Langit-Langit Angan

Langit-Langit Angan
Perasaan Tidak Seharusnya Dipaksakan


__ADS_3

Dari yang sudah dialami, mengajarkan untuk selalu berhati-hati. Entah dalam memilih atau pun menyikapi. Jangan sampai lukisan angan terhapuskan oleh kejadian yang tak diinginkan. Tapi terlepas semua itu buatlah jalanmu tak terlalu keluar dari batasnya. Sehingga penyesalan yang ada tak begitu terasa.


Pagi ini aku mempersiapkan diri untuk ikut acara launching butik Safira. Setelah rapih aku keluar kamar hotel menghampiri kamar hotel Safira.


"Tok tok tok. Assalmualaikum," salamku mengetuk pintu kamar hotel Safira.


"Waalaikumsalam," jawab Safira sembari membuka pintunya.


"Udah siap?" tanyaku.


"Udah dong, yuk jalan," ajak Safira.


Aku dan Safira menuju parkiran hotel. Setelah masuk kedalam mobil aku sempatkan meminta maaf atas kejadian semalam.


"Aku minta maaf ya Fir?" ucapku.


"Buat apa?" tanya Safira sambil menyetir.


"Buat kejadian semalam," ujarku.


"Udah jangan dibahas lagi. Ga ada apa-apa ini," jawab Safira.


Setelah mendengar perkataan Safira aku pun menuruti untuk tidak membahas lagi. Dan aku berjanji kepada diri sendiri untuk berusaha tulus mencintai dan menyayangi Safira.


"Oh ya nanti selesainya acara aku izin sebentar mau nyari kontrakan," ujarku.


"Buat apa?" tanya Safira.


"Masa iya kita mau dihotel terus," ucapku.


"Emmm soal itu kita bahas nanti aja, sekarang kita fokus buat acara launching dulu, oke?" tutur Safira.


"Siap, tapi aku ga mau ngerepotin kamu terus," ucapku.


"Aku ga merasa direpotin kok. Kamu kalo bersikap seperti itu artinya belum sepenuhnya menganggap aku selayaknya kekasihmu," ujar Safira seperti tersinggung.


"Ga gitu juga, aku cuma ga enak sayang," ucapku.


"Udah ya please jangan ngerasa ga enak sama calon istrimu," kata Safira.


Aku hanya menatapnya dan menganggukan kepala. Semakin tak sampai hati kalau harus menyakiti wanita sebaik ini. "Ya Tuhan jadikanlah Safira istriku," doaku dalam hati.


Sesampainya di butik, aku dan Safira mengecek persiapan launching hari ini. Safira pun mengumpulkan semua karyawan untuk di briefing. Devin, selaku panitia Event Organizer memberikan arahan kepada semua karyawan.


Briefing ditutup dengan do'a oleh Safira selaku owner.


Aku semakin terheran. Mata awam akan menilai sosok Safira sebagai wanita yang patut dipuja. Ada denganku dan perasaanku? Sampai sejauh ini, selain rasa kasihan belum ada perasaan lain. Aku lebih sering teringat perkataan Gita untuk tidak menyakiti Safira.


"Woii, jangan melamun. Ayo bantuin aku!" ujar Safira mengejutkanku.


"Oh ya ayok!" jawabku mengikuti langkah Safira yang menuju ke lantai dua.


"Tolong bawakan kardus itu ke bawah ya", pinta Safira menunjuk kardus didepanku.


Tanpa menjawab, aku pun bergegas melaksanakan permintaannya. Selain itu, aku memasangkan pita didepan pintu masuk butik yang nanti akan di potong oleh Safira selaku owner.


Sepuluh menit sebelum acara pemotongan pita, semua karyawan dan tamu undangan sudah berkumpul di halaman butik. Semua yang hadir terlihat sangat antusias akan launchingnya butik hari ini. Devin yang juga merangkap menjadi MC, mempersilakan Safira selaku owner untuk memberikan sambutan.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi menjelang siang. Pertama-tama saya mengucapkan syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan banyak nikmat untuk saya dan keluarga. Kemudian saya sangat berterimakasih kepada semua yang hadir disini. Yang telah memberikan support kepada saya untuk meresmikan butik kedua saya. Selebihnya saya berharap dengan adanya butik disini, dapat menunjang kebutuhan fashion yang semakin hari semakin berkembang pesat. Cukup sekian sambutan dari saya. Sekali lagi terimakasih yang sebesar-besarnya. Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh." Sambutan dari Safira yang diakhiri dengan tepuk tangan semua yang hadir.


