Langit-Langit Angan

Langit-Langit Angan
Tentang Kepergian


__ADS_3

Penawar untuk rasa kecewa adalah waktu. Dimana pada saat waktu perlahan melaju, luka-luka dihati perlahan pula terobati.


Sore ini dikantor tak begitu menyenangkan. Mungkin karena aku yang belum sepenuhnya merelakan perasaanku. Sehingga sedikit saja terdengar suara sumbang. Emosiku meledak tak beraturan.


"Yang mau nikah mukanya murung terus nih," ucap Sindi yang melihatku baru masuk kantor setelah keliling mencari proyek.


"Kalo ga tau ga usah komen kalian," bentakku kepada Sindi, yang disitu juga ada Sinta.


Kemudian aku melanjutkan langkahku menuju tempat kerjaku. Yang disitu sudah ada Fa'iq disebalah.


"Lu kenapa Bro uring-uringan?" tanya Fa'iq yang melihatku membentak Sindi.


"Ga tau bro sebel aja denger orang-orang hobi nyi-nyir," jawabku sembari meletakkan tas dan duduk kemudian membuka laptop.


"Udah abaikan, bawa santai aja," ucap Fa'iq menyarankan.


Aku yang masih kesal hanya diam dan mengerjakan laporan mingguan. Karena besok hari sabtu, biar bisa libur aku harus selesaikan laporan sekarang. Biasanya hari sabtu tetap masuk kerja untuk mengerjakan laporan mingguan dan dipresentasikan dimeeting akhir pekan. Mengingat mood dan kondisi pikiran tidak memungkinkan, aku memutuskan untuk bolos kerja dihari sabtu tapi tetap mengirimkan laporan.


Jam didinding ruangan kerjaku menunjukan pukul 15.45, artinya sebentar lagi jam pulang. Aku dan Fa'iq bersiap-siap pulang untuk membahas rencana yang sudah dibicarakan pagi tadi.


"Jadi kita ke rumah Gita nih?" tanya Fa'iq.


"Iya kita kesana aja. Ntar gua telpon gita dulu," jawabku.


"Yaudah yuk ke parkiran!" ajak Fa'iq.


"Ayuk," jawabku sembari menggendong tas.


Perjalanan menuju parkiran kantor aku sempatkan sambil menelpon Gita.


"Tuuut tuut tuuut!" dering panggilan terhubung.


"Halo. Assalamualaikum," salam Gita setelah mengangkat telpon dariku.


"Halo. Waalaikumsalam," jawabku.


"Jadi aku sama Fa'iq kerumahmu nih?" tanyaku.


"Iya kesini aja," jawab Gita.


"Oke kita meluncur. Assalamualaikum," salamku sekaligus mengakhiri panggilan.


"Waalaikumsalam," jawab Gita singkat.


Aku dan Fa'iq berboncengan menggunkan motor metik Fa'iq. Jalanan ibukota yang selalu macet disore ini membuatku terlambat sampai dirumah Gita. Dengan kesabaran Fa'iq mengendarai motornya menembus kemacetan akhirnya kita sampai dirumah Gita.


"Assalamualaikum," salamku dan Fa'iq serentak sembari mengetuk pintu rumah Gita.


"Waalaikumsalam," terdengar salam dari balik pintu.


"Jam berapa ini kok lama banget?" tanya Gita.


"Iya sore ini macetnya parah banget," jawab Fa'iq.


Aku yang bengong melihat wanita duduk disofa menerka-naka "Kaya Safira," ucapku dalam hati.


"Ciye bengong liatin yang didalem," goda Gita yang menyadari aku melihat Safira yang ternyata dirumah Gita.


"Itu Safira?" tanyaku mengalihkan.


"Iya, dia kesini jenguk aku. Udah yuk masuk!" jawab Gita sekaligus mempersilahkan kita masuk.


Aku dan Fa'iq dengan canggung masuk kerumah Gita.


