
Setelah sholat Isya' di masjid, Hafidz langsung mendatangi kamar sang Mama. Terlihat Mamanya itu sedang mengerjakan sesuatu, entah apa. Sibuk dengan iped ditangannya, bahkan tak menghiraukan Hafidz yang sudah masuk setelah dipersilakan tadi.
"Sibuk ya Ma?" tanyanya.
"Lumayan, Mama lagi periksa hasil panen kebun teh selama satu bulan ini. Kamu ada perlu sama Mama?" tanya Mama tanpa mengalihkan pandangannya dari iped.
"Iya, tapi nanti aja kalau Mama udah selesai. Kalau gitu aku balik ke kamar ya Ma," pamit Hafidz. Baru saja dia akan membuka pintu, Mama memanggilnya.
"Nak, saham yang sepuluh persen di perusahaan BUMN udah Mama alihkan ke nama kamu, dan sepuluh persennya udah Mama alihkan ke Gita. Nanti tiap bulan hasilnya akan dikirim ke rekening kalian. Mama kasih tahu ini biar kamu enggak kaget. Pesan Mama gunakan itu baik-baik untuk keperluan kuliah dan sehari-hari kamu, kalau uang dari Papa enggak cukup," ucap Mama panjang lebar.
"Ma? Itu kan saham milik Mama sendiri, kenapa enggak Mama gunakan untuk keperluan Mama sehari-hari aja?" Hafidz mendekat, duduk di sisi sang Mama yang kini menatapnya.
"Untuk keseharian, Mama sudah cukup dengan hasil kebun teh dan hasil dari saham milik Kakek, itu lebih dari cukup buat Mama," sahut Mama.
"Tapi Ma, apa itu enggak berlebihan. Uang jajan dari papa aja udah lebih dari cukup untuk kuliah dan keseharian ku, kalau ditambah dari Mama terllau banyak," Hafidz masih ngotot untuk menolak pemberian Mamanya.
"Itu buat kamu, buat Gita? Sebulan dia bahkan menghabiskan lebih dari pemberian Papa kalian, masih minta sama Mama. Makanya Mama memutuskan untuk membagi saja. Punya kamu bisa ditabung, nanti bisa buat usaha kalau udah terkumpul. Katanya mau buka usaha sendiri," tutur Mama.
"Baiklah Ma, makasih ya Ma. Untuk Gita nanti aku yang akan nasehatin dia, supaya enggak terlalu boros. Aku ke kamar Gita dulu ya Ma," Hafidz mengalah, dia mengerti akan kekhawatiran sang Mama. Mungkin Mama juga ingin memberi uang jajan untuk kedua anaknya.
FYI, Mama memiliki saham dibeberapa perusahaan sejak masih bekerja dulu. Dan beruntungnya saham itu masih utuh hingga sekarang, sebab Papa yang mengurusnya selama ini secara diam-diam dari Tante Sita, salah satu yang membuat Mama tidak terlalu kecewa dengan Papa, karena menjaga semua milik Mama dan mengembalikannya. Tapi, untuk kembali hidup bersama Mama tak bisa, terlalu banyak kekecewaan yang dia dapatkan dari lelaki itu. Dan hanya bisa berdoa semoga perpisahan mereka menjadi jalan terbaik dan kebahagiaan untuk keduanya.
__ADS_1
Bisa dibayangkan berapa banyak penghasilan dari saham-saham itu, setelah terkumpul sepuluh tahun lamanya. Dan kini Mama menyerahkan semuanya pada Hafidz dan Gita, sebab mereka yang berhak atas itu semua.
🍁🍁🍁
"Ma, beberapa hari lalu, aku menemui Tante Sita di penjara. Tante Sita menceritakan banyak hal, mungkin Mama dan Gita mau dengar?" Hafidz mulai membuka pembicaraan.
Saat ini mereka sudah berada di kamar Mama, setelah menunggu satu jam, akhirnya pekerjaan Mama selesai juga.
"Untuk apa Abang ke sana? Kita udah bahagia seperti ini Bang, biarkan dia menanggung akibat dari perbuatannya," Gita terlihat kecewa mendengar ucapan saudara kembarnya, padahal dia belum mengetahui tujuan Hafidz sebenarnya.
"Apa yang Tante kamu katakan?" Mama tak menghiraukan ucapan Gita, lebih tertarik dengan cerita yang didapat oleh Hafidz setelah menemui adik kembarnya itu.
