Langit Bumi

Langit Bumi
BAB 36


__ADS_3

"Mama udah pulang Rin?" tanya Gita pada Karin, saat gadis itu masuk ke dalam kamar setelah dari lantai bawah.


"Udah, barusan pulang. Dia mau ajak Lo pulang, tapi Gue bilang kalo Gue yang mau nganterin Lo," jawab Karin, gadis itu ikut naik ke atas tempat tidur bergabung dengan Gita yang sedang menonton film.


"Coba sekali-kali nonton drama kek Git, gue bosen nemenin Lo nonton film laga kek gitu," protes Karin saat melihat layar laptop miliknya sedang menampilkan seorang aktor Hollywood mengejar musuhnya.


"Seru tau! Gue males nonton drama, entar ujung-ujungnya nangis. Hidup gue aja udah dipenuhi drama," sahut Gita.


Karin hanya berdecak malas, tak mungkin dia menang dengan Gita, jika gadis itu sudah menonton film Hollywood.


"Mama ngapain sih Rin? Dia sering ke sini ya?" tanya Gita, dia lebih penasaran dengan kedatangan Sita di rumah Karin daripada film Hollywood yang sedang tayang.


"Beberapa kali sih, kata Mama sih tadi enggak cuma Tante Sita doang, katanya mau buat dress code baru buat pertemuan arisan bulan depan," jawab Karin yang tadi sempat bertanya pada Mamanya.


Gita mengangguk, tak begitu peduli dengan masalah Tante Sita dan teman sosialitanya, toh mereka memang sering melakukan itu, tak heran lagi.


Sore hari Gita baru pulang dengan diantar oleh Karin. Meskipun malas pulang ke rumah, tapi tetap saja dia harus pulang, mau kemana lagi jika tidak pulang ke rumahnya?


🍁🍁🍁


Satu Minggu berlalu, hari Minggu kali ini berbeda seperti minggu-minggu sebelumnya selama masa kuliah. Jika hari Minggu sebelumnya, Gita memilih tidur sepuasnya, tapi Minggu kali ini berbeda. Sepagi ini, Gita sudah bangun dan bersiap pergi, tentu saja setelah menghabiskan sarapan yang sudah disiapkan oleh art. Rumah masih sepi, sepertinya Tante Sita juga masih di kamar, kalau Papa sudah pasti sedang joging keliling komplek dengan Revan.


"Bik Tun, aku pergi ya, nanti kalau Papa tanya aku mau ke rumah Tante Arin, mereka baru pulang dari Medan, aku mau nagih oleh-oleh," ucap Gita pada Bik Atun yang sedang menyirami tanaman di depan rumah.


"Siap Non, hati-hati ya. Baca pesan Bibik Non," timpal Bik Atun dengan suara rendah.


Gita mengangguk, dia pun berjalan ke arah mobilnya. Sebelum melajukan mobil tersebut, dia sempatkan untuk membuka pesan dari Bik Atun. Sedikit terkejut membaca pesan itu, pasalnya Bik Atun memberi tahu jika Tante Sita diam-diam mengawasinya. Dan Gita sudah menduga hal tersebut. Dia tersenyum saat punya ide cemerlang, untuk mengelabuhi orang yang dikirim Tante Sita untuk mengawasinya.


Mengendarai mobilnya dengan santai, dia sudah memberi kabar pada Hafidz dan Indra, untuk menjemputnya di sebuah supermarket yang tak jauh dari rumah nenek Indra. Gita melirik ke arah spion, ternyata seorang bersepeda motor matic berpakaian hitam dan juga helm yang sama masih ada di belakangnya, meski terhalang oleh mobil lain. Tapi dia bisa menebak jika itu orang suruhan Tante Sita.

__ADS_1


"Ada gunanya juga nonton film laga," gumam Gita sambil tersenyum, dia turun dari mobil setelah sampai di depan supermarket. Melihat ke arah mobil sport hitam, dan dia sangat mengenalnya, mob siapa lagi, jika bukan mobil Indra.


"Bang, aku udah masuk supermarket, Abang awasi orang yang naik motor metic warna hitam, peka baju hitam helm juga hitam. Kalo enggak ada di parkiran coba cari di seberang jalan, aku yakin dia ada," Gita berbicara di telfon dengan Hafidz yang ada di dalam mobil Indra.


"Oke, awasi dia. Aku mau cari Bang Indra dulu," Gita menutup telfon meskipun belum mendengar sahutan dari Hafidz.