"Cctv nya record ga nih?" tanya Fa'iq yang dari tadi melihat kearah sudut-sudut ruangan.


"Udah aku matiin," jawab Gita sekaligus mempersilahkan duduk.


"Apa kabar?" tanyaku kepada Safira.


"Alhamdulillah baik," jawab Safira lembut.


"Bro cantik banget," celetuk Fa'iq yang baru duduk disampingku.


"Inget udah ada bini dirumah," jawabku menyadarkan.


"Kamu apa kabar?" tanya Safira.


"Alhamdulillah baik juga," jawabku yang masih canggung.


"Heem hemm, kok keliatannya cocoknya," sela Gita mulai meledek.


"Udah kita fokus bahas rencana aja," ucapku mengalihkan.


"Ga nangung magrib dulu?" kata Safira mengingatkan.


"Yaudah kita magriban dulu," ujarku menuruti.


Setelah menunaikan kewajiban, Gita mengusulkan untuk makan malam bersama dengan memesan makanan online. Sembari menunggu menu makan malam datang kita berempat bersendau gurau. Aku yang ingin pulih dari kecewa karena keputusan Gita menjodohkan aku dengan Safira. Menjadi semakin berat ketika aku lihat gelak tawa dan cerianya seorang Gita dimataku sekarang. Bahkan sedikitpun aku tidak memperhatikan Safira yang juga ada disini.


Suara ketukan pintu menjeda riuhnya canda tawa kita. Gita bangun dan membukan pintu, yang ternya Pak kurir mengantarkan pesanan makanan. Kita melanjutkan makan bersama. Gita menyuruhku untuk menyuapi Safira. Yang sontak membuat kita semua kembali tertawa.


Kemudian setelah santap malam obrolan pembahasan rencana kita lanjutkan. Dibuka oleh Fa'iq yang menunjukan alat canggihnya.


"Ini kamera, nanti dipake Gita dan diusahakan pengaitnya menghadap ke objek yang mau direkam. Soalnya lensa kameranya dikepala pena ini," tutur Fa'iq.


"Oh, terus terus," ucap Gita penasaran.


"Terus dia harus konek internet, bisa pakai hotspot HP," ucap Fa'iq melanjutkan penjelasannya.


"Oke paham," jawab Gita.


"Nanti pake HP lain buat monitor sekaligus merekam," imbuh Fa'iq.


"Oh jadi HP Gita cuma buat konekin si alat ini biar dapet jaringan internet. Terus kita ngerekam pake HP lain, gitu ya?" tanyaku mulai memahami sistem kerja alat yang Fa'iq bawa.


"Betul bro," jawab Fa'iq.


"Aku besok jam 10 keruangan Pak Dirut. Terus yang merekam dan monitor jaraknya terbatas ga?" tanya Gita


"Karena ini pake jaringan internet ga terbatas selama HP konek internet," jawab Fa'iq.


"Kalo gitu yang ngerekam bisa dikantin sambil ngopi," usulku.


"Yoi bro," ucap Fa'iq menyetujui.


Setelah semua mengerti dan paham tugas masing-masing. Kita memutuskan untuk menyudahi pertemuan ini. Aku dan Fa'iq pamit pulang. Safira menginap untuk menemani Gita.

__ADS_1


Dengan perasaan yang lega karena rencana yang sudah matang, aku pulang ke kontrakan. Setelah Fa'iq mengantarku sampai depan gang kontrakan, Fa'iq pamit untuk pulang kerumahnya.


"Oke akhirnya nyampe bro," ucap Fa'iq.


"Alhamdulillah. Mau mampir dulu ga?" tawarku.


"Ga bro udah ditunggu bini dirumah," jawab Fa'iq.


"Yaudah hati-hati bro," ucapku.


"Oke bro. Assalmualaium," salam Fa'iq sembari melaju pergi dengan motornya.


