Langit Bumi

Langit Bumi
BAB 55


__ADS_3

"Gue cabut bentar gimana? Ada urusan penting. Nanti gue balik," Hafidz meminta ijin pada teman-temannya, berharap mereka mengijinkannya.


"Oke, Lo enggak usah balik lagi, ini juga hampir selesai. Selesaikan dulu masalah Lo sebelum kita berangkat," ucap ketua di kelompok tersebut.


Sebenarnya Hafidz yang ditunjuk sebagai ketua, tapi dia menolak, ada yang lebih mampu dibanding dirinya.


"Oke, thanks. Gue cabut!" Hafidz langsung meninggalkan mereka semua.


Saat akan masuk ke dalam mobil, tiba-tiba seseorang masuk dari sisi sebelah kemudi tanpa permisi. Membuat Hafidz sedikit geram, apalagi saat mengetahui siapa yang dengan lancang masuk dalam mobilnya.


"Lo ngapain? Keluar enggak! Gue lagi buru-buru!" seru Hafidz, tapi gadis itu yang tak lain adalah Sela justru duduk manis dalam mobilnya. Membuat Hafidz kesal, lalu dengan terpaksa dia menutup kembali pintu mobil tersebut dan menghubungi seseorang.


Sela masih anteng di dalam mobil, sambil memperhatikan Hafidz yang berdiri di luar, tak tahu apa yang sedang di tunggu oleh pemuda itu. Dia juga tak peduli, yang penting bisa masuk dan duduk tenang di dalam mobil mewah itu. Dia yakin, Hafidz tak akan tega mengusirnya begitu saja.


Memang Hafidz tidak mengusir dirinya, tapi meninggalkannya dengan menaiki sebuah motor sport, Sela menganga melihat Hafidz lewat di samping mobil itu, dan saat menoleh ke kursi kemudi, ada Indra di sana duduk dengan tersenyum puas.


Ya, tadi Hafidz meminta Indra datang ke parkiran, dia ingin menggunakan motor milik Indra, sebab tak ingin diganggu oleh Sela. Dia juga tak mau jika Sela merasa menang kali ini.


"Ck, kok Lo sih?" Sela menatap Indra dengan tatapan penuh kekesalan, sebab pemuda itu justru tertawa saat melihat dirinya kesal.


"Emang maunya siapa? Hafidz? Jangan ngarep. Jangankan ngelirik Lo, dia tau nama Lo aja enggak, kacian-kacian." Indra tertawa setelah mengucapkan itu, apalagi saat melihat wajah Sela yang makin kusut, tawanya makin menjadi.


"Diam Lo! Fokus jalanan, gue belum siap mati!" seru Sela, tak ingin melihat Indra yang terus mengejeknya.


"Lo itu bukan tipe dia. Tipe Hafidz itu cewek yang menutup seluruh tubuhnya, menundukkan pandangan dengan lain jenis, dan tentunya smart. Lo bahkan enggak memiliki salah satu diantara itu," ucap Indra asal, padahal dia tak tahu seperti apa tipe perempuan yang Hafidz sukai.


Tapi Sela menganggap serius ucapan Indra, sebab dia tahu Hafidz dan Indra adalah sahabat yang tak terpisahkan. Kemanapun dan dimana pun mereka akan bersama, bahkan menurut gosip yang beredar, Indralah yang membantu Hafidz menemukan keluarga kandungnya.


🍁🍁🍁


Hafidz turun dari motor dengan tergesa, dia langsung masuk ke dalam gedung yang berjejer itu, tentu saja di bingung, sebab ini pertama kalinya dia masuk ke dalam gedung tersebut. Gedung itu tampak sepi dari luar, tapi jangan ditanya, di dalam ruangan terdengar suara meski tak begitu jelas.


"Maaf Dek, mau tanya. Ruang kepala sekolah mana ya?" Hafidz bertanya pada seorang gadis kecil seusia Ziva, saat gadis itu berjalan di koridor dengan membawa setumpuk buku paket.


"Kakaknya lewat sini aja, lurus terus, nanti ada persimpangan koridor, Kakak belok kanan. Nah ruangannya gedung pertama setelah belokan. Ada tulisannya disana," jelas gadis kecil itu.


Setelah mengucapkan terimakasih, Hafidz pun langsung menuju ruang kepala sekolah.

__ADS_1


Tak lupa mengetuk pintu ruangan itu, setelah dipersilakan dia pun masuk. Ternyata ada beberapa orang di dalam ruangan itu, tapi dia tak melihat Revan, adiknya.


Ya, Hafidz datang ke sekolah Revan setelah tadi ditelpon oleh wali kelas Revan.


"Maaf Pak, saya Kakaknya Revan," ucap Hafidz setelah masuk ke dalam ruangan itu.


"Oh silakan duduk dulu," seorang berseragam warna coklat muda mempersilakan dia duduk. Hafidz yakin itu adalah kepala sekolah.


Hafidz duduk bersama tiga orang tua, ada dua ibu-ibu dan seorang bapak-bapak. Mungkin itu salah satu wali murid yang disuruh datang juga.


Bukannya tak menyadari saat dua orang ibu-ibu itu terus menatapnya dengan tatapan meremehkan, berbeda dengan seorang bapak yang justru mengajaknya mengobrol. Entah ada masalah apa sehingga membuat dua ibu itu terus berbisik, seakan mengejeknya.


