
Satu tahun berlalu, banyak lika-liku kehidupan ya g Hafidz dan keluarganya lewati. Tumpahan air mata bahkan tak terhitung jumlahnya. Semuanya memang tak sia-sia sedikit pun, sebab apapun yang kita perjuangkan pada akhirnya pasti membuahkan hasil yang memuaskan, bukan? Apalagi perjuangan itu begitu berat, mengorbankan banyak perasaan.
Tepat hari ini Hafidz di wisuda, dia ingin Mama dan Papanya hadir dan menyaksikannya. Tapi dia juga bingung, jika tak membawa Ibu dan Bapak ikut masuk dalam gedung. Untung saja, Bu Nurul dan Pak Ahmad mengerti, mereka memilih untuk mengalah, mereka pernah menyaksikan Hafidz wisuda saat SMA, kini giliran Papa dan Mamanya yang menyaksikan langsung.
"Abangku ganteng banget, kalo aja kamu bukan abangku, mungkin aku udah jatuh cinta," celetuk Gita saat melihat Hafidz datang menyambut kedatangan adik dan Mamanya.
"Jangan nagco!" Hafidz mendorong pelan kepala Gita dengan telunjuknya, membuat gadis itu mengaduh meski sebenarnya tidak sakit. Lalu menyalami sang Mama yang saat ini terlihat cantik, apalagi dengan hijab yang menutup sebagian tubuhnya.
"Aduuh! Nyesel aku muji Abang, tau gitu tadi bilang jelek aja," protes Gita.
"Jelek-jelek gini banyak yang naksir tau! Kamu emang ada yang naksir? Ya paling cuma Riky doang," sanggah Hafidz.
"Kalian ini, ribut enggak tahu tempat! Apa enggak malu diliatin teman-teman kamu? Mama aja malu," protes Mama saat melihat kedua anaknya saling membalas satu sama lain.
Mereka berdua hanya menyengir, lalu mengakhiri perdebatan mereka.
"Papa kok lama sih?" protes Gita.
"Masuk aja dulu, aku antar. Biar Papa nanti nyusul. Baru aja telfon tadi," ucap Hafidz.
Mama dan Gita pun mengikuti Hafidz masuk ke dalam gedung, tak lupa membawa kartu undangan dan memberikan pada petugas. Dan tak lama Papa menyusul. Mereka bertiga duduk berjejer, dengan Gita berada ditengah Papa dan Mama. Tampak seperti keluarga harmonis, padahal kedua orang tua itu telah berpisah cukup lama. Dan Mama sudah menemukan penggantinya, meskipun masih bersifat rahasia.
Tak disangka, Hafidz menjadi lulusan terbaik di tahun ini, dan pemuda itu diberi kesempatan untuk mengucapkan pesan dan kesan selama kuliah ditempat tersebut, mewakili seluruh mahasiswa yang di wisuda saat ini.
"Kenapa Ma?" tanya Gita saat melihat sang Mama berkaca-kaca.
Mama menggeleng, "Mama bahagia, Mama jadi ingat saat wisuda dulu, Nenek dan Kakek mu tidak bisa menyaksikan, tapi Mama tetap bersyukur, yang penting mereka sehat," ucapnya.
__ADS_1
Gita mengusap punggung Mama, gadis itu tahu, jika Mamanya merindukan Kakek dan Nenek.
Sedangkan Renaldy hanya bisa menatap mantan istrinya itu tanpa bisa berkata apa pun.
Usai wisuda, Hafidz langsung memboyong kedua orang tuanya untuk berfoto bersama. Setelah itu mereka menuju sebuah restoran milik Mama dan Bu Nurul yang berada di Jakarta.
Tampak restoran tersebut sudah dihiasi dengan berbagai hiasan. Mereka mengadakan syukuran atas kelulusan Hafidz, dan membuka restoran dengan gratis khusus hari ini. Keluarga besar berkumpul di area outdoor resto tersebut.
Mereka menyambut kedatangan Hafidz dan memberi selama pada pemuda itu. Bahkan Bu Nurul meneteskan air mata saat melihat anak yang dia asuh sejak kecil itu kini sudah tumbuh jadi pemuda tampan nan cerdas. Bu Nurul memeluk erat Hafidz, sambil mengucapkan selamat berulang kali.
Kini giliran Hafidz bersalaman dengan seorang wanita yang membuat dunianya jungkir balik. Tapi Hafidz tak membencinya, sungguh dia tak membenci wanita itu, meski sempat memiliki rasa kecewa dan marah, tapi dia tak memiliki kebencian sedikit pun.
Wanita itu tampak berkaca-kaca saat melihat Hafidz berdiri dihadapannya. Semua orang pun memperhatikan interaksi keduanya. Saat wanita itu akan berlutut, Hafidz langsung memeluknya.
