
Seperti hujan yang mengguyur bumi dimusim kemarau terik. Yang sebelumnya dahaga akan cinta kini tenggelam didalam nestapa cinta. Apakah salah doa yang kupanjatkan? Apakah salah cara hidupku didunia? Hingga kini yang ku anggap tempat untuk menepi. Harus terusir kembali dan berlayar lagi.
Dibangunan yang orang bilang rumah Tuhan. Aku panjatkan doa hingga air mata berlinang. Selalu khawatir dengan masa yang akan datang. Akankah membaik atau memburuk.
Safira yang menungguku didepan masjid, terlihat seperti menelpon seseorang. Aku bergegas menghampirinya. Yang kemudian telpon diakhiri Safira dengan raut muka yang terlihat murka.
"Siapa?" tanyaku sembari mengenakan sepatu dipelantara masjid.
"Ayah," jawab Safira.
"Terus?" tanyaku.
"Mamah mau lapor polisi kalo aku ga pulang," tutur Safira.
"Yaudah yuk pulang aku antar," tawarku kepada Safira.
"Aku ga mau, aku pengen ikut kamu aja kemana pun kamu pergi," jawab Safira memelas dengan air mata yang masih sesekali berlinang.
"Safira dengerin aku, aku liat dan mendengar kamu belain aku didepan keluargamu sendiri, bagi aku udah cukup banget, dari itu juga aku percaya kamu tulus sayang sama aku. Tapi kita ga boleh egois dan memaksakan kehendak kita. Kali ini dengerin orang tua yang udah susah payah merawat dan melahirkanmu. In Shaa Allah kalo memang kita berjodoh, sebrutal apa pun mamahmu pisahkan kita, kita akan disatukan Allah. Udah ya jangan nangis lagi," tuturku menenangkan Safira.
Safira hanya diam dan menahan tangis. Sepertinya dia mengerti maksud ucapanku. Safira mulai memahami keadaan dan mencoba mengikhlaskan.
"Terus setelah ini kamu mau kemana?" tanya Safira.
"Pulang lah, tiga jam nyampe rumah kok hehe," jawabku yang mulai membuang raut sedih.
"Sekali lagi maafin kelakuan mamahku," pinta Safira.
"Iya ga apa-apa udah aku maafin", jawabku.
"Kalo aku minta tolong anterin ke teriminal mau?" pintaku.
"Ayuk, tapi kita samperin Gita dulu," jawab Safira.
"Oke," jawabku sekaligus beranjak dari dudukku berjalan kemobil.
Didalam mobil Safira terlihat masih sedih, mungkin karena dia juga tidak menyangka akan mendapat respon seperti itu dari mamahnya.
Sesampainya dibutik. Gita yang melihat aku dan Safira tiba langsung menghampiri.
"Yuk masuk," ayakku kepada Gita dari dalam mobil.
"Mau kemana?" tanya Gita.
"Udah masuk dulu," jawabku.
Setelah Gita masuk kedalam mobil dan melihat raut muka Safira yang sembab mulai panik.
"Ya Allah beb, kamu kenapa? Kamu abis nangis?. Kamu apain Safira Hans?" bentak Gita kepadaku.
"Bukan Hans yang bikin aku sedih tapi keluargaku," sahut Safira yang lagi-lagi menangis. Safira pun menceritakan kejadian dirumahnya secara detail. Aku yang sedang menyetir hanya mendengarkan curhatan dua sahabat. Setelah mendengar semua cerita Safira, Gita pun ikut menangis.
"Jadi aku harus ikut nangis juga nih?" tanyaku berniat bercanda.
"Kamu kok gada sedih-sedihnya sih?" bentak Gita.
Aku tersenyum sebelum menjawab Gita.
"Aku sedih Git sedih banget malah. Aku pikir sudah ga ada lagi rintangan untuk aku dan Safira. Nyatanya kali ini beratnya berlipat-lipat. Saking sedihnya aku hanya bisa pasrah sama yang Kuasa," tururku.
"Tapi aku meyakini satu hal. Jika Safira benar jodohku, sekuat apa pun mamahnya misahin kita. Tuhan tetap akan menyatukan kita dengan caraNya. Pun sebaliknya," imbuhku.
"Bener kata Hans beb," ucap Gita sembari menenangkan Safira.
"Udah, ga boleh sedih lagi," ujarku kepada Safira dengan mengucap kepalanya.
"Git, disini polisinya kaya dijakarta ga?" tanyaku.
