
Sudah satu minggu lebih sejak kejadian itu, tapi Papa belum memutuskan apa pun, tapi tak disangka Papa menyelesaikan masalah yang terjadi di perusahaan Tante Sita, dengan alasan untuk masa depan Revan. Bahkan Papa membeli sebagian saham dan langsung diatasnamakan Revan, meskipun remaja itu bukan darah dagingnya sendiri.
Untuk Gita dan Hafidz? Tentu saja Papa sudah mempersiapkan semuanya sejak jauh-jauh hari setelah mengetahui kenyataan jika, Hafidz adalah putranya. Bahkan Papa sudah memperkenalkan Hafidz pada semua rekan kerja dan kliennya. Meskipun awalnya Hafidz menolak, tapi akhirnya pemuda itu menyetujui setelah dipaksa oleh Papa dan juga sang Mama. Dan setelah perkenalan itu kini Hafidz menjadi incaran para gadis, bukan hanya dari kampusnya saja, tapi juga dari anak rekan kerja Papa. Bahkan ada yang berani menghubunginya terlebih dahulu, tapi pemuda itu tak menanggapinya, sesuai nasehat dari adik kembarnya.
Pagi ini pemuda itu tidak memiliki jadwal kuliah, tapi dia sudah berpenampilan rapi seperti biasa, dia ingin menuju ke suatu tempat yang belum pernah dia kunjungi sebelumnya.
Seperti hari biasanya, Hafidz akan mengantar Revan ke sekolah, jika pemuda itu berangkat ke kampus pagi hari, dan hari ini mereka berangkat seperti biasa setelah berpamitan dengan Papa.
"Selamat belajar ya, jangan pikirkan hal-hal yang tak seharusnya ada dalam pikiranmu. Yang penting sekarang adalah pendidikan kamu. Enggak usah khawatir, Bang Hafidz akan selalu ada untuk kamu," pesan Hafidz saat sudah berada di depan sekolah Revan, sebelum remaja itu turun.
"Makasih Bang udah mau menerima aku yang seperti ini," Revan tak pernah menyangka kedua Kakaknya begitu baik terhadap dirinya, setelah berbagai macam kejahatan yang dilakukan oleh sang Mama.
Hafidz tersenyum lalu mengangguk, setelah itu mereka tos ala pria sebelum Revan turun. Semua itu atas permintaan Hafidz, supaya mereka lebih akrab satu sama lain. Hafidz merasa iba dengan nasib Revan, meskipun hidup dengan bergelimang harta tapi dia memiliki berbagai masalah dalam hidupnya. Sebenarnya bukan masalah dirinya sih, lebih tepatnya masalah sang Mama yang membuatnya harus menjadi dewasa sebelum waktunya.
Hafidz kembali melajukan mobilnya membelah jalanan ibu kota yang sudah macet di pagi hari, tapi itu tak jadi hambatan baginya. Meski sebenarnya dia lebih suka menggunakan motor sportnya, tapi karena ingin dekat dengan Revan membuatnya memilih mobil untuk ke kampus.
Tujuannya kali ini bukan ke kampus, dia membelokkan mobilnya ke suatu tempat yang baru kali ini dia datangi. Meski sedikit ragu, dia pun memaksakan diri untuk masuk dan mengutarakan maksud dan tujuannya.
Setelah dipersilakan, dia pun masuk dan menunggu di ruang tunggu. Tak lama seorang perempuan berpakaian oren datang menghampiri.
"Kamu? Mau apa kamu ke sini?" tanya orang itu yang tak lain adalah Tante Sita.
__ADS_1
"Mau jenguk Tante," jawab Hafidz santai.
"Udah puas kalian sekarang? Udah bikin aku menderita dan masuk ke sini?" tanya Tante Sita dengan nada sinis penuh sindiran.
Hafidz menghela nafas, "Lalu selama ini apa yang dirasakan Mama, kalau bukan penderitaan? Semua itu karena ulah Tante. Jadi, menurutku Tante pantas berada di sini saat ini," ucapnya masih penuh ketenangan.
Tante Sita berdecak, "Itu belum seberapa dibandingkan rasa sakit yang aku rasakan sepanjang hidup," ucapnya membuat Hafidz mengernyitkan dahi.
"Apa maksud Tante? Tidak mungkin kan kalau Mama jahat?" tanya Hafidz penasaran.
