
Sinyal jodoh sering kali Tuhan kirimkan kepada hamba-hambanya. Tak jarang pula sebagai hamba merespon sinyal jodoh itu kurang tepat. Kemudian dengan segala ego menyimpulkan sendiri, bahwa mungkin belum jodoh atau memang bukan jodohnya. Yang berakibat tertundanya masa untuk melepaskan status lajangnya. Lantas seperti apa seorang hamba menyikapi sinyal jodoh yang Tuhan berikan dengan benar? Apakah dengan mengabaikan standar type pasangan? Ataukah dengan menerima yang hanya mencintai kita?
Banyak pertanyaan yang muncul ketika membahas permasalahan ini. Tapi disadari atau tidak semua permasalah itu hanya ada dalam diri. Jika belum mendapatkan jodoh karena standar type pasangan, apakah type pasangan baik menurutmu juga baik menurut Tuhanmu? Jika belum mendapat jodoh karena orang yang kita suka tidak mencintai kita dan orang yang tidak kita suka terus mencintai kita? Tuhan menempatkan perasaan cinta dihati orang lain kepada kita pasti ada tujuannya. Menerima dengan setulusnya menjadi jalan terbaik. Toh setidaknya sebagai hamba sudah merespon sinya jodoh dengan baik, dalam artian tidak pilih-pilih dan tulus menerima serta menjaga sinyal jodoh yang datang untuk kita. Kemudian suatu saat jika harus berpisah. Biarkan itu menjadi jalan takdirnya.
"Tok tok tok. Assalamuaaikum," salam Fa'iq mengetuk pintu kontrakanku.
"Waalaikumsalam," jawabku sembari berjalan untuk membuka pintu.
Yang ternyata Fa'iq datang bersama Bu Gita.
"Ehh ada Mak Lampir juga," sapaku sekaligus mempersilahkan mereka masuk.
"Kamu ga masuk kerja kenapa?" Tanya Bu Gita dengan nada kesal.
"Ini aku jawab pertanyaannya Bu Gita atau Mak Lampir?" ujarku tak ingin dipojokan.
"Terserah aja," jawab Bu Gita dengan nada yang masih ketus.
"Iya Bu mohon maaf sebelumnya saya ga masuk kerja dan ga kabarin. Saya sakit parah Bu sampe-sampe tadi pagi Ibu kost mau panggil ambulan buat bawa ke RSJ," belum selesai aku berdalih Bu Gita memotong.
"Sudah-sudah jawab sebagai Mak Lampir aja," potong Bu Gita.
"Males," jawabku singkat.
"Bisa gitu ya?" sahut Fa'iq menahan tawa.
"Emang orang stress," ucap Bu Gita yang mulai tersenyum.
"Stress tapi kamu suka," godaku.
"Ehem," Fa'iq berdehem merasa tidak dianggap keberadaannya.
"Kita lagi bertiga ya," imbuh Fa'iq.
Seketika aku dan Bu Gita tertawa.
Sore ini kontrakan riuh candaan kita bertiga. Mereka sengaja datang karena kawatir aku tidak masuk kerja dan HPku tidak aktif. Yang padahal sengaja aku lakukan itu.
Dengan minuman dan snack kue seadanya obrolan kita berlanjut membahas hal-hal yang penting.
"Nanti jam 20.00 kita ketemu Safira," ajak Bu Gita.
"Safira siapa dan untuk apa Git?" tanya Fa'iq.
"Dia temenku diperusahaan dulu. Aku minta tolong sama dia buat bantu keuangan. Dan dia bersedia bantu," tutur Bu Gita.
"Alhamdulillahah. Ga bisa sekarang aja ketemunya?" seruku menimpali.
__ADS_1
"Sabar bro," ucap Fa'iq.
"Tau buru-buru amet mau ketemu cewek cantik," imbuh Bu Gita.
"Emang dia cantik git?" tanya Fa'iq penasaran.
"Heyy inget dirumah udah ada bini," seruku mengingatkan Fa'iq.
Sontak Fa'iq pun izin pulang duluan saat memdengar aku menyebut kata "bini" karena dia ingat ada janji dengan istrinya.
"Gua pulang bro. Git," ucap Fa'iq buru-buru.
"Ga usah buru-buru kali santai aja," ucapku melihat Fa'iq yang terlihat tergesah-gesah berkemas.
"Assalamualaikum," salam Fa'iq dengan gesitnya.
"Waalaikumsalam," jawabku dan Bu Gita serentak.
"Kenapa dia?" tanya Bu Gita.
"Ga tau ga biasanya juga sampe kaya gitu. Mungkin ada janji kali," jawaku menerka.
