
Adrian tahu jika Renaldy pasti akan murka, apalagi jika mengetahui dia dan Sita masih berhubungan sampai saat ini. Tapi dia harus menjelaskan semuanya, berharap bisa mendapatkan putra biologisnya itu, meskipun sulit.
"Saya akan menjelaskan sedikit tentang masa lalu kami. Semoga dengan penjelasan ini, Anda tidak salah faham, ya meskipun apa yang kami lakukan itu sebuah kesalahan," ucap Adrian mencoba untuk tenang.
"Saya menyukai Sita sejak dia masih SMA, dan waktu itu saya sudah kuliah kedokteran. Tapi Sita selalu menolak saya, akhirnya saya menyerah, memilih untuk menyelesaikan pendidikan. Tapi tak disangka, saya bertemu dengan dia saat dia memeriksa kehamilan. Awalnya saya mengira itu Sita, ternyata bukan, dan itu adalah kembarannya. Dari sana, saya mulai mencaritahu lagi tentang Sita, hingga akhirnya kami bertemu untuk pertama kali setelah sekian lama tidak berjumpa," Adrian mengingat masa lalunya bersama Sita.
Renaldy masih terlihat tengah di tempat semula, begitupun dengan ketiga anaknya, mereka masih menyimak.
"Entah apa yang ada dalam pikiran Sita saat itu, setelah mengetahui jika saya dokter kandungan yang memeriksa kakak kembarnya, kami mulai dekat lagi, bahkan dia menerima cinta saya. Dan beberapa bulan berlalu, saya tak bisa menolak permintaannya saat dia meminta saya untuk memalsukan diagnosa salah satu bayi Bu Sinta, itu memang sebuah kebodohan yang saya sesali.
"Jika kalian mencari siapa dokter yang sudah bekerjasama dengan Sita saat kelahiran kalian berdua, maka jawabannya adalah saya," jelas Adrian.
Baru saja Papa ingin berdiri, mungkin akan melakukan sesuatu yang tak diinginkan, dengan segera Gita dan Hafidz menahannya. Mereka berdua masih ingin mendengar penjelasan dari Adrian.
"Saya sempat menyesal waktu itu, tapi setelah melakukan hal tersebut, Sita makin lengket dengan saya. Kami melalui hari bersama, tak peduli dengan omongan orang, bahkan kami bak sepasang suami istri yang sering pergi kemanapun berdua. Tak jarang kami melakukan hubungan haram itu,"
"Dia sempat meminta saya untuk menikahinya, tapi waktu itu saya benar-benar belum siap. Sebab masih ingin kuliah lagi. Tanpa di duga suatu hari dia mengatakan jika sedang mengandung anak ku, tentu saja saya bahagia meskipun anak itu hadir dari sebuah kesalahan kedua orang tuanya, saat saya mau melamarnya dia menolak dan mengatakan akan menikah dengan suami Kakak kembarnya dan mengurus anak mereka yang masih kecil. Sebab Kakaknya masih depresi belum sembuh, katanya." Adrian menghela nafas sejenak.
"Saya kecewa, tapi mau tak mau saya harus menerima keputusan Sita, sebab dia memaksa dan ingin menggugurkan anak dalam kandungannya jika saya tak menyetujui permintaanya. Tentu saja saya tak mau mengorbankan anak saya sendiri. Dan setahun setelah pernikahan Sita, saya menikah dengan wanita yang dijodohkan oleh orang tua, setelah itu saya tak mengetahui kabar Sita lagi, sebab saya ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikan, bahkan saya menikah pun di luar negeri," Adrian mengakhiri kisahnya hingga adanya Revan ke dunia ini.
Sejak tadi Renaldy mengepalkan tangannya menahan gejolak emosi dalam dada. Tak menyangka sejak awal Sita sudah membohonginya. Apa sebenarnya keinginan wanita itu, hingga menghancurkan kehidupannya. Menghela nafas untuk menormalkan emosinya, tak ingin emosi itu terus menguasai akal sehatnya.
"Revan, maafkan ayah karena telah meninggalkanmu, tapi itu semua demi kebaikanmu," kini Adrian menatap Revan yang sejak tadi menunduk, entah apa yang ada dalam pikiran Revan.