"Maaf sebelumnya sudah mengganggu pekerjaan anda semua. Di sini saya akan menjelaskan kenapa anda kami undang secara mendadak," seorang berseragam coklat yang baru saja datang langsung duduk dan berbicara dengan empat orang tersebut.


"Sebab putar-putar anda melakukan pelanggaran, mereka berkelahi saat jam istirahat tadi. Penyebabnya apa, kami belum mengetahuinya, sebab mereka masih tak mau buka suara."


"Kronologi nya, menurut murid lain, tiba-tiba Revan memukul Diky, saat dua temannya akan membantu, Revan juga memukul mereka. Untung saja ada guru yang datang, mereka berempat langsung di pisahkan," jelas guru tersebut.


Hafidz yang mendengar itu tampak terkejut, kenapa Revan bisa melakukan itu? Padahal menurut Papa, Revan bukan anak yang suka buat masalah disekolah, tapi sekarang justru memukul ketiga temannya.


"Boleh, sebentar lagi mereka datang,"


Tak lama pintu terbuka, menapakkan empat remaja yang wajahnya babak belur, tapi wajah Revan masih bersih, hanya luka lecet di sudut bibir saja. Luar biasa sekali anak itu, bisa melawan tiga orang sekaligus. Astaghfirullah,


Dia wanita itu langsung menghampiri anak mereka, sedangkan bapak-bapak yang duduk di samping Hafidz tetap bergeming, justru menatap tajam putranya.


Hafidz menghampiri Revan, lalu menepuk pundaknya memberi semangat pada adiknya itu. Dia tahu Revan tak akan melakukan hal seperti itu jika tidak disulut lebih dahulu, dia bukan tipe anak tempramental yang bisa memukul temannya tanpa sebab.


"Abang percaya sama kamu," bisik Hafidz membuat Revan menoleh.


Keputusan akhir kepala sekolah, tidak memberi sanksi lebih, hanya peringatan saja. Sebab, satu Minggu lagi mereka akan melaksanakan ujian. Membuat semuanya bernafas lega. Tapi tidak untuk bapak yang tadi duduk di sisi Hafidz, orang itu langsung menarik anaknya setelah keluar dari ruangan kepala sekolah.


"Maaf Mas Hafidz, anak saya memang bandel. Saya janji lain kali dia tidak akan melakukan hal ini lagi sama Revan," ucap orang itu saat diparkiran.


Hafidz terkejut, kenapa orang itu mengenal dirinya? Padahal dia merasa baru pertama kali bertemu dengan orang tersebut.


"Bapak kenal saya?" tanya Hafidz.

__ADS_1


"Iya Mas, saya salah satu karyawan Pak Renaldy," ucap orang itu.


Hafidz mengangguk, pantas saja orang tersebut mengenalnya meski dirinya tak mengenal orang tersebut.


"Tidak perlu minta maaf Pak, anak seusia mereka memang biasa kalau berantem, pikiran mereka masih labil. Seharusnya saya yang minta maaf, sebab putra bapak terluka cukup parah," sambung Hafidz.


"Tidak perlu Mas, dia memang pantas mendapatkannya,"


Setelah itu, orang tersebut berpamitan dan langsung masuk ke dalam mobil miliknya.


"Kamu tahu siapa mereka? Mereka itu anak bos Papa, apa kamu mau Papa dipecat gara-gara perbuatan kamu?" bentak orang itu pada anaknya.


Tapi remaja itu tak menanggapi, justru terus menatap jalanan melihat mobil yang hilir mudik.


Di sisi lain, Hafidz mengajak Revan untuk makan terlebih dahulu, meskipun belum waktunya makan siang, tapi perutnya terasa lapar.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Hafidz setelah mereka mendapatkan tempat duduk yang cocok.


Revan menghela nafas, "Seperti yang aku katakan tadi bang, mereka menghina Mama, mengatai Mama wanita enggak bener dan masih banyak lagi, meskipun aku akui Mama memang seperti itu, tapi rasanya sakit di sini saat mendengar mereka mengejek Mama." Revan menunjuk dadanya dengan telunjuk.


Tadi di sekolah dia tak mau mengakui semuanya, dia hanya mengatakan jika mereka bertiga mengejek sang Mama, tak menyebutkan ejekan seperti apa yang mereka lontarkan.


"Mama kamu aslinya orang baik, hanya saja dia terus mengikuti egonya, dan membuatnya seperti ini." Tutur Hafidz.


"Lain kali enggak usah di dengarkan ucapan mereka, biarkan saja mereka mau bicara apa pun. Anggap saja angin lalu. Memang sulit, tapi kalau belum dicoba jangan pernah katakan itu sulit." Hafidz kembali menepuk pundak Revan, memberi semangat pada remaja itu.


"Abang jangan bilang sama Papa ya? Aku janji enggak akan melakukan hal ini lagi," mohon Revan.


"Siap bos! Yang penting kamu tepatin janji, kalau tidak ya jangan ditanya," timpal Hafidz


"Makasih Bang,"


Hafidz mengangguk, tersenyum saat melihat wajah ceria Revan.


Bersambung....


🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2