Langit-Langit Angan

Langit-Langit Angan
Mengalah untuk Melawan


__ADS_3

Tak banyak cinta dalam hidupku. Hari-hari yang ku jalani sedari dulu hingga kini, yang ku kira sudah tepat seperti semestinya. Ternyata jauh dari kata bahagia yang ku rasa.


"Tok tok tok! Assalamualaikum," salam Faiq diminggu pagi.


"Waalaikumsalam," jawabku berjalan membuka pintu.


"Nih HP baru tapi ala kadarnya. Bisalah buat download WA," ucap Fa'iq menyodorkan HP yang masih dalam boxnya.


"Makasih bro. Nanti gua gantiin duitnya," jawabku menerima.


"Nih kopi bro!" tawarku.


"Boleh bro," jawab Fa'iq meniyakan.


Kita pun ngopi dibalkon kontrakkan ku.


"Kemarin sore ribut digroup Pak Dirut nanyain lu, tapi udah gua jelasin kalo HP lu kecopetan," tutur Fa'iq memberi tahu.


"Rencana lu kedepan gimana?" imbuh Fa'iq menanyakan lagkah selanjutnya.


"Gua udah ga bisa apa-apa lagi bro. Bukti yang udah gua dapet diHP malah kena copet. Mungkin emang ini jalan takdir yang harus gua terima," jawabku pasrah.


"Jadi lu mau nikah sama Bu Gita?" tanya Fa'iq mempertegas.


"Dari pada gua dipenjara," ucapku.


Setelah mengaktifkan HP baru. Aku meminta izin untuk menelpon orang tua.


"Sebentar bro gua telpon ortu dulu," izin ku dengan membiarkan Fa'iq ngopi.


"Lu mau ngabarin keluarga kalo lu mau nikah sama Bu Gita?" tanya Fa'iq.


"Lu ga mau coba cari cara lagi biar kebenaran terungkap?" imbuh Fa'iq membujuk.


"Gimana lagi bro caranya?" ujarku yang semakin stress dengan keadaan hidup.

__ADS_1


"Gimana kalo lu pura-pura sudah nerima dia. Terus lu akrabin dia. Maen kerumah dia, terus diem-diem ambil DVR cctvnya," usul Fa'iq.


"Lu yakin kalo DVR itu masih ada dan belum ganti?" tanyaku menanggapi usulan Fa'iq.


"Yakin ga yakin daripada cuma pasrah sama keadaan dan ga ada usaha," tutur Fa'iq yang aku pikir benar juga.


Setelah sepakat dengan usulan Fa'iq mengambil DVR cctv untuk mengungkap kebenaran. Aku dan Fa'iq mulai menyusun rencana. Aku pun mengurungkan niatan untuk mengabari kedua orang tuaku.


Obrolan dibalkon kontrakan tidak terasa menyita banyak waktu. Setelah jam di HP menunjukan pukul 13.30 Fa'iq izin pulang. Aku yang sendiri dikontrakan hanya terdiam dan berharap Via datang.


Aku sudah disini Via. Ditempat yang menyerupai surga. Tidak ada siapa-siapa selain aku. Kenapa kamu tak kunjung menampakan diri. Kenapa peristiwa diduniaku berimbas ke hatimu. Via kamu harus tahu, sejujurnya aku pun tak menginginkan hal ini terjadi. "Kemarilah Via peluk aku," teriakku didunia antah berantah yang cuma aku dan Via yang tahu tempatnya. Setelah lama ditempat ini aku tidak lagi menemukan Via. Mungkin dia lenyap bersama nuraniku. Mungkin dia hilang senada perasaanku.


Hari mulai gelap. Dipinggiran ibukota, tepatnya dikontrakan kecil yang menyerupai kandang kambing. Aku menyadarkan diri lamunan yang sedari siang aku lantunkan.


Untuk sebatas memberi kabar aku memutuskan untuk menelpon ibu.


"Tuuut tuut tuuut!" panggilan WA terhubung.


"Halo, Assalamualaikum. Maaf dengan siapa?" jawab Ibu yang belum tau nomer baruku.


"Kenapa ganti nomer Nak? Pantes dari kemarin Ibu Bapak sama Adekmu nelpon ga terhubung," tanya Ibu.


"Kemarin Hans naik angkot Bu terus pas turun HP sama dompet udah ga ada. Kayanya dicopet diangkot," ucapku menjelaskan.


"Innalillahi. Kok bisa?" ujar Ibu menanyakan.