"Ini sepupunya?" tanya Gita saat melihat Indra bersama seorang gadis cantik, umurnya tak jauh beda dari dirinya.


"Iya, kenalin ini Erika, dan kenalin nih Ka, dia yang namanya Gita," Indra mengenalkan dua gadis itu secara bergantian, mereka berdua pun saling berjabat tangan.


Setelah berkenalan, mereka berdua menuju toilet meninggalkan Indra yang setia menunggu kedua gadis itu.


"Kalo dari belakang keliatan orang yang sama," komentar Indra setelah dua gadis itu kembali dengan kostum yang sengaja di tukar.


"Oke, perfect kan?" tanya Gita memastikan, dan Indra pun mengangguk sambil mengacungkan ibu jarinya.


"Oke, sekarang sesuai rencana, Erika keluar dulu. Oh lupa, ini kunci mobilnya." Gita menyerahkan kunci mobil miliknya pada Erika.


"Em, sebaiknya jangan deh Ka. Nanti dia curiga," Indra melarangnya, meskipun ingin sekali mengerjai orang itu.


"Oke beres, gue duluan ya." Erika meninggalkan mereka berdua, tak lupa membawa belanjaan yang tadi sempat dibeli oleh Gita setelah dari toilet, katanya untuk melengkapi permainan.


Setelah Hafidz menghubungi jika Erika dan penguntit itu sudah pergi, Gita dan Indra pun ke luar dari supermarket. Mereka tetap waspada, bahkan Gita sengaja mengenakan hoodie milik Indra dan mengenakan masker, takut ada yang mengenalinya.


"Udah kaya artis aja, main sembunyi-sembunyi," celetuk Gita setelah masuk ke dalam mobil.


"Demi kebaikan," timpal Hafidz.


"Demi ketemu Mama, dan menjaga rahasia kita. Untung aja Erika bisa diajak kerja sama," sambung Gita.

__ADS_1


"Bujuk dia itu gampang, kasih aja apa permintaanya, pasti dia mau lakuin apa aja, asal dapat yang dia mau," ucap Indra.


Indra memang memberikan apa yang Erika mau, tentu saja dengan persetujuan Gita. Dan hasilnya Erika mau membantu mereka melewati penguntit yang membahayakan.


Perjalanan yang mereka lewati kali ini sedikit lebih santai, bahkan Gita tertidur di jok belakang. Karena kini dirinya bebas dari persopiran, sebab Hafidz sudah bisa mengemudikan mobil dengan baik.


"Erika baru aja chat gue, katanya orang yang mengikuti mobil Gita bukan hanya satu sepeda motor itu, tapi ada sebuah mobil sport berwarna putih, dia mantau dari CCTV depan rumah," ucap Indra pada Hafidz yang sedang fokus menyetir. Mereka hampir sampai di pondok pesantren, tempat Mama tinggal.


Hafidz terkejut mendengar ucapan Indra, ternyata Tante Sita benar-benar ingin mengawasi Gita, mungkin dia sudah curiga dengan gerak-gerik Gita selama beberapa Minggu ini.


"Kita harus tetap waspada, tidak tahu juga kalau mereka ada yang menyadari jika sudah kita permainkan," sambung Indra.


"Bener juga Lo Ndra, apa Lo merasa kita sedang di buntuti sekarang?" tanya Hafidz memastikan.


Indra menggeleng, "Kayaknya enggak, mereka masih terkecoh dengan mobil Gita. Lain kali kita enggak boleh pake cara ini lagi buat mempermainkan mereka, pasti mereka akan bisa membaca," jawab Indra.


"Sepemikiran," timpal Hafidz.


Setelah memarkirkan mobil, mereka berdua pun turun, Hafidz membangunkan Gita yang masih terlelap, entah apa yang dilakukan gadis itu semalam, hingga bisa tidur nyenyak di dalam mobil.


Seperti biasa, mereka menumpahkan kerinduan terlebih dahulu sebelum berbicara serius dengan sang Mama. Setelah puas, mereka berdua pun mengatakan akan maksud kedatangannya kali ini.


"Mama harus ajukan surat perceraian dulu sebelum Papa menyadari jika Mama sudah keluar dari rumah sakit, aku akan tetap pura-pura enggak tahu dengan keberadaan Mama, jadi Mama tenang aja," ucap Gita serius pada sang Mama, berharap kali ini Mama menyetujui usulannya.


.


.


Bersambung......

__ADS_1


🍁🍁🍁


__ADS_2