
Hafidz menghela nafas berulang-kali sambil mengendarai motornya menuju kosan. Dia teringat akan ucapan wanita bernama Asih itu, ternyata tak sesuai yang dia harapkan.
"Maaf, saya bukan Asih yang kalian cari. Di kampung rambutan ini banyak sekali yang namanya Asih, pasti Asih lain, bukan saya. Kalau kalian tidak ada kepentingan lain, silakan kalian pergi, saya masih banyak urusan dari pada harus meladeni anak muda yang tidak jelas seperti kalian berdua." Asin berdiri dari duduknya dengan wajah tak enak di pandang, keduanya pun memilih pergi dari rumah wanita itu.
Hafidz kembali menghela nafas, dia merasa wanita bernama Asih itu menyembunyikan sesuatu, terlihat jelas dari raut mukanya yang tak ingin berlama-lama memandang mereka.
"Ya Allah, mudahkanlah jalan kami untuk membuktikan sebuah kebenaran," gumamnya.
Tak lama dia pun sampai di kosan yang ternyata Indra mengikuti pemuda itu.
"Gue rasa dia nyembunyiin sesuatu, terlihat banget tadi wajahnya kaya tegang gitu," celetuk Indra setelah masuk ke dalam kamar Hafidz.
"Sepemikiran, tapi sudahlah Ndra, dia enggak mau bantu, kita masih punya Pak Karno, Ibu dan Bapak, mereka akan memberikan kesaksian, semoga aja laporannya nanti diterima sama polisi." Hafidz ikut duduk di sofa bersebelahan dengan Indra yang lebih dahulu duduk disana.
"Sebenarnya aku enggak ingin masalah ini Samapi ke polisi, cukup buat aku menemukan keluarga kandungku. Tapi melihat semua kejahatan Tante Sita, rasanya tidak adil kalau dia bebas gitu aja, apalagi dia udah nyakitin Mama berulang kali," ucap Hafidz dari dalam hatinya.
"Seenggaknya Tante Sita jera dan bertaubat, itu aja keinginanku. Soal harta dan yang lainnya aku tak peduli," tambahnya.
Indra diam mencerna setiap ucapan Hafidz, dia tahu persis seperti apa sifat pemuda itu. Tak pernah mau mengusik orang lain, bahkan saat dirinya diusik pun dia akan diam dan tak mau membalasnya. Tapi di sini dia baru tahu, jika Hafidz tak akan rela jika ada orang yang menyakiti orang yang dia cintai, bahkan akan melakukan apa pun untuk mendapatkan keadilan.
Indra tak tahu harus berkata apa, dia hanya menepuk bahu pemuda itu, memberi semangat, meskipun jalan yang akan dilalui sedikit sulit nantinya.
🍁🍁🍁
Selama satu minggu ini Hafidz dan Gita jarang sekali bertemu, mereka memang sengaja melakukan itu. Mereka akan menanyakan kabar satu sama lain lewat media sosial, tapi terkadang Hafidz meminta Indra untuk menemui saudara kembarnya itu, memastikan apakah dia baik-baik saja atau tidak, dan setelah mendapat kabar baik, tentu saja Hafidz sangat bersyukur.
__ADS_1
Sesuai kesepakatan, hari ini mereka akan datang langsung ke rumah Gita, bersama Tante Arin dan juga sang suami. Kedatangan mereka tanpa pemberitahuan sedikit pun, memang sengaja memberikan kejutan untuk Papa dan Tante Sita. Sesuai informasi yang Gita berikan, jika keduanya saat ini sedang berada di rumah.
Hafidz yang baru saja pulang dari kerja kelompok, memutuskan untuk langsung menyusul ke rumah Gita, sebab Tante Arin sudah memberitahu jika mereka hampir sampai. Tapi belum juga sampai di rumah Papanya itu, dia dikejutkan dengan sebuah mobil yang melintang di tengah jalan. Melihat sekeliling, ternyata jalanan memang sangat sepi, bahkan sepertinya jauh dari perkampungan. Mau tak mau dia harus turun, melihat apa yang sebenarnya terjadi.
"Maaf, apa saya bisa lewat?" tanya Hafidz pada orang yang berdiri di sisi mobil dengan melipat kedua tangannya di dada. Ada dua orang dengan badan kekar berdiri di depannya.
