Langit-Langit Angan

Langit-Langit Angan
Pergi Tak Untuk Kembali


__ADS_3

Hujan dengan lebatnya mengguyur kampungku sore ini. Seakan menyirami hati yang gersang oleh bahasa sepi. Satu cinta menyambutku dengan problematikanya. Cinta lainnya tak sanggup menampakkan wujudnya. Akhirnya aku yang harus memikul dilema. Hingga alam memulangkan aku disini tanpa membawa cinta yang bisa menemani.


Aku yang sedari tadi hanya dikamar, seisi rumah mengira aku terlelap tidur. Nyatanya aku mengepakkan sayap angan-angan hingga terbang tinggi. Kemudian tersadarkan oleh bisingnya air hujan yang menimpa atap rumah. Seminggu lebih aku kampung halaman. Tanpa mengerjakan pekerjaan yang dahulu menjadi hobiku. Sangat terasa membosankan, namun Ibu dan Bapak ku belum mengizinkan aku untuk pergi merantau lagi.


"Kring kring," dering telponku berbunyi yang ternyata dari Gita. Wanita yang sangat ku cinta tapi tidak mau menampakkan cintanya untuk disaksikan dunia.


"Halo, Assalamualaikum," salamku setelah menjawab panggilan dari Gita.


"Waalaikumsalam. Hans shareloc dong!" pinta Gita yang membuatku bertanya-tanya.


"Buat apa?" tanyaku bingung.


"Aku sama Safira udah sampai Malang nih. Tinggal menuju rumahmu. Baru melewati perbatasan Malang. Jauh ga dari sini?" tanya Gita.


"Kok ga bilang dulu kalo mau kesini?" tanyaku.


"Kan ini aku bilang sama kamu," jawab Gita.


"Maksudnya sebelum ke Malang," desakku.


"Udah buruan shareloc! Aku tunggu! Assalamualaikum," paksa Gita langsung mengakhiri teleponnya.


Setelah shareloc, aku memberitahu Ibu. Ibu pun mempersiapkan jamuan untuk tamu. Didapur, ketika aku membantu Ibu, sesekali Ibu menanyakan tentang Gita dan Safira.


"Jadi, sikap seperti apa yang akan kamu ambil Nak?" tanya Ibu.


"Bersikap untuk apa Bu?" tanyaku balik.


"Kemarin katamu, kamu sayangnya sama Gita. Tapi Gita ga bisa menerima kamu karena Safira. Walaupun Gita sebenarnya juga sayang sama kamu," jelas Ibu sembari memasak.


"Ga tau Bu, Hans juga ga bisa bersikap yang benar, seharusnya seperti apa. Yang jelas Hans udah janji sama Gita buat ga nyakitin Safira," jawabku.


Mendengar jawabanku Ibu tidak merespon lagi, tapi raut wajah Ibu seakan memintaku untuk tegas dalam menghadapi masalah.


"Selama Gita masih ada didunia, aku ga yakin bisa mencintai wanita selain dia," imbuhku.


"Huuusssss jangan ngomong gitu, ga baik," bentak Ibu.


"Tetep berharap sama Allah supaya dibukaan jalan jodohmu," imbuh Ibu.


"Iyaa Bu aamiin," jawabku sekaligus pamit untuk mandi.


Setelah mandi aku kembali kedapur untuk membantu Ibu. Namun semua hidangan sudah matang. Aku yang melihat Ibu kelelahan segera duduk disamping Ibu dan memijat bahu Ibu.


"Enak ga Bu pijatan Hans?" tanyaku.


"Enak, apalagi Ibu capek," jawab Ibu yang terlihat menikmati pijatanku.


"Gita sama Safira udah sampe mana?" tanya Ibu.


"Belum tau Bu belum ngabarin lagi," jawabku.


"Udah mau magrib kasihan kalo kemaleman," ucap Ibu.


"Deeekkkkk," teriak Ibu memanggil Adekku.


"Kamar udah beresin?," tanya Ibu kepada Adek.


"Udah dong Bu, berarti nanti malam aku tidur bareng Ibu ya?" tanya Adekku.


"Iya nanti dikelonin biar jadi bayi lagi," jawab ibu yang membuat aku dan Adek tertawa.


"Assalamualaikum," terdengar salam dari Bapak yang baru pulang.


"Waalaikumsalam," jawabku Ibu dan Adek serentak.


"Waahhh Ibu masak banyak ada acara apa nih?" tanya Bapak yang sudah berada didapur dan melihat hidangan dimeja makan penuh.


"Buat Gita sama Safira sebentar lagi nyampe," jawab Ibu mewakiliku.


