
Hari ini Gita sudah diperbolehkan pulang oleh dokter, sebab tubuhnya sudah pulih. Tapi gadis itu terlihat gusar saat akan pulang, bingung mau pulang kemana? Mau kembali ke rumah yang dia tempati selama ini, tidak mungkin. Dia malas sekali kembali ke rumah itu, banyak kenangan menyedihkan di sana, lagipula itu rumah milik Tante Sita, dan sekarang wanita itu ada di kantor polisi, tak mungkin, kan? Tapi jika harus pulang ke Bandung, ke rumah baru Mama juga tak mungkin, dia harus kuliah.
"Kamu pulang ke rumah Papa ya sayang, nanti Hafidz juga pulang ke rumah Papa, kan?" Papa menatap dua anaknya.
"Maaf Pa, aku enggak mau tinggal di rumah itu lagi," tolak Gita.
Bukannya marah, Papa justru tersenyum, "Kamu tenang aja, kita tinggal di rumah yang dulu. Rumahnya juga sudah direnovasi, dan barang-barang kita juga sudah dibawa ke rumah itu," ucapnya.
Gita menatap Hafidz, mencari jawaban dari tatapan itu. Tapi Hafidz justru menggeleng kecil, seakan dia mengatakan terserah kamu.
"Aku mau tanya Mama dulu, Pa," putus Gita akhirnya.
Senyum yang tadi merekah di bibir Papa, kini memudar, dia hanya berharap Gita masih mau tinggal bersamanya. Sebab istri pertamanya itu sudah menggugat cerai dirinya. Dia sudah memperkirakan hal itu, dan menerima keputusan yang diambil oleh Sinta. Pada akhirnya dia pun mengurungkan niat menceraikan Sita, dia masih memiliki hati nurani untuk tidak menceraikan Sita. Bukan hanya Sita yang dia pikirkan, melainkan Revan, yang pasti remaja itu akan bersedih jika mereka berdua berpisah.
"Mama tidak akan memaksa kalian akan tinggal dimana, mau tinggal sama Papa atau sama Mama, keputusan ada di tangan kalian berdua. Menurut Mama sekarang kalian bisa tinggal sama Papa, karena kuliah kalian di sini, biar Mama tinggal di rumah bersama Bu Nurul, kalian boleh mengunjungi Mama kapan pun," jawaban yang diberikan oleh Mama saat mereka bersua menanyakan hal itu, dan jawaban Mama membuat mereka berdua lega.
Dan akhirnya hari ini Gita memilih pulang ke rumah Papa terlebih dahulu, untuk kedepannya dia akan memikirkan lagi bagaimana baiknya. Hafidz pun mengikuti jejak sang adik, dengan terpaksa karena bujukan sang Mama, dia pun ikut pulang ke rumah Papa.
🍁🍁🍁
Berita tentang Sita yang masuk jeruji besi dan perceraian Renaldy dengan istri pertamanya sudah menyebar ke seluruh pelosok negeri. Mereka yang hanya mengetahui Renaldy memiliki satu istri terkejut mendengar berita itu, sebab selama ini tak pernah ada pemberitaan miring tentang pengusaha kaya tersebut. Apalagi kasus yang menjerat Sita, membuat semua orang kembali terkejut dengan kenyataan itu.
Semua orang mengira, hidup dalam kemewahan akan mendatangkan kebahagiaan, padahal statement mereka itu salah besar, karena kemewahan tak menjamin kebahagiaan. Dan kebahagiaan tak hanya datang dalam kehidupan para jutawan.
Bahkan berita tentang Hafidz yang ternyata anak seorang konglomerat pun sudah menyebar ke seluruh kampus, banyak yang tak menyangka dengan semua itu.
Hafidz pemuda tampan yang sederhana dan ramah dengan siapa pun, serta memiliki kecerdasan diatas rata-rata itu ternyata seroang pangeran yang diidamkan banyak wanita. Bahkan mereka yang dulu enggan mengenal Hafidz, kini justru mendekat, mencari perhatian pada pemuda itu. Bukan Hafidz namanya jika mengaitkan mereka, dia selalu membalas sapaan mereka semua bahkan saat ada yang ingin berkenalan dia pun tak keberatan akan hal tersebut.
