Langit Bumi

Langit Bumi
BAB 54


__ADS_3

Sejak keluar dari lapas, Gita terlihat murung, bahkan diam serbu bahasa. Ketika ditanya gadis itu hanya menjawab singkat padat dan terkadang tidak jelas, membuat Mama menghela nafas berkali-kali saat melihat kelakuan anak gadisnya. Mungkin Gita kecewa dengan keputusan sang Mama, tapi Mama tak akan mengubah keputusannya. Dia yakin lama-lama Gita akan mengerti.


Bahkan sesampainya di rumah, Gita langsung masuk ke dalam kamar tanpa mengucap sepatah kata pun. Berbeda dengan Hafidz, pemuda itu justru terlihat sebaliknya. Dia terlihat lebih bahagia atas keputusan sang Mama, sebab itu tujuan utamanya. Tak ingin Mama menyesal dikemudian hari.


"Biar aku yang bicara sama Gita, Ma," ucap Hafidz saat melihat Mama terus menatap kepergian Gita.


Mama menggeleng, "Mama sendiri yang akan bicara sama dia, kamu istirahat aja. Pasti capek, seharian jadi sopir Mama." Mama menepuk pundak Hafidz meyakinkan putranya itu, jika dia baik-baik saja, dan akan mengatasi ini sendiri.


"Baiklah Ma, aku ke kamar dulu," pamit pemuda itu.


Cukup lama Mama mengetuk pintu kamar Gita, tapi putrinya itu tak mau membukakan pintu. Hingga ketukan ke lima, barulah Gita membuka pintu dengan wajah kusut, tak mau menatap sang Mama.


Gita langsung naik ke tempat tidur, menyelimuti tubuhnya hingga bahu, memunggungi sang Mama yang ikut duduk di sisi tempat tidur.


"Kamu marah sama Mama?" tanya Mama.


Gita bergeming, entah apa yang sedang dilakukan gadis itu. Tapi dia tetap mendengarkan sang Mama berbicara.


"Maafkan Mama kalau keputusan Mama membuat kamu kecewa. Bukan tanpa alasan Mama memutuskan ini semua, Mama siap dengan konsekuensinya, apa pun itu. Yang penting Mama sudah membuat keputusan yang tak akan membuat Mama menyesal di kemudian hari." Mama menatap punggung putrinya yang masih tak mau menghadap dirinya.


"Coba kamu bayangkan, jika kamu berada di posisi Mama. Abang kamu di posisi Tante Sita, pasti kamu akan melakukan hal yang sama. Ikatan persaudaraan lah yang membuat Mama yakin dengan keputusan ini," Mama menghela nafas sebentar sebelum melanjutkan ucapannya.


"Coba kamu pikir lagi, bagaimana perasaan Mama ketikan kedua anak Mama berseteru? Mereka saling balas dendam, tak ada yang mau mengalah. Pasti Mama akan sakit sesakit-sakitnya. Itu juga salah satu alasan Mama. Tak ingin membuat kakek dan nenek kamu kecewa, apalagi beliau sudah tiada. Bukankah lebih baik kita berdamai, saling mendoakan kedua orang tua kita yang sudah tiada,"


Gita meneteskan air mata mendengar semua perkataan Mama yang lembut, bahkan langsung menusuk hati terdalamnya. Dia tak pernah berfikir akan hal itu, yang dia pikirkan hanya penderitaan yang Mama alami selama ini dan perlakuan Tante Sita terhadap dirinya dan sang Mama.

__ADS_1


"Kalau Mama membalas semua perbuatan Tante kamu, Mama sama saja dengan dia. Dan Mama tak ingin melakukan itu, sebab Mama saja merasa sakit apalagi orang lain. Biarkan sakit ini Mama yang rasakan, karena semua sudah digariskan."


"Mama yakin semua yang terjadi sekarang dan masa lalu, akan membuat kita makin membaik dimasa depan, jika kita ikhlas dengan semua takdir yang digariskan," pungkas Mama.


Mama tahu, jika Gita menangis. Tapi tak tahu apa yang membuat gadis itu menangis. Hanya berharap semoga saja Gita mengerti dengan semua ucapannya.


