berlari menggendong Gita supaya cepat sampai di rumah sakit yang jaraknya memang sudah dekat. Tapi dia tak kuasa karena tubuhnya dipenuhi luka dengan badan yang terasa nyeri akibat pukulan dari dua orang tak dikenal itu. Dia hanya bisa membelai wajah dan kepala Gita, dan berdoa dalam hati supaya adiknya itu baik-baik saja.


Hafidz teringat saat tadi dia sudah tak kuasa melawan dua orang tersebut, tiba-tiba dia mendengar suara tembakan yang diarahkan ke udara, dan seseorang berpakaian polisi datang membantunya. Serta beberapa orang lain yang tak mengenakan seragam telah berhasil meringkus dua orang tak dikenal itu. Dia sempat melihat, dua orang itu melawan, tapi mereka tak kuasa karena kalah jumlah dengan petugas keamanan.


Di waktu bersamaan, tak di duga Indra datang dan langsung membawanya pergi dari tempat itu menuju rumah Gita. Indra khawatir dengan Hafidz karena sejak tadi tak bisa dihubungi, akhirnya memutuskan untuk menyusul Hafidz di rumah Gita, khawatir terjadi sesuatu dengan Hafidz, dan dugaannya benar, ternyata Hafidz tak baik-baik saja.


"Biar gue yang gendong Gita, Lo juga perlu di obati." Hafidz terkejut, dia tak menyadari jika mereka sudah sampai di rumah sakit. Dia pun langsung menyerahkan Gita pada Indra, lalu ikut turun dan mengikuti pemuda itu.


"Suster tolong adik saya!" seru Indra saat masuk ke dalam ruang IGD, dan pun langsung membaringkan tubuh Gita di atas brangkar kosong.


"Masnya tunggu di luar, biar kami tangani," ucap seorang petugas kesehatan.


"Baik, tapi dia juga butuh pengobatan Dok," Indra menunjuk Hafidz yang terlihat panik berdiri di sisi Gita.


"Masnya ke sebelah, biar diobati sama perawat lain." Dokter itu menunjuk ruangan lain di dalam IGD tersebut.


Hafidz pun berjalan ke arah ruangan itu. Dia membaringkan dirinya di brangkar kosong setelah dipersilakan, sambil memejamkan mata. Berdoa untuk kesembuhan saudara kembarnya.


🍁🍁🍁


"Nak, kamu kenapa? Terus adik kamu mana?" tanya Mama saat masuk ruang perawatan Hafidz, karena tadi Indra memberitahu jika Hafidz berada di ruang rawat.


"Ma?" Hafidz menatap wajah sang Mama yang dipenuhi air mata, dia pun tak kuasa membendung air matanya.


"Maafin aku ya Ma, karena enggak bisa jagain Gita dengan baik. Dia harus dirawat di ruang ICU, karena meminum racun berbahaya. Untung saja kita cepat membawanya ke sini. Kata dokter kalau terlambat sedikit saja, Gita bisa..." Hafidz tak melanjutkan ucapannya karena tak kuasa membayangkan apa yang tadi dikatakan dokter padanya.


Mama menggeleng, "Ini bukan salah kamu. Mama yakin adik kamu akan baik-baik saja. Kita berdoa sama-sama untuk kesembuhan Gita," ucapnya sambil menggenggam tangan Hafidz, saling memberi kekuatan satu sama lain.

__ADS_1


Hafidz memeluk sang Mama, mereka menumpahkan air mata bersama. Tante Arin, Om Ari dan Pak Luky yang menyaksikan ikut terharu dengan apa yang mereka lihat, bahkan Tante Arin juga ikut meneteskan air mata.


"Mama mau lihat adik kamu dulu ya," pamit Mama pada Hafidz setelah cukup lama mereka berpelukan.


Hafidz mengangguk, "Iya Ma, tadi Ibu sama Bapak yang jagain Gita," ucapnya.


Mama meninggalkan ruang rawat Hafidz menuju ICU dengan diantar oleh Tante Arin. Saat di depan ruang ICU, Bu Nurul langsung memeluk orang tua kandung Hafidz itu, memberi kekuatan ada wanita tangguh tersebut.


"Yang sabar ya Buk, Neng Gita pasti sembuh," ucap Bu Nurul setelah melepaskan pulang mereka.


"Makasih Buk, sudah menjaga anak saya," timpal Mama yang dipenuhi air mata sisi wajahnya.