"Waalaikumsalam," jawabku kemudian berjalan masuk ke kontrakan.


Didalam kontrakan aku merebahkan tubuhku. Yang kembali teringat keadaan hati dan perasaan. "Kenapa aku sesayang ini sama Gita," gumamku.


Via, kamu kah itu yang tawanya membekas diingatan? Kaukah itu yang suaranya teringang diangan? Viaku menjelmalah menjadi Gita. Kemudian sapalah perasaan sayangku yang hanya untukmu. Via, setelah aku lama bersamamu, kini aku merindukanmu ada dalam diri Gita. Sehingga aku bisa memilikimu selamanya.


Aku yang lelah dengan aktifitasku hari ini. Memutuskan untuk tidak beranjak dari tempat tidurku. Membiarkan kantuk menenggelamkanku dalam mimpi-mimpi yang semoga tentang Gita.


Malam yang singkat untuk aku yang tertidur lelap. Pagi menjelang dengan cuaca dan suasana cerah. Untuk aku yang berniat bolos kerja. Dering panggilan dari Fa'iq aku angkat.


"Halo. Assalamualaikum bro," salamku dengan suara bangun tidur.


"Waalaikumsalam. Lu ga masuk kerja bro?" tanya Fa'iq.


"Ga lah, emang lu masuk?" jawabku sekaligus bertenya balik.


"Niatnya ga masuk, hari ini kan mau monitor Gita," ujar Fa'iq.


"Oh gitu ya," ucapku sembari meregangkan badan.


"Jadi gimana nih? Gua udah didepan gang kontrakan lu," tutur Fa'iq memberi tau.


"Lah, yaudah sini aja bro ngopi. Kita monitor dari sini!" ajaku.


Akhirnya Fa'iq pun tidak masuk kerja, melainkan bolos dikontrakanku. Tak lama setelah telpon ditutup, Fa'iq mengetuk pintu kontrakanku. Kita mempersiapkan semuanya, termasuk menghubungi Gita agar sesuai rencana. Aku menelpon Gita atas arahan Fa'iq.


"Tuut tuut tuut!" bunyi panggilan masuk.


"Halo. Assalmualaikum," salam Gita setelah angkat telpon dariku.


"Halo. Waalaikumsalam," jawabku.


"Kebetulan kamu nelpon. Kamu ga usah masuk kerja aja!" suruh Gita.


"Emang aku ga masuk," jawabku.


"Terus kamu dimana?" tanya Gita.


"Aku sama Fa'iq dikontrakan, mau monitor dari sini," jawabku memberi tahu.


"Nah sipp kebetulan banget. Aku antar Safira kesitu ya, kasihan kalo disini sendirian. Aku kan mau ketemu Pak Dirut," tutur Gita.


"Hah. Ga enak lah Safira malah kasihan disini cewek sendiri gada kamu," protesku.


"Aku tanya Safiranya aja, mau dirumah aja atau kesitu," jawab Gita.


"Yaudah. Ehh itu jangan lupa kamera konekin internet wifi HPmu," ucapku mengingatkan.


"Iya ni baru mau aku pasang. Yaudah aku siap-siap dulu," izin Gita.


"Oke siap. Assalmaualaikum," salam Gita sembari menutup telpon.


"Waalaikunsalam," jawabku yang juga menutup telpon.


Tidak lama setelah menelpon Gita, Fa'iq memberi tahu kalau alat yang dipakai Gita sudah konek ke HPnya. Dari situ terlihat Gita bersiap masuk mobil bersama Safira. Yang artinya Safira akan kesini. Aku pun bergegas membersihkan diri dan meninggalkan Fa'iq dengan kopinya dibalkon kontrakanku.


Setelah mandi membereskan kontrakan, aku melanjutkan ngopi dibalkon dengan Fa'iq. Sekaligus memantau Gita yang sedang menyetir dan sudah dekat ke arah kontrakanku. Aku dan Fa'iq memutuskan untuk menjemput Safira didepan gang kontrakan. Sembari menunggu aku menyempatkan untuk berbelanja makanan ringan dan minuman ditoko dekat kontrakan.


