Langit Bumi

Langit Bumi
BAB 46


__ADS_3

Hari ini benar-benar membuat seorang Renaldy yang biasanya selalu ambisius penuh semangat, kini terlihat tak berdaya. Bahkan dia memilih menyendiri di dalam ruang kerjanya, merenungi semua yang telah terjadi dimasa lalu, bersama istri dan anak-anaknya. Dia pantas mendapatkan balasan seperti ini, sebab pernah menyia-nyiakan seseorang yang begitu berharga.


Sama halnya dengan Revan, remaja itu pun memilih untuk menyendiri di dalam kamar. Tak tega melihat sang Papa yang terlihat rapuh hari ini, tapi dia harus mengatakan hal itu bukan? Sebab Papa memang harus tahu kebenarannya.


Sore hari menjelang ashar, Revan memilih untuk pergi ke luar rumah sebentar, berkumpul dengan teman-temannya. Mungkin dengan begitu, dia akan sedikit mendapatkan hiburan dari sahabatnya.


"Revan! Mau kemana?" suara yang tak asing baginya, dia pun menoleh ke arah sumber suara, dimana Gita berdiri di perbatasan ruang tamu dan ruang keluarga.


"Kak Gita? Kapan datang?" tanyanya pada gadis itu, dia langsung memeluk Gita, menyalurkan rasa rindu yang dia rasa.


Gita terkekeh melihat tingkah Revan yang seperti anak kecil, ah Gita memang menganggap Revan seperti adik kecilnya dulu. Masih sama seperti dulu, meskipun kini tinggi tubuh Revan hampir melebihi dirinya.


"Kangen ya? Kakak juga kangen. Baru aja masuk, tapi kok sepi, pada kemana?" Gita membalas pelukan Revan, lalu dia melepaskannya sambil melihat sekeliling, mencari penghuni rumah itu.


"Kak Hafidz pergi ke rumah temannya, kalau Papa ada di ruang kerja," jawab Revan.


Remaja itu terus menatap Gita yang kini berjalan ke arah dapur. Perlakuan Gita terhadapnya tak berbeda meskipun dia anak wanita yang telah membuat keluarga mereka hancur, tapi apakah Gita akan tetap memberlakukan Revan seperti itu saat gadis itu mengetahui siapa sebenarnya dirinya. Tak sanggup jika Gita menjauhinya, sebab selama ini hanya Gita yang selalu mengerti dirinya. Bahkan sang Mama tak pernah mengerti dirinya, bisanya hanya mengatur dan mengatur saja, tak mempedulikan perasaannya.


"Van! Kok bengong? Enggak jadi pergi?" tanya Gita yang entah sejak kapan sudah kembali ke ruang keluarga, dengan membawa secangkir jus ditangannya.


"Eh, iya Kak. Ini mau pergi," jawabnya terlihat gugup.

__ADS_1


"Hati-hati bawa motornya, jangan ngebut," pesan Gita dan diangguki oleh Revan.


"Oh iya Kak, tolong temua Papa di ruang kerja ya. Mungkin Papa butuh batuan Kak Gita. Kalo gitu aku pergi ya." Revan langsung pergi begitu saja tanpa menunggu respon Gita, dia takut Gita bertanya sesuatu padanya.


Sepeninggal Revan, Gita bergegas menuju ruang kerja sang Papa, penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Mengetuk pintu ruangan tersebut, tapi tak ada jawaban dari dalam. Dia pun langsung masuk ke dalam tanpa menunggu persetujuan.


Terkejut saat melihat ruang kerja Papa yang biasanya rapi kini justru terlihat seperti kapal pecah. Kertas berserakan dimana-mana, bahkan tumpahan kopi melengkapi kekacauan itu, untung saja gelas yang sepertinya sengaja dilempar tak pecah sedikit pun, hanya tergeletak ditengah tumpukan kertas berserakan itu.


Perasaannya makin tak enak, tak pernah sekalipun dia melihat sang Papa begitu hancur. Entah apa sebenarnya yang terjadi, hingga Papa bisa sekacau ini. Melihat sekeliling, tak ada Papa di sana, tapi dia menemukan foto keluarga yang sudah menjadi beberapakali bagian sebab sengaja disobak. Hanya menyisakan foto dirinya dan Revan, sedangkan foto Papa dan Mama Sita sudah tak terlihat bentuknya.