Mama dan orang tua angkat Hafidz sudah bertemu beberapa hari lalu, saat pertama kali Bu Nurul dan Pak Ahmad datang ke Bandung. Dan beberapa hari ini orang tua angkat Hafidz itu tinggal di rumah Tante Arin. Mereka berdua datang sesuai perintah Hafidz, bertujuan memberi kesaksian atas penemuan Hafidz waktu bayi. Dan malam ini sebenarnya mereka akan ikut ke rumah Gita, tapi tidak jadi karena ada insiden tersebut, dan memilih untuk menjaga Gita dan Hafidz di rumah sakit.


Mama masuk ke dalam ruang ICU sesuai arahan dokter, air matanya kembali menetes saat melihat putri cantiknya terbaring lemas dengan berbagai macam alat kesehatan yang tak dia mengerti fungsinya.


Tiba-tiba dadanya terasa nyeri saat mengingat siapa yang tega menyakiti putrinya. Tak habis pikir dengan jalan yang Sita ambil, entah apa alasannya wanita itu ingin menghabisi kedua anaknya dan membuat dia menderita. Apakah Sita memiliki dendam padanya? Tapi apa?


"Mama tidak akan membiarkan Tante kamu bebas begitu aja, karena dia sudah menyakiti kedua anak Mama." Masih menggenggam tangan Gita yang tak merespon sedikit pun.


Cukup lama berada di dalam ruang ICU itu, sebenarnya Mama ingin tidur di samping Gita, tentu saja dokter melarangnya demi kebaikan pasien, dan akhirnya Mama memilih untuk menuju ruang rawat Hafidz. Ingin memastikan kembali sebenarnya apa yang terjadi pada putranya itu.


Tapi baru saja dia melangkah, suara seseorang menghentikan langkahnya meskipun tak menoleh ke arah sumber suara.


"Sinta?" ucap orang itu.


Mama tetap bergeming, tak ingin melihat wajah orang yang telah membuatnya terluka berulang kali. Dan tentu saja yang menyebabkan Gita masuk rumah sakit ini, sebab dia bersama Gita dalam satu rumah, tapi kenapa tidak tahu dengan kejadian seperti ini. Sungguh miris, sudah Sinta tebak jika Renaldy tak mengurus Gita dengan baik.

__ADS_1


"Sinta!" suaranya makin mendekat, dan Mama tetap bergeming.


"Gita menunggu mu, jadi jangan hiraukan aku," ucap Mama tanpa menolah, bahkan setelah mengucapkan itu dia langsung pergi meninggalkan Renaldy yang mematung melihat kepergiannya.


Renaldy hanya bisa mengusap wajahnya kasar, entah apa yang ada dalam pikirannya. Mungkin sebuah penyesalan atau kemarahan, entahlah.


Setelah itu dia pun menuju ruang ICU tempat Gita dirawat.


Sama halnya dengan Mama Sinta, Papa juga sangat terpukul melihat kondisi putrinya. Bahkan dia menangis dan meminta maaf pada putrinya itu, meskipun Gita belum sadarkan diri.


🍁🍁🍁


"Baru saja dapat kabar dari kantor polisi, katanya dua orang yang mengeroyok Hafidz adalah orang suruhan Sita, sepertinya Sita sudah tahu siapa sebenarnya Hafidz," ucap Om Ari yang baru saja mendapatkan telfon dari kantor polisi.


Mama yang mendengar itu hanya bisa mengisi dan menangis, kenapa saudara kembarnya sendiri tega dengan dirinya dan kedua anaknya. Apa sebenarnya tujuan Sita menyakiti kedua anaknya?


"Sudah Ma, aku tidak apa-apa. Hanya luka ringan aja, Mama jangan nangis lagi." Hafidz mengusap punggung Mama yang duduk disisi nya.


Mama menggeleng, "Semua salah Mama, pasti Sita melukai kalian berdua karena Mama," ucapnya.


Hafidz tak bisa berkata apa-apa lagi, dia juga terluka melihat Mamanya seperti itu. Apalagi adiknya yang dalam kondisi tak baik-baik saja. Dia tak boleh lemah, meskipun tubuhnya terasa remuk, tapi dia tetap harus kuat, supaya Mama tak begitu mengkhawatirkannya, karena Gita lebih butuh perhatian dari pada dirinya.


Pintu ruang rawat terbuka, Renaldy berdiri di sana, sorot matanya memandang dia orang yang berada di ranjang pasien dengan sorot mata terluka. Entah apa yang ada dalam pikirannya.


"Boleh masuk?" tanyanya pada semua orang yang ada di dalam ruangan itu.


Bersambung.....

__ADS_1


🍁🍁🍁


__ADS_2