Tak begitu lama menunggu, akhirnya Gita dan Safira tiba.


"Hay, aku langsung ke kantor ya," ucap Gita baru turun dari mobil.


"Itu benerin dulu penanya agak miring," ucap Fa'iq sembari memperlihatkan layar HPnya.


"Oh oke. Nitip Safira jangan sampe lecet," ucap Gita kembali masuk mobilnya setelah memperbaiki posisi kamera disaku bajunya.


"Siap," jawabku.


Gita melanjutkan perjalanan ke kantor. Aku Fa'iq dan Safira berjalan menuju kontrakan. Sesampainya dikontrakan aku mempersiapkan jamuan untuk Safira.


"Mohon maaf tempatnya kecil dan berantakan," ucapku kepada Safira yang baru duduk dibalkon.


"Santai aja, tapi menurutku nyaman kok," jawab Safira.


"Udah sarapan belum?" tanya Fa'iq kepada Safira.


"Udah tadi bareng Gita dirumahnya," jawab Safira.


"Cerita dong gimana bisa sahabatan sama Mak Lampir," pintaku.


Seketika Fa'iq dan Safira tertawa mendengar aku menyebut Gita Mak lampir. Safira mpun menceritakan kisahnya dari awal ketemu Gita sampai sekarang. Dan cerita sama seperti yang Gita pernah ceritakan kepadaku. Obrolan dilanjutkan dengan Fa'iq yang menceritakan kehidupan dikeluarga kecilnya. Dimana Fa'iq dan istrinya menanti kehadiran buah hati selama dua tahun. Dan akhirnya penantiannya terjawab. Fa'iq menceritakan kegembiraan saat pertama kali istrinya memberi kabar, bahwa dia positif hamil. Safira yang mendengarkan dengan seksama ikut senang.


"Kring kring!" bunyi HPku berdering panggilan masuk yang ternyata dari Ibu. Aku izin menjawab telpon kepada Fa'iq dan Safira.


"Halo Assalmualaikum Bu," salamku setelah menjawab telpon.


"Waalaikumsalam?" jawab Ibu.


"Ga kerja?" tanya Ibu.


"Hehehe ga Bu, biasa sabtu hari sunah buat kerja," jawabku.


"Kok kamu belum pulang-pulang juga?" tanya Ibu yang nampaknya sudah rindu dengan anak pertamanya.


"Iya Bu, setelah urusan kelar ntar Hans pulang," jawabku mencoba melegakan Ibu.


Obrolan dengan Ibu melalui telpon ditutup dengan perasaanku yang semakin rindu kampung halaman. Karena sudah lebih dari enam bula aku ditanah rantauan.


Setelah menelpon Ibu aku kembali ke balkon untuk bergabung dengan Fa'iq dan Safira. Baru saja duduk tiba-tiba HP berbunyi.


"Tiktuk!" satu pesan WA masuk yang ternyata dari Gita.


[ Aku mau menghadap Pak Dirut ] tulis Gita dipesannya.


[ Good luck ya ] balasku.

__ADS_1


Aku pun memberi tahu Safira dan Fa'iq kabar dari Gita. Kita bertiga pun fokus melihat layar HP Fa'iq.


"Udah mulai direkam bro?" tanyaku ke Fa'iq.


"Udah bro aman," jawab Fa'iq.


Terlihat Gita yang mulai masuk keruangan Pak Dirut dan disambut oleh Pak Dirut.


"Halo Git apa kabar?" tanya Dirut kepada Gita.


"Sini duduk!" perintah Pak Dirut yang beranjak dari kursi kebesarannya dan menyuruh Gita agar duduk di kursinya.