Setelah sambutan, MC mulai menghitung mundur untuk acara pemotongan pita. Kejadian yang tak ku sangka sebelumnya, Safira memanggilku untuk ikut serta dalam pemotongan pita.


"Hans, sini!" panggil Safira. Aku pun menghampirinya.


"Kita potong bareng yuk!" bisik Safira saat aku sudah disampingnya.


"Oke!" jawabku menyanggupi.


"Oke guys kita hitung mundur sama-sama ya," ajak Devin.


"5, 4, 3, 2, 1", ucap serentak.


Aku dan Safira mulai memotong pita sebagai tanda diresmikannya butik. Riuh tepuk tangan menjadi awal dibukanya butik. Kemudian Safira membuka pintu yang disusul pengunjung menyerbu masuk. Kejadian yang tak terduka olehku selanjutnya. Ketika Safira mengumpulkan karyawannya yang berjumlah depan orang. Dan memperkenalkan aku sebagai manager butik ini. Dengan perasaan yang gugup aku menerima ucapan selamat dari seluruh karyawan Safira. Karena pengunjung banyak, aku intruksikan untuk semua karyawan mulai melayani pengunjung.


Aku diajak Safira ke lantai dua yang disana ada ruangan office. Diruangan office Safira menjelaskan semuanya. Setelah aku memahami tugasku sebagai manager dibutik ini. Aku dan Safira keluar untuk mencari makan siang.


"Ayuk makan dulu, lafer banget," ajak Safira.


"Ayuk," jawabku.


Kita berjalan menuju mobil Safira. Didalam mobil aku memuji pencapaian Safira.


"Bener kamu wanita yang hebat, pencapainmu diusia yang masih terbilang muda, tidak bisa dipandang sebelah mata," ucapku memuji.


"Alhamdulillah. Tapi sekarang kamu menjadi bagian didalam pencapaianku. Maka dari itu bantu aku untuk mengembangkan semua bisnisku," tutur Safira.


"Aku tidak mau menjajikan akan maju dengan adanya aku bergabung disini. Aku hanya akan berusaha semampuku untuk mencapai apa yang menjadi target," ungkapku.


"Aamiin, mudah-mudahan yang terbaik," ucap Safira.


"Aamiin," jawabku.


"Mau makan apa kita?" tanya Safira.


"Aku ikut aja," jawabku.


"Di alun-alu aja gimana? Soalnya kemarin kita kesana baru satu kios yang kita datangi, dan masih banyak kios-kios lain yang menjajahkan dagangannya," usul Safira.


"Boleh tuh," jawabku menyetujui.


Sesampainya di alun-alun aku menawarkan makanan disetiap langkah kita melewati kios-kios yang berjajar rapih. Pada akhirnya Safira memilih untuk makan seafood.


"Kamu alergi seafood ga?" tanya Safira.


"Ga kok aman," jawabku.


Kita memesan untuk dua porsi. Sambil menunggu pesanan Safira terlihat menelpon seseorang. Aku yang sedari tadi tidak memegang HP akhirnya mengambil HPku dari saku. Setelah melihat ternyata ada panggilan tak terjawab dari Ibu dan pesan dari Fa'iq. Aku pun menelpon balik Ibu.


"Tuuuuutt tuuuuuut!" bunyi panggilan berdering. Tak lama panggilan pun terhubung.


"Halo. Assalamualaikum Nak," suara Ibu mulai terdengar.


"Waalaikumsalam Buk. Maaf tadi nggak dengar waktu Ibu nelpon soalnya lagi ramai acara launching butik Safira," katalu menjelaskan.


"Iya nak ga apa-apa. Kamu sehat nak?" tanya Ibu.


"Alhamdulillah sehat buk. Ibu, Bapak sama adek sehat semua kan?" tanyaku balik.

__ADS_1


"Alhamdulillah sehat semua. Gimana nak sudah dapat pekerjaan?" tanya Ibu lagi.


"Alhamdulillah Bu, sudah. Kebetulan Safira lagi butuh karyawan dibutiknya," jawabku.


"Alhamdulillah kalo begitu nak. Kalo calon menantu Ibu sudah ada?" tanya Ibu menggodaku.


"Do'akan saja Bu. Semoga menantu Ibu yang sekarang lagi didepanku," ucapku kepada Ibu yang sekaligus menggoda Safira. Yang terlihat tersenyum.


"Ibu aamiinkan saja," jawab Ibu dengan senyum.


Perbincangan dengan Ibu ditelpon berakhir. Safira yang lebih dulu selesai menelpon sempat mencuri dengan obrolanku dengan Ibu.


