Langit-Langit Angan

Langit-Langit Angan
Fitnah yang Menghujam


__ADS_3

Yang tak ku duga terjadi, kini aku alami. Ujian hidup yang aku kira segan terhadapku, nyatanya bertubi-tubi menimpaku. Aku terkapar dipaksa nasib menghidup aroma kesengsaraan. Aku terlempar dari panggung dunia yang nyata tiada pemirsanya.


Dikantin kantor emosiku hampir tak terbendung lagi. Tatkala Fa'iq menceritakan penyebab semua orang menuduhku.


"Bro, lu sama Bu Gita sebenernya ada hubungan apa?" tanya Fa'iq.


"Maksud lu gua pacaran gitu sama Bu Gita?" jawabku yang bertanya balik.


"Bu Gita beneran hamil bro," ucap Fa'iq memberi tahu.


"Awal mulanya berita ini dari Genie. Katanya, Bu Gita cerita soal kehamilannya yang tanpa suami," tutur Fa'iq menjelaskan.


"Ya Tuhan, jadi semua orang kantor bersikap aneh ke gua karena gua dituduh sebagai ayah dari anak yang dikandung Bu Gita?" tanyaku dengan perasaan emosi.


"Bener bro, orang-orang kantor percaya kabar itu. Hanya gara-gara mereka pernah lihat foto lu sama Bu Gita distory Bu Gita waktu dikafe, lu masih inget kan?" tutur Fa'iq dengan raut muka yang tidak percaya gosip yang beredar.


"Coba ceritain apa yang Genie sebar dikantor!" pintaku ke Fa'iq mencoba menenangkan diri.


"Semalem abis Isya, Genie nelpon gua bro. Awalnya ngasih tau kalo Bu Gita mau ngajuin resign. Abis itu Genie nanya hubungan Bu Gita sama lu apa? Gua jawab setau gua aja, kalo lu tuh gada hubungan spesial sama Bu Gita. Terus Genie ngasih tau gua, katanya Bu Gita abis curhat sama dia. Kata Bu Gita, dia emang lagi hamil dan ayah dari anak itu kata Bu Gita elu," terang Fa'iq dengan mimik wajah yang masih berharap semuanya tak benar.


"Bukan gua ayah dari anak yang Bu Gita kandung," ucapku lirih sembari meremas rambutku dengan kedua tanganku.


Sedikitpun tak pernah aku bayangkan, peristiwa seperti ini akan aku alami. Tuhan, dosa apa yang sudah aku lakukan? Sehingga ujian yang Engkau berikan begitu melelahkan.


"Tiktuk!" pesan WA berbunyi dari HP ku dan HP Fa'iq secara bersamaan. Yang kemungkinan besar pesan dari group kantor. Dan benar, setelah aku buka WA ada pesan dari Pak Dirut.


[ Saya sudah sering sampaikan. Saya tidak akan mencampuri urusan asmara yang terjalin antar karyawan. Tapi saya tidak mau ada kegaduhan yang mengganggu pekerjaan ] kutip Pak Dirut di group WA.


[ Hans, saya tunggu diruangan saya sekarang! ] imbuh Pak Dirut dipesan WA menandai namaku.

__ADS_1


Fa'iq mengantarku masuk kantor untuk menemui Pak Dirut. Dengan perasaan yang tidak karuan, aku berjalan ke lift lalu menuju ke ruangan Pak Dirut yang berada dilantai empat. Pintu lift terbuka, banyak orang disepanjang lorong menuju ruangan Pak Dirut. Mereka bersorak ramai.


"Huuu mau enaknya aja," seru salah satu suara.


"Pantes ga nikah-nikah, ternyata jadi peliharaan janda," seru suara lainnya.


"Janda selalu istimewah," sorakkan lainnya.


Disepanjang lorong dari lift menuju ruangan Pak Dirut terasa sangat jauh. Padahal hanya berjarak kurang lebih sepuluh meter. Langkahku mulai gemetaran, sebab menerima hukuman sosial. Yang jelas mereka tak tahu kebenaran. Hanya Fa'iq yang berjalan disampingku, mengantarku dan sesekali menenangkanku. Agar tidak mendengarkan suara-suara sumbang dan fitnah kejam yang mereka lontarkan. Dengan mental yang down akhirnya aku sampai didepan pintu ruangan Pak Dirut.


"Tok tok tok! Assalamualaikum," salam ku mengetuk pintu ruangan Pak Dirut.