"Sekarang kamu pikirkan baik-baik, Mama tidak akan memaksa, mau memaafkan Tante kamu atau tidak, itu hanya kamu yang tahu," ucap Mama.


Mama mengusap puncak kepala Gita, "Udah, sekarang kamu istirahat. Mama mau kembali ke kamar," ucapnya.


Mama turun dari tempat tidur, baru saja melangkah, Mama terkejut ketika ada yang memeluk dari belakang. Siapa lagi pelakunya jika bukan Gita? Tak mungkin kan itu Kunti yang menjaga kamar Gita? Karena Mama tak mendengar suara langkah kaki tadi.


"Maafin aku Ma, aku egois enggak ngerti perasaan Mama. Kalau Mama mau memaafkan Tante, kenapa aku enggak? Bahkan Mama lebih menderita dari ku," ucap Gita putus-putus sebab masih sesegukan.


"Allah saja Maha Pengampun terhadap hambanya yang mau meminta maaf. Kenapa kita sebagai mahkluk sulit sekali memaafkan?"


"Iya Ma, aku ngerti. Aku akan mengikhlaskan semuanya, aku akan berusaha merelakan rasa kecewa ini untuk kebaikan," sambungan Gita.


Hafidz mengucap syukur berkali-kali, ketika melihat pemandangan dihadapannya. Dia tak sengaja melihat Mama dan Gita yang sedang berpelukan saat akan ke dapur. Ternyata Gita sudah mau memaafkan sang Mama, dan dua wanita yang dia cintai itu kini sudah berdamai. Mungkin Gita sudah mengerti dengan keputusan sang Mama.


"Setidaknya, aku akan lebih tenang berangkat KKN nanti," ucapnya lalu dia melanjutkan langkah menuju dapur.


🍁🍁🍁🍁


"Aku mau minta restu sama Mama, Ibu dan Bapak. Tiga hari lagi aku akan berangkat KKN di desa terpencil, doakan aku ya. Semoga di sana bisa mengerjakan tugas dengan baik. Maaf, aku ngomongnya dadakan, karena aku sendiri lupa kapan berangkatnya," Hafidz menyengir saat mengakhiri ucapannya, sebab dia sampai lupa kapan tugas kampus itu. Karena saking banyaknya persoalan yang dia hadapi akhir-akhir ini.

__ADS_1


"Kami semua akan mendoakan kamu, yang penting jaga diri. Jaga sikap, jangan sampai membuat penduduk di sana tak nyaman dengan kedatangan kalian. Dan kabari kami jika ada apa-apa di sana," timpal Mama.


Bu Nurul dan Pak Ahmad pun mengangguk, menyetujui ucapan Mama.


"Jadi, hari ini aku sekalian pamit mau KKN, nanti kalau udah pulang pasti akan langsung pulang ke sini," ucap Hafidz.


"Kami tunggu,"


Sore hari, Hafidz memutuskan untuk pulang ke Jakarta. Dia masih harus mempersiapkan beberapa yang harus di bawa, tak ingin ada kekurangan ketika di sana nanti. Untung saja, dia dan teman lainnya diperbolehkan membawa kendaraan sendiri, tapi hanya sepeda motor yang boleh di bawa. Untuk aktifitas ketika disana.


Hari Senin pagi, saat sedang mengurus beberapa persiapan KKN di kampus, ponsel Hafidz berdering. Bahkan dia sengaja membiarkannya karena masih sibuk, tapi ponsel itu kembali berdering. Hingga deringan ke tiga, barulah dia menerima panggilan tersebut.


"Fidz, angkatlah telfon kau. Ganggu ini," protes teman sekelompok Hafidz.


"Oke, gue angkat bentar." Hafidz sedikit menjauh dari teman-temannya.


Dia mengernyitkan dahi saat melihat nomor tak dikenal yang menelpon dirinya. Tak urung dia pun menerima panggilan tersebut, sebab penasaran siapa yang sudah mengganggunya.


"Wa'alaikumussalam, iya. Oh gitu, ada apa ya Bu?" tanya Hafidz pada orang diseberang sana.


"Ibu serius? Baiklah, saya segera ke sana." Hafidz langsung memutus panggilan telfonnya, setelah mengetahui siapa dan dengan tujuan apa orang itu melefon.


Bersambung.....


🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2