Terlihat dari layar HP Fa'iq, Gita yang menuruti perintah Pak Dirut. Dan Pak Dirut duduk dimeja tepat disebelah Gita. Kemudian terlihat memutar kursi yang diduduki Gita dan berhadapan antara Pak Dirut dan Gita.


"Bagaimana rencana pernikahanmu sama Hans?" tanya Pak Dirut kepada Gita.


"Hans belum pulang belum ketemu ortunya Pak," jawab Gita.


"Aduuhhh gimana kamu ini, kamu tuh harus menekan Hans biar cepet-cepet nikahin kamu. Inget ya saya ga mau rencana kita gagal. Kalo kamu kelamaan nikahnya saya khawatir rencana kita kebongkar. Jangan sampai istriku tau," tegas Pak Dirut bernada memarahi Gita.


Terlihat dari layar HP Fa'iq, Gita hanya diam mendengarkan ocehan Pak Dirut.


"Kalo sampe istriku tau kalo anak dirahimmu anakku. Adduhhh bakal kehilangan semua ini," imbuh Pak Dirut yang belum tau kalau Gita keguguran pasca kecelakaan mobil.


"Kamu sudah saya kasih rumah, sudah pakai uang kantor juga. Sudah cukup buat bayar pelacur," tandas Pak Dirut.


"Saya bukan pelacur, saya diperkosa, inget itu Pak," ucap Gita dengan nada teriak dan mengeluarkan air mata.


"Ssssttttt. Jangan teriak-teriak nanti ada yang denger," perintah Pak Dirut kepada Gita dengan melihat sekitar ruangannya, takut ada yang mencuri dengar.


"Bapa sudah tega perkosa saya sampe saya hamil," seru Gita meluapkan emosinya.


"Sudah!" bentak Pak Dirut bangun dari duduknya sembari menggebrak meja.


"Kamu berani macem-macem saya laporin polisi," ancam Pak Dirut.


"Silahkan aja laporin. Uang kantor sudah saya ganti," teriak Gita sembari mengambil bukti transfer yang sudah dicetak dan melemparkan ke muka Pak Dirut.


"Inget Pak setelah ini Bapak akan menerima akibatnya," ancam balik Gita dan keluar dari ruangan Pak Dirut.


Safira menangis menyaksikan kejadian itu dari layar HP Fa'iq. Fa'iq pun ternganga menyaksikan itu. Dan aku yang menjadi korban dari ulah Pak Dirut sangat geram menyaksikan itu.


Setelah Fa'iq menyimpan rekaman, dia mengirimkan rekaman itu kepadaku. Kita bertiga diliputi perasaan sedih menyaksikan Gita mengalami musibah ini.


"Ya Allah sahabatku Gita kasihan sekali," ucap Safira yang berusaha menghentikan tangisnya.


"Semoga setelah ini Gita mendapatkan hikmahnya," kataku menyahuti Safira.


"Aamiin," ujar Fa'iq.


Tidak lama berselang terdengar ketukan pintu yang diiringi tangis.


"Tok tok tok. Assalamualaikum," salam Gita.


"Waalaikumsalam," jawab kitas erentak.


Safira pun terlihat bergegas membukaan pintu karena dia tau itu suara Gita. Setelah pintu dibuka mereka terlihat berpelukan dan menangis bersama.


"Sabar ya Git," ucap Safira yang ikut menangis dan menenangkan Gita yang hampir tidak bisa berkata-kata lagi.


Aku dan Fa'iq memberikan mereka waktu sampai Gita tenang.


"Git ikut aku aja ke surabaya. Bantu pekerjaanku disana!" ajak Safira yang tidak tega melihat sahabatnya.


Gita terlihat mulai tenang dan menghapus air matanya. Aku dan seluruh rasa dalam hatiku luluh lantah melihat jelmaan Viaku menangis seperti itu. Aku ingin memeluk dan menenangkan. Yang tak sadar air mataku mengalir setelah sebelumnya hanya berkaca-kaca. Seketika aku berfikir untuk mencairkan suasana.