"Emang polisi dijakarta gimana?" tanya Gita.
"Polisi dijakarta sering ngadain tilangan orang-orang jelek," ujarku mencoba menghibur.
Seketika Gita tertawa dan Safira mulai tersenyum.
"Emang kamu jelek?" tanya Safira.
"Bukan aku, tapi penumpangku yang dibelakang hahahaha," ucapku bermaksud menunjuk Gita.
"Wkwkwkwk sialan lu," sahut Gita sembari memukul pundakku dari belakang.
"Loh kok kamu nyetir hans?" tanya Gita.
"Iya beb, katanya emang dari dulu bisa bawa mobil. Cuma dulu ga mau nyetirin kamu katanya hehe," ujar Safira mengompori Gita.
"Emang bener-bener nih anak satu rese banget," ucap Gita yang kembali memukul pundakku.
Suasana kembali pecah, sesaat kita bertiga bisa melupakan masalah yang ada. Sampai pada akhirnya kita tiba diterminal. Aku pamit sebentar untuk membeli tiket bus. Setelah membeli tiket bus jurusan Malang. Aku kembali menghampiri Gita dan Safira.
"Oke ladies aku udah beli tiket. Silahkan barangkali mau pulang," tuturku memberi tahu.
"Jadi gitu ngusir," kata Gita.
"Ga gitu, barangkali Safira capek kasihan," ucapku.
"Jam berapa berangkatnya?" tanya Safira.
"Masih dua jaman lagi katanya," jawabku.
"Yaudah nunggu aja, aku pengen nunggu kamu jalan dulu," ungkap Safira.
"Wuih so sweet banget," imbuh Gita.
"Kalo gitu kita kesana aja biar bisa beli minum," ajakku menunjuk arah kios yang berada disekitar terminal.
"Ayuk," jawab Gita dan Safira serentak.
Setelah sampai dikios, kita memesan minuman botol. Dan kembali berbincang-bincang.
"Kamu beneran mau pulang ke malang? Ga balik ke Bandung?" tanya Safira.
"Iya dong, ini udah beli tiket busnya," jawabku menunjukan tiket ditanganku.
__ADS_1
"Yang punya butik itu kan aku. Jadi aku yang bisa pecat kamu," ucap Safira.
"Iya tapi yang lahirin kamu ngasuh kamu ngerawat kamu sampai kamu sesukses ini kan mamah kamu," tuturku.
"Dimana harga diriku sebagai laki-laki kalo sudah diperlakukan seperti itu, masih saja ngeyel," ungkapku.
"Iya maaf," kata Safira.
"Udah beb, jangan dipikirin terus nanti kamu sakit," timpal Gita.
"Rencanamu dirumah ngapain?" tanya Gita
"Belum tau, mungkin bantuin Bapa ngurus perkebunan atau mengikuti jejak sahabat kecilku si Sentot," tuturku.
"Emang mas Sentot kerja apa?" tanya Safira.
"Bukan kerjanya yang mau aku ikutin, tapi gaya hidup dan pribadinya. Waktu dari Jakarta aku dipecat dari perusaahan yang dulu. Aku pulang ke Malang. Aku bertemu Sentot waktu aku lagi gowes sepeda pagi-pagi. Pas aku lewat dipersawahan Sentot tiba-tiba memanggilku dari sawah. Aku berhenti dan ngobrol lumayan lama sama Sentot. Dia hanya kerja sebagai petani, setiap hari istri dan kedua anaknya datang kesawah buat ngirim nasi. Keluarga kecil itu makan bersama disaung yang ada ditengah sawah, hufft betapa indahnya kalo aku bisa kaya gitu," tuturku menceritakan kehidupan Sentot sahabat kecilku kepada Gita dan Safira.
"Terus terus?" tagih Gita yang sepertinya ikut menikmati ceritaku.
"Aku pengen kaya Sentot, hidup sederhana tak mengenal kemewahan kota tapi hidupnya bahagia. Aku bingung jawabnya waktu Sentot nanya, kapan mau nikah bro? Udah tua jangan ngejar duit mulu," ucapku meneruskan cerita.
"Yaudah aku ikut kamu aja," usul Safira.
"Eiitttt jangan aneh-aneh ya. Lagian belum tentu kuat kamu hidup didesa hahaha," jawabku.
"Iya indah banget hidup Sentot sahabat kecilmu," ucap Gita mengomentari Sentot.