"Mama bisa dengar sendiri, aku sengaja merekam semuanya. Cuma pengen tahu, alasan Tante Sita melakukan itu semua, selain itu aku juga khawatir dengan Revan, jika Papa menceraikan Tante Sita. Sudah pasti anak itu akan berpikir kembali untuk tinggal sama Papa. Aku kasihan sama psikisnya Ma, dia masih remaja. Pikiran remaja itu berubah-ubah, masih mencari jati dirinya, takut dia salah langkah tanpa dampingan orang tua."
Mama memang sudah tahu tentang Revan yang bukan anak biologis Papa, sebab waktu itu Papa yang mengatakannya saat mengantar Gita pulang ke Bandung.
Mama mengangguk, "Mama mengerti, sekarang coba Mama mau dengar pembicaraan kalian berdua," ucapnya.
Hafidz memutar rekaman pembicaraan dirinya dengan Tante Sita. Dia bisa melihat ekspresi wajah Mama dan Gita yang berubah-ubah saat mendengarkan rekaman tersebut, mungkin dirinya juga seperti itu saat mendengar Tante Sita bercerita. Tapi sayang, dia tidak bisa melihat ekspresi wajahnya kala itu.
Mama menghela nafas berulang kali setelah mendengar semua alasan adik kembarnya itu. Yang ternyata selama ini iri dengan semua yang dia punya, kenapa selama ini dirinya tak pernah menyadari itu? Menganggap jika Sita baik-baik saja, tanpa memiliki rasa iri dengki.
__ADS_1
Sedangkan Gita terdiam, terus menatap Mama, ingin mendengar pendapat Mama seperti apa setelah mengetahui semuanya.
"Selama ini berarti Mama juga salah, dan Mama tidak menyadari itu. Apa yang harus Mama lakukan? Mama rasa kita berdua sama-sama merasakan sakit, tapi dengan suasana dan keadaan yang berbeda."
"Jujur Mama enggak pernah mengetahui tentang Sita yang menyukai Papa kalian, Mama juga tidak tahu kalau mereka saling mengenal. Jika saja Mama mengetahuinya, sudah pasti Mama akan menolaknya, tapi apa boleh dikata, semuanya telah terjadi dan tak bisa terulang kembali. Dan soal warisan dari Kakek kalian, waktu itu Kakek hanya bercanda, tapi Sita mengartikannya berbeda." Mama menundukkan wajahnya, menyesali semua yang pernah terjadi. Kesalahan yang dia perbuat hingga menyakiti saudaranya sendiri, meskipun tanpa disengaja.
"Besok antar Mama ke Jakarta, Mama ingin bicara sama Tante kalian," putus Mama akhirnya.
Si kembar pun memeluk tubuh sang Mama, memberi support, berharap Mama lebih kuat menghadapi jalan hidupnya yang penuh lika-liku.
"Sudah Ma, Mama menyesal pun tak ada gunanya. Lagian, Mama enggak pernah dengan sengaja melukai Tante Sita. Tapi Tante Sita sendiri yang merasa tersakiti, dia menderita juga karena dirinya sendiri. Jadi, Mama enggak usah menyesali apa yang sudah terjadi. Sebab semua itu sudah kehendak dari Sang Pencipta. Aku yakin, dibalik semua kejadian ini, akan ada hikmahnya," tutur Hafidz, bukannya menggurui sang Mama, tapi lebih tepatnya mengingatkan akan takdir yang sudah terjadi.
Mama mengangguk, bersyukur memiliki anak seperti Hafidz, yang bisa mengendalikan situasi. Bahkan anak laki-lakinya itu tak mudah memiliki rasa dendam dengan siapa pun, dia juga bisa mengendalikan emosinya dengan sangat baik. Mama harus berterimakasih pada Bu Nurul dan Pak Ahmad yang telah mendidik Hafidz menjadi anak yang sholih.
Mungkin jika tak ada Hafidz, masalah ini akan semakin menjadi dan mungkin juga Mama tak akan mengetahui alasan Sita sebenarnya.
"Besok kita temui Tante Sita, semoga dengan datangnya Mama, Tante Sita bisa memaafkan semuanya, dan kita bisa berdamai kembali," ucap Hafidz setelah mereka bertiga diam cukup lama.
"Tapi aku enggak setuju kalau Mama atau Abang, mencabut tuntutan itu. Biarkan wanita itu merasakan hukuman dari perbuatannya," sambung Gita. Gadis itu bahkan enggan menyebut nama Tante Sita. Entah sebenci apa Gita dengan Tantenya tersebut.
Mama dan Hafidz saling tatap, setelahnya Mama mengusap kepala Gita, tak ingin menjawab ucapan Gita, sebab dirinya tak mengerti harus mengatakan apa.
__ADS_1
Bersambung.....
🍁🍁🍁🍁