Langit Bumi

Langit Bumi
BAB 39


__ADS_3

"Kami minta maaf kalau memang mengganggu istirahat kalian, karena memang hanya malam hari saja kami bisa berkunjung kemari, selain kita bekerja kalian juga pasti sibuk dengan pekerjaan masing-masing," Om Ari mengalah, tak ingin suasana memanas sebelum tujuan mereka tercapai.


Tante Sita diam, dia masih bersikap angkuh seakan orang-orang yang ada dihadapannya ini adalah musuh baginya. Tapi tatapannya terus tertuju pada wanita berhijab yang mengenakan cadar, seperti tak asing baginya. Tapi dia tak begitu yakin dengan pemikirannya sendiri.


"Gini, aku cuma mau tanya sama Renald, dimana Sinta berada? Sudah sepuluh tahun kamu menyembunyikannya, sekarang apa pun keadaannya aku akan membawa dia pulang," Tante Arin sengaja membahas hal itu terlebih dahulu sambil menunggu kedatangan Hafidz, karena tujuannya ke rumah ini adalah memperkenalkan Hafidz pada Renaldy, sekaligus membuka kejahatan Sita dihadapan lelaki itu.


"Aku tahu, Sinta pasti masih hidup dan baik-baik aja. Bukankah Gita berhak tahu dimana ibunya? Dia berhak melihat ibunya, dalam kondisi apa pun. Karena Gita sempat meminta bantuan ku untuk membujuk kamu supaya memberitahu dimana keberadaan Mamanya," lanjutnya.


Renaldy tak terkejut mendengar ucapan Arin, sebab dia sudah menebaknya. Sudah berkali-kali Arini dan sang suami datang menanyakan keberadaan Sinta, tapi dia selalu tutup mulut, tak ingin semua orang mengetahui keberadaan istri pertamanya itu. Bahkan Sita pun tak mengetahui, karena dia menyembunyikannya dengan sangat rapi.


Renaldy menghela nafas, sudah bosan dia mengatakan tak ingin memberitahu keberadaan Sinta, tapi mau tak mau kali ini dia juga harus mengatakan hal yang sama.


"Maaf Mbak, seperti jawaban sebelumnya, Sinta akan menjadi urusan saya, Mbak Arin dan Mas Ari enggak usah ikut campur, dia tanggungjawab saya. Urusan Gita, biar saya yang mengaturnya sendiri," ucap Renaldy tanpa memberitahu keberadaan Sinta.


Sinta yang mendengar hal tersebut hanya bisa memendam amarahnya, rasanya ingin sekali melampiaskan kekecewaan dan kemurkaannya pada Renaldi, tapi dia tak boleh melakukan hal itu.


Sita yang sejak tadi menyimak dan juga ingin mengetahui keberadaan saudara kembarnya, hanya bisa mendengus mendengar jawab sang suami.


Arin baru saja akan mengatakan sesuatu tapi Renaldy mencegahnya, dengan memberi isyarat stop dengan telapak tangan.


"Maaf Mbak, aku harap...." Renaldy tak melanjutkan ucapannya saat mendengar seseorang berteriak memanggil namanya.


"Papa! Papa! Tolong!" teriak seseorang dari lantai atas.


Semua orang melihat ke arah sumber suara, mereka semua bahkan bergegas lari ke arah sumber suara itu.


Semuanya terkejut saat seorang remaja tanggung menggendong Gita dengan tergopoh-gopoh, entah apa yang terjadi pada gadis itu. Refleks Sinta langsung berlari ke arah Revan yang sedang kesusahan, bukan hanya Sinta tapi mereka semua, kecuali Sita, dia justru tersenyum, entah apa yang dia pikirkan.

__ADS_1


"Kakak kamu kenapa Van?" tanya Renald panik.


"Nanti aku ceritain Pa, sekarang kita harus bawa Kak Gita ke rumah sakit," jawab Revan, terlihat sekali jika dia sangat panik, tapi dia terus berjalan diikuti oleh yang lain.


"Gita, sayang, kamu kenapa?" Mama Sinta menangis saat melihat kondisi putrinya.


Tentu saja Renaldy terkejut mendengar ucapan itu, dia tahu betul jika wanita itu adalah Sinta, istrinya yang sudah dia sia-siakan, bahkan dia sembunyikan keberadaannya.


"Sinta? Kamu?" tanyanya tapi Sinta tak merespon dia terus menatap Gita dalam gendongan Revan.


"Apa yang terjadi?" suara seseorang yang baru masuk ke dalam rumah itu, membuat mereka semua terkejut terutama Tante Sita, wanita itu nampak tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.


"Hafidz!" seru Mama Sinta saat melihat wajah putranya yang babak belur, tangisnya makin pecah melihat kedua naiknya dalam kondisi tidak baik-baik saja.