Tak terasa waktu bergulir cepat. Bus yang akan membawaku pulang sudah mau berangkat. Aku yang menyadari bergegas pamit kepada Gita dan Safira.
"Yaudah aku pamit pulang ya," ucapku menyalami Gita dan Safira.
"Iya hati-hati," jawab Gita.
Tiba-tiba Safira memelukku. Seketika aku lihat Gita membalikkan badannya, seakan tidak mau menyaksikan adegan aku dan Safira berpelukkan. Aku yang tak tega melihat Gita hanya mengusap pundak Gita dari balik pelukanku dengan Safira.
"Jaga hubungan kita. Aku mau kalo harus hidup seperti sahabatmu Sentot," ucap Safira dalam pelukanku. Aku hanya membalas dengan mengangguk, kemudian melepaskan pelukan Safira dan berjalan ke bus.
Aku menaiki bus dan melambaikan tangan kepada dua wanita yang aku tahu mereka mencintaiku. Entah apa yang aku rasakan sangatlah tak beraturan. Disisi lain aku kasihan melihat pengorbanan Safira yang sudah berani melawan orang tuanya hanya untuk aku. Begitupun Gita yang dengan mata kepalanya menyaksikan aku dan Safira menjalani kisah cinta. Tentu sakit hati sudah menjadi hal biasa bagi Gita.
Dalam perjalanan pulang ke Malang, aku hanya merenungkan nasib percintaanku yang aku anggap rumit dan berbelit. Mungkinkah ada kebahagiaan yang menantiku didepan? Aku merindukan hikmah yang tak kunjung datang dihidupku selepas persoalan hidup yang kian memelilitku.
Aku yang lelah sempat terlelap didalam bus. Sampai akhirnya terbangunkan suara kondektur yang meneriaki tujuanku.
"Malang 3x," teriak Pak Kondektur.
Aku yang baru bangun bersiap untuk turun. Setelah turun dari bus, aku melihat jam ditanganku yang menunjukan pukul 02.30 dini hari. Aku memutuskan mencari warung kopi yang ada disekitar terminal. Untuk sekedar menyadarkan diri, aku memesan kopi dan rokok. Setelah berbatang-batang rokok aku habiskan. Terdengar adzan subuh berkumandang. Aku menuju masjid untuk menunaikan kewajiban. Setelahnya aku menggunak ojek untuk mengantarku ke rumah. Sesampainya dirumah, aku mengetuk pintu. Ibu terkejut melihatku setelah membuka pintu. Karena memang sebelumnya aku tidak mengabari.
"Assalamualaikum Bu," salamku kepada Ibu.
"Waalaikumsalam. Yaa Allah nak kok udah sampai rumah aja. Ga ngabarin dulu kalo mau pulang," ujar Ibu yang terkejut.
"Iya Bu sengaja. Biar Ibu ga kepikiran," jawabku.
"Loh kok pulang lagi?" sahut Bapak yang baru muncul dari dalam.
"Iya Pak, Hans ga betah," jawabku singkat sembari bersalaman dengan Bapak.
Aku ke kamar dan menjatuhkan tubuhku diatas ranjang. Berharap terlelap dengan mimpi-mimpi indah sebagai bunga tidurku.
Sekitar pukul sembilan pagi aku dibangunkan Ibu untuk sarapan. Setelah cuci muka, aku menuju ke meja makan untuk sarapan ditemani Ibu.
"Ibu sudah sarapan?" tanyaku.
"Sudah tadi sama Bapak dan adekmu," jawab Ibu.
"Bapak kemana Bu?" tanyaku.
"Bapak tadi bilang mau ke kebun sebentar, untuk mengantarkan pupuk," terang Ibu.
Tidak lama terdengar salam dari Bapak.
"Assalamualaikum," salam Bapak.
"Waalaikumsalam," jawabku dan Ibu bersamaan.
"Panjang umur, baru juga diomongin," ucap Ibu.
Bapak bergabung dimeja makan. Ibu bergegas mengambilkan minum untuk Bapak.
"Bapak sudah sarapan?" tanyaku basa-basi.
"Sudah nak. Kamu sarapan yang banyak biar kuat menghadapi hidup," ucap Bapak yang disambut tawa Ibu.
"Hobi kok ngeledekin anak," timpal Ibu sembari tersenyum lebar.
Setelah menghabiskan menu sarapan, Bapak dan Ibu yang berada diruang tamu memanggilku. Aku pun menghampiri mereka dengan membawa gelas.
