Langit-Langit Angan

Langit-Langit Angan
Tak Terteka Sebelumnya


__ADS_3

Jarum jam menunjukan pukul 10.35. Aku yang sudah ada janji dengan penanggung jawab proyek jam 13.30, memutuskan untuk jalan ke warung kopi favorit terlebih dahulu. Hanya butuh waktu 30 menit perjalanan dari kantor menuju warung Bu Atmi.


"Bu Atmi biasa kopi sama rokok," ujarku sembari duduk dikursi panjang.


"Mangga di antos," jawab bu Atmi menggunakan bahasa daerahnya.


Sambil menunggu pesanan aku buka whatsapp. Melihat chatt Bu Gita yang masih belum dibalas. Dikantor pun setiap ketemu dan aku sapa tidak pernah merespon. Mungkin sudah tidak mau mengenalku selain sebagai bawahan dan atasan saja. Jujur dari dalam hati pada awalnya ada ketertarikan sama Bu Gita. Apa lagi beliau selalu bersikap baik didepanku. Namun paras yang cantik dan penampilan yang anggun tidak menjamin hati dan sifat yang cantik pula.


Tidak terasa nongkrong diwarung kopi Bu Atmi waktu berjalan begitu cepat. Jam di hp sudah menunjukan pukul 12.30. Artinya aku harus jalan ke proyek.


"Bu semuanya jadi berapa?" tanyaku ke Bu Atmi.


"Kopi, rokok sama makan jadi 45ribu," jawab Bu Atmi.


Aku sembari menyodorkan uang "Makasih ya Bu," ujarku pamit.


Sesampainya ditempat proyek aku bertemu pak Ruslan. Beliau adalah penanggung jawab proyek yang menjadi target marketku.


"Selamat siang Pak Ruslan," sapaku mengajak berjabat tangan.


"Siang, Bapa Hans ya?" tanya Pak Ruslan sembari menjabat tanganku.


"Iya pak yang kemarin telpon Bapa. Saya dapat nomer Bapa dari salah satu teamnya Bapa," tuturku menjelaskan.


"Oke Pak. Mari silakan duduk!" tanggap pak Ruslan mempersilahkan.


"Jadi apa nih Pak yang bisa saya bantu?" tanya Pak Ruslan.


"Gini Pak saya mau ikut berpartisipasi menawarkan pompa hydrant diproyek ini," tuturku.


"Ini Pak penawaran pompanya, berikut spek pompa untuk proyek Bapa yang sudah saya hitung sebelumnya," imbuhku menyodorkan berkas.


"Baik Pak. Coba saya lihat dulu," sahut Pak Ruslan membaca penawaranku.


"Karena baru penawaran dari PT.nya Pak Hans yang masuk untuk pompa hydrant, nanti saya tinjau terlebih dahulu ya Pak. Mudah-mudahan saya dapat harga yang objektif dari Pak Hans," imbuh Pak Ruslan tersenyum.


"Soal itu nanti bisa kita bicarakan pak," jawabku.

__ADS_1


Penawaran harga sudah aku serahkan, obrolan pun ditutup dengan aku pamit undur diri.


Setelah dari proyek aku kembali ke kantor. Dikantor sambil menunggu jam pulang, aku menghampiri Fa'iq yang sedang fokus menghadap laptop.


"Woy sibuk amet lu," teriakku bermaksud mengagetkan Fa'iq.


"Anjiirr sialan lu ngagetin aja," saut Fa'iq kesal.


"Hahaha makanya jangan terlampau fokus. Jadi kaya orang ngelamun kan," jawabku puas.


"Tanggung nih, bentar lagi mau selese," Tutur Fa'iq sambil meregangkan badan.


"Ngerjain apa lu," tanyaku singkat.


"Nih permintaan Bu Gita, ngelist stock pompa digudang," jawab Fa'iq.


"Wah pas banget. Pompa Hydrant merk Paragon adakan?" tanyaku sembari melihat layar laptop Fa'iq.


"Tuh ada lengkap," jawab Fa'iq.


"Oke siap bro. Soalnya tadi gua nawarin buat proyek hotel yang di deket Bandara. Doain goal ya," ucapku menjelaskan.


"Oh ya bro, nih gua transfer duit lu yang kemarin gua pinjem. Makasih banget bro," kataku memperlihatkan bukti transfer.


"Oke deh sip," jawab Fa'iq.


Setelah itu aku kembali ke meja kerjaku. Dengan berbisik Fa'iq berkata.


"Bro lu udah denger gosip tentang Bu Gita belum?" bisik Fa'iq didekat telingaku.


