
Seorang laki-laki paruh baya, memasuki rumahnya dengan santai seperti biasa. Dia bahkan langsung masuk ke dalam kamar, terkejut saat mendapati kamarnya berantakan bak kapal pecah. Entah apa yang terjadi? Padahal hari ini tak ada gempa bumi atau tsunami, tapi kenapa kamarnya seperti terkena gempa bumi.
"Udah pulang Mas?" perempuan cantik yang telah menemaninya selama belasan tahun itu masuk ke dalam kamar, tapi wajahnya berbeda tak seperti biasanya.
"Apa yang terjadi dengan kamar kita?" lelaki itu justru balik bertanya.
"Lalu kenapa wajah kamu seperti habis nangis?" tanyanya lagi setelah tak mendapat jawaban.
"Menangisi orang yang harusnya tak perlu ku tangisi, sebab dia sudah menipuku belasan tahun. Aku rela mengorbankan pendidikan ku demi dia, mengikuti dia kemana pun, tapi ternyata dia hanya seorang penipu!" seru wanita tersebut, air matanya kembali menetes saat mengingat apa yang dia temukan tadi.
"Apa maksudnya Lun? Kamu marah sama aku? Tapi marah kenapa? Aku nipu kamu apa?" lelaki itu tak mengerti, kenapa istrinya begitu murka
"Penipu mana mau mengakui jika dirinya itu penipu," lirih sang istri.
"Luna? Apa yang terjadi sama kamu? Ada apa tolong jelaskan? Aku enggak ngerti Lun," sang suami tetap tak mengerti sebab musababnya sang istri marah.
Wanita itu menunjukkan sebuah amplop berlogo sebuah rumah sakit ternama. Pada saat itu si lelaki merasa dunianya sebentar lagi akan runtuh. Ceroboh sekali menyimpan sebuah rahasia besar, tapi dia letakkan di dalam kamarnya.
"Kamu pasti tahu ini, kan? Ini bohong kan Mas? Jujur sama aku?" ucap Luna.
Lelaki itu yang tak lain adalah Adrian, langsung berlutut di hadapan Luna. Mencium kedua kaki istrinya, dia merasa bersalah terhadap Luna, wanita yang menemaninya sejak belasan tahun lalu. Bahkan wanita itu rela mengorbankan masa mudanya demi menikah dengannya, tapi dia telah melakukan kesalahan besar dengan menduakan istrinya itu.
"Maaf sayang, yang kamu lihat itu benar adanya. Maafkan Mas ya, kamu boleh menghukum ku tapi jangan pernah pergi dari ku, aku sayang sama kamu Luna," Adrian mengiba, dia belum siap ditinggalkan oleh istrinya, rasa sayang yang dia miliki begitu besar. Tapi entah kenapa saat bertemu Sita, dia merasa jatuh cinta kembali dengan wanita itu, ingin memilikinya lagi, tapi tak mungkin. Mereka memiliki pasangan masing-masing, hingga akhirnya mereka melakukan hal menjijikan itu berulang kali. Dia berharap Luna tak mengetahuinya.
"Jelaskan Mas! Aku butuh penjelasan dari kamu!" teriak Luna, dia begitu geram dengan sikap sang suami.
__ADS_1
Adrian menatap Luna yang juga menatapnya, dia tahu mata hazel milik istrinya itu memendam luka mendalam akibat perbuatannya. Meski begitu, mau tak mau dia harus menjelaskan, apa pun hasilnya nanti, yang penting Luna sudah mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Itu memang benar anak ku, aku sama Mamanya dulu pacaran, saat tahu jika dia mengandung anakku, aku langsung ingin meresmikan hubungan kita, tapi dia menolak. Justru menikah sama suami Kakaknya, mengikuti perintah orang tuanya. Aku sudah memohon dan membujuk, tapi keputusannya tetap sama, akhirnya aku menyerah." Adrian menatap sang istri yang terus menatapnya di iringi tetesan air mata.
"Waktu itu, aku setuju saat Mama sama Papa menjodohkan ku dengan kamu, meskipun awalnya aku tidak memiliki rasa sama kmu, tapi lama kelamaan aku jatuh cinta sama kamu, meskipun sampai saat ini kita belum diberi momongan, aku tidak akan pernah ninggalin kamu, Luna, percayalah." Adrian berusaha meraih tangan Luna, tapi wanita itu selalu menghindar, tak ingin luluh dengan Adrian begitu saja.