"Sebenarnya kamu kenapa? Baru berangkat kemarin kok sudah pulang lagi. Emang sudah boleh cuti?" tanya Bapak.
Aku pun menceritakan apa yang aku alami secara detail dari aku di Bandung sampai kemarin di Surabaya. Mendengar ceritaku, raut muka Ibu berubah sedih. Dan Bapak memberikan nasihat.
"Kamu yang sabar. Allah tidak menguji hamba-Nya melebihi batas kemampuannya," nasihat Bapak untukku.
"Memang kita orang ga punya. Tapi ga seharusnya mereka memperlakukanmu seperti itu," tutur Ibu yang tidak terima anaknya dihina.
"Iya Pak, Bu. In Syaa Allah Hans masih sabar kok. Hans yakin ini termasuk skenario Tuhan yang pada akhirnya nanti ada hikmah untuk Hans," ujarku tak ingin melihat kekhawatiran pada mereka.
"Bagus. Jadi lelaki yang kuat walaupun hidup kadang tak bersahabat," ucap Bapak memujiku.
Obrolan dengan orang tua harus diakhiri karena ada tamu Bapak. Setelah mempersilahkan tamu masuk, aku dan Ibu pun masuk ke dalam. Aku membantu Ibu untuk membuat minuman didapur. Setelahnya Ibu mengantarkan minuman ke ruang tamu. Aku kembali ke kamar untuk mengecek HP.
Tiga pesan WA masuk belum dibaca. Fa'iq, Gita dan Safira.
[ Udah nyampe? ] tulis Gita dalam Pesannya.
[ Subuh tadi aku nyampe rumah ] balasku.
[ Kamu udah nyampe rumah? Salam buat keluarga ] tulus Safira dipesannya.
[ Udah nyampe subuh tadi. Iya salamnya nanti disampaikan ] balasku kepada Safira.
__ADS_1
[ Bro bini gua ngidam pengen ke Bandung. Ntar gua mampir ] tulis Fa'iq dipesan WA.
[ Telpon gua kalo lagi free ] balasku.
Tidak lama Fa'iq menelponku saat aku sedang membaca pesan baru dari Safira. Aku pun mengangkat telpon dari Fa'iq.
"Halo bro, Assalamualaikum," salamku memulai obrolan.
"Waalaikumsalam. Gimana bro? Sepertinya ada yang penting," tanya Fa'iq setelah membalas salamku.
"Emang lu lagi ga sibuk?" tanyaku balik.
"Ga. Gue lagi dikantin nih. Lagi ga ada bos," ujar Fa'iq.
"Oh gitu. Gue mau cerita nih. Tapi lu jangan nangis ya," kataku.
"Apaan sih lu, gajelas," ucap Fa'iq sewot.
"Ya kali aja kan. Secara lu kan orangnya melow," ledek Hans.
"Apaan deh cepet mumpung lagi free nih," ucap Fa'iq tidak sabaran.
Aku mulai menceritakan tentang kejadian kemarin di Surabaya. Fa'iq yang sepertinya terheran, lalu menanyakan seberapa kaya keluarga Safira sampai berani menghina orang. Aku pun menjawab dengan menjelaskan keadaan rumah Safira yang megah. Setelah menceritakan semuanya, panggilan harus diakhiri karena Fa'iq akan kembali bekerja.
Sembari merebahkan tubuh diranjang kamarku, sesekali aku mencuri dengan obrolan Bapak dengan tamunya. Terdengar pembahasan lahan perkebunan yang saat ini Bapak dan Pakdeku garap. Tamu itu menawarkan lahannya agar bisa digarap Bapak dan Pakde ku. Artinya akan ada penambahan lahan dan semakin luas lahan yang diperdayakan, semakin besar keuntungan yang didapatkan. Aku bersyukur sekaligus memuji kerja keras Bapak. Yang menurutku sudah berhasil menjadi sosok Bapak untuk keluargaku.
Tak ku sadari aku tertidur hingga sore hari. Kemudian Ibu membangunkanku karena aku belum makan siang. Setelah terbangun, aku membersihkan diri, dilanjutkan makan sore yang seperti biasa ditemani Ibu.
"Kamu bantu Ayah aja dulu, jangan merantau lagi," ucap Ibu menemaniku makan.
"Iya Bu, Hans juga belum ada rencana buat merantau lagi," jawabku.
"Iya soalnya Bapakmu udah sering kecapean ngurus kebun," tutur Ibu.