"Dek, mau ada tamu istimewa. Kira-kira siapa Dek yang bakalan Masmu pilih?" tanya Bapa kepada Adek dengan niat membully aku.


"Ga gitu Pak, Hans ga mau ingkar janji sama Gita. Kalo ditanya Hans pilih mana sudah pasti pilih Gita Pak, tapi Gita ga mau nyakitin Safira," jelasku.


"Makanya jadi cowok jangan playboy. Bingung kan jadinya hahahaha," ujar Adek yang terdengar mengesalkan.


"Anak kecil diem ya," ucapku.


"Biarin aja weekkkk wkwkwk," ledek Adek yang semakin menjadi.


"Hoook awas ya jangan lari," kataku sembari mengejar Adek yang berlari keluar.


Bapak dan Ibu hanya tertawa melihat kegaduhan rumah kalau aku dan Adek sudah bercanda.


Menjelang adzan magrib Gita dan Safira belum juga memberi kabar. Aku coba kirim pesan ke HP Gita dan Safira.


[ Udah dimana? Harusnya udah nyampe kalo tadi beneran sudah masuk perbatasan Malang. Jangan makan dulu, Ibu udah masak banyak ] pesan aku kirim ke Gita dan Safira.


"Udah adzan magrib kok belum nyampe?" tanya Bapak yang akan berangkat ke Mushola.

__ADS_1


"Ga tau Pak aku chatt juga ga bales semua. Mungkin magriban dulu Pak," jawabku.


"Yaudah kamu juga sholat dulu," perintah Bapak.


"Siapp Pak," jawabku yang aku barengi mengambil air wudhu.


Setelah melaksanakan kewajiban, Gita dan Safira belum juga memberiku kabar. Aku yang mulai khawatir memutuskan untuk menelpon Gita. Namun Gita tidak menjawab telponku. Kemudian aku coba menghubungi Safira. Setelah telponku dijawab, aku terkejut karena yang terdengar suara laki-laki.


"Halo. Assalamualaikum," salamku setelah telpon dijawab.


"Waalaikumsalam, saya Erwin polantas Malang. Mohon maaf Bapak siapanya yang punya HP ini?" tanya Pak Erwin.


"Saya temannya Pak. Kalo boleh tau, yang punya HP ini kemana Pak?" jawabku sekaligus menanyakan Safira.


"Lebih baik Bapak ke RS Dr. Saiful Anwar Malang kalo jaraknya ga jauh dari sini. Soalnya yang bersangkutan mengalami laka lantas dan keluarganya setelah dihubungi katanya di Surabaya. Jadi belum ada yang mendampingi.


"Innalilahi. Baik Pak saya segera kesana," jawabku dibarengi menutup telpon.


Dengan tergesah-gesah aku meminta izin Ibu untuk ke RS Dr. Saiful Anwar Malang. Setelah menceritakan kejadian yang dialami Gita dan Safira. Ibu yang masih kaget mendengar berita Gita dan Safira kecelakaan, akhirnya mengizinkanku. Tidak lupa mengingatkanku agar berhati-hati.


Perjalananku ke RS menggunakan motor astrea milik Bapak memakan waktu satu jam. Karena kondisi motor Bapak yang tidak bisa jalan lebih dari lima puluh kilo meter perjam. Sesampainya di RS, aku disambut Pak Erwin yang masih berada diruangan reseptionis rumah sakit. Pak Erwin pun menjelaskan kronologi sembari berjalan menuju ruang rawat Safira.


"Dari saksi mata yang melihat kejadian, katanya mobil yang dikendarai teman Mas menabrak trotoar dengan kecepatan tinggi, kemudian mobil terpental menerjang melewati pembatas jalan. Akhirnya truk dari arah yang berlawanan menabrak karenatidak bisa mengerem mendadak. Sopir truk sudah diamankan," jelas Pak Erwin.


Aku yang panik hanya mempercepat langkah, untuk segera melihat keadaan Gita dan Safira. Sesampainya diruangan, aku hanya melihat Safira yang masih terbaring lemas. Safira hanya mengalami luka ringan di pelipisnya, dan disarankan dokter untuk istirahat dulu. Dari balik kaca aku hanya memandang iba Safira. Kemudian aku menanyakan keberadaan Gita kepada Pak Erwin.


"Dimana temen saya yang satunya Pak? Tanyaku.


"Sedang ditangani dokter, karena luka-lukanya cukup serius. Dia duduk dikursi sebelah supir, posisi itu yang tertabrak truk," jelas Pak Erwin.