"Waalaikumsalam, masuk!" suruh suara besar dari balik pintu.


Aku pun masuk tanpa ditemani Fa'iq.


"Duduk!" perintah Pak Dirut.


"Sebelumnya saya minta maaf Pak, tapi saya berani jamin bahwasanya gosip yang beredar itu fitnah Pak," tuturku membela diri.


"Sekarang kamu ngomong kalo berita ini fitnah apa buktinya?" tanya Pak Dirut dengan nada geram.


"Logikanya, seorang wanita hamil pasti tau itu benih siapa. Dia berhubungan ranjang dengan siapa. Dan Gita bilang kamu orangnya," tambah Pak Dirut yang semakin memojokanku.


Aku yang belum bisa membuktikan apa-apa semakin tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Pak Dirut.


"Saya memang belum bisa membuktikan apa-apa Pak, tapi saya yakin kebenaran pasti terungkap. Yang jelas demi apa pun saya berani bersumpah. Saya tidak pernah melakukan hubungan ranjang sama Bu Gita," ucapku penuh ketulusan.


Pak Dirut sempat diam sesaat sembari bersandar dikursinya. Kemudian Pak Dirut mengambil hp dimeja dan terlihat seperti menelpon. Benar saja Pak Dirut menelpon Bu Gita.

__ADS_1


"Tuuut tuuut tuuut!" panggilan WA Pak Dirut ke Bu Gita berdering, dengan mode lost speaker.


"Halo Pak," jawab Bu Gita.


"Halo Git, apa yang kamu mau dari ayahnya anakmu? Asal kamu ga resign dari perkerjaanmu" ucap Pak Dirut negosiasi dengan Bu Gita.


"Saya pengen Hans tanggung jawab dan menikahi saya Pak," pinta Bu Gita yang aku juga mendengarnya.


"Yasudah tunggu kabar dari saya," ucap Pak Dirut menutup telponnya.


"Kamu sudah dengar? Memang baiknya kamu nikahi Gita. Selain kamu ayah dari anak yang dia kandung, Gita juga wanita yang hebat dalam bekerja. Terbukti dari sejak awal dia bergabung di perusahaan saya. Dia mencontohkan leadership yang handal. Dan pekerjaan yang dia pegang semuanya beres," tutur Pak Dirut mendorongku bertanggung jawab atas apa yang tidak aku perbuat.


"Tiktuk!" pesan WA berbunyi di HP Pak Dirut. Pak Dirut mengambil kaca matanya yang berada dimeja kerjanya. Kemudian membuka pesan itu. Pak Dirut seperti sedang menonton video.


"Nih Gita ngirim rekaman cctv yang ada kamu dirumahnya," kata Pak Dirut yang menyodorkan hpnya.


"Alhamdulillah ada bukti kalo aku tidak berbuat apa-apa dirumah Bu Gita. Tapi kenapa malah Bu Gita sebarin rekaman cctv nya," gumamku dalam hati keheranan.


"Mana Pak coba saya lihat" pintaku ke Pak Dirut.


Dengan perasaan gugup aku menonton rekaman cctv dirumah Bu Gita. Dan benar seperti dugaanku. Bu Gita memotong videonya. Terlihat direkaman cctv yang hanya tujuh detik. Aku duduk disofa dan Bu Gita memelukku dari belakang.


"Mau ngelak apa lagi kamu Hans?" ucap Pak Dirut sembari mengambil HP dihadapanku.


"Videonya dipotong Pak. Memang benar setelah Bu Gita menawarkan wine, dia memelukku dari belakang dan mengajak untuk berhubungan intim. Tapi aku menolak Pak sambil melepaskan pelukan Bu Gita," terangku coba menjelaskan fakta yang terjadi dirumah Bu Gita.


"Hahahaha kamu ada-ada aja Hans. Berduaan dengan wanita molek macam Bu Gita, yang sudah menggunakan piyama kaya gitu, terus kamu nolak berhubungan intim?" jawab Pak Dirut yang sedikitpun tidak mengindahkan penjelasanku.


"Sudahlah, kalo kamu berani berbuat, kamu harus berani bertanggung jawab. Kalo ga, saya akan backup Gita buat penjarain kamu," tegas Pak Dirut bernada mengancam.

__ADS_1


Berkata jujur pun tidak ada nilainya, dimata orang-orang yang hanya memikirkan harta dunia. Yang aku sayangkan takdir tak pernah jemu menghujamku dengan coba-cobaan itu.


__ADS_2