"Apa untungnya cerita sama kamu?" tanya Tante Sita sinis.
"Oke gini Tan, maksud ku datang ke sini bukan untuk mengajak ribut atau hal negatif lainnya. Aku hanya ingin tahu apa alasan Tante sampai tega menyakiti saudara kandung sendiri, Bahakan kalian sejak masih dalam kandungan selalu berbagi makanan, lalu apa masalahnya
" Sebenarnya Tante itu sangat beruntung, bahkan untuk menceraikan Tante yang sudah membohongi Papa selama ini, sepertinya Papa merasa berat. Berbeda dengan perlakuan Papa sama Mama, yang kadang membuatku kasihan sama Mama, tapi ternyata Mama tak mempermasalahkan itu, yang penting sekarang dia bahagia," ucap Hafidz panjang lebar, menceritakan bagaimana sikap Papa terhadap wanita dihadapannya ini.
"Papa bahkan menyelamatkan perusahaan Tante yang hampir bangkrut, dengan cara membeli sebagian saham dan Tante tahu? Papa membeli saham itu untuk siapa?" Hafidz menatap bola mata Tantenya.
"Untuk Revan," ucap Hafidz lagi.
Tante Sita tampak terkejut mendengar ucapan Hafidz, tak menyangka suaminya itu begitu baik dengan dirinya dan Revan. Padahal Revan bukan anak kandungnya, bahkan dia sengaja memanfaatkan Revan untuk tujuannya.
__ADS_1
"Tante masih enggak mau kasih tahu, apa alasan Tante melakukan itu semua sama Mama?" tanya Hafidz setelah cukup lama keduanya terdiam dengan pemikiran masing-masing.
Tante Sita menghela nafas, "Aku benci sama dia. Sejak kecil Mama selalu memenuhi semua permintaan Sinta, Mama melupakan aku. Seakan anak Mama hanya Sinta dan Sinta. Awalnya tak masalah buatku, tapi lama kelamaan rasanya semakin sakit," ucapnya mulai bercerita.
"Hanya karena itu? Mungkin Tante saja yang merasakan seperti itu, tak mungkin almarhum Nenek melakukan itu sama Tante," sanggah Hafidz.
"Itu baru permulaan, Sinta kuliah juga di luar negeri. Saat aku meminta kuliah di luar, Mama menolak dengan alasan jika aku tak bisa menahan diri di sana," Tante menghela nafas sejenak.
"Memang Kakak ku itu jenius, dia bisa menguasai beberapa bahasa. Bahkan lulus kuliah saja dinobatkan sebagai lulusan termuda, bahkan sampai dia kuliah S2 juga dinobatkan sebagai lulusan termuda. Tapi setidaknya meskipun aku tak sepandai dia, aku juga ingin seperti dia, kuliah di luar negeri, tapi kenapa Mama tak mengijinkan?" Tante Sita nampak sedikit kesal saat mengatakan hal itu.
"Mereka mungkin khawatir sama Tante," sahut Hafidz.
Tante Sita menggeleng, "Mereka memang tak menganggap ku ada," ucapnya.
"Aku semakin kesal saat dia menikah sama Papa kamu. Padahal aku yang mengenalnya lebih dulu, bahkan Papa mengatakan ingin menjodohkanku dengan dia, tapi ternyata Papa mu justru memilih dia yang baru saja dilihatnya untuk pertama kali saat akan lamaran. Siapa yang tidak sakit dengan semua itu? Kamu saja pasti akan melakukan hal yang sama, bukan?" Tante Sita menatap Hafidz tajam.
Hafidz mengangguk, dia mengerti sekarang. Kenapa Tante Sita begitu membenci Mama, bahkan tega menghancurkan kehidupan Mama yang bahagia.
"Yang membuat aku makin yakin untuk menghancurkan kebahagiaan kalian adalah karena kehadiran kami sebagai cucu laki-laki pertama di kelurga Papa. Sebab, Papa mengatakan akan menyerahkan semua warisannya pada cucu laki-laki pertama, entah itu bercanda atau bukan. Saat itu aku menanggapinya dengan serius. Itu alasan aku membuang mu,"
Kejujuran Tante Sita membuatnya sedikit terkejut. Tidak mungkin kan jika kakak akan melakukan hal itu, mungkin itu hanya bercandaan belaka.
__ADS_1
Bersambung....
🍁🍁🍁