"Lawan kami dulu, kalau Lo menang boleh lewat, tapi kalo Lo kalah, jangan harap, karena gue akan ngabisin Lo sampai m*pus!" ucap salah seorang diantara mereka berdua.
Hafidz hanya bisa berdoa, semoga Allah melindungi dirinya dan mengirimkan pertolongan, karena jujur dia sudah pasti tak mampu melawan dua orang itu, meskipun dia sedikit banyak menguasai ilmu bela diri.
"Apa salah saya? Kalau kalian mau sesuatu katakan saja, karena saya tidak mau berkelahi," ucap Hafidz mencoba untuk tenang, dia melakukan penawaran siapa tahu orang itu mau menerima tawarannya.
Tapi ternyata mereka tak menghiraukan tawaran Hafidz, keduanya langsung mengeroyok Hafidz tanpa ampun, seakan memiliki dendam pada Hafidz. Sebisa mungkin Hafidz melawan kedua orang tersebut, tapi tenaganya kalah kuat dengan keduanya. Membuatnya tersungkur berkali-kali.
"Mungkin Hafidz masih di jalan, dia enggak denger kalau ada telfon," Om Ari menenangkan dua wanita itu, sebenarnya dia juga khawatir dengan Hafidz.
"Kita masuk dulu aja, semoga Hafidz segera datang," usul Om Luky yang juga ikut serta sebagai kuasa hukum dari Mama.
Mama menggeleng, perasaannya menjadi tak enak memikirkan putranya, dia hanya bisa berdoa semoga putranya baik-baik saja.
"Gimana Mbak?" tanya Mama Sinta pada Tante Arin.
"Kita masuk aja ya, nanti pasti Hafidz menyusul. Tidak mungkin kan kalau kita tunda-tunda lagi, bahkan kita juga udah lapor polisi, mereka akan segera tiba," jawab Tante Arin, mereka tak mungkin menunda hal ini, takut Sita makin menjadi.
Akhirnya mereka pun masuk ke dalam rumah itu, Mama Sinta sedikit gemetar saat mereka melewati gerbang yang telah dibuka oleh satpam. Teringat lagi masa kelam dahulu saat berada di rumah tersebut, meskipun rumah itu sudah banyak perubahan, tapi kenangan masa lalu masih saja menghantui dirinya.
__ADS_1
Menekan bel rumah tersebut, tak lama seorang art datang membukakan pintu dan mempersilakan mereka untuk masuk. Art itu mengenal Tante Arin dan sang suami, tapi tak mengenal dua orang yang lain. Sebab Mama Sinta sengaja mengenakan hijab dan penutup wajah, untuk menyembunyikan keberadaannya saat ini.
"Mbak Arin, Mas Ari, tumben malam-malam datang kemari," Papa Renaldy datang lebih dahulu menyapa mereka berempat. Dia menatap dua orang lain sambil mengerutkan kening. Dia sepertinya tak asing dengan orang itu.
"Kami sengaja datang ke sini, ada hal penting yang ingin kami bicarakan," sahut Tante Arin.
"Tapi bukan hanya sama kamu, sama Sita juga. Dimana dia?" tanya Tante Arin.
Tapi Papa Renaldy masih fokus dengan dua orang itu, karena mereka tak mengeluarkan suara bahkan seakan enggan menyapanya.
"Ah, itu dia sebentar lagi turun," jawab Papa Renaldy.
"Mereka siapa Mbak?" tanyanya yang sudah sangat penasaran.
"Kamu nanti juga akan tahu siapa mereka, tapi tunggu Sita sama Gita dulu," Tante Arin tak ingin memberitahu siapa mereka berdua sebelum Gita dan Tante Sita datang.
"Gita udah tidur, ada apa kalian datang malam-malam gini? Gangguin orang istirahat saja," ketus Sita padahal dia baru saja datang.
Tante Arin tentu tak percaya dengan ucapan Sita, karena mereka baru saja berkirim pesan, tak mungkin Gita tidur secepat itu. Dia pun kembali mengirim pesan pada Gita, tapi tak ada balasan dari gadis itu, apa mungkin Gita sudah tidur?
Untuk memastikan, Tante Arin mengirim pesan pada seorang Art yang bekerja di rumah Gita yang tak lain Bik Atun, menyuruh untuk ke kamar Gita dan membangunkan gadis itu.
Bersambung.....
🍁🍁🍁🍁
__ADS_1