
Keesokan harinya aku dan Mak Lampir bersikap seolah-olah semua baik-baik saja. Tentunya sudah tidak ada permintaan yang aneh-aneh dari Mak Lampir. Termasuk berangkat ke kantor kalau aku tidak mau berangkat bareng beliau tidak berani memaksa. Pun untuk chattingan WA hanya sekedarnya saja.
Pagi ini dikantor aku mencari Fa'iq dikantin. Karena diruangan kerja tidak ada. Dan benar saja bocah satu ini sedang lahap makan dikantin.
"Woy!" teriaku menepuk bahu Fa'iq dari arah belakang bermaksud mengejutkan.
"Astagfirullah. Setan lu," seru Fa'iq terkejut.
"Wkwkwkwk masa abis istighfar setannya keluar," ucapku tertawa terbahak.
"Yah lu kaya yang gada kerjaan aja isengin orang mulu," protes Fa'iq setelah minum.
"Hahaha iya ya maaf," ujarku menahan tawa.
Aku pun memesan sarapan dan aku sempatkan kirim pesan ke Ibu.
[ Bu, Hans lagi sarapan nih, Ibu juga sarapan ya ] pesan aku kirim ke ibu.
"Gimana rencana kita?" tanya Fa'iq ingin update dariku.
"Gagal bro gua kelepasan emosi dan ungkap semuanya depan Mak Lampir," tuturku.
"Lu gagal kok girang gitu kaya yang ga punya beban?" tanya Fa'iq keheranan.
"Gua seneng aja baru kali ini kegagalan gua ngasih manfaat," ucapku.
"Kok bisa gitu, coba ceritain detail bro?" pinta Fa'iq yang semakin penasaran.
Aku yang tak tega melihat raut muka Fa'iq penasaran akhirnya menjelaskan info yang aku dapatkan dari Mak Lampir. Setelah Fa'iq mendengar dan sebelum dia menanyakan langkah selanjutnya, aku pun menjelaskan kesepakatanku dengan Mak Lampir.
"Gua sama Mak Lampir sepakat buat balikin semua keadaan ke si Tua mesum," tuturku.
"Maksud lu dengan bongkar semua kebusukannya?" terka Fa'iq.
"Cerdas," jawabku membenarkan.
"Caranya?" tanya Fa'iq.
"Caranya gua makan dulu berhubung pesenan udah dateng," jawabku mengalihkan obrolan takut ada yang dengar dan mengadu ke Pak Dirut, karena kantin mulai rame.
Obrolanku sama Fa'iq dikantin bersambung karena ada tugas yang harus dikerjakan Fa'iq. Dia pun izin masuk duluan.
"Tiktuk!" pesan balasan dari Ibu.
[ Sarapannya yang banyak ya Nak ] balas ibu.
Dengan senyuman aku membaca pesan Ibu.
Dengan lahapnya aku menyantap menu sarapan. Karena hari-hari sebelumnya nafsu makanku hilang. Sembari makan aku terngiang kisah hidup Mak Lampir. Yang menurutku sangat berat.
[ Assalamualaikum. Selamat pagi Git] aku kirim pesan ke Mak Lampir.
[ Waalaikumsalam. Pagi juga ] balas Mak Lampir.
__ADS_1
[ Udah berangkat? Udah sarapan belum? ] tanyaku simpati.
[ Udah dikantor tapi belum sarapan ] jawab Mak Lampir.
[ Aku lagi dikantin nih, kalo mau sarapan bareng sini aja ] ajakku.
[ Oke aku kesitu ] balas Mak Lampir.
Tak butuh waktu lama Mak Lampir tiba di kantin.
"Sini duduk, mau sarapan apa?" tanyaku lembut.
"Nasi goreng aja," jawab Mak Lampir.
Aku memanggil pelayan kantin dan memesankan nasi goreng untuk Mak Lampir.
"Mukanya kusut gitu?" tanyaku.
"Kawatir aja kalo keputusan kita buat lawan orang kaya bakalan kalah," ungkap Mak Lampir.
Mendengar ungkapan Mak Lampir aku sendiri sebenarnya kawatir. Karena apa yang kita rencanakan harus sepenuhnya berhasil. Jika tidak maka kita yang menanggung segala akibatnya.
"Parah-parahnya paling kita masuk penjara," ujarku dengan raut muka bercanda.
"Masuk penjara paling!" sahut Mak Lampir.
"Maksud kamu apa? Kamu mau bilang aku cewek murahan? Karena aku ga milih masuk penjara aja?" tutur Mak Lampir tersinggung. Dan tidak salah aku memanggilnya Mak Lampir karena mirip pada saat emosi.
"Ga gitu, niatku mau becanda karena liat kamu murung," ucapku menjelaskan.
