
Sudah satu minggu Gita pindah ke Bandung membuat Hafidz sedikit kesepian, dia merindukan saudara kembarnya itu. Rindu dengan cerewetnya Gita saat mengomentari apa yang dia pakai, jika tak sesuai dengan keinginan Gita. Juga, rindu saat gadis itu manja dengannya. Rencananya Minggu ini dia akan pulang ke Bandung, tapi ternyata tidak bisa, sebab harus mengerjakan tugas kelompok. Akhirnya dia hanya memendam rindu dengan sang adik, Mama dan juga orang tua angkatnya.
Selama satu minggu ini pula, Hafidz jarang sekali berada di rumah. Dia lebih sering menghabiskan waktu bersama sahabatnya di apartemen Deril, sering kali pulang larut malam bahkan menginap di sana.
"Pa aku pamit ya, sudah di tunggu sama yang lain," ucap Hafidz pada sang Papa yang sedang duduk santai di ruang keluarga.
"Sekali-kali ajak teman kamu belajar di sini, gantian, biar Papa juga kenal sama temen kamu," timpal Papa.
"Insyaallah Pa," sahut Hafidz.
Sebenarnya teman-temannya ingin sesekali mengerjakan tugas di rumah Hafidz, tapi pemuda itu yang tidak menyetujuinya, entah apa alasannya.
Setelah kepergian Hafidz, Revan datang menemui sang Papa, dengan pakaian santainya. Tak biasanya remaja itu ke luar kamar di pagi hari saat hari libur, biasanya Revan hanya akan turun saat makan saja, setelah itu seharian dia kamar.
"Pa, bisa kita bicara?" tanya Revan sedikit ragu.
"Bicara saja, Papa akan dengarkan. Memangnya kamu mau bicara apa?" Papa menatap wajah Revan yang terlihat gugup, lalu dia mendekati putranya itu dan mengusap pundak Revan.
"Katakan saja jangan takut," ucap Papa seakan mengerti kegelisahannya.
Revan menghela nafas, "Bicara di perpustakaan atau ruang kerja Papa aja," ucapnya.
Papa mengernyitkan dahi, ada apa dengan Revan, kenapa ingin bicara di ruang kerja. Ah, dia baru ingat, waktu Gita sakit Revan pernah mau mengajaknya bicara di ruang kerjanya, tapi urung sebab mendapatkan berita jika Gita sudah sadar. Tapi itu sudah terjadi beberapa bulan lalu, kenapa Revan baru akan memberitahu sekarang?
"Baiklah, ayo. Apa anak Papa ini punya rahasia, hingga minta bicara di ruang kerja?" tanya Papa penuh selidik.
"Nanti Papa akan tahu," jawab Revan.
Papa hanya mengangguk, sebenarnya penasaran dengan apa yang ingin Revan katakan, tapi dia mencoba menyembunyikannya, sebab Revan akan memberitahu tanpa dia minta.
"Mau bicara apa, Nak?" tanya Papa saat mereka sudah duduk di sofa.
"Sebelumnya Revan mau minta maaf dulu sama Papa, karena apa yang akan Revan katakan nanti, akan sangat menyakiti Papa. Jadi, aku mau minta maaf dulu sebelum menyakiti Papa dengan ucapanku," ucap Revan.
Renaldy semakin dibuat penasaran dengan apa yang ingin Revan katakan. Apalagi saat melihat bola mata Revan yang sudah mulai berkaca-kaca dan menyiratkan kesedihan disana.
__ADS_1
"Apa pun itu, Papa akan dengarkan, meskipun akan itu menyakiti Papa," timpal Papa.
Revan mengangguk, dia menyerahkan sebuah amplop putih yang sudah dia simpan lama. Tapi dia belum berani menerima amplop itu ke Papa, sebab Mama melarangnya.
Papa mengernyit membaca isi dalam amplop tersebut. Sedangkan Revan tampak pucat, takut sang Papa akan marah.
"Ini enggak asli, kan? Kamu pasti mau ngerjain Papa?" ucap Papa setelah membaca isi dalam amplop itu.
Revan menunduk, "Maaf Pa, itu benar adanya," ucapnya.
Papa memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sesak, apa yang baru saja dia ketahui adalah sebuah kejutan luar biasa selain bertemu dengan Hafidz. Tapi kali ini kejutan itu membuatnya benar-benar sakit seperti apa yang Revan katakan, bahkan rasa sakitnya melebihi saat dia harus mengikhlaskan Sinta berpisah dengannya.
"Pa, maaf. Revan baru memberitahu itu sekarang. Sebenarnya Mama melarang, tapi aku cuma ingin Papa tahu, tidak lebih." Revan memeluk Papanya yang masih membisu sambil berusaha menghirup udara dalam-dalam.
Cukup lama Papa terdiam, hingga nafasnya kembali normal.
"Apa kamu tahu siapa dia?" tanya Papa.