"Ga tau Bu, lagi apes mungkin Bu. Ini aja Hans belum urus kartu-kartu yang ilang," kataku.


"Yaudah minta izin aja untuk pulang ke Malang," usul Ibu.


"Iya Bu nanti Hans pulang," jawabku.


Obrolan dengan orang tua berlangsung lama. Dengan tetap menyembunyikan masalah yang sebenarnya. Aku tidak sampai hati menjelaskan apa yang sedang aku alami diperantauan. Mendengar Ibu Bapak sesekali bercanda bahagia. Anak macam apa aku ini mencemarkan nama baik kedua orang tuaku. Kalau aku menikahi Bu Gita atas dasar tanggung jawab dari anak yang Bu Gita kandung. Walaupun itu bukan darah dagingku.


Kesedihan semakin memuncak. Tatkala telpon dengan keluarga dirumah disudahi. Rasanya ingin menjadi anak kecil lagi, yang hanya tau bermain, meminta uang jajan. Tanpa mengenal waktu. Ujian dan cobaan yang aku hadapi sekarang terlalu berat aku rasakan. Ya Tuhan pemegang kehidupan rangkul lah aku sehingga aku kuat melewati ini.

__ADS_1


Malam ini sesuai rencana yang sudah aku sama Fa'iq susun. Yaitu bersikap baik dengan Bu Gita. Aku pun mengawalinya dengan membuka obrolan melalui WA.


[ Assalamualaikum. Bu Gita ini nomer Hans yang baru, nomer yang lama hapus aja, soalnya usah ilang sama HP-HPnya ] pesanku memulai obrolan.


Tidak terpaut waktu yang lama, Bu Gita membalas pesanku.


[ Waalaikumsalam. Iya kemarin si Fa'iq udah ngasih tau digroup kantor. Oh ya jangan panggil Bu lagi, Toh kamu lebih tua setahun dari aku ] balas Bu Gita.


[ Besok masuk kerja ga Git? ] tanyaku


[ Tergantung, kalo kamu yang minta aku masuk ] jawab Bu Gita.


[ Kalo bisa sih masuk Git. Aku juga pengen ngobrol ] ucapku dipesan WA.


[ Yaudah kalo gitu besok masuk. Aku jemput kamu ya ] balas Bu Gita sembari menawarkan tumpangan besok berangkat kerja bareng.


[ Oke Git nanti kabarin ] jawabku bermaksud menyudahi obrolan.


[ Maksud aku ngelarang kamu jangan panggil Bu lagi. Biar kamu bisa panggil yang lain. Apa kek yang ngegambarin bahasa sayang ] ungkap Bu Gita.


[ Emangnya aku harus panggil kamu apa? ] jawabku meski dengan perasaan terpaksa.


[ Honey atau sayang atau baby gitu ] balas Bu Gita memberi opsi.


[ Harus gitu ya? ] tanyaku.


[ Iya dong. Biar semua orang tau kalo kamu calon suami aku] balas Bu Gita.


[ Oke kalo gitu. Tapi maaf kalo misal nanti kelupaan soalnya belum terbiasa ] balasku.


"Aku masih tak tahu alasan Bu Gita bersikap seolah-olah tulus sayang sama aku. Toh pada kenyataannya dia menjalin hubungan dengan Pak Dirut. Kalau untuk menutupi aib atas kehamilan diluar pernikahan, masih masuk akal karena aku yakin Pak Dirut tidak akan bisa bertanggung jawab atas perbuatannya ke Bu Gita. Tak lain karena Pak Dirut sudah memiliki istri dan tiga anak. Terus yang membingungkan kenapa Bu Gita tega menunjuk aku sebagai ayah dari anak yang dia kandung. Nurani seorang ibu dimana tatkala anak yang dilahirkannya nanti, diasuh oleh ayah yang tidak memiliki hubungan darah sama anaknya" gumamku dalam hati. Masih menelisik yang menjadi motiv Bu Gita dan Pak Dirut.


Malam ini ditutup dengan aku yang terlelap setelah membayangkan hari esok mulai bertatap muka dan bersikap baik dengan Bu Gita. Seolah-olah aku sudah menerima untuk menikah dengan Bu Gita.


Memang dunia ini pelik. Masalah yang timbul pun rumit. Aku berharap tiada menemukan batas sabarku. Yang mungkin mengarahkanku untuk mengakhiri hidupku. Semoga sabarku tak berbatas hingga aku melewati semua ini dengan tuntas.

__ADS_1


__ADS_2