Tante Arin menggenggam tangan Mama Sinta, memberi kekuatan pada wanita itu. Berharap adiknya itu sedikit lebih tenang.


"Apa yang terjadi Nak?" tanya Mama Sinta, tapi sepertinya Hafidz tak mendengar, dia fokus dengan seseorang yang berada dalam gendongan Revan.


"Gita! Kenapa seperti ini?" Hafidz terkejut melihat Gita terkulai lemas dalam gendongan Revan, dia pun langsung meraih tubuh saudara kembarnya itu.


"Biar aku sama Indra yang bawa Gita ke rumah sakit. Mama sama yang lain tetap di sini, selesaikan urusan kalian dulu," ucap Hafidz lalu dia melesat ke luar menuju mobil Indra yang terparkir di luar gerbang. Hafidz sempat melirik Tante Sita yang tersenyum melihat dirinya, dia sudah menduga jika semua yang terjadi pasti rencana wanita licik itu. Entah apa tujuannya.


Mama Sinta memaksa untuk ikut, tapi Tante Arin memberi pengertian, jika mereka harus menyelesaikan masalah yang terjadi, jangan sampai Sita mengambil kesempatan dalam kesempitan untuk kabur dari tanggung jawab.


"Maaf kami datang ke sini membawa surat penangkapan atas nama Ibu Sita, beliau terlibat kasus penculikan yang terjadi sekitar dua puluh tahun lalu. Untuk lebih jelasnya nanti akan kami sampaikan di kantor polisi," ucap salah seorang polisi setelah mereka kembali duduk meski dalam keadaan tidak tenang.


Renaldy yang sejak tadi terkejut mendapati kenyataan jika Sinta ternyata ada dihadapannya, kini kembali terkejut dengan ucapan polisi itu. Dia menatap Sita penuh selidik, tapi wanita itu tampak tenang tak gentar sedikit pun.

__ADS_1


"Maaf aku mau bicara sebentar, boleh kan Pa, sebelum Mama dibawa pergi?" Revan sepertinya tidak terkejut dengan ucapan polisi itu, berbeda dengan sang Papa.


Tanpa menunggu persetujuan Revan pun langsung berbicara, "Sebenarnya Kak Gita tadi minum air minum yang sudah Mama campur dengan obat, entah obat apa. Waktu aku bermaksud mencegahnya, ternyata Kak Gita sudah minum air itu. Maaf Ma, aku harus mengatakan ini, aku tidak mau Mama jadi orang jahat lagi," ucap remaja itu, sepertinya berat sekali saat mengatakan hal tersebut.


Tentu saja semuanya terkejut mendengar ucapan Revan, bahkan Renaldy langsung melayangkan tangannya ke pipi Sita, membuat wanita itu meringis.


"Pak polisi, silahkan bawa Mama kalau memang Mama bersalah, dan hukum sesuai perbuatan yang Mama lakukan," ucap Revan tanpa mau menatap Mamanya, setelah itu dia berlari ke dalam rumah dengan air mata yang mengalir.


Polisi itu pun segera menangkap Sita yang terlihat tersenyum, entah apa yang wanita itu pikirkan.


"Aku sudah cukup puas melihat kamu menderita, tapi sayang rencana kumembunuh kedua anakmu tak berhasil. Tapi aku yakin, anak manja itu akan mati, dia udah minum racun yang aku berikan." Sita menunjuk saudara kembarnya itu sambil tertawa.


Sinta hanya bisa menunduk, air matanya sejak tadi terus mengalir memikirkan kedua anaknya. Dia hanya bisa berdoa semoga mereka baik-baik saja.


Sita langsung dibawa oleh polisi, tak ingin terjadi kegaduhan lagi di sana.


Setelah kepergian polisi yang membawa Sita, Renaldy langsung bersujud di kaki Sinta. Entah apa yang dia pikirkan. Tapi wanita itu menghindar, tak ingin disentuh oleh suaminya yang telah tega dengan dirinya.


"Maafkan aku," ucap Renaldi.


Sinta tak merespon, dia justru menatap Arini penuh permohonan, "Mbak, ayo kita susulin Gita sama Hafidz," ucapnya lalu berdiri menjauh dari Renaldy.


"Baiklah, urusan yang lain kita selesaikan nanti." Arini ikut berdiri diikuti yang lain.


Mereka mengurungkan niat memberitahu Renaldy jika putranya masih hidup. Yang terpenting sekarang, Sita sudah dibawa ke kantor polisi dan ditangani oleh polisi. Meskipun rencana mereka sepertinya sudah diketahui oleh Sita, tapi wanita itu tidak tahu jika mereka akan membawa polisi, terlihat dari wajahnya yang terkejut saat melihat kedatangan polisi.


.

__ADS_1


Bersambung.....


🍁🍁🍁


__ADS_2