Langit Bumi

Langit Bumi
BAB 43


__ADS_3

Ternyata apa yang dikatakan oleh Papanya itu bener. Gita terlihat bahagia saat melihat kedatangan dirinya, bahkan langsung memeluk adiknya itu dan mengabaikan sang Papa.


"Makasih ya Dek, kamu udah nolongin Kak Gita. Entah apa yang akan terjadi kalau kamu enggak datang tepat waktu, mungkin Kak Gita sudah enggak ada sekarang." Ucap Gita dalam pelukan Revan.


"Kak Gita jangan ngomong gitu. Harusnya aku minta maaf sama Kakak, karena Mama Kak Gita jadi kaya gini. Tapi aku bersyukur sekarang Kakak udah sembuh." Revan melepas pelukannya, dia menatap wajah sang Kakak yang masih terlihat pucat.


"Kamu enggak harus minta maaf atas kesalahan Mama kamu, harusnya Mama yang minta maaf sama Kakak kamu," ternyata Papa tak setuju dengan permintaan maaf Revan atas perbuatan Mamanya.


"Iya bener Dek, kamu enggak salah, jadi jangan minta maaf," Gita pun menyetujui ucapan sang Papa.


Revan mengangguk, setelah itu dia beralih menyalami wanita yang mirip sekali dengan Mamanya, bedanya wanita itu berhijab dan menutup seluruh tubuhnya.


"Tante," ucapnya bingung harus mengatakan apa pada wanita itu, yang bisa dia lakukan hanya menangis saat memeluk Kakak kembar Mamanya.


Sinta mengusap punggung Revan, dia tak mengerti kenapa remaja ini menangis saat memeluknya.


"Maafin Tante ya, karena udah bawa Mama kamu ke polisi. Kamu bisa anggap Tante sebagai Mama kamu," ucap Sinta yang justru membuat Revan makin menangis, sebab wanita ini begitu baik padahal Mamanya sudah berkali-kali menyakitinya.


Revan menggeleng, "Tante enggak salah, semuanya salah Mama. Jadi, Mama memang harus menanggung akibat dari perbuatannya dimasa lalu," ucapnya yang sudah mengetahui kenapa Mamanya dibawa ke kantor polisi, sebab Papa sudah menceritakan semuanya tentang masa lalu Hafidz yang dibuang oleh sang Mama saat masih bayi.


Hafidz sudah menceritakan semuanya dengan sang Papa, saat lelaki itu mengunjunginya ke rumah sakit. Bu Nurul yang menceritakan bagaimana dia menemukan Hafidz saat masih bayi, dan bagiamana dia merawat pemuda itu hingga menjadi anak yang mandiri.


Mendengar semua cerita dari Bu Nurul dan Hafidz, Papa memang syok dan tidak akan memaafkan kesalahan Sita, bahkan mengatakan ingin menceraikan wanita itu, saking kecewanya. Papa juga kecewa dengan dirinya sendiri, karena telah mempercayai wanita itu, hingga membuat rumah tangganya hancur seperti saat ini.


"Pa," panggil Gita pada sang Papa yang terus menatap Revan dan Sinta yang sedang berpelukan dan menangis bersama.


"Sayang, Papa minta maaf. Revan sudah cerita, kalau Mama Sita yang dengan sengaja memberi minuman beracun itu sama kamu. Bodohnya Papa yang tak menyadari betapa buruknya sikap Mama kamu selama ini, Papa nyesel. Kamu mau maafin Papa, kan?" Papa memang terlihat menyesal dari raut wajah dan sorot matanya.


Gita mengangguk, meski dia belum bisa memaafkan Papanya atas kesalahan yang dilakukan pada sang Mama. "Untuk masalah itu, aku sudah memaafkan Papa, tapi tidak untuk masalah yang lain. Maaf ya Pa, aku terlalu kecewa sama Papa," ucapnya tanpa ragu, berbeda dengan Hafidz yang tak mau mengungkapkan sejujurnya dengan sang Papa, mungkin masih merasa canggung.


Papa mengangguk, seakan mengerti dengan apa yang Gita maksud.

__ADS_1


"Yang penting sekarang adalah kesembuhan kamu, Papa sangat bersyukur jika kamu dan Abang mu sudah sembuh seperti semula," ucap Papa.


Gita hanya mengangguk, dia tak ingin banyak bicara karena tubuhnya masih lemah.