"Jangan lakukan itu Tan, aku bukan Tuhan yang wajib disembah. Aku hanya manusia akhir zaman yang dikelilingi dosa. Tak pantas Tante melakukan itu, apalagi Tante adalah orang tua ku." Ucap Hafidz dalam pelukan wanita itu.
"Tante minta maaf sama kamu, Tante juga berterimakasih sama kamu, karena sudah membujuk Papa kamu untuk tetap bertahan dan juga menjaga Revan selama ini, entah apa yang terjadi pada anak itu kalau kamu tak ada di sampingnya. Tante jahat sama kamu, tapi kamu tak pernah membalas kejahatan Tante." Sita menangis dalam pelukan Hafidz, apalagi saat mendengar Hafidz menyebutnya orang tua.
"Dan selamat buat kamu, Tante bangga sama kamu." Sita menepuk pundak Hafidz, lalu mengusap air mata. "Hari ini tak boleh ada kesedihan, kita rayakan keberhasilan kamu," tambahnya.
Hafidz mengangguk, lalu sang Tante berpamitan ingin membantu mempersiapkan hidangan untuk mereka.
"Kak Hafidz! Kakak makin ganteng aja!" seru seorang gadis yang baru saja tiba dihadapan Hafidz, siapa lagi jika bukan gadis kecil kesayangan Hafidz, Ziva.
"Kak aku boleh jatuh cinta sama Kak Hafidz enggak?" pertanyaan yang sering Ziva lontarkan tapi tak dianggap serius oleh Hafidz.
"Enggak! Anak kecil ngerti cinta-cintaan dari mana? Emang tahu cinta itu bentuknya kek apa? Enggak kan?" bukan Hafidz yang menjawab, siapa lagi jika bukan kembarannya.
__ADS_1
Ziva cemberut, "Ih Kak Gita. Aku aduin ke Mama ya! Ma...." Gita langsung menutup mulut Ziva saat akan berteriak memanggil Mama Sinta, ya Ziva sudah sedekat itu dengan keluarga Hafidz, sebab berulang kali Hafidz mengajak Ziva ke Bandung.
"Kalian itu sama-sama masih kecil, jangan saling tuduh," celetuk Hafidz membuat Gita menatap wajah Abangnya, geram.
Sedangkan Ziva tertawa terbahak-bahak, sebab merasa mendapatkan pembelaan dari Hafidz.
"Ih males sama Abang, aku mau sama Bang Indra aja." Gita memang seperti itu, sifat kekanakannya akan keluar saat bersama keluarga. Tapi saat di luar, dia bisa bersikap dewasa seperti umurnya.
"Ciee! Mau ngadu sama calon pacar yang statusnya masih calon aja dari dulu, enggak berubah," ledek Ziva.
"Kaya sendirinya enggak aja! Wlek!" Gita membalas ejekan Ziva, membuat gadis kecil itu cemberut dan kini Gita yang tertawa.
Hafidz hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah dua gadis berbeda generasi itu.
Hafidz melihat sekeliling, dia terharus dan bersyukur dengan keakraban mereka. Ternyata ungkapan 'akan ada pelangi setelah badai' itu benar adanya. Buktinya setelah melewati banyak proses dan pengorbanan, kini pelangi itu datang, menghiasi indahnya kebersamaan dibalut dengan kerukunan.
"Selamat ya Kak, selamat untuk wisudanya, juga selamat telah berhasil menyusun kaca yang sempat berantakan. Meskipun kaca itu telah pecah, setidaknya kalian tetap bersama dan saling memberi dukungan. Aku bangga sama Kak Hafidz." Ziva memeluk Hafidz dari samping yang tentu saja lebih tinggi darinya.
Hafidz tersenyum, "Tumben kata-kata kamu bagus, siapa yang ngajarin?" tanyanya pada Ziva, membuat gadis itu cemberut dan langsung melepas pelukannya.
Hafidz terkekeh dengan tingkah Ziva, "Oke makasih ya. Senyum dong, biar cantiknya keliatan," ucapnya.
Tak tahu saja, jika jantung Ziva seakan mau keluar dari tempatnya setelah mendengar Hafidz mengucapkan kata 'cantik' untuknya. Tapi sebisa mungkin Ziva menetralkan detak jantungnya, dia sadar sesadar-sadarnya jika Hafidz hanya menganggap dirinya sebagai adik, tak lebih.
Bersambung .....
🍁🍁🍁
__ADS_1
Sudah mendekati tamat ya. Tolong kasih tahu aku, jika masih ada yang mengganjal. Mungkin aku lupa. Makasih semuanya🥰🥰