"Kamu deket baget ya sama Ibumu?" tanya Safira.


"Ga cuma Ibu, sama Bapa aku juga deket. Mereka kan orang tuaku Fir," jawabku.


Mendengar jawabanku terlihat Safira hanya menunduk.


"Kamu juga pasti deket dong sama kedua orang tuamu?" tanyaku.


"Iya sama kok," jawab Safira.


Akhirnya pesanan kita datang setelah menunggu cukup lama. Kita mulai menyantap hidangan makan siang. Karena aku selesai makan lebih dulu, aku kembali membuka HPku dan membuka pesan dari Fa'iq.


[ Gimana bro udah kerja lagi belum? Kalo belum temen gua kemarin disuruh bosnya nyari orang, tapi jadi admin ] tulis Fa'iq dipesannya.


[ Alhamdulillah bro udah kerja gua dibandung, bantuin Safira dibutiknya. Makasih tawarannya bro tapi gua mau coba disini dulu ya ] balasku.


Tak lama Fa'iq membalas kembali.


[ Oke deh bro sukses selalu disana, salam buat Safira ] balas Fa'iq.


Aku pun langsung menyanpaikan salam dari Fa'iq.


"Fir dapet salam dari Fa'iq," ujarku.


"Iya waalaikumsalam. Dia masih ditempat lama?" ucap Safira.


"Masih kok," jawabku.


Setelah santap siang, Safira membaku ke kost yang jaraknya tidak jauh dari butik. Setelah masuk dan bertemu pemilik kost, Safira izin melihat-lihat terlebih dahulu.


"Siang Pak, saya Safira yang tadi melepon Bapak. Boleh lihat-lihat dulu kostnya pak?" tanya Safira kepada Bapak kost.


"Siang neng, ayuk neng mangga dilihat-lihat dulu," jawab Bapak kost sembari mengarahkan kita ke kamar kost yang kosong.


Setelah beberapa saat melihat-lihat. Safira menanyakan pendapatku.


"Gimana enak ga menurutmu disini?" tanya Safira dengan suara pelan


"Enak kok adem, tapi elite gini berapaan sebulan?" ujarku yang merasa kost yang sedang aku lihat-lihat tertalu mewah.


"Murah kok 1.5 juta udah sama listrik dan laundry," jawab Safira.


"Segitu tuh mahal kalo buat aku, dulu kost yang dijakarta cuma 500k perbulan," jawabku.


"Iya tapi kaya kapal pecah wkwkwkwk," ucap Safira yang aku sendiri baru melihat Safira bersikap seperti ini.


"Hehehe iya," jawabku.


"Jadi kamu mau ga disini?" tanya Safira.


"Iya sayang emang mau buat siapa lagi? Kan aku nanti balik ke Surabaya," tutur Safira.


"Yaudah boleh deh," jawabku yang sebenarnya tidak setujuh dengan kost pilihan Safira.


Akhirnya kita sepakat dan membayar uang sewa kost untuk bulan pertama. Kita kembali ke hotel untuk check out. Perjalanan ke hotel terasa canggung. Karena aku masih terngiang ucapan Safira yang mengatakan "Kaya kapal pecah". Apakah Safira termasuk orang yang menilai semuanya dari segi kemewahan dan materi? Semoga saja hanya perasaanku, buktinya dia mahu makan dipinghiran jalan. Aku yang sedang berpikir positif terkejutkan teriakan Safira.


"Haaaaaaaans," teriak Safira.


"Kenapa teriak-teriak?" tanyaku.


"Kamu ngelamun? Aku dari tadi ngobrol ga dijawab," protes Safira.


"Oh ya maaf, tadi ngobrol apa?" tanyaku.


"Aku tadi nanya, gimana acara launching butikku," tanya Safira yang katanya sudah ditanyakan sebelumnya tetapi aku tak merespon.


"Kataku luar biasa Fir," jawabku sekenanya.


"Kamu kenapa? Aku bikin salah ya?" tanya Safira karena melihat raut wajahku yang tak seceria biasanya.


"Ga apa-apa kok, emang kenapa?" ucapku bertanya balik.


"Kamu kelihatan ga ceria," ungkap Safira menilaiku.


"Ga lah," jawabku singkat.


"Aku selalu takut, orang-orang yang aku sayang, orang-orang yang dekat denganku. Seringkali menghindar setelah dekat dan akrab denganku. Aku sendiri ga tau, apa aku terlalu membosankan atau bagaimana? Jadi aku minta maaf ya Hans kalo aku ada salah atau ada perbuatanku yang bikin kamu ga nyaman. Aku takut kali harus kehilangan kamu," tutur Safira mencurahkan pengalaman dan isi hatinya.