Aku dan Pak Erwin menuju ke ruangan IGD untuk menunggu hasil pemeriksaan Gita. Cukup lama aku duduk didepan ruangan IGD, akhirnya dokter keluar dari ruangan itu dan memanggil keluarga korban. Aku bergegas menghampiri dokter itu.


"Mas keluarganya pasien?" tanya Dokter.


"Iya Dok, bagaimana keadaan Gita?" tanyaku yang sudah tidak sabar ingin tau keadaan Gita.


"Sabar Mas, saudari Gita tidak bisa diselamatkan. Saya dan tim sudah berusaha semampu kita," ucap Dokter.


Aku yang mendengarkan ucapan Dokter hanya menyandarkan tubuh ke dinding rumah sakit. Kemudian terduduk dilantai memegang kepala. Seperti tidak percaya dengan apa yang sudah terjadi. Dengan apa yang sudah menimpa Gita. Wanita dengan hati mulia. Wanita yang sangat aku cinta.


"Yang sabar Mas," ucap Pak Erwin menyerahkan barang-barang korban.


Tak terasa air mata berlinang. Aku masuk keruangan untuk memastikan. Dan semakin hancur hati ini melihat wanita yang sangat aku sayangi terbujur kaku tak bernyawa. "Ya Allah apa lagi ini? Mengapa semua yang aku cintai Engkau renggut," gumamku dengan air mata yang tak terbendung lagi.


Aku yang belum sepenuhnya merelakan kepergian Gita, masih terdiam didepan ruangan IGD. Tak lama kemudian, para perawat membawa jenazah Gita entah kemana. Aku hanya memandanginya dengan air mata yang tak bisa ku bendung lagi "Viaku tenanglah disurga," gumamku. Setelah jenazah Gita tak terlihat lagi, dibawa perawat memasuki lift. Aku mengabari semua orang di kontakku. Melalui story whatshapp. Banyak panggilan dan pesan masuk. Namun aku tak sanggup membalasnya.


Malam kian larut, aku yang terduduk disamping Safira terkagetkan oleh keluarga Safira yang baru datang. Aku berdiri dan menyaksikan Papa Mamah serta kakak Safira menangis. Yang kemudian Mamah Safira menyalahkanku atas semua ini dan mengusirku untuk kedua kali. Papah Safira membawaku keluar ruangan dan mengajak berbincang.


"Gini Om, kurang lebih pukul 17.00 Gita nelpon minta share lokasi rumahku. Aku kaget karena sebelumnya mereka ga ngabarin aku. Setelah aku share lokasi, aku dan Ibu menyiapkapkan hidangan buat mereka. Tapi aku tunggu-tunggu sampai magrib ga nyampe rumahku. Akhirnya aku telpon Safira. Yang angkat polisi yang mengamankan kejadian dilokasi dan membawa Safira serta Gita ke rumah sakit ini. Aku dikasih tau kalo Safira kecelakaan Om, terus aku langsung kesini," jelasku.


"Gita mana?" tanya Papa Safira.


Sontak hanya tangis ekspresi yang keluar dariku. Ketika Papa Safira menyebut kata Gita. Akhirnya dengan berat aku memberi tau kalo Gita tidak selamat dikecelakaan itu.


"Gita ga selamat Om. Tadi sempat ditangani Dokter di IGD tapi ga tertolong," jawabku dengan bercucuran air mata.


"Innalillahi," jawab Papa Safira dengan raut muka yang padam.


"Yaudah kamu pulang aja, nanti Om yang ceritain semuanya ke keluarga," perintah Papa Safira.


Dengan perasaan yang masih campur aduk. Aku keluar dari rumah sakit meski dalam hati ingin terus disini. Karena menurut Papa Safira akan lebih menimbulkan masalah lagi jika aku tetap disini.


Akhirnya aku pulang dengan motor astrea milik Bapakku. Sesampainya dirumah aku menceritakan kejadian laka lantas yang Safira dan Gita alami kepada Bapak dan Ibu. Melihat tangisku Bapak dan Ibu memberi nasihat. Aku hanya diam dikamar dan meminta waktu untuk beristirahat.


Keesokan harinya aku terbangun. Dengan setengah sadar aku membuka HP, kemudian teringat Gita sudah tidak ada didunia ini. Aku pun kembali tak bisa membendung air mata. Kesedihan ini untuk kedua kalinya. Dahulu Dea meninggalkanku dengan cintaku. Sekarang Gita kembali meninggalkanku dengan Cinta dihatiku. Sempat aku berpikir tak layak untuk hidup didunia lagi.


