Langit Bumi

Langit Bumi
BAB 37


__ADS_3

Mama menggeleng, lalu menghela nafas panjang sebelum berbicara.


"Nak, urus surat perceraian itu butuh banyak dokumen yang harus di siapkan, tidak semudah itu. Oke beri waktu satu Minggu buat Mama, nanti kita sama-sama bongkar kejahatan Tante Sita di hadapan Papa, untuk urusan perceraian setelah nanti Mama sama Papa bertemu," Mama menolak permintaan Gita dengan halus, dia tahu kedua anaknya ingin segera menyelesaikan masalah ini.


"Kalian harus tetap hati-hati, jangan sampai Tante Sita mengetahui semuanya lebih dulu," tambahnya.


"Untuk Gita, setelah ini jangan pergi ke tempat yang membuat Tante kamu curiga, tetaplah di rumah. Jangan dulu datang ke sini, kamu harus sabar, sebentar lagi kita akan berkumpul." Mama mengusap puncak kepala Gita dengan sayang, membuat gadis itu menurut.


Dia juga tak mau jika Mamanya dalam bahaya kalau Tante Sita mengetahui keberadaan sang Mama.


"Dan satu lagi, jangan mudah percaya dengan orang lain, meskipun itu orang terdekat kita. Karena ancaman terberat kita adalah orang terdekat. Jadi, sebisa mungkin kita harus menjaga sebuah rahasia meskipun dengan orang terdekat, misal sahabat atau para pekerja di rumah Papa. Mama takut mereka hanya manis di depan, tapi sebenarnya ingin menghancurkan," tutur Mama.


Mereka bertiga tampak mengerti, terutama Gita. Dia berjanji tidak akan menceritakan rahasia yang mereka jaga selama ini meskipun itu pada sahabatnya. Apalagi dia merasa ada yang aneh saat tak sengaja bertemu Tante Sita di rumah Karin waktu itu.


Setelah cukup lama berada di pesantren, mereka memutuskan untuk pulang. Meskipun tak berhasil membujuk Mama, tapi setidaknya mereka puas setelah mendengar Mama yang mengatakan ingin membongkar kejahatan Tante Sita lebih cepat. Seperti itu lebih baik, bukan? Karena sepertinya Tante Sita sudah mulai curiga.


Mereka memutuskan pulang ke rumah Nenek Indra, dimana mobil milik Gita berada di sana. Dan seperti yang dikatakan oleh Erika, jika yang mengikuti Gita bukan hanya sebuah sepeda motor, tapi sebuah mobil sport berwarna putih. Gita jadi merinding sendiri melihat hal itu, dia memutuskan untuk mempercepat laju kendaraannya agar segera tiba di rumah. Padahal dari belakang Indra dan Hafidz mengawasi gadis itu, takut jika terjadi sesuatu pada Gita.


🍁🍁🍁


"Ndra, gue rasanya masih pengen cari wanita yang bernama Asih itu, kalo kita dapatkan dia, sudah pasti Tante Sita enggak bisa ngelak. Pak Karno dan wanita itu, kan saksi kunci Ndra," celetuk Hafidz saat mereka menunggu dosen masuk.


"Gue setuju sama Lo, tapi masalahnya sulit banget cari wanita itu. Kita bahkan enggak tahu alamat pastinya, enggak mungkin dong, kalo kita cari satu persatu orang di kampung itu," sambung Indra.


"Kalian mau cari siapa? Kenapa harus repot cari satu persatu, coba aja tanya langsung ke kepala desa atau perangkat desa. Mereka pasti tahu lah warganya, enggak mungkin enggak, kan?" ternyata sejak tadi Silfia mendengarkan pembicaraan mereka, karena memang gadis itu duduk di sebelah Hafidz.


"Bener juga kata Silfi, kenapa enggak tanya sama kepala desanya aja?" Hafidz membenarkan ucapan Silfia.


"Oke gas!" Indra sangat antusias.


"Emang orang mana sih, kalo gue boleh tau?" tanya Silfia.

__ADS_1


"Daerah kampung rambutan," jawab Hafidz.


"Seriusan? Kalo gitu gue ikut, kita tanya sama Paman gue yang tinggal di sana. Nanti kalo Paman enggak tahu, baru kita ke kepala desa," ucap Silfia tak kalah antusias dengan Indra.


Kedua pemuda itu terkejut mendengar kebenaran ini, kenapa enggak dari dulu aja cerita seperti ini sama Silfia, kalau gadis itu memiliki saudara di sana.


"Fidz, Allah memudahkan semua jalan untuk Lo dan keluarga." Indra menepuk pundak Hafidz.


"Alhamdulillah Ndra, semoga kita selalu dimudahkan," sambung Hafidz.


Indra dan Silfia pun mengaminkan ucapan Hafidz.