"Belum bro. Gosip apaan emang?" tanyaku dengan nada berbisik. Fa'iq tidak menjawab pertanyaanku melainkan mengambil hp dan mengetik pesan.


"Apaan bro?" bisik ku memaksa.


"Baca tuh pesan dari gua," jawab Fa'iq.


Aku pun mengeluarkan hp dan membaca pesan dari Fa'iq yang berbunyi

__ADS_1


[ Tadi pagi Bu Gita mual-mual setelah kemarin dia izin ga masuk. Ada yang ngomong katanya Bu Gita hamil ]


Setelah membaca pesan dari Fa'iq, aku benar-benar tidak habis pikir seandainya gosip itu benar. Aku masih teringat kejadian dirumah Bu Gita pekan lalu, dan gosip ini membuatku tak nyaman.


[ Cuma masuk angin kali ] pesanku membalas Fa'iq.


[ Ga tau juga sih. Cuma kalo sampe bener menurut gua parah banget sih bro ] jawab Fa'iq melalui pesan WA.


"Udah jam pulang bro, gua pulang dulu," kataku pamitan.


"Oke bro, ttdj!" jawab Fa'iq.


Didalam angkot perjalanan pulang aku masih memikirkan gosip yang beredar dikator. "Kalo Bu Gita hamil dan pekan lalu dirumah Bu Gita dia bersikap seperti itu, apa maksudnya?" gumamku dalam hati keheranan. "Ah udah lah mungkin cuma masuk angin," imbuhku mencoba menepis pikiran negatif.


Sesampainya dikontrakan, karena masih terngiang omelan Ibu soal jaga kebersihan, aku pun merapihkan kontrakan. "Ada yang beda sekarang," celetuk Via. "Beda gimana?" tanyaku sembari membereskan baju-baju kotor. "Sekarang waktu buatku sedikit," protes Via. "Selama kamu selalu dihatiku dan aku dihatimu seharusnya ga ada bahasa seperti itu," terangku. "Iya sayang," jawab Via merangkulku dari belakang. Aku yang kelelahan pun tertidur setelah selesaikan pekerjaan rumah.


Keesokan harinya aku terbangun lebih awal. Menunaikan kewajiban dan bersiap berangkat kerja. "Tiktuk!" hp berbunyi tanda pesan WA masuk.


[ Sarapan dulu Nak sebelum kerja ] bunyi pesan yang ternyata dari Ibu.


[ Iya Bu siap. Nanti sampai kantor aku langsung sarapan dikantin ] balasku yang sedang dalam perjalanan berangkat kerja menggunakan angkot.


Tidak lama berselang aku turun tepat didepan kantor. Berjalan menuju kantin. Aku bertemu rekan kerja Sinta dan Sindi yang sedang ngobrol setelah melihatku.


"Pagi Ta, pagi Sin" sapaku. Tetapi mereka hanya berlalu sembari berbisik-bisik. Aku yang hanya sebatas kenal dengan mereka tidak pedulikan sikap mereka. Aku melajutkan perjalanan ke kantin untuk santap pagi. Seusai dari kantin aku berjalan keruangan kerja. Sepanjang perjalanan banyak yang nyinyir melihatku.


"Woy kalian ngomongin gua," bentakku ke gerombolan rekan-rekan kator yang masih diloby.


"Si paling pelaku ga bertanggung jawab," jawab Ibu Maria yang ada digerombolan itu.


"Apa sih maksud kalian?" tanyaku penasaran. Namun mereka bubar dan masuk keruangan kerja masing-masing. Aku yang kebingungan dengan sikap penghuni kantor mencoba mencari Fa'iq, dengan harapan mendapat pencerahan dari Fa'iq atas sikap mereka. Sesampainya diruang kerja aku melihat Fa'iq sedang membereskan meja kerjanya. Dengan tergesah-gesah aku bertanya ke Fa'iq.


"Bro orang-orang kantor kenapa sih?" tanyaku masih keheranan.


"Nah ni orangnya. Yuk ikut gua!" Fa'iq mengajakku keluar.


"Mau kemana kita?" tanyaku yang semakin penasaran.

__ADS_1


"Kita ngobrol dikantin!" jawab Fa'iq.


Prasangka dibatin berkecamuk. Menerka kabar yang belum aku dengar. Seakan semua menunjukku sebagai pelaku yang tak bertanggung jawab. Dengan perasaan yang demikian aku berusaha tetap tenang. Mencoba tetap berfikir positif. "Mungkin cuma ada salah paham. Atau kesalahan ringan yang aku lakukan tanpa kesadaran," dengungku dalam hati. Perjalanan menuju kantin dengan Fa'iq seakan terasa jauh nan panjang.


__ADS_2