"Tapi maaf Mas, aku kecewa sekali sama kamu. Kenapa kamu enggak jujur dari dulu? Kenapa aku harus tahu setelah belasan tahun lamanya? Andaikan kamu jujur sama aku dulu, mungkin aku tak akan sesakit ini. Kamu jahat Mas! Jahat!" teriak Luna, meluapkan kekecewaannya terhadap sang suami.
Adrian makin kalut melihat sikap Luna, padahal istrinya itu baru mengetahui masa lalunya. Bagaimana jika dia tahu perselingkuhannya dengan Sita? Bisa jadi Luna akan meninggalkannya, dan dia tak akan rela jika Luna pergi.
"Maafin aku sayang, itu masa lalu. Alasan ku kenapa tidak memberitahu hal ini, sebab aku tak mau kamu menolak ku saat itu." Adrian ikut duduk di sisi ranjang, lalu memeluk tubuh istrinya itu dengan sayang. Tapi Luna terus berusaha melepaskan diri.
"Itu memang masa lalu, semuanya juga masa lalu. Mungkin aku akan bisa memaafkanmu jika hanya itu yang terjadi, sebab itu terjadi sebelum kita menikah," ucap Luna.
"Jangan pura-pura bodoh, seakan tidak tahu apa pun. Padahal kamu mengerti kan maksudku?" Luna menatap tajam sang suami.
"Serius aku enggak ngerti apa yang kamu maksud," sambung Adrian.
Luna tersenyum mengejek, tak percaya dengan ucapan suaminya itu.
"Apa dia mantan kekasihmu? Hingga membuat kalian CLKB? Bahkan kamu melupakanku saat kalian asik berdua, kamu benar-benar tega Mas! Aku tak habis pikir, kamu akan melukaiku sedalam ini? Aku benci kamu Mas! Aku ingin kita pisah!" seru Luna menjawab semua dugaan Adrian dan ternyata dugaan lelaki itu benar adanya.
Luna sudah mengetahui jika dirinya bermain api dibelakang istrinya itu, bahkan rela membeli sebuah apartemen untuk memadu kasih dengan Sita. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat itu. Semoga saja Luna tak mengetahui tentang apartemen.
"Please sayang, jangan tinggalkan aku, aku sayang dan cinta sama kamu. Aku enggak mau kamu pergi. Aku janji itu yang terakhir kalinya, aku tak akan melakukan hal itu lagi, janji sayang." Adrian kembali berlutut dihadapan Luna, berharap istrinya itu akan luluh. Tapi sepertinya akan sangat sulit membujuknya kali ini.
__ADS_1
"Apa dia wanita yang sama yang juga melahirkan anakmu?" tanya Sita.
Adrian mengangguk, tak berani menatap wajah sang istri.
"Kalau gitu, ceraikan aku dan kalian menikahlah. Supaya tidak terlarut dalam perbuatan zina. Kalian juga sudah memiliki anak. Sedangkan aku, enggak bisa memberi mu anak, yang kamu nantikan," lirih Luna. Baru saja dia akan berdiri, tiba-tiba tubuhnya limbung jatuh ke pangkuan Adrian, wanita itu tak sadarkan diri.
Adrian segera membawa istrinya ke klinik, seingatnya hari ini ada dokter jaga di sana.
"Apa yang terjadi dengan Luna?" tanya dokter itu, yang tak lain teman Adrian.
"Enggak tahu Fin, tiba-tiba dia pingsan, coba kamu periksa keadaannya Luna, aku takut terjadi sesuatu sama dia," Adrian memohon supaya Luna segera diperiksa.
Merasa heran dengan Luna, sebab selama ini Lunak baik-baik saja, tapi kenapa tiba-tiba pingsan tanpa sebab.
"Kayaknya efek kehamilan Dok," ucap Findri.
"Jangan becanda kamu Fin! Mana mungkin Luna Hamil?" Adrian tak percaya.
"Lhoh! Kamu belum tahu? Istri kamu tadi USG disini sama dokter Dewi, dan hasilnya positif. Apa Luna tidak bertanya?" dokter tersebut ikut terkejut, sebab suaminya belum mengetahui kehamilan istrinya.
"Kamu tanyakan sama istrimu saja nanti, sekarang aku periksa kondisinya," dokter Findri pun pamit, meninggalkan Adrian yang masih mematung, tak percaya dengan ucapan temannya itu.
Bersambung....
🥰🥰🥰
__ADS_1