Tersisa aku dan Bu Gita dikontrakan. Sore yang semakin petang menyamarkan pandangan mata. Aku beranjak dari tempat duduk untuk menyalakan lampu kontrakan. Menutup pintu arah balkon dan membiarkan pintu depan tetap terbuka. Aku yang sedari malam sedang menelaah tentang kejadian dimobil kemarin dan bertanya tentang rasa yang hadir dihati. Menjadi canggung tatkala harus berduaan.
"Aku pikir kamu ga masuk kerja karena aku," ucap Bu Gita memecah lamunanku.
"Apa?" tanya Bu Gita.
"Ehh ga, apa nih kita bahas apa?" jawabku panik karena keceplosan.
"Kamu dengerin aku ga sih?" tanya Bu Gita manja.
"Iya dengerin kok," jawabku.
"Terus kenapa?" tanya Bu Gita mengulangi.
"Apanya?" tanyaku senyum.
"Tuhh kaannnn. Kamu kenapa ga masuk kerja? Apa gara-gara aku?". Tanya Bu Gita mengulangi ketiga kalinya.
"Oh, ga lah masa gara-gara kamu," jawabku ringan.
"Apa kamu ngerasain yang aku rasain?" tanya Bu Gita.
"Git makan yuk? Didepan ada tempat makan langgananku. Sambelnya enak banget," ajakku mengalihkan pembahasan.
Dengan raut murung Bu Gita pun tidak mempersoalkan aku yang tidak menanggapi pertanyaannya. Kita pun bergegas kedepan untuk makan. Melihat raut muka Bu Gita aku semakin tidak tega "Mungkin dia tersinggung, atau kecewa karena aku. Tapi jangan sekarang!" gumamku dalam hati. Aku yang mencoba bersikap seperti tidak ada apa-apa, berusaha mencairkan suasana.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" tanyaku sembari duduk diwarung lamongan depan kontrakanku.
"Ga apa-apa kok," jawab Bu Gita dengan sedikit senyum yang terpaksa.
"Kamu mau pake apa? Ikan lele atau ayam?" tanyaku.
"Aku ayam aja, sambelnya ga banyak-banyak," jawab Bu Gita.
Aku pun memesankan untuk Bu Gita dan untukku kepada Mamang penjual lamongan.
"Mang dua ya, yang satu biasa yang satu lagi ayam tapi sambelnya dikitan, minumnya es teh dua," tuturku.
"Siapp ditunggu," jawab Mamang lamongan.
"Ngomong-ngomong siapa nih cantik amet," goda mamang lamongan melihat Bu Gita duduk disampingku.
"Ce, nih mamang genit sama pelanggan," teriaku memangkil istri Mang lamongan yang sedari tadi dibelakang.
"Ga genit cuma muji," ucap Mamang lamongan menghadap istrinya yang berada dibelakangnya sambil melotot.
Seketika Bu Gita tertawa kecil menyaksikan adegan suami-suami takut istri.
"Kamu kaya Ece gitu ga kalo suamimu genit?" tanyaku kepada Bu Gita yang masih menahan tawa.
"Pasti lah, wanita mana yang ga marah suaminya genit," jawab Bu Gita.
"Kalo kamu lebih serem kayaknya. Kan Mak Lampir," ujarku tertawa.
"Mulai, kumat," jawab Bu Gita.
Sembari menunggu pesanan aku menyempatkan mengirim pesan ke Fa'iq.
[ Bro jadi ikut ketemu temennya Mak Lampir? ] pesanku kepada Fa'iq.
Tidak berselang lama Fa'iq pun membalas.
[ Sorry bro gua ga bisa ikut. Lu aja sama Gita ] balas Fa'iq.
[ Oh yaudah ga apa-apa. Istri lu ga kenapa-kenapa kan dirumah? ] tanyaku melalui pesan WA.
[ Gua lagi seneng banget bro, besok dikantor gua ceritain ] balas Fa'iq.
[ Oke bro ] balasku mengakhiri obrolan di WA.
Aku pun memberitahu Bu Gita perihal Fa'iq ga bisa ikut ketemu temen Bu Gita. Dan Bu Gita tidak mempermasalahkan itu.
Tidak terasa pesanan kita sudah datang. Aku dan Bu Gita menyantap dengan lahap menu makan malam sedehana ini. Setelah menghabiskan makanan dan membayarnya. Jam ditangan menunjukkan pukul 18.30. Aku mengajak Bu Gita untuk siap-siap bertemu teman Bu Gita. Kita berjalan kembali ke kontrakanku untuk berkemas.
__ADS_1