
Keputusan seringkali menjadi hal yang berat untuk diambil. Dengan atau tanpa akibat yang kita ketahui dari keputusan yang kita pilih. Peranan yang bijak saja yang mampu dengan mudah melakukan itu. Bagiku tak bisa dianggap hal sepele.
Aku, Fa'iq dan Bu Gita adalah gambaran manusia biasa, manusia lemah yang sering kehilangan pandangan tatkala harus memutuskan pilihan yang tepat.
Siang ini dikantin kantor aku, Fa'iq dan Mak Lampir masih dengan situasi yang tegang. Membaca pesan WA yang dikirim si Tua Mesum ke Mak Lampir.
[ Kamu harus tekan Hans biar cepat nikahin kamu, jangan lagi mununda-nunda. Dan ingat jangan sampe masalah ini bocor ke siapa pun. Kamu harus cepat nikah sama Hans. Kalo kamu ga mau masuk penjara ]
Aku yang semakin geram membaca pesan tersebut. Semakin ingin membongkar semuanya. Biar si Tua Mesum menanggung akibatnya. Fa'iq yang melihat ekspresiku setelah membaca pesan itu, terlihat penasaran. Karena ada Mak Lampir dia pun tidak berani ikut membaca, melainkan pamit untuk masuk kantor.
"Bro dan Bu Gita, saya izin masuk duluan ya," izin Fa'iq meninggalkan aku dan Mak Lampir.
"Oke bro," jawabku singkat.
"Iya silahkan," jawab Mak Lampir.
Aku yang diam menyusun rencana terkejutkan celotekan Mak Lampir.
"Jadi gimana rencana kita?" tanya Mak lampir mengejutkan.
"Astagfirullah, ngagetin aja," jawabku.
"Hahahaha, kamu ngelamun?" tanya Mak Lampir sedikit tertawa.
"Engga ngelamun tapi mikir," jawabku meneruskan berfikir.
"Ada hasilnya?" kembali Mak Lampir bertanya.
"Belum," jawabku kesal.
"Kamu koq malah ketawa terus?" imbuhku kesal.
"Ternyata kamu orangnya lucu ya," jawab Mak Lampir memuji.
"Mendingan bantu mikirin caranya," ujarku.
"Iya siap bos, mikir nih," jawab Mak Lampir masih dengan nada bercanda.
Karena dua kepala yang berfikir belum mendapatkan hasil. Untuk mengalahkan ancaman Pa Dirut. Kita pun memutuskan untuk melanjutkan berfikir sepulang kerja. Aku dan Mak Lampir berjalan ke kantor dari kantin, untuk melanjutkan kerja.
Beberapa saat kemudian aku yang baru saja membuka laptop diberitahu Sindi.
"Shuuuttt, dipanggil Bu Bos lu," ucap Sindi yang baru turun dari lantai atas.
"Iya aku kesana," jawabku singkat.
Memastikan info dari Sindi, aku chatt Mak Lampir.
[ Kata sindi kamu manggil aku? ] pesan WA ke Mak Lampir.
[ Iya keruanganku ] balas Mak Lampir.
Aku menutup laptop kembali dan bergegas ke lantai atas. Karena lantai ruangan kerjaku dan Mak Lampir terpaut satu lantai.
"Tok tok tok! Assalamualaikum," salamku sembari mengetuk pintu ruangan Mak Lampir.
__ADS_1
"Waalaikumsalam. Silahkan masuk," jawab Mak Lmapir dari dalam.
Setelah masuk dan duduk dihadapan ibu manager, aku pun menanyakan maksud dari memanggilku.
"Gimana Bu ada yang bisa saya bantu?" tanyaku.
"Aku mau bahas soal PO yang masuk hari ini," jawab Mak Lampir
"Oh ya Bu itu dari PT. Jaya Mandiri, kontraktor yang lagi bangun hotel dideket bandara," tuturku menjelaskan.
"Kamu nyaman panggil aku Bu?" tanya Mak Lampir denga raut yang sedih.
"Lagi disituasi kerja kalo ga panggil Bu dikira ga sopan ga hormat," jawabku ingin profesional.
"Emang kamu mau aku panggil Mak Lampir?" tanyaku bermaksud menghibur.
"Kok Mak Lampir?" seru Mak Lampir bertanya balik.
"Nih liat dikontakku aku kasih nama kamu apa," jawabku menyodorkan HP memperlihatkan nama Bu Gita dikontakku.
"Ihhh jahat banget masa dinamain Mak Lampir. Emang aku seserem itu apa," protes Mak Lampir dengan senyum kesal.
"Mirip," imbuhku singkat.
"Ihh nyebelin banget kamu tuh ya," seru Mak Lampir kesal manja yang juga melemparkan pulpen ke arahku.
Dengan tertawa aku menghindar lemparan pulpen Mak Lampi. Mak Lampir pun ikut tertawa. Begitulah keseruan-keseruan yang perlahan terjalin antara aku dan Mak Lampir.