Cukup lama berada di ruang kerja Papa, hingga dia tersadar jika sang Papa tak ada disana. Akhirnya dia keluar dan menuju kamar Papa. Mengetuk pintu kamar tersebut, dan setelah dipersilakan dia pun segera masuk.


"Pa?" Gita terkejut mendapati sang Papa yang terlihat kacau, bahkan kamar ini pun berantakan, tapi tak separah ruang kerja tadi.


Mau semarah apapun terhadap Papa, Gita tetap tak tega melihat lelaki itu terpuruk seperti ini. Sebab selama ini sang Papa yang selalu ada untuknya di saat apa pun, meskipun tak jarang meninggalkannya seorang diri di rumah hanya bersama Revan.


Gita memeluk sang Papa erat, mencoba memberi kekuatan pada Papa. "Aku tahu Papa sedang tidak baik-baik saja. Jangan simpan sendiri, bicaralah dengan Gita Pa. Seandainya Gita tak bis memberi solusi, setidaknya Papa akan sedikit lega, karena sudah berbagi cerita dengan ku," ucap gadis itu, seakan mengetahui permasalahan yang dihadapi oleh sang Papa.


Papa melepaskan pelukannya, "Papa hanya butuh ketenangan," kilah sang Papa.


"Jangan bohong Pa, aku tahu seperti apa Papa. Jadi jangan pernah berbohong sama anak gadis mu ini," sambung Gita.

__ADS_1


Papa mengangguk, dia sadar tak bisa menyembunyikan masalah ini dengan Gita. Putrinya itu juga harus tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan Papa pun menceritakan apa yang terjadi hari ini, mulai dari kenyataan pahit jika ternyata Revan bukan anak kandungnya, dan juga perusahaan Sita yang diambang kehancuran. Tapi yang Papa sesali bukan itu, melainkan karena telah menyia-nyiakan wanita berhati mulia seperti Sinta. Bahkan dia dengan sengaja menghancurkan keluarga bahagianya, hanya karena termakan ucapan Sita.


Gita memeluk sang Papa, dia juga terkejut dengan kenyataan ini. Tapi tentu saja tak seterkejut Papa yang baru mengetahui sifat Tante Sita. Gita jadi teringat dengan perselingkuhan Tante Sita. Menimbang, apakah dia harus memberitahu Papa atau tidak? Akhirnya Gita pun memberitahu tentang perselingkuhan itu pada sang Papa, setelah cukup lama berfikir.


"Sebelumnya aku mau minta maaf sama Papa, karena baru sekarang memberitahu hal ini. Awalnya aku tidak akan memberitahu, tapi setelah mendengar cerita Papa, sebaiknya Papa juga harus mengetahui hal ini," ucap Gita, setelah sang Papa sedikit tenang.


"Hal apa yang ingin kamu sampaikan?" tanya Papa.


"Maaf Pa, aku beberapa kali melihat Tante Sita jalan sama seorang laki-laki, pertama mereka ke hotel, dan kedua kalinya aku melihat mereka ke apartemen laki-laki itu. Biar aku kasih videonya. Aku mengatakan ini supaya Papa tahu, karena aku tak mau menyimpan ini sendiri." Gita mencari video rekaman Tante Sita bersama Dokter Adrian.


"Apa mungkin itu Papanya Revan?" tanya Gita.


Papa hanya menggeleng, fokus dengan video Sita dengan seorang laki-laki itu yang terlihat mesra bak sepasang kekasih atau suami istri.


"Papa yang sabar ya, aku yakin dibalik semua ini akan ada hikmahnya. Berdoa semoga Tante Sita berubah setelah keluar dari penjara nantinya. Papa harus kuat, Papa masih punya aku dan Bang Hafidz. Kami akan siap membantu Papa," ucap Gita.


Papa mengangguk, "Makasih Nak, ini benar-benar balasan dari Yang Maha Kuasa. Insyaallah Papa ikhlas menerima semua ini, meskipun sakit. Tapi sakitnya Papa sekarang, tak ada bandingannya sedikit pun dengan rasa sakit yang Mama kalian rasakan karena kebodohan Papa, jadi biarlah Papa menikmati rasa sakit ini," ucap Papa lirih.


Penyesalan memang selalu datang terakhir. Tapi tak boleh kita terlalu larut dalam penyesalan itu. Kita harus tetap bangkit kembali, tak boleh terlalu larut dalam kubangan penyesalan masa lalu.


Bersambung ....

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁


__ADS_2