__ADS_1
"Dan saya juga minta maaf pada Anda, saya siap mendapatkan hukuman jika anda menghendaki," ucap Adrian.
"Maaf ya Om, apa setelah kejadian itu Om sama Tante Sita tidak ada hubungan lagi, misalnya akhir-akhir ini, gitu?" tanya Gita lebih pada sebuah penuduhan.
Adrian tampak terkejut mendengar pertanyaan Gita, sepertinya gadis itu mengetahui sesuatu. Dia pun menghela nafas panjang, "Baiklah saya akui, beberapa bulan terakhir kami kembali bertemu, dan ternyata saya masih menyimpan sedikit rasa padanya, tak disangka dia pun sama, dan kami kembali melakukan kesalahan lagi," ucapnya jujur.
Renaldy dan Revan terkejut mendengar pengakuan Adrian, berbeda dengan Gita dan Hafidz yang sejak awal sudah mengetahui dan melihat dengan mata kepala sendiri.
Plak
Sebuah tangan melayang dan mendarat mulus di pipi kiri Adrian, membuat semuanya terkejut sebab yang melakukan itu bukan Renaldy melainkan Revan.
"Revan?" lirih Adrian.
"Kenapa aku bisa memiliki orang tua semenj*j*kan kalian! Dasar b*adab!" teriak Revan.
"Revan! Stop!" kini Renaldy terpaksa membentak Revan, sebab ucapan remaja itu sudah tak pantas di dengar orang lain.
"Anda jangan membentak anak saya!" ternyata Adrian tak terima jika Renaldy membentak anaknya. Bahkan dia sudah berdiri dari duduknya, ingin menghampiri Renaldy yang juga sudah berdiri.
"Maaf Om, sebaiknya Om pergi dari sini. Situasi saat ini sudah tak memungkinkan untuk membahas masalah ini lagi. Saya mohon Om mengerti, siapa tak terjadi hal yang tidak kita inginkan." Hafidz menyuruh Adrian pergi, dia juga sedikit menarik lelaki itu untuk keluar dari ruang tamu.
Dan Adrian pun menurut, membenarkan apa yang dikatakan oleh Hafidz.
__ADS_1
"Maaf Om, saya tidak bermaksud untuk mengusir. Saya hanya takut terjadi sesuatu. Lagian Revan juga butuh ketenangan," ucap Hafidz setelah mereka berada di halaman.
Adrian hanya mengangguk, lalu berpamitan dan pergi meninggalkan kediaman Atmawijaya.
Setelah memastikan Adrian benar-benar pergi, Hafidz kembali ke ruang tamu. Ternyata hanya ada Gita dan Papa yang masih duduk di sana, dengan Papa yang menundukkan kepala dan Gita menenangkannya dengan mengusap punggung sang Papa.
Hafidz ikut duduk di sisi sang Papa, menunggu sang Papa yang masih terus berdiam diri.
Hafidz memikirkan semua ucapan Adrian tadi, dia merasa ada yang aneh dengan Tantenya, setelah mendengar cerita Adrian. Jadi penasaran apa motif sang Tante, dan dia harus mencaritahu sendiri. Mungkin dengan mendatangi Tante Sita ke kantor polisi dan menanyakan langsung pada wanita itu.
"Sekarang apa yang harus Papa lakukan? Menceraikan Tante kalian? Tidak mungkin, pasti Revan akan sedih, dia juga pasti bingung dan mungkin tak mau tinggal dengan Papa lagi. Tapi kalau tidak menceraikannya, Papa sepertinya tak kuat jika harus terus bersamanya, dia sudah mengkhianati dan membohongi Papa dengan sengaja," ucap Papa setelah cukup lama diam.
Hafidz dan Gita saling pandang, mereka tentu saja tak memiliki jawaban dari pertanyaan sang Papa, tak tahu apa yang harus dikatakan.
"Papa harus menenangkan diri dulu, sebaiknya mengambil keputusan saat keadaan sudah tenang supaya tidak salah langkah, kami yakin Papa akan melakukan yang terbaik," ucap Hafidz akhirnya.
Papa pun mengangguk, setelah itu mereka berdua mengantar sang Papa ke kamar.
.
Bersambung....
🍁🍁🍁
__ADS_1