Ibu membawakan sarapan dinampan. Memintaku untuk sarapan, tetapi nafsu makanku tiada sama sekali. Dan aku kembali merebahkan tubuhku. Sore hari Ibu kembali kekamarku membawa nampan yang berisikan makanan. Dan menyuruhku untuk sedikit saja makan. Tapi aku masih belum ingin menyentuh makanan. Akhirnya aku kembali tertidur. Hingga pagi menjelang. Ibu dan Bapak ke kamarku, memintaku untuk sarapan.


"Makan Nak, udah dari kemarin kamu ga makan," perintah Bapak dengan nada lembut.


"Nak sini Ibu suapin," Imbuh Ibu yang aku lihat menangis.


Dengan perasaan tak tega melihat Ibu menangis, aku pun menuruti. Aku sarapan dikamar ditemani Bapak dan Ibu. Setelah sarapan Bapak mengajakku berbincang diruang tamu.


"Nak, jodoh pati rezeki adalah ketentuan Allah. Seorang hamba dikatakan beriman patuh atas ketentuan-ketentuan Allah. Bapak tau ujianmu berat, tapi Bapak selalu yakin anak Bapak hebat dan bisa melewati semua. Allah tau kamu anak yang kuat dan kamu bisa melewati ini. Karena Allah tidak akan memberikan ujian hambanya melebihi batas mampunya," nasihat Bapak yang menginginkan aku segera bangkit.


"Tiktuk," satu pesan baru masuk. Dari Safira.


[ Gita sudah disemayamkan ] tulis Safira dipesannya.


Membaca pesan Safira aku kembali menangis. Bapak yang melihatku menangis kembali bertanya.


"Dari siapa?," tanya Bapak.


"Dari Safira Pak, ngasih tau Gita sudah dimakamkan," jawabku sembari menahan air mata yang terus menerus keluar.


"Sabar Nak, Gita orang baik kalo dari ceritamu. Bapak yakin dia tenang disisi Allah," ujar Bapak menenangkan.


Aku hanya diam menyesali semuanya. Sampai prosesi pemakaman orang yang sangat aku cinta pun aku tak hadir. Bertambahlah penyesalan dalam hidupku.

__ADS_1


"Kring kring!" telponku berdering, panggilan masuk dari Safira.


"Halo. Assalamualaikum," sapaku setelah angkat telpon.


"Halo. Waalaikumsakam," jawab Safira dari balik telpon.


"Sayang, maafin mamahku udah ngusir kamu lagi dari RS kemarin," ujar Safira.


"Ga apa-apa, emang pantas aku menerimanya," jawabku.


"Tapi mamah udah ngebolehin aku sama kamu," ucap Safira.


"Maksud kamu apa?" tanyaku.


"Iya mamah udah ngerestuin kita," kata Safira yang jujur buat aku kecewa. Sedikit pun dia tak membahas Gita sahabatnya yang baru saja pergi meninggalkan dunia.


Aku mengakhiri telpon Safira. Tak terasa kembali air mataku berlinang. "Bagaimana aku bisa menikah dengan Safira, jika ternyata rasa cintaku kepada Gita sebesar ini," gumamku dalam hati.


"Kring kring," kembali panggilan masuk di HPku, namun kali ini dari Fa'iq. Setelah dari kemarin Fa'iq WA dan nelpon berkali-kali tidak aku respon. Kali ini aku angkat telpon dari Fa'iq.


"Halo. Assalamualaikum," salamku setelah angjat telpon dari Fa'iq.


"Waalaikumsalam, bro dari mana aja lu ga mau angkat telpin dari gua? Yang sabar bro, gua yakin lu kuat lewatin ini," ujar Fa'iq yang tau sedalam apa aku mencintai Gita.


"Iya bro makasih," jawabku.


"Lu masih dikampung?" tanya Fa'iq.


"Masih bro, Gita parah bro jahatnya sama gua, dia ninggalin gua," ujarku yang diiringi air mataku berlinang.


"Iya bro, pasrahkan semuanya bro. Lu hatus bangkit," ucap Fa'iq menyemangati.


"Lagi gua usahain bro," jawabku.


"Kalo pengen merantau kesini lagi aja bro, nanti gua cariin kerjaan," tawar Fa'iq yang ingin aku segera bangkit.


"Ntar dulu bro gua belum bisa," jawabku.


Panggilan telpon dengan Fa'iq aku akhiri karena aku yang masih butuh waktu menyendiri.


Berhari-hari tak terasa telah aku lewati sejak berpulangnya Gita. Namun aku masih diselimuti duka. Ibu dan Bapak yang mulai khawatirkan aku, tidak bisa move on dari situasi ini. Selalu mengingatkan aku untuk mendekat kepada Sang Ilahi Robbi.