"Jangan ngomong seperti itu. Aku ga apa-apa kok dan aku juga nyaman-nyaman aja didekatmu," ucapmu mencoba menghibur Safira


"Terus kamu kenapa kaya yang ga ceria?" paksa Safira.


"Ga apa-apa, aku cuma kepikiran soal status sosial keluargaku. Kita udah merencanakan buat ketemu orang tuamu. Aku ga pede kalo orang tuamu menanyakan basic keluargaku yang dari kalangan bawah. Jauh kalo dibandingkan dengan keluargamu. Dari situ pasti bakalan berat untuk kita meneruskan hubungan, semisal orang tuamu melihat seseorang dari status sosialnya," ungkapku.


"Semoga ga seburuk itu," jawab Safira.


"Maksudnya?" tanyaku karena menganggap ada kekhawatiran diraut wajah Safira setelah mendengarkan ku.


"Iya maksudnya semoga saja rintangan untuk kita ga berat, jadi kita menikah deh," ujar Safira dengan senyum seperti mengalihkan sesuatu.


Akhirnya kita sampai dihotel. Kita bergegas mengemas barang kita masing-masing. Setelah semuanya beres kita check out. Safira kembali mengantarku ke kost yang sudah kita sewa, untuk menaruh barang-barangku.


Perjalanan kita lanjutkan kembali ke butik untuk melihat hari pertama butik dibuka.


"Hans aku titip butikku ke kamu ya, aku yakin kamu bisa handle semua," ucap Safira dalam perjalanan menuju butik.


"In Shaa Allah, aku bakalan berusaha semampuku karena aku ga mau ngecewain kepercayaanmu," jawabku optimis.


Sesampainya di butik aku langsung mengerjakan yang menjadi tugasku. Safira terlihat mengobrol dengan Devin yang kemudian memanggilku.


"Hans sini," ucap Safira dengan melambaikan tangan.


Aku menghampiri Safira.


"Devin mau pamit," ucap Safira memberi tahu.

__ADS_1


"Terimakasih Bu Devin, dengan panduan dan arahan Bu Devin acara launching berjalan lancar," kataku kepada Devin sekaligus berjabat tangan.


Setelah mengantar Devin sampai depan. Aku dan Safira kembali masuk keruangan office. Aku melanjutkan pekerjaan yang tadi belum sempat aku selesaikan. Safira disebelahku seperti memperhatikanku.


"Liatinnya jangan gitu nanti cepet bosen," ucapku


"Mana mungkin bosen liat cowok seganteng kamu," jawab Safira.


"Ga nelpon Gita?" tanyaku.


"Oh ya ampun iya lupa aku mau VC dia," jawab Safira yang langsung mengeluarkan HPnya dan menelpon Gita.


"Assalamualaikum," salam Safira dengan lawan bicaranya di video call.


"Waalaikunsalam, gimana acaranya?" tanya Gita yang bisa aku dengar.


Aku tak lagi mencuri dengar perbincangan mereka. Mencoba fokus dengan yang sedang aku kerjakan di laptop. Safira mendekatiku memperlihatkan Gita dilayar HPnya.


"Hay Bapak manager apa kabar?" tanya Gita.


"Hay Git, jangan gitu manggilnya aku malu hehehe. Alhamdulillah baik, kamu apa kabar disana?" ucapku.


"Alhamdulillah baik juga. Seneng banget aku dua temanku menjadi pasangan serasi hahaha," ledek Gita kepada aku dan Safira.


"Kamu udah cerita sama Gita?" tanyaku kepada Safira yang berada disebelahku.


"Udah dong," jawab Safira dengan senyum lebar.


"Berarti tinggal Gita nih yang harus nyari pasangan," ujarku menyindir.


"Hahahaha iya betul," imbuh Safira.


"Ga usah rese ya kalian," sahut Gita.


"Ehh udah dulu aku ada tamu, aku udah janjian sama customer," ujar Gita yang ingin mengakhiri video call.


"Yaudah gih, sukses selalu beb," ucap Safira.


"Siap Bu bos. Assalamualaikum," salam Gita.


"Waalaikumsalam," jawabku dan Safira serentak.


Video call dengan Gita diakhiri. Safira yang terlihat puas dengan pencapaiannya tidak lupa bersyukur dengan menunaikan kewajibannya.