🍁🍁🍁


"Kak aku minta maaf, aku merasa bersalah karena waktu itu tak memberitahu Kak Gita, kalau Mama sudah tahu tentang rencana Kak Hafidz datang ke rumah, aku tak menyangka kalau Mama akan melakukan kejahatan," ucap Revan pada Gita.


Saat ini mereka hanya ada mereka berdua dan Mama saja, sebab Papa sedang berada di ruang rawat Hafidz.


"Mama tahu? Tahu dari mana? Mama juga tahu kalau Bang Hafidz kembaran ku?" Gita memberondong pertanyaan.


Revan mengangguk, "Tahu Kak, dua hari sebelum malam itu, aku denger Mama bicara di telfon sama seseorang, mereka membicarakan Kak Gita dan Kak Hafidz, terus rencana Kak Hafidz datang ke rumah. Tapi kalau soal Mama Sinta kayaknya Mama emang belum tahu," jelas Revan.


"Kamu tahu siapa yang memberitahu Mama?" tanya Gita menyelidik.


Revan terlihat gelisah, sebenarnya dia memiliki alasan lain untuk tidak memberi tahu hal ini. Tapi sepertinya percuma, sebab Gita mengetahui kegelisahannya.


"Mungkin Kak Gita enggak akan menyangka, atau malah enggak percaya sama aku, jadi biarlah aku simpan aja, Kak Gita enggak usah tahu," timpal Revan yang tak ingin menghancurkan persahabatan Kakaknya dan Karin.


"Revan, Kak Gita mohon kasih tahu Kakak, siapa yang ngasih tahu Mama Sita?" Gita memohon, dia sungguh ingin tahu siapa orang itu.


Revan menggeleng, dia tetap tidak mau memberitahu.


"Revan!" ucap Gita sambil menatap Revan tajam.


"Apa yang terjadi?" Mama yang baru saja dari kamar mandi, terkejut melihat Gita dan Revan yang bersitegang.


"Ah, enggak Ma," Gita terlihat kikuk saat tatapan matanya dengan sang Mama. Mungkin Mama mengira mereka berdua sedang bertengkar.


Mendengar jawab putrinya, Mama pun kembali duduk di sofa yang ada dalam ruangan itu.

__ADS_1


"Aku pengennya dia ngomong sendiri sama Kakak, nanti kalau dia enggak mau jujur sama Kakak, akan aku kasih tahu," putus Revan.


Gita hanya menghela nafas, dia menyerah. Dibujuk seperti apa pun Revan tidak akan memberi tahu. Dia jadi menduga-duga siapa yang memberi tahu Tante Sita.


Siang hari setelah jadwal kuliah usai, tiga sahabat Gita kembali datang untuk menjenguk gadis itu. Gita terlihat bahagia saat melihat kedatangan tiga sahabatnya. Mereka saling memeluk, cipika cipiki dan menanyakan kabar. Tapi keceriaan mereka seketika punah saat Karin mengakui kesalahan yang dia perbuat.


Pantas saja Revan tak mau memberi tahu, mungkin dia takut dengan persahabatan Kakaknya.


"Lo tega Rin! Apa sih yang Lo dapet dari itu!" Gita benar-benar emosi setelah mendengar penjelasan Karin.


"Git, sabar. Lo baru saja pulih, tenang ya, jangan teriak lagi," Arum mendengarkan sahabatnya itu yang wajahnya terlihat merah padam sebab menahan amarah.


Gita menggeleng, air matanya kembali tumpah. Kecewa, sungguh dia sangat kecewa dengan Karin, orang yang amat sangat dia percaya, bahkan dengan Meta dan Arum dia tak begitu mempercayai mereka. Tapi nyatanya, Karin justru menusuknya dari belakang.


"Ta, bawa dia keluar dari ruangan ini. Gue males satu atmosfer sama pengkhianat," ucap Gita tanpa menatap wajah Meta maupun Karin.


Meta segera menyuruh Karin untuk keluar dari ruang rawat Gita. Tapi Karin menolak, dia ingin mendengar permintaan maafnya terbalas.


"Rin, dengerin gue dulu. Gita kayak gitu karena syok dan kecewa sama Lo, tapi percaya deh sama gue, kalau Gita bakalan maafin Lo, tapi butuh waktu. Jadi, saran gue sekarang Lo turutin apa kata Gita dulu, ini juga untuk kebaikan Gita," tutur Meta saat mereka sudah berada di luar ruangan.


Karin menghela nafas panjang, lalu dia mengangguk, menyetujui apa yang dikatakan oleh Meta. Setelah itu dia pun pamit, memberi ruang dan waktu untuk Gita.


.


.


.


Bersambung.....


🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2