🍁🍁🍁


Sesuai kesepakatan, setelah kuliah usai, mereka memutuskan untuk segera ke kampung rambutan. Masalah les dengan Ziva, Hafidz memilih berlibur sejenak, dia ingin menyelesaikan masalah keluarganya lebih dahulu. Bekerja di kafe pun sudah tak dia lakukan sejak dia melakukan penyelidikan tentang Tante Sita, meski sesekali dia masih bernyanyi.


Hari ini Indra tidak membawa mobil, alhasil mereka berangkat mengendarai motor, dengan Silfia yang duduk di belakang Hafidz. Entah kenapa gadis itu terlihat bahagia saat bersama Hafidz, sepertinya Silfia memiliki rasa pada pemuda itu.


"Mau kemana Bang?" tanya Gita pada saudara kembarnya.


"Nanti aku ceritain, kamu enggak usah ikut ya, ingat pesan Mama," jawab Hafidz lembut.


"Yaudah, hati-hati ya. Aku tunggu kabarnya," sambung Gita, dia melambaikan tangan saat motor Hafidz telah melaju.


Pemandangan itu tak luput dari penglihatan Silfia, gadis itu sudah menerka-nerka jika mereka sepasang kekasih. Tapi kenapa gadis itu tak keberatan saat Hafidz membonceng dirinya? Entahlah, Silfia tak berani menanyakan hal tersebut.


"Assalamualaikum, paman, Bibik. Apa kabar?" Silfia menyalami kedua orang itu diikuti oleh Hafidz dan Indra.


Setelah menjawab salam, mereka pun dipersilakan masuk ke dalam rumah tersebut.


"Begini paman, dua temanku ini sedang mencari seseorang di kampung rambutan ini. Mereka hanya mengetahui nama, tapi tidak mengetahui alamat rumahnya. Mungkin Paman mengenal wanita itu," ucap Silfia mengutarakan maksud kedatangan mereka.

__ADS_1


"Coba kalian ceritakan, siapa nama wanita itu, mungkin Paman tahu, atau setidaknya paman mengetahui namanya juga," sambungan paman Silfia.


"Iya ceritakan saja, dulu paman pernah jadi sekertaris desa, iya kan paman?" tanya Silfia memastikan, dan ucapannya itu diangguki oleh sang Paman.


"Begini Pak, kami mencari seorang wanita usianya mungkin sekitar empat puluh tahunan lebih, dia bernama Asih. Maaf, dulu dia pernah hamil tanpa suami, tapi anaknya meninggal, terus dia ke luar negeri. Itu saja informasi yang saya punya Pak, apa Bapak mengetahui wanita tersebut?" Hafidz menceritakan apa yang dia ketahui dari Pak Karno.


Paman Silfia nampak berfikir, sepertinya mengingat-ingat sesuatu, tapi entah apa.


"Maaf Pak, kejadiannya sudah sangat lama, sekitar dua puluh tahun lalu," Indra menambahi.


"Si Asih anaknya Pak Paijo itu sepertinya Pak, RW sebelah. Bapak lupa?" sang istri datang dengan membawa nampan berisi air minum.


"Mungkin, di sini ada beberapa yang nanya Asih, tapi yang seperti diceritakan ananda berdua ini mengarah pada Asih itu. Dia lama tinggal di luar negeri, tapi sekarang sepertinya sudah kembali," sambung Pamannya Silfia.


Hafidz dan Indra bersyukur mendengar ucapan Pamannya Silfia itu, semoga Asih mau memberikan saksi atas kejahatan Tante Sita.


Setelah diberikan alamat, kedua pemuda itu pun langsung menuju rumah wanita bernama Asih itu, tanpa Silfia, karena Silfia memutuskan untuk berada di sana dan sang Paman yang akan mengantarkan pulang.


Tak lama mereka sampai di alamat itu, sebuah rumah yang cukup mewah berdiri dihadapan mereka. Sambutan ramah dari pekerja di rumah itu yang pertama mereka terima. Setelah mengutarakan ingin bertemu dengan wanita bernama Asih, mereka pun dipersilakan masuk.


Seorang wanita cantik, dengan pakaian seksi datang menghampiri keduanya. Wanita itu mengernyitkan dahi mendapati tamunya dua orang pemuda yang sama sekali tak dia kenali.


"Ada apa ya cari saya?" tanya wanita itu.


"Maaf Bu, kami mengganggu waktu istirahat ibu. Kami hanya ingin bertanya sesuatu pada Bu Asih, semoga Bu Asih berkenan menjawabnya," jawab Hafidz.


" Silahkan, mau tanya apa? Saya akan jawab kalau saya mengetahui," wanita itu terlihat sedikit cuek, Hafidz hanya berharap Asih mau membantunya.


.


Bersambung....

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁


__ADS_2