"Kalo menurutku dipenjara itu paling! Aku ga mungkin dong milih nikah sama kamu, waktu kemarin dihadapkan pilihan seperti itu sama Pak Dirut" imbuhku mencoba meyakinkan.
Setelah aku usap air mata Mak Lampir dan dia mendengar penjelasanku. Air matanya pun berhenti mengalir. Kemudian aku meneruskan menghibur sekaligus menguatkan Mak Lampir, sembari dia sarapan.
Orang-orang kantor yang sudah mulai terbiasa melihat kebersamaan kita, mereka sudah tidak nyinyir. Melainkan menyapa sebagai tanda hormat atasan dengan bawahan.
Seusai sarapan aku dan Mak Lampir kembali fokus ke perkerjaan masing-masing.
Diruangan kerja aku dapati Fa'iq sedang mengerjakan tugasnya. Aku meminta tolong untuk mengecek email karena dapat kabar dari Pak Ruslan terkait penawaranku yang berbalas Purchase order.
"Bro check email ada PO ga?" pintaku.
"Bentar bro," jawab Fa'iq seperti tanggung dengan pekerjaannya.
"Oke Bro," jawabku singkat.
"Tiktuk!" satu pesan WA masuk.
[ Mas, nanti pulang bareng mau? ] ajak Mak Lampir.
[ Oke nanti ketemu diparkiran ] balasku menyanggupi.
"Ada email PO bro," seru Fa'iq memberitahu.
__ADS_1
"Dari PT. Jaya Mandiri bukan bro?" tanyaku.
"Iya betul, PO untuk pompa Hydrant," sahut Fa'iq.
"Alhamdulillah. Yaudah minta tolong forward ke Mak Lampir biar bisa langsung diproses," imbuhku.
"Siap Bro," jawab Fa'iq.
Tak terasa kesibukan dikantor mempersingkat waktu. Jam didinding ruangan menunjukan pukul 12.00. Aku dan Fa'iq memutuskan untuk istirahat makan. Dalam perjanan menuju kantin kita berpapasan dengan Pak Dirut yang baru datang ke kantor.
"Siang Pak," sapa Fa'iq.
"Siang. Hans, jadi kapan acaranya?" tanya si Tua Mesum kepadaku.
"Nanti Pak saya mau pulang kampung dulu buat persiapan," jawabku yang entah aku tak sepenuh hati.
"Pulang lah," perintah si Tua Mesum sembari berlalu, yang ditemani Genie asistennya.
"Baik Pak," jawabku singkat.
Sesampainya dikantin aku dan Fa'iq memesan makan siang. Sambil menunggu kita pun berbincang santai.
"Lu kenapa bro jadi ilang ceria gitu?" tanya Fa'iq dapati aku yang berubah mood setelah berbincang dengan si Tua Mesum.
"Masih suka sebel aja bro," jawabku.
"Udah lah bawa santai aja. Kalo rencana lu sama si siapa Lam?" ucap Fa'iq yang lupa sebutan untuk Bu Gita.
"Mak Lampir!" sahutku
"Iya itu Mak Lampir, kalo rencana lu sama Mak Lampir berhasil orang itu bakalan tau rasa bro," tutur Fa'iq meneruskan kalimatnya.
Pesanan pun datang. Aku dan Fa'iq mulai menyantap makan siang. Belum selesai kita makan muncul Mak Lampir dari kejauhan.
"Tuh calon istri lu dateng," bisik Fa'iq dengan tawa kecil.
"Apaan," jawabku tersipu.
"Assalamualaikum. Saya boleh gabung dimeja kalian?" tanya Mak Lampir meminta izin nimbrung.
"Waalaikumsalam. Boleh Bu silahkan," jawab aku dan Fa'iq serentak.
"Mau makan apa aku pesenin?" tanyaku.
"Pengen makan mie kayaknya enak deh," jawab Mak Lampir.
Aku pun memesankan ke pelayan kantin.
Mak Lampir yang sekarang sangat berbeda. Perubahan yang ku rasa lebih ke arah positif. Mungkin karena aku dan Fa'iq sudah dianganggapnya teman, walaupun status Dia atasan. Yang paling terasa dari perubahan Mak Lampir, dia sudah tidak pernah memaksakan kehendaknya atas orang lain.
"Tiktuk," satu pesan WA masuk diHP Mak Lampir. Dia hanya diam dan berubah raut wajahnya seketika membuka pesan tersebuat.
"Siapa yang WA, kok sampe ga terusin makannya?" tanyaku.
__ADS_1
"Pak Dirut," jawab Mak Lampir singkat.
Mak Lampir melanjutkan makan dan menyodorkan HP'nya. Bermaksud memperlihatkan pesan dari si Tua Mesum.