"Iya Bapak udah keliatan tua Bu," ujarku.
"Pantas saja Bapakmu keliatan tua, usianya udah lima putuh tiga tahun," jawab Ibu.
"Kalo ibu masih keliatan muda dan cantik terus hehehe," ucapku menggoda Ibu.
"Sama aja udah nini," jawab Ibu dengan senyum.
"Abis makan aku mau maen ke Sentot Bu," ucapku.
"Iya, jam segini biasanya udah dirumah," jawab Ibu.
Setelah menghabiskan makan sore. Aku bergegas kerumah Sentot. Dari kejauhan aku lihat Sentot sedang bermain dengan anak keduanya.
"Wuiihhh bos udah dirumah lagi aja," ucap Sentot melihatku menghampirinya.
"Bosok hahaha, sehat Tot?" tanyaku sembari bersalaman.
"Alhamdulillah sehat wal afiat, monggoh masuk," jawab Sentot mempersilahkan aku masuk kedalam rumahnya yang masih terbuat dari bilik bambu dan berlantaikan tanah.
"Mana anakmu yang gedenya?" tanyaku.
"Lagi maen, udah minta sunat juga si sulung," jawab Sentot.
"Kelas berapa emang yang sulung?" tanyaku.
"Baru kelas empat SD, mau ngopi apa teh?" jawab Sentot sekaligus menawariku minum.
"Ga usah aku baru makan," jawabku.
"Itu lagi ngrokok ga enak kalo ga bareng kopi," ujar Sentot.
"Bu bikin kopi dua ya," perintah Sentot kepada istrinya.
"Aku kemarin cerita sama temen-temen soal kehidupanmu yang menurutku sempurna banget," tuturku.
"Sempurna dari mananya, rumah reot penghasilan ga menentu. Jauh lah sama kamu sama temen-temenmu," jawab Sentot merendah.
"Bukan dari materi tapi dari cara menyikapi kehidupan," ucapku.
"Yah sama aja bro. Cuma sawang tinawang," jawab Sentot.
Istri Sentot muncul dari arah dalam rumah. Membawa dua kopi untuk aku dan Sentot.
"Jadi ngerepotin ya," ucapku.
"Ahhh ga kok, monggoh disambi," jawab istri Sentot.
Sore ini dirumah Sentot kita menghabiskan waktu dengan bercerita pengalaman hidup. Yang kesimpulannya tetap mengagumkan melihat hidup Sentot dan keluarganya. Aku semakin ingin mengikuti hidup Sentot. Namun dengan siapa aku akan berbagi keluh kesahnya? Apakah Gita? Ataukah Safira?.
Kumandang adzan magrib bergema disetiap sudut perkampunganku. Karena disini banyak mushola dan satu masjid yang lumayan besar. Karena aku sudah berpakaian yang pantas untuk sholat. Sentot mengajakku ke mushola yang dekat dengan rumah Sentot juga dekat dengan rumahku.
Sesampainya di mushola dan setelah menunaikan kewajiban. Aku pamit pulag ke rumah, Sentot juga pamit pulang kerumahnya.
Sampai dirumah aku ditanya Bapak dan Ibu. Yang sedang berbincang diteras rumah.
"Dari mana nak?" tanya Bapak.
"Dari rumah Sentot Pak," jawabku.
"Mau ngeteh apa kopi?" Tanya Ibu.
"Udah ngopi tadi dirumah Sentot. Adek mana Bu?" tanyaku yang baru duduk bergabung diteras.
"Ada didalam," jawab Ibu.
"Deeeekkkkkk," teriakku memanggil adek.
"Iya kak," jawab Adek sembari menghampiriku.
"Buatin kakak teh dong," pintaku.
"Lima puluh ribu dulu hehee," ucap Adek memberi syarat.
"Nih, tapi tehnya harus enak," jawabku menyodorkan uang untuk Adekku.
"Yeeyyy, oke siap kak," jawab Adek berlalu masuk kedalam rumah.
__ADS_1
Selalu aku temukan kenyamanan dalam keluargaku. Akankah aku bisa seperti Bapak? Membina rumah tangga dengan Ibu dengan kasih sayang seorang suami sekaligus seorang ayah. "Tuhan, kelak jika Engkau mengizinkan berikanlah hamba keluarga yang damai tentram. Menjalani hidup didunia-Mu hanya untuk mencari ridho-Mu," gumamku dalam hati. Menyaksikan candaan Ibu Bapak Aku dan Adekku diteras rumah.