Langit Bumi

Langit Bumi
BAB 41


__ADS_3

Hafidz memandang sang Mama yang tetap bergeming, dia bingung harus menjawab apa. Jika memperbolehkan sang Papa masuk, takut Mama tak setuju dengan keputusannya.


"Silakan, kalian harus bicara, kami berdua akan menunggu di depan," Tante Arin mempersilakan Papa masuk, memberi waktu pada mereka untuk berbicara.


Tante Arin dan Om Ari ke luar ruangan itu, sebab tinggal mereka berdua yang ada di sana, karena Bu Nurul dan Pak Ahmad sudah diantar Indra ke apartemen Hafidz, supaya mereka bisa istirahat dengan nyaman, meskipun awalnya sempat menolak, tapi Hafidz memaksa dan akhirnya mereka pun menyetujuinya.


Setelah kepergian Tante Arin dan sang suami, Papa pun mendekat, dia langsung berjongkok di sisi Mama, sambil meraih kaki Mama. Tapi wanita itu terus mencoba melepaskan kakinya dari genggaman Renald.


"Please! Aku minta maaf, aku salah udah buat kamu menderita selama ini. Dan satu lagi sekarang aku juga udah buat anak kita sakit," ucap Renaldy masih dalam posisi yang sama.


Mama Sinta tetap bergeming, jujur untuk memaafkan lelaki itu sangatlah sulit, apalagi saat mengingat apa yang telah dia perbuat selama ini.


"Untuk saat ini aku belum bisa memaafkan kamu, mungkin seiring berjalannya waktu kata maaf mu akan terbalas," timpal Sinta tak mau menatap wajah lelaki yang pernah dia cintai itu.


Hafidz hanya bisa menyaksikannya, dia tak ingin ikut campur urusan kedua orang tuanya itu, selama tidak ada kekerasan fisik yang terjadi.


"Aku akan berdoa semoga kata maaf itu segera kamu balas," lirih Renaldy tapi masih bisa di dengar oleh Sinta dan putranya.


Renaldy berdiri, dia kini menatap wajah Hafidz yang penuh luka. Lalu menatap Sinta yang masih enggan menatapnya. Jujur dia tak tahu siapa pemuda dihadapannya ini, tapi dia merasa tak asing saat melihat wajah penuh luka itu.


"Dia anak yang sudah di buang dengan sengaja oleh istri mu," ucap Mama Sinta dengan menekan kata 'istri mu' yang ditujukan pada kembarannya, Sita.


Renaldy tak bisa berkata-kata, dia terus memandang Hafidz, bahkan matanya sudah berembun. Awalnya dia mengira jika pemuda itu adalah kekasih Gita, sebab terlihat panik saat Gita tak sadarkan diri. Tapi ternyata kepekaannya sangatlah tipis, dengan darah dagingnya sendiri saja dia tak bisa merasakan ada ikatan batin di sana.


"Dan istrimu juga dengan sengaja menyakitinya lagi," ucap Sinta lagi masih menekan kata istrimu seakan dia malas sekali menyebut nama kembarannya itu.

__ADS_1


"Allah mengirimkan dia untuk menyelamatkanku dari kegelapan dan kesunyian yang kau ciptakan," tambahnya penuh luka saat mengingat kehidupannya di rumah sakit.


Mendengar ucapan Sinta, runtuh sudah air mata Renaldy. Ingin sekali memeluk wanita yang masih berstatus istrinya itu, tapi tak mungkin. Yang dia lakukan justru memeluk Hafidz, menumpahkan air mata di sana.


Hafidz sebagai anak tak mungkin ikut membenci Papanya seperti sang Mama, sebab dia merasa tak ada alasan membenci lelaki dalam pelukannya itu. Meski dia kejam dengan Mama, tapi dia belum pernah menyakitinya. Mungkin untuk memaafkan perbuatannya ada Mama cukup sulit, tapi jika menolak kehadirannya tentu saja dia tak bisa. Sebab seburuk apapun lelaki itu, dia adalah ayah kandungnya. Orang yang membuatnya ada di dunia ini.


"Papa minta maaf sama kamu, Papa percaya saja jika kamu sudah tiada tanpa mencari tahu alasan sebenarnya. Papa minta maaf," ucap Renaldy.


Hafidz hanya bisa mengangguk, dia tak tahu harus berkata apa.