"Nak, mau sampe kapan kamu seperti ini? Cuma dikamar, ga ma beraktivitas," tanya Ibu setelah mengantar makanan ke kamarku.


"Ga tau Bu, Hans masih sedih banget," jawabku.


"Ikhlaskan Gita yang udah pergi," ujar Ibu.


"Nak, seharusnya kamu mengkhawatirkan dirimu, jangan khawatirkan Gita. Karena Gita lebih beruntung sudah tahu alam kematian. Sedangkan kamu masih hidup dan belum tau saat meninggal nanti apakah kamu bisa lebih baik dari Gita atau dibawah Gita derajatnya," imbuh Bapak menasehati.


"Assalamualaikum," terdengar salam dari luar ramai.


"Waalaikumsalam," jawab Ibu dan Bapak yang bergegas keluar dari kamarku.


"Ini tamunya Hans Pak Bu," terdengar dari kamarku. Sentot memberitahu orang tuaku setelah mengantar tamu. Yang aku belum tau siapa.


Bapak dan Ibu mempersilahkan duduk tamu yang bari datang dan diantarkan oleh Sentot. Setelahnya Setot pamit pulang kerumahnya.


"Perkenalkan saya Harto, istri saya Ani dan anak saya Safira," Ucap Papa Safira kepada orang tuaku, yang terdengar dari kamarku.


"Saya Rusman dan ini istri saya Ratih, orang tua Hans," jawab Bapaj yang juga terdengar dari kamarku.


Tiba-tiba Ibu muncul dikamarku dan memberi tahu kedatangan keluarga Safira. Ibu menyuruhku untuk menemuinya.


"Itu keluarga Safira datang, kamu temuin dulu bicara baik-baik. Apa pun keputusanmu Ibu dan Bapak pasti dukung," ujar Ibu berlalu membuatkan minuman untuk tamu.


Tanpa menjawab, aku mulai beranjak untuk menemui Safira dan keluarganya. Setelah mencuci muka aku ke ruang tamu, bersalaman dengan Papa mamah dan Safira. Aku duduk dia sebelah Bapak.


"Hans, tante minta maaf atas semua perlakuan tante ke kamu," ucap mamah Safira.


"Iya tante ga apa-apa, Hans yang harusnya minta maaf, karena mengganggu keluarga tante dan om," jawabku.


"Ga Hans, kamu ga ganggu keluarga Om," imbuh Papa Safira.


"Iya Hans, tante sadar tante sudah keterlaluan menyikapi perasaan sayangmu ke anak tante Safira. Kejadian kemarin bisa saja Safira yang meninggal bukan Gita. Om sama tante yakin doa dari orang yang sayang sama Safira buat Safira selamat dari tragedi mengerikan itu," tutur mamah Safira. Yang entah dia sadari atau tidak membuatku kesal. Seakan tiada peduli sama Gita.


Aku hanya diam dan menahan air mata, mendengar ucapan mamah Safira.


"Dan maksud kedatangan Om dan keluarga kesini, selain untuk meminta maaf juga untuk Safira yang kelihatannya sudah ingin menikah dengan kamu Hans," ucap Papa Safira yang juga mengejutkanku.


"Bisa-bisanya Safira memikirkan pernikahan, setelah sahabatnya sendiri baru meninggal" gumamku dalam hati.


Mendengar perkataan Papa Safira aku hanya diam, yang diartikan oleh semua orang bahwa aku mau. Kemudian Ibu datang membawakan minuman untuk mereka. Mereka mengobrol seolah semuanya baik-baik saja. Aku yang melihat itu memutuskan untuk keluar rumah dan duduk di samping rumah. Dengan udara yang masih bersih aku hirup. "Apakah ini benar? Apakah pernikahanku dengan Safira adalah takdir-Mu? Ya Tuhan berikanlah petunjuk-Mu," gumamku dalam hati yang dikejutkan oleh kedatangan Safira.


"Kamu kelihatan ga seneng dengan rencana Papa sama Mamah mau nikahin kita?" tanya Safira.


"Aku sendiri ga tau ini benar atau salah," ucapku.


"Sayang, aku yakin ini yang terbaik untuk kita. Mamah sudah bisa nerima kamu juga," ujar Safira yang sama sekali tidak tahu isi hatiku.

__ADS_1


Kunjungan keluarga Safira harus diakhiri karena ada yang mereka harus urus lagi. Kunjungan itu menyimpulkan, akan diadakan pesta pernikahan dikediaman Safira bulan depan. Aku yang masih tak mengerti akan apa yang terjadi sama sekali tak merespon rencana yang sudah disepakati juga oleh Bapak dan Ibuku.


__ADS_2