"Aku sholat duluan ya," ucap Safira kepadaku.


"Iya Bu Bos silahkan," jawabku.


"Ga usah gitu juga kali," balas Safira dengan senyum.


"Kan ngikutin Gita hahaha," jawabku.


Sejauh ini semua berjalan seperti semestinya. Hanya perasaanku yang masih sama, belum bisa tulus mencintai Safira. Meski kini aku dan Safira resmi berpacaran. Biarlah, biarkan waktu yang menjawab semuanya.


Aktifitas yang melelahkan hari ini. Setelah berdoa bersama semua karyawan untuk menutup kegiatan hari ini. Aku dan Safira duduk didepan butik. Sesekali menjawab sapaan karyawan yang satu-persatu izin pulang. Sampai akhirnya hanya aku dan Safira yang masih duduk santai didepan butik.


"Besok aku balik ke surabaya ya?" ucap Safira.


"Malam ini kamu ke kost?" tanyaku.


"Mau mu, ga lah aku ke hotel," jawab Safira manja.


"Hehehe kirain ke kost biar kaya semalem," ujarku menggoda.


"Ihhh apaan sih," balas Safira semakin manja.


"Hahaha ga lah sayangku," ucapku.


Safira menyandarkan kepalanya dipundakku. Menggenggam tanganku. Aku pun mengusap kepalanya yang dibalut jilbab. Seperti ingin mencurahkan perasaan sayangku yang nyatanya belum juga ada perasaan itu.


Sore ini sangat syahduh untuk Safira. Terlihat dari raut wajahnya ingin dimanja. Aku yang tahu itu melakukan sebisaku.


"Udah yuk kita pulang?" ajakku.


"Ahh nanti dulu aku masih nyaman banget kaya gini. Besok juga kan kita bakal berjauhan, pasti kangen banget," ucap Safira.


"Makanya ayuk pulang ke kost ku nanti dikelonin," godaku dengan senyum lebar.


"Iihh kamu kok nyebelin banget sih sayang," protes Safira yang manja.


"Hahahahahaha," tawaku dengan kembali mengusap kepalanya.


"Sebenernya pengen kalo cuma tidur doang kaya semalem. Sumpah nyenyak banget tidur dipelukanmu. Tapi takut kalo diulangi ga kaya semalem, takut ga bisa tidur malah khilaf bareng," tutur Safira yang mulai ngelantur dengan posisi masih bersandar padaku.


"Astagfirullah ngomong apa aku ini, ga ah dosa," ucapnya membalas perkataannya sendiri.


"Hahahahaha," tawaku yang melihat kegalauan diraut muka Safira.


Safira masih belum mau beranjak dari posisi sekarang. Alhasil aku hanya menurutinya dan menahan perasaan letih karena aktifitas hari ini.


"Yaudah yuk ke kostmu aja," ajak Safira yang beneran membuatku tak menyangka.


"Sayangku, ga boleh diulangi nanti nyesel lagi. Beruntung malam kemarin kita ga ngapa-ngapain. Jangan ya, dari tadi aku cuma becanda. Sabar," tuturku sembari mencium kening Safira.


"Hmm iya sayang," jawab Safira lembut.


"Yaudah yuk kita pulang?" ajakku.


"Ehh tapi gimana mobilnya? Kata Gita kamu belum bisa bawa mobil?" ucap Safira.


"Sembarangan, bisa lah. Dulu sama Gita emang sengaja aku males aja nyetir," jawabku.


"Seriusan bisa?" kata Safira memastikan.


"Ayuk aku buktiin," ujarku.


Aku pun menyetir mobil Safira. Mengantarnya ke hotel.


"Syukur lah kamu bisa bawa mobil. Mobil ini jadiin inventaris butik. Dipake kamu dan buat keperluas operasional butik," perintah Safira diperjalanan menuju hotel.


"Siap Bu Bos," jawabku.


"Tuh kan, aku risih tau dipanggil kamu gitu," protes Safira sambil memeluk tangan kiriku yang sedang menyetir.


"Hehehe seru tau, selain itu juga emang benerkan kamu Bu Bosku," ucapku.


"Jadi besok kamu jemput aku terus anter aku ke bandara ya?" pinta Safira.

__ADS_1


"Iya nanti kabarin aja jam berapa," jawab ku menyanggupi.


Sesampainya dihotel Safira turun dan masuk. Aku melanjutkan perjalanan ke kost. Sesampainya dikost aku langsung menjatuhkan tubuhku ke ranjang dan terlelap lebih awal dari biasanya.


__ADS_2