"Yang sabar Git, aku lebih suka liat kamu yang marah-marah mirip Mak Lampir daripada kaya gini," celetuk ku.


Sontak Safira menutupi mulutnya seakan menahan tawa. Fa'iq pun tertawa dan aku mengikutinya.


"Tuhh kan Mak Lampir lagi," ucap Gita manja dengan senyum yang mulai mengembang dibibirnya.


"Hahahahahahahaa," terdengar tawa serentak.


Keadaan pun mulai kondusif. Gita sudah mulai tenang dan kita berempat mulai membicarakan rencana selanjutnya.


"Next rencana kita gimana?" tanya Fa'iq.


"Git soal tawaran Safira gimana?" tanyaku kepada Gita.


"Emang rencanaku mau ikut Safira ke Surabaya" jawab Gita.


"Bagus kalo gitu. Sebelum kamu ke Surabaya kirim rekaman tadi ke istri Pak Dirut," saranku.


"Jangan pake nomernya Gita. Nanti Gita yang kena masalah lagi sama istrinya Pak Dirut," saran Safira.


"Iya bener bro. Masa kelar masalah sama Pak Dirut dilanjut masalah sama istrinya," tambah Fa'iq.


"Kataku Gita tetep kena. Istri Pak Dirut pasti nyari tau, siapa sosok wanita yang rekam video ini dan karena Gita resign pasti curiga ke Gita dong," tuturku.


"Emang kalo istri Pak Dirut tau kalo wanita itu Gita kemungkinan terburuknya apa?" imbuhku.


"Harusnya ga masalah sih, jelas juga direkaman Gita bilang diperkosa," ucap Safira.


"Ga apa-apa kasih tau aja ke istri Pak Dirut, aku udah siap apa pun yang selanjutnya menimpaku. Yang jelas orang macam Pak Dirut harus menerima akibatnya," tutur Gita memberi keputusan.


"Hans kirim ke aku rekaman tadi," pinta Gita.


Aku pun mengirimkan rekamannya ke Gita. Gita yang terlihat fokus dengan HPnya ternyata memesan tiket pesawat dan mengirimkan rekaman itu ke istri Pak Dirut. Setelah itu Gita terlihat membuka SIM card dan membuangnya.


"Aku berterimakasih sama Hans dan Fa'iq karena sudah membantuku. Buat Hans maafin aku karena sempat merusak nama baikmu dikantor," ucap Gita.


"Soal aku jangan dipikirin lagi. Aku udah anggap kamu teman. Yang penting kamu harus bahagia setelah in," ucapku.


"Iya Git. Ga usah sungkan sama kita," imbuh Fa'iq.


Gita dan Safira pamit untuk berkemas. Karena pesawatnya akan berangkat sore ini. Aku yang terpaksa rela melepas kepergian jelmaan Via harus menanggung sendiri perasaan yang tak pernah tersampaikan.


"Hati-hati dimana pun kalian berada," ucapku kepada Gita dan Safira.


"kalo gitu gua juga balik bro," ucap Fa'iq berpamutan.


"Oke bro thanks banget. Kalo gada lu semuanya ga akan kebongkar," ujarku berterimakasih kepada Fa'iq sahabatku.


"Hati-hati semuanya," ucapku melambaikan tangan kepada mereka yang mulai berjalan meninggalkan kediamanku.


"Iya kamu juga, Assalmualaikum," salam Safira.

__ADS_1


"Waalaikumsalam," jawabku.


Melepas kepergian orang yang disayang sangatlah berat aku rasakan. Entah kapan aku bisa berjumpa lagi? Entah bagaimana kehidupan kembali merenggut yang aku sayangi. Dea pergi untuk selamanya. Gita pergi tanpa mengerti isi hati ini. Tentang kepergian seringkali menyesak didada. Tentang kepergian dihidupku selalu ada.


__ADS_2