Langit Bumi

Langit Bumi
BAB 42


__ADS_3

Tengah malam, Hafidz terbangun dari tidurnya. Entah mimpi apa yang membuat pemuda itu bangun dengan keringat bercucuran. Mengucap istighfar beberapa kali sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Setelah sedikit lega, perlahan dia turun dari tempat tidur dengan hati-hati, takut membangunkan Ibu dan Mama yang sedang tidur.


Perlahan dia jalan menuju ruang ICU, dimana saudara kembarnya berada. Nyalinya tak menciut meskipun sekeliling koridor rumah sakit amat sangat sepi, bahkan tak ada aktivitas sedikit pun. Dia terus berjalan, hingga sampai di depan ruang ICU tersebut. Karena tidak diperbolehkan masuk ruangan itu sembarangan, akhirnya Hafidz mendatangi petugas di bagian ruang ICU yang letaknya bersebelahan dengan ruangan Gita.


Meski awalnya penolakan yang dia dapatkan, dengan segala bujukan dan alasan yang dia berikan, akhirnya dia pun diperbolehkan masuk. Mantap wajah Gita yang masih terpejam itu, membuat hatinya teriris, bahkan kristal bening telah runtuh tanpa dia sadari. Adik yang selama ini selalu ceria dan manja, kini terbaring lemah diatas tempat tidur, bahkan di beberapa tubuhnya terpasang alat kesehatan.


Mengusap air mata yang sejak tadi membanjiri pipi, lali melangkah mendekati Gita, dan duduk di sebuah kursi yang ada di sebelah brangkar. Menggenggam tangan yang terasa dingin itu, lalu mengusap kepala sang Adik dengan penuh kasih sayang.


"Dek, bangunlah, jangan terlalu lama tidur. Kita semua disini nungguin kamu bangun. Apa mimpimu begitu indah hingga enggan bangun dan menyapa kakak mu ini? Jika begitu, aku akan sangat marah padamu," ucap Hafidz dengan berderai air mata.


"Kamu tahu? Tiap malam Mama selalu bangun, mendoakan kesembuhan mu, saat itu Mama selalu mengeluarkan air mata. Aku tak sengaja melihatnya semalam, dan mendengar semua doa-doanya. Kalau kamu enggak bangun, kamu tega sama Mama, tega sama aku, kamu tega sama kami semua!" Hafidz menyusut hidungnya yang berair sebab menangis.


"Mimpimu yang indah itu tidak akan ada gunanya tanpa kehadiran kami. Maka bangunlah, kita bangun mimpi indah bersama, dan kebahagiaan itu bukan akan jadi milik kita, bukan hanya milikmu,


"Oke, kalau kamu enggak mau bangun, aku akan nyusul kamu ke sana sama Mama. Aku enggak bohong, aku serius!"


Hafidz sengaja mengucapkan hal itu, mencoba membangunkan Gita dengan ancaman supaya gadis itu bersemangat untuk bangun.


Hafidz terus mengucapkan kata-katanya berulang kali, berharap Gita akan bangun. Tapi sudah setengah jam sejak dia masuk, tak ada tanda-tanda gadis itu sadar. Akhirnya Hafidz menyerah, dia bangkit dari duduknya ingin meninggalkan ruangan tersebut.


"Abang kecewa sama kamu Dek! Abang marah sama kamu!" ucapnya lalu pergi meninggalkan ruangan itu dengan langkah berat.


Baru saja dia melangkah tak lebih dari lima langkah, terkejut saat mendengar Gita memanggil namanya.


"Abang," suara Gita begitu lemah namun masih bisa di dengar oleh Hafidz.


Hafidz langsung berlari ke arah Gita, dia tersenyum tapi air matanya terus mengalir saat melihat kedua mata saudara kembarnya yang terbuka.

__ADS_1


"Dek, alhamdulilah kamu bangun. Makasih ya Allah," ucap syukur Hafidz, lalu dia memeluk Gita yang masih terbaring di atas tempat tidur.


Karena saking bahagianya Hafidz sampai lupa memberitahu dokter, jika Gita sudah sadar. Dia teringat setelah cukup lama memeluk sang adik. Dengan segera dia pun memencet tombol yang ada di atas tempat tidur Gita.