"Sudah ah kerja jangan becanda mulu," usulku yang masih menahan tawa.
"Kalo DP masuk barang kita kirim aja Bu" jawabku memberi usul.
"Untuk pelunasannya?" tanya Mak Lampir.
"Biasanya setelah instalasi barang dilokasi Bu," jawabku menjelaskan.
"Oke kalo gitu, makasih tetap semangat dan dapetin banyak project," jawab Mak Lampir menyemangati.
"Oke Bu siap, aku balik keruangan," jawabku pamit.
"Iya, jangan lupa pulang bareng," jawab Mak Lampir sekaligus mengingatkan.
"Oke Bu, Assalamualaikum," salamku pamit.
"Waalaikumsalam," jawab Mak Lampir.
Sesampainya diruangku Fa'iq dengan nada berbisik bertanya.
"Bro, jadi apa isi pesan Mak Lampir dari Pak Dirut?" tanya Fa'iq yang kelewat penasaran.
"Intinya nyuruh Mak Lampir buat menekanku biar cepet nikahin Mak Lampir," jawbaku lirih.
"Oh gitu, terus rencanamu apa kedepan?" tanya Fa'iq.
"Belum tau, bantu cari cara dong," pintaku masih dengan nada berbisik.
__ADS_1
"Oke bro ntar gua pikirin," jawab Fa'iq menyanggupi membantuku.
Kita melanjutkan kerja masing-masing. Dengan kesibukan masing-masing. Dan porsi kerja masing-masing.
Sesekali aku melamun memikirkan cara untuk membalas perlakukan Pka Dirur kepadaku dan kepada Mak Lampir. "Kayaknya harus mematahkan ancaman Pak Dirut ke Mak Lampir terlebih dahulu. Karena itu yang menjadi senjata Pak Dirut semenah-menah ke Mak Lampir. Tapi gimana caranya balikin duit sebar itu?" gumamku dalam hati disela waktu kerjaku.
Kadang muncul keegoisan untuk tidak ikut campur lagi. Toh Pak Dirut sudah tidak bisa mengancamku karena aku sudah tahu kebenaran dari Mak Lampir. Tapi kasihan Mak Lampir kalo harus menanggung semuanya sendirian. Tapi kenapa aku harus kasihan kan Mak Lampir bukan siapa-siapaku. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan dalam benakku. Banyak pula pilihan langkah menawarkanku. Namun nurani berkecamuk karena aku sudah mengambil peran sejauh ini, aku harus melanjutkannya hingga akhir.
Tidak terasa jam menunjukan pukul 15.30, aku yang sedari tadi melamun didepan laptop memutuskan bersiap-siap untuk pulang.
"Turun yuk," ajak aku kepada Fa'iq yang juga sudah mulai membereskan meja kerja.
"Ayuk," jawab Fa'iq singkat.
Kita berjalan menuju loby kantor sembari berbincang ringan.
"Gua belum ketemu cara bro," tutur Fa'iq.
"Gua udah bro, tapi agak imposible," ucapku sesampainya diloby kantor.
"Kring kring" HPku berdering tanda panggilan masuk.
"Halo Assalamualaikum" sapaku angkat telpon.
"Waalaikumsalam. Udah dimana?" tanya Mak Lampir.
"Udah diloby nunggu jam pulang," jawabku.
"Oke aku kesitu, Assalamualaikum," ucap Mak Lampir sembari menutup telpon.
"Waalaikumsalam," jawabku menutup telpon.
Fa'iq yang sedari tadi disampingku bertanya.
"Mak Lampir?" tanya Fa'iq.
"Iya dia baru mau turun," jawabku memberi tahu.
"Yaudah kalo gitu gua jalan duluan. Ntar kasih tau rencanamu," tutur Fa'iq meminta sembari pamit.
"Siapp bro. Yaudah ttdj," jawabku siangkat.
Tidak lama dari kepergian Fa'iq, Mak Lampir pun muncul dengan raut muka yang lesu. Kita berjalan ke arah parkiran. Kemudian masuk mobil Mak Lampir. Didalam mobil raut muka Mak Lampir masih murung. Aku coba mencairkan suasana.
"Dibelokan depan kita ambil arah lurus aja muter sedikit. Daripada belok biasanya ada polisi. Aku takut kena tilang mukamu lagi jelek banget gitu," tuturku sedikit tersenyum.
"Ga usah kumat," jawab Mak Lampir mulai sedikit tersenyum.
"Aku mampir ke kontrakanmu ya?" imbuh Mak Lampir.
"Mau ngapain?" tanyaku.
"Pengen aja," jawab Mak Lampir.
Melihat Mak Lampir yang kekeh aku tidak bisa menolak. Disisi lain aku juga takut karna Mak Lampir mulai aneh-aneh lagi.
__ADS_1