"Papa janji tak akan melepaskan Tante kamu begitu saja. Dia akan mendapatkan apa yang telah dia perbuat sama kamu selama ini," tambahnya.


"Makasih Pa," timpal Hafidz sedikit ragu saat ingin menyebut nama Papa.


"Makasih waktunya, aku akan kembali ke ruangan Gita, aku yang akan menunggunya," ucap Renaldy, lalu dia berpamitan dan pergi dari ruang rawat Hafidz.


Sebenarnya dia masih ingin berbicara dengan Hafidz, tapi melihat wajah Sinta yang masam dan enggan menatapnya, akhirnya dia mengalah, memutuskan untuk menunggu Gita.


🍁🍁🍁


Sudah dia hari Gita belum juga sadar dari komanya. Mereka terus berdoa untuk kesembuhan Gita. Sahabatnya selalu datang menjenguk Gita, bahkan saat ini mereka masih berada di depan ruang ICU, padahal waktu sudah hampir larut.


"Rin, ayo kita pulang. Lo kalo nangis gini percuma, tapi enggak mau masuk ke dalam. Seenggaknya masuk, bicara sama Gita, gue yakin Gita bisa mendengar apa yang Lo bicarakan," Meta salah satu sahabat Gita yang kuliah di tempat berbeda dengan Gita dan Karin.


"Iya Rin, bener apa kata Meta," Arum membenarkan ucapan sahabatnya.

__ADS_1


Karin menggeleng, "Gita seperti itu karena Gue Ta, gue nyesel banget. Gue enggak akan bisa maafkin diri gue sendiri kalo sampai terjadi sesuatu sama Gita," ucapnya sedikit terbata.


"Sebenarnya apa sih yang Lo lakuin? Dari kemaren Lo ngomongnya itu mulu?" tanya Arum, penasaran dengan apa yang telah Karin perbuat hingga gadis itu terlihat sangat menyesal.


"Gue bodoh Rum, gue mudah terpancing omongan orang bahkan sampai ingkar janji sama sahabat gue sendiri," jawab Karin.


Dua gadis itu tak mengerti dengan apa yang dimaksud Karin. Ingkar janji apa maksudnya?


"Kalo ngomong yang jelas Rin, kita enggak ngerti," protes Meta.


"Gue udah bocorin rahasia Gita ke Mamanya. Gue udah ngasih tahu ke Tante Sita kalo Gita udah menemukan Kakaknya. Gue juga udoh bicorin rencana mereka malam itu, tapi jujur gue enggak sengaja, gue di paksa cerita sama Tante Sita. Gue kira Tante Sita enggak akan melakukan hal kaya gini, sampai buat Gita dan Hafidz terluka, tapi ternyata gue salah. Wanita itu nyakitin Gita sekaligus Abangnya. Gue nyesel Ta, nyesel banget," jelas Karin.


Dua gadis itu saling pandang, mereka juga terlihat kesal setelah mendengar pengakuan Karin. Memang keduanya baru mengetahui tentang saudara kembar Gita kemarin dari Mama kandung Gita, yang selama ini Gita ceritakan dan baru mereka lihat kemarin juga. Mereka berdua bisa melihat bagaimana sayangnya Hafidz pada Gita.


"Lo kok tega sih Rin! Lo itu yang paling Deket sama Gita, dan Gita pasti percaya banget sama Lo, tapi kenapa Lo malah khianati dia. Tega Lo!" ucap Meta yang terlihat kesal.


Karin hanya bisa menangis dan menangis, dia benar-benar menyesali perbuatannya.


"Udah, sebaiknya kita pulang. Besok Lo harus minta maaf sama Gita, meskipun gue enggak yakin kalo Gita sadar bakalan maafin Lo, tapi tetep saja Lo harus mengakui kesalahan yang Lo buat sendiri," ucap Arum sambil menarik paksa Karin yang enggan beranjak.


Indra yang tadinya ingin menuju ICU mendadak berhenti saat mendengar percakapan tiga gadis itu. Dia mengepalkan tangannya saat mengetahui jika Karin lah yang membocorkan tentang Hafidz, bahkan tentang rencana malam itu. Sungguh, jika Karin bukan perempuan pasti sudah dia hajar habis-habisan karena sudah membuat dua sahabatnya terluka parah.


Bersambung......


🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2