Tak lama seorang dokter dan perawat datang ke ruangan tersebut, memeriksa seluruh tubuh Gita.


"Gimana keadaan adik saya Dok?" tanya Hafidz tidak sabaran.


"Alhamdulillah, dia sudah melewati masa kritisnya. Saat ini juga akan kami pindahkan ke ruang perawatan," jawab dokter tersebut.


"Setelah ini, tolong sampaikan pada ibu anda, beliau saya tunggu di ruangan saya," tambahnya.


Dokter dan perawat itu pun pergi, tak lama dua orang perawat lain datang, dan saat itu Hafidz berpamitan pada Gita untuk menemui sang Mama.


"Masnya tunggu di ruang rawat saja, sebab Mbak Gita kami pindahkan ke kamar depan kamar masnya," ucap salah satu perawat sebelum Hafidz pergi.


"Alhamdulillah putri Anda sudah melewati masa kritisnya. Ini lebih cepat dari perkiraan kami, mungkin karena dia memiliki semangat yang tinggi untuk bertemu keluarganya," ucap dokter yang menangani Gita.


Mama bersyukur mendengar ucapan dokter itu.


"Tapi, dia butuh perawatan di sini untuk beberapa hari, supaya memulihkan kesehatannya kembali," tambah dokter itu.


Setelah menemui dokter, menanyakan bagaimana perawatan Gita dan lain sebagainya, Mama pun segera menuju ruangan Gita, dia langsung memeluk putrinya itu, dan mengucap syukur berkali-kali.


Malam ini menjadi malam yang membahagiakan setelah tiga malam mereka berada dalam ketegangan dan ke khawatiran.


🍁🍁🍁

__ADS_1


"Pa, Revan mau bicara sama Papa. Bisa, kan Pa?" tanya Revan pada sang Papa yang pagi ini terlihat masih murung, bahkan sarapan dihadapannya masih tersisa setengah.


"Boleh, Nak, kebetulan Papa enggak sibuk hari ini. Mau bicara apa?" Papa menatap Revan penuh selidik, sebab remaja itu terlihat gusar, entah apa yang ingin dikatakan oleh Revan.


"Kalau di ruang kerja Papa, bisa?" tanya Revan, dia ingin hanya Papa yang mendengar pembicaraan mereka.


Tapi belum juga Papa menjawab, ponsel lelaki itu berbunyi. Dia segera menjawab panggilan tersebut saat mengetahui jika Hafidz yang menelfon.


"Kita bicara nanti ya Nak, Papa angkat telfon dulu," pamitnya pada Revan. Dan remaja itu hanya bisa menurut.


"Wa'alaikumussalam, alhamdulilah, Papa akan segera ke sana," ucap Papa dengan orang diseberang sana.


"Revan, Kakak kamu sudah siuman, kamu mau ikut Papa ke Kak Gita enggak?" tanya Papa setelah menutup panggilan telponnya.


Revan berfikir sejenak, dia sebenarnya malu dengan Gita dan Mama Sinta atas kesalahan yang diperbuat oleh Mamanya. Tapi, jika tidak menjenguk Kakaknya itu dia akan merasa bersalah. Dia jadi serba salah, dan bingung, apa yang harus dia lakukan.


Papa menyentuh pundak Revan, dan remaja itu pun menoleh ke arah Papa.


"Jangan takut! Kamu tidak menanggung kesalahan yang Mama mu lakukan. Papa yakin, mereka kan menerima kehadiranmu, Gita juga pasti akan bahagia jika melihat kamu, apalagi kamu yang pertama kali menolongnya, tak mungkin Kakak kamu marah sama kamu," ucap Papa seakan mengerti dengan apa yang ada dalam pikiran Revan.


Akhirnya Revan mengangguk setuju, Kakaknya pasti akan sangat sedih kalau dia tidak datang. Sebab, selama ini mereka begitu dekat, tapi Mama Sita selalu saja membuat mereka jauh. Meski begitu, mereka berdua sama-sama bandel, diam-diam sering curhat bareng saat kedua orang tuanya sudah tidur di malam hari, atau saat kedua orang tua mereka pergi bersama ke luar kota atau luar negeri.


Saking bahagianya, Revan sampai lupa kalau dia ingin berbicara sesuatu dengan sang Papa, dan sepertinya Papa pun sama.


Bersambung....


🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2