Revan mengangguk, "Mama pernah mengajakku bertemu dengannya," jawab Revan kembali membuat sang Papa terkejut, hatinya sakit bak tertusuk pedang.
Papa menggeleng, lalau memeluk Revan erat, "Papa mohon, jangan tinggalin Papa. Meskipun kamu bukan darah daging Papa, tapi kamu adalah anak Papa," tak ingin kehilangan anak untuk kedua kalinya, apalagi Hafidz anak kandungnya masih menutup diri dengannya.
Amplop yang diberikan oleh Revan tadi, adalah bukti tes DNA Revan dengan Ayah kandungnya. Sebab saat itu Ayah kandungnya meminta tes DNA, untuk membuktikan kalau dia memang anaknya. Karena Mama selalu mengatakan jika dia anak kandung Papa.
"Enggak Pa, aku akan tetap di sini. Sebenarnya dia mengajak ku untuk tinggal bersama, tapi aku menolak sebab aku memilih bersama Papa,"
"Makasih Nak,"
Revan mengangguk, "Maafin Mama ya Pa, Mama banyak melakukan kesalahan sama Papa, bahkan membuat Papa sakit berkali- kali," Revan tulus meminta maaf untuk sang Mama.
Papa menggeleng, "Ini mungkin karma buat Papa, sebab sudah menyia-nyiakan istri sebaik Mama Sinta, bahkan dengan bujuk rayu Mama kamu, Papa telah melakukan kesalahan dengan mengasingkan dia. Membuatnya menderita bertahun-tahun lamanya. Balasan ini tidak sebanding dengan apa yang Sinta rasakan," sebenarnya Papa ingin marah, tapi dia sadar kemarahannya tak ada guna, yang bisa dilakukan sekarang adalah menerima.
"Bisakah Papa bertemu dengan dia? Papa mau berbicara dengannya,"
Revan mengangguk, "Iya Pa, kebetulan Ayah ada di sini. Malam ini akan datang ke rumah, karena itu aku memberitahu hal ini, sebelum Papa mengetahui dari orang lain. Maaf ya Pa," ucapnya terlihat penyesalan dari sorot matanya.
__ADS_1
"Kamu enggak perlu minta maaf, kamu enggak salah. Yang harusnya minta maaf itu Mama kamu dan juga Ayah kamu, karena mereka yang salah," sambung Papa.
Revan mengangguk, tak menyangka respon Papa tak seperti bayangannya, yang akan marah atau bahkan membencinya, tapi ternyata sebaliknya. Papa justru memintanya untuk tetap tinggal.
"Apa lagi yang kamu ketahui tentang Mama? Yang masih kamu rahasiakan?" tanya Papa, ingin tahu rahasia apalagi yang disimpan oleh Sita.
Revan menggeleng, sebab memang tidak ada yang dia ketahui selain itu.
🍁🍁🍁
Ibadah sholat dhuhur terlama yang pernah dilakukan oleh Renaldy, dia menenangkan perasaannya dengan sholat dan meminta petunjuk sama Alla. Sungguh, dia sangat sakit dan kecewa dengan Sita yang tega membohonginya berulang kali. Entah kenapa dia bisa jatuh cinta dengan wanita licik itu. Apa karena dia mirip dengan Sinta, entahlah. Ternyata kemiripan wajah tak membuat sikap dan sifat mereka sama, bahkan berbanding terbalik dengan saudara kembarnya.
Setelah cukup lama berada dalam mushola yang ada di dalam rumahnya, Papa pun meninggalkan tempat sejuk itu menuju kamar. Dia harus menata hatinya untuk malam ini, bertemu dengan Ayah kandung Revan, yang selama ini dia kira anak kandungnya.
"Bapak, maaf ada orang yang mencari Bapak," ucapan Bik Atun mengejutkannya yang sedang berjalan sambil melamun.
"Siapa Bik?" tanyanya.
"Enggak tahu Pa, tapi mereka bilang karyawan Ibu," jawab Bik Atun.
Papa mengangguk, lalu berbalik arah menuju ruang tamu. Tersenyum saat melihat dua orang kepercayaan sang istri datang ke rumah. Merek memang biasa datang, jika ada hal penting yang harus diselesaikan langsung oleh Papa.
"Maaf Pa, untuk laporan kali ini sedikit ada masalah, Bapak bisa baca sendiri." Karyawan itu menyerahkan map pada Papa.
Papa seakan djavu, sebab setelah membaca kertas itu dia amat terkejut seperti tadi saat membaca hasil tes DNA.
"Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa dengan perusahaan istri saya?" tanya Papa, memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
"Ada koruptor di kantor Pak, tapi kita sedang menyelidiki, siapa koruptor itu, semoga semuanya segera terungkap," jawab karyawan itu.
Papa hanya bisa menghela nafas, mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri dengan semua kejadian yang terjadi hari ini.
Bersambung.....
🍁🍁🍁
__ADS_1