__ADS_1
Berbeda dengan Silfia, gadis itu justru terlihat selalu menghindar dari Hafidz, entah apa masalahnya?
"Pagi Sil, tumben udah datang jam segini? Biasanya selalu datang terlambat, selalu ngehindar dari kita," celetuk Indra saat melihat gadis itu sudah duduk di bangku paling pojok.
"Ah, enggak, aku enggak menghindari kok," kilah Silfia. Tapi ucapan dan sorot matanya terlihat berbeda, mulutnya memang mengatakan tidak tapi sorot mata dan gestur tubuhnya mengatakan 'iya'.
"Apa kamu sudah enggak mau temenan sama kita lagi Sil? Kenapa? Sebab aku tahu apa yang dikatakan Indra itu benar," ucap Hafidz, duduk di sisi gadis itu.
"Enggak...Aku enggak menghindar, sumpah!" kini Silfia berani menatap wajah Hafidz meski sekilas.
"Oke, buktikan. Nanti kita makan di kantong bareng seperti biasa, kalo kamu nolak berarti kamu memang menghindar," tantang Hafidz.
Mau tak mau Silfia pun mengangguk, menyetujui permintaan Hafidz.
Seperti yang mereka katakan, setelah kuliah usai mereka bertiga pun menuju ke kantin. Seperti biasa, banyak yang menyapa Hafidz saat mereka berpapasan, dan pemuda itu tentu saja balik menyapa.
Saat mereka sedang menikmati makanan, seorang gadis cantik berambut pirang, tiba-tiba duduk di sisi Hafidz tanpa permisi.
"Ikut gabung ya, dari pada sendirian, di sini kan masih ada kursi kosong," ucap gadis itu sambil tersenyum menatap Hafidz.
Indra yang melihat itu hanya berdecak, dia sudah tahu seperti apa gadis itu, yang mendekati Hafidz sat pemuda itu dinyatakan sebagai anak konglomerat.
"Minggir deh, tempat Lo bukan di sini. Ini tempat gue!" Gita yang tiba-tiba datang entah dari mana, membuat gadis itu terpaksa berdiri lalu meninggalkan mereka dengan wajah kesal.
Gita selalu jadi pawang untuk sang Abang, sebab jika gadis itu sudah berada di dekat Hafidz, tak ada satu perempuan pun yang berani mendekati Hafidz, kecuali teman pemuda itu.
Gita menyerahkan sebuah map pada abangnya.
__ADS_1
"Ini apa Dek?" tanya Hafidz sebelum membuka map tersebut.
"Abang baca aja, nanti akan tahu isinya apa," jawab Gita sewot seperti biasa.
Hafidz pun membuka map tersebut lalau membacanya, "Kamu serius! Secepat ini?" tanya Hafidz setelah membaca isi map tersebut.
"Apaan sih?" Indra terlihat kepo, sedangkan Silfia hanya menyimak, tak mau ikut campur urusan mereka.
"Suray pengajuan perpindahan." Jawab Hafidz sambil menyerahkan map tersebut pada Indra.
"Gita mau pindah?" Silfia baru membuka suara, setalah mengetahui apa yang mereka bicarakan.
"Iya Sil, aku mau nemenin Mama di Bandung. Biar Abang di sini, kalau pindah kuliah kan sayang. Nanti kalo Abang ikut pindah, Bang Indra kesepian," jawab Gita disertai kekehan dari mulutnya.
Indra hanya bisa berdecak, dan memutar bola matanya.
Gita memang sudah memikirkan hal tersebut, dia memutuskan untuk pindah ke kampus yang ada di daerah Bandung. Selain untuk menemani sang Mama, dia juga ingin menghindar dari Karin, dia masih belum bisa memaafkan gadis itu. Apalagi kini Karin terlihat sengaja menjauhinya.
"Ingat ya Bang, entar kalo aku pindah, harus bisa bedain mana teman tulus sama temen modus," ucap Gita, sebab yang Gita tahu saat ini Hafidz tak bisa membedakan mana teman yang tulus dan enggak.
"Iya Dek," timpal Hafidz.
"Bagus, tapi jangan iya, iya aja,"
Hafidz mengangguk dan mengacungkan dua ibu jarinya.
Bersambung